Wilayah yang Dikonservasi

Konservasi ditujukan kepada sumber daya alam. Sumber daya alam tersebut, meliputi sebagai berikut.

A. Sumber Daya Alam yang Dapat Diperbarui
Yang akan dibahas berikut ini adalah mengenai tanah, air, hutan, tumbuhan, ikan, dan hewan.
1) Konservasi Tanah
Tanah termasuk sumber daya alam yang dapat diperbarui, tetapi amat lambat untuk menjadi subur kembali. Untuk itulah perlu adanya konservasi tanah agar tanah tetap baik, misalnya:
  • dengan tanaman khas penyubur tanah, seperti tanaman kacang- kacangan;
  • dipupuk dengan rabuk, jerami yang membusuk, pupuk kimia (urea, ZA, dan sebagainya);
  • diairi dengan irigasi maupun disiram dengan air.
Beberapa penyebab tanah menjadi tidak subur, bahkan erosi adalah:
  • seringnya tanah ditanami hanya satu jenis tanaman;
  • tanah hanya dijadikan ladang atau tegalan saja;
  • membajaknya tidak memperhatikan kontur lahan;
  • penebangan seluruh pohon di areal yang luas sehingga humus tanah terbakar oleh matahari;
  • penggundulan tanaman atau rerumputan oleh hewan;
  • banjir yang menghanyutkan tanah ke sungai, danau, atau laut.
2) Konservasi Air
Air akan turun mutunya, bahkan hilang apabila:
  • air tidak dapat tersimpan oleh tanah karena sebagian besar pohon dan tanaman di atas tanah rusak;
  • air mengalir deras sehingga tanah akan terbawa karena tidak ada tumbuhan di lereng yang curam;
  • air akan menyebabkan banjir karena curah hujan besar, serta pohon dan tanaman di atas tanah sedikit.
Itulah sebabnya mencari dan menjaga air di beberapa tempat sangat berharga dan penting sekali. Dengan kata lain, harus ada konservasi air karena alasan-alasan sebagai berikut:
  • agar air tidak mengerosi tanah, maka harus banyak tumbuh-tumbuhan pelindung atau hutan;
  • hilangnya pelindung hutan atau tumbuh-tumbuhan sehingga air tidak dapat disimpan di dalam tanah;
  • meningkatnya populasi (manusia dan hewan) yang banyak membutuhkan air;
  • meluasnya industri yang banyak membutuhkan air, bahkan memungkinkan pencemaran air;
  • harus mengatur jumlah rata-rata air bersih yang habis digunakan.
3) Konservasi Sumber Daya Laut
Menurut perkiraan, kemungkinan hasil maksimum ikan di lautan tidak dapat lebih dari 110 juta ton metrik per tahun. Karena penangkapan yang terus-menerus dengan menggunakan teknologi maju, hasil ikan akan makin berkurang. Untuk mengatasi hal tersebut dikembangkanlah konservasi sumber daya laut dengan beberapa ketetapan sebagai berikut:
a) Hukum Laut Internasional Tahun 1977 yang memberikan panduan atau petunjuk bagi perusahaan penangkapan ikan. Hukum laut menyatakan bahwa setiap bangsa yang negaranya mempunyai garis pantai boleh mengadakan penangkapan ikan sampai sejauh 12 mil di lepas pantai. Di luar batas itu, siapapun bebas melakukan penangkapan ikan.
Akhirnya, bangsa-bangsa di dunia memproklamasikan Zona Ekonomi Eksklusif. Mereka menuntut batas penangkapan sampai sejauh 200 mil dari pantai dan mengizinkan manajemen yang bijak bagi sumber daya kelautan.
b) Tahun 1972, Kongres Amerika Serikat menyetujui Undang-Undang Perlindungan Mamalia Laut yang melarang penangkapan ikan paus dari setiap kapal AS dan juga memberlakukan pembatasan penangkapan ikan lumba-lumba dan hewan laut lainnya.
c) Tahun 1980 (pertengahan tahun), negara-negara di dunia menanda- tangani perjanjian untuk tidak menangkap ikan paus.
d) Tahun 1980 (akhir tahun), undang-undang diberlakukan untuk melindungi lumba-lumba dan penyu laut yang terjebak oleh jala penyapu yang digunakan untuk menangkap ikan tuna dan hasil laut lainnya.
