Prinsip Pemberian Pakan

Ternak memerlukan pakan untuk kebutuhan pokok hidup, pertumbuhan dan produksi. Kebutuhan pokok hidup meliputi menjaga temperatur tubuh, bernafas, aktifitas, fungsi metabolisme tubuh dan lain-lain. Untuk ternak yang masih muda yang dalam masa pertumbuhan, maka ternak akan memerlukan pakan lebih banyak untuk pertumbuhan badannya. Sedangkan untuk produksi tergantung dari tujuan pemeliharaan ternak, bisa berupa produksi susu, atau daging. Pada ternak yang bunting memerlukan pakan untuk pertumbuhan janin yang dikandungnya, disamping untuk kebutuhan pokok hidup induknya.

prinsip pemberian pakan ternak

1. Kebutuhan Pakan

Kebutuhan pakan bervariasi tergantung dari jenis ternak, lingkungan, kecernaan pakan, selera dll

1.1. Jenis Ternak

Permintaan fisiologis ternak untuk hidup pokok, pertumbuhan dan produksi berbeda antara ternak yang satu dengan yang lainnya. Hal ini disebabkan oleh kapasitas dari saluran pencernaan dari ternak yang bersangkutan. Faktor-faktor yang berpengaruh dari ternak meliputi, bobot badan, jenis kelamin, umur, faktor genetik dan tipe bangsa ternak :

  • ternak yang bobot badannya lebih besar akan memerlukan pakan yang lebih banyak. Hal ini dikarenakan kebutuhan nutrisi untuk kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan dan produksi makin banyak.
  • jenis kelamin
  • umur
  • faktor genetic
  • tipe bangsa ternak

1.2. Lingkungan

Faktor lingkungan berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap ternak. Faktor yang berpengaruh langsung meliputi temperatur, kelembaban dan sinar matahari.

1.2.1. Temperatur

Ternak perlu menjaga temperatur tubuh idealnya. Perbedaan temperatur tubuh ternak dan lingkungannya akan mempengaruhi kebutuhan pakan ternak tersebut. Semakin tinggi perbedaan temperatur ternak dengan lingkungannya makin banyak energi yang di perlukan untuk menjaga temperatur tubuhnya dengan demikian semakin banyak pakan yang di konsumsi ternak tersebut.

Sebaliknya temperatur lingkungan yang tinggi akan menurunkan tingkat konsumsi ternak. Ternak di daerah dingin (dataran tinggi) memerlukan pakan lebih banyak di banding

ternak daerah panas (dataran rendah). Perubahan tingkat konsumsi setiap ternak berbeda- beda. Misalnya sapi Holstein, Jersey dan Brahman akan berubah tingkat konsumsinya pada temperatur lingkungan 21,1º C, 23,9º C dan 35 º C.

1.2.2. Kelembaban

Kelembaban dapat pula mempengaruhi mekanisme pengaturan temperatur tubuh. Pengeluaran panas dengan jalan berkeringat ataupun melalui respirasi akan lebih cepat di daerah yang kering. Kelembaban ini terutama penting di perhatikan di daerah tropis. Contoh sapi Brahman akan menurun konsumsinya pada suhu 23º C dan kelembaban udara meningkat.

1.2.3. Sinar Matahari.

Tubuh ternak dapat pula memperoleh panas secara langsung dari sinar matahari. Tingkat penyerapan panas tergantung pada tipe kulit hewan bersangkutan. Warna kulit tidak gelap, licin mengkilap, akan memantulkan cahaya lebih banyak dari pada ternak dengan kulit kasar, dan gelap. Demikian pula bulu yang melekat pada kulit dapat berfungsi sebagai penahan panas.

2. Kebutuhan Nutrisi

Kebutuhan nutrisi untuk hidup dan produksi ternak ruminansia dipenuhi dengan memberikan pakan yang berupa hijauan dan konsentrat. Hijuan terdiri dari rumput dan leguminosa. Pakan konsentrat di susun dari beberapa bahan pakan semacam biji-bijian, bungkil kedelai, tepung limbah ternak, lemak dan campuran vitamin- mineral. Bahan pakan tersebut dengan bantuan mikroba didalam perut akan menghasilkan energi dan nutrisi yang penting untuk pertumbuhan, reproduksi dan kesehatan ternak.

prinsip pemberian pakan ternak

2.1. Energi

Energi bukan merupakan nutrisi, tetapi merupakan hasil dari proses oksidasi bahan pakan yang akan menghasilkan energi dan nutrisi selama proses metabolisme. Nilai energi dari bahan pakan dapat diekspresikan dengan beberapa cara. Deskripsi tersebut berhubungan dengan nilai energi, termasuk pengukuran (digestible energy, metabolisme energy dll).

2.1.1. Pengukuran Unit Energi

Unit pengukuran energi dapat menggunakan kalori, erg atau Joule. Satuan tersebut dapat dikonversi antara satu satuan dengan satuan lainnya dan semua unit satuan benar. Di Amerika menggunakan satuan Joules sedangkan di Indonesia menggunakan satuan kalori. Masing-masing unit satuan dijelaskan sebagai berikut:

  • Kalori (Cal)

Satu kalori adalah panas yang diperlukan untuk menaikkan temperatur 1 gram air dari 16,50C menjadi 17,50C. Karena panas spesifik air berubah dengan temperatur maka secara lebih akurat 1 kalori sama dengan 4,184 joules.

  • Kilo Kalori (kcal)

1 kilo kalori sama dengan 1.000 kalori dan merupakan unit yang sering digunakan pada pakan ternak.

  • Mega kalori

Satu megakalori sama dengan 1.000.000 kalori dan banyak digunakan untuk mengekspresikan kebutuhan nutrisi yang lain yang berhubungan dengan energi pakan

  • Joules

Satu joules sama dengan 107 erg (1 erg adalah jumlah energi yang diperlukan untuk mempercepat perpindahan masa 1 gram dengan kecepatan 1 cm/detik)

  • Gross Energy (GE)

GE merupakan energi yang dilepaskan sebagai panas jika suatu substansi dioksidasi menjadi karbon dioksida (CO2) dan air (H2O). Pengukuran GE menggunakan bom kalorimeter dengan tekanan oksigen 25 sampai 30 atmosphere.

2.1.2. Terminologi Energi

Beberapa singkatan telah digunakan untuk mendeskripsikan fraksi energi pada sistem ternak. Masing- masing singkatan dijelaskan sebagai berikut:

  • IE (Intake Energy)

IE merupakan energi bruto yang terkandung dalam pakan yang dikonsumsi ternak. Nilai IE sama dengan berat pakan yang dikonsumsi dikalikan dengan GE (Gross Energy).

  • DE (Digestible Energy)

DE merupakan gross energi pakan yang dikonsumsi (IE) dikurangi gross energi pada kotoran sapi (feces).

  • FE (Fecal Energy)

FE adalah energi bruto yang terkandung dalan feces. Nilai FE dihