Syarat Pembuatan Peta Tematik

Kamu pasti sudah tahu tentang jenis peta saat kamu duduk di bangku SMP. Peta terdiri dari dua jenis yaitu: peta umum dan peta khusus (peta tematik). Tahukah kamu perbedaan kedua jenis peta tersebut? Perbedaannya terletak pada informasi yang ada dalam peta. Peta umum mengandung informasi suatu wilayah secara umum, seperti penggunaan lahan, sungai, jalan, ibukota, dll. Sedangkan peta tematik hanya mengandung satu atau beberapa informasi tertentu suatu wilayah, misalnya hanaya tentang informasi jumlah penduduk. Jadi peta temetik adalah peta yang memuat informasi baik kualitatif maupun kuantitatif tentang tema tertentu.

Syarat utama untuk membuat peta tematik adalah ketersediaan data dan mengetahui lokasi data itu berada. Hal ini berkaitan dengan di perlukannya peta dasar, karena peta dasar memberikan informasi dasr tenteng wilayah yang akan diperlukan, seperti : batas administrasi, jalan, dsb. Sehingga mudah menempatkan data.
Contohnya bila kita ingin membuat peta tematik yang memuat informasi tentang penyebab jenis-jenis penggunaan lahan di Jawa Tengah. Untuk itu kita perlu mempunyai data tentang jenis-jenis penggunaan lahan di wilayah tersebut beserta lokasinya.
Data pembuatan peta tematik diperoleh dari berbagai sumber, yaitu pengukuran langsung, penyadapan citra pengindraan jauh, penggunaan peta-peta yang sudah ada dan data statistik.
1. Simbol-simbol peta tematik.
Menurut dimensinya jenis kenampakan yang ada di permukaan bumi secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi empat jenis, yakni sbb:
a. Kenampakan proporsional ( kenampakan titik ), adalah bentuk kenampakan yang tidak memiliki dimensi, namun menjelaska bahwa di tempat itu ada objeknya atau biasa disebut simbol titik. Contohnya adalah sbb:
clip_image001= Mata air.
clip_image002 = Kota.
b. Kenampkan linear (garis ) adlah kumpulan yang dianggap memiliki satu dimensi, berupa panjang dan biasa disebut simbol garis, contohnya adalah sbb:
clip_image003 = Batas propinsi.
clip_image004 = Batas kabupaten.
clip_image005 = Jalan raya.
clip_image006 = Jalan setapak.
c. Kenampakan luasan (areal), yaitu kenampakan yang dianggap memiliki dua dimensi yaitu panjang dan lebar yang membentuk luasan atau sering disebut simbol area. Contoh :
clip_image010 = Sawah.
clip_image008= Tegalan.
clip_image012 = Pemukiman.
Simbol area dapat juga menggambarkan informasi kepadtan penduduk di suatu wilayah, misal :
clip_image013= Jarang, 500 – 1000.
clip_image015 = Sedang, 1000 – 5000.
clip_image017= Padat, 5000 – 10000.
Simbol menurut bentuknya :
Simbol mennurut bentuknya dapat dibedakan berdasarkan sifat yang digambarkan, yaitu :
  1. Simbol kualitatif.
Simbol yang hanya menggambarkan data secara kualitatif dan hanya untuk membedakan obyek saja. Contoh :
– Jenis-jenis Industri
 clip_image018= Industri alat rumah tangga.
 clip_image019= Industri tahu.
clip_image020= Industri minuman.
– Jenis- jenis penggunaan lahan
clip_image010[1] = Sawah.
clip_image023 = Pemukiman.
clip_image021= Tegalan.
clip_image024 = Hutan.
  1. Simbol bertingkat ( ordinal ).
Merupakan simbol yang menunjukkan adanya tingkatan nilai data, misalnya kelas kepadatan penduduk.
clip_image025= Jarang, ( 0 – 500 orang./km).
 clip_image027= Sedang, (500 – 2500 orang/km).
clip_image026= Padat, ( >2500 orang/km).
  1. Simbol kuantitatif.
Simbol yang membedakan jenis obyek dan nilai kuantitasnya, misalnya jumlah penduduk berbagai kecamatan di Kabupaten Bantul dan produksi pertanian berbagai bahan pangan dalam kwintal.
Selain simbol-simbol di atas, ada juga simbol piktorial, yaitu simbol yang kurang lebih menggambarkan data dengan bentuk sesungguhnya, misalnya peta tematik produksi ikan di beberapa pelabuhan, maka simbol piktorialnya adalah ikan dengan banyaknya data yang diwakili nilai = 1000 kw.
Rata-rata di pelabuhan ikan A,B, dan C memproduksi ikan per tahun adalah:
Di pelabuhan ikan A = 6000.
Di pelabuhan ikan B = 4000.
Di pelabuhan ikan C = 3000.
]]>