B. Sumber Daya Alam yang Tak Dapat Diperbarui Yang akan dibahas berikut ini adalah mengenai konservasi mineral (fosfat, batu bara, minyak bumi, gas alam) dan konservasi atmosfer.
1) Konservasi Fosfat
Fosfat adalah mineral yang sangat penting bagi kehidupan tumbuhan dan hewan. Fosfat sering digunakan dalam bahan dasar pupuk kimia. Pada mulanya, fosfat diambil dari batuan padas yang mempunyai kadar fosfat. Jika fosfat digunakan dalam pertanian, maka zatnya akan terikat dan menjadi bagian dari tanah dan tanaman. Akan tetapi, efek dari fosfat akan hanyut ke dalam danau, sungai, dan laut sehingga akan terakumulasi atau terkumpul di dalam endapan lumpur pasir di dasar.
Fosfat yang diserap oleh tanaman disebarkan secara merata. Setelah tanaman tersebut dipanen dan dikonsumsi, kandungan fosfatnya dilepas ke dalam limbah.
Jika pemakaian fosfat meningkat, maka cadangan mineral ini akan habis. Itulah sebabnya kita harus memperhatikan cara melestarikan fosfat, yaitu dengan cara penambangan fosfat yang seksama dan pengurangan penggunaan pupuk kimia atau buatan.
2) Konservasi Mineral
Sumber tenaga mineral, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam jumlahnya terbatas, bahkan di beberapa tempat sudah hampir habis. Sumber tenaga mineral ini terbentuk dari sisa-sisa hewan dan tumbuhan selama berjuta-juta tahun sehingga ada yang menyebutnya sebagai bahan bakar fosil.
Sebetulnya, bahan bakar fosil dapat digantikan dengan tenaga nuklir. Akan tetapi, banyak orang yang berkeberatan dengan pembangunan pusat tenaga nuklir tersebut. Hal itu karena efek limbah radioaktifnya yang sangat berbahaya untuk ratusan ribu, bahkan jutaan tahun yang akan datang.
Untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar fosil maka penjelajahan dan eksploitasi berkembang terus sampai ke lautan. Hanya saja harus diperhatikan dampak yang akan terjadi pada lingkungan wilayah yang diekploitasi dengan pengeboran, penambangan, dan transportasi. Itulah sebabnya sumber daya mineral ini pun harus dikonservasi.
3) Konservasi Atmosfer
Polusi dari kegiatan industri dan pertanian tidak hanya berdampak pada lahan, air bersih, maupun lautan saja, tetapi juga pada atmosfer. Apabila udara atau atmosfer tercemar akan membahayakan kesehatan manusia. Hujan dan salju yang jatuh dari atmosfer yang tercemar akan menjadi hujan asam yang dapat mematikan hutan, merusak lahan tanaman, dan mencemari perairan.
Udara bisa tercemar pula oleh rumah, pabrik, atau pesawat yang terus- menerus mengeluarkan asap dan gas ke udara. Akibatnya, keseimbangan atmosfer terganggu dan terjadi peningkatan kandungan karbondioksida di atmosfer. Karbondioksida ini bersifat isolatif dan dapat menyebabkan kenaikan suhu sehingga iklim menjadi panas. Konservasi atmosfer dilaksanakan dengan menjaga kebersihan udara, menjaga kelestarian hutan, tumbuh-tumbuhan, dan membersihkan asap pabrik dengan alat khusus.
sumber :
Iskandar, L. 2009. Geografi 2 : Kelas XI SMA dan MA. Jakarta. PT. Remaja Rosdakarya
]]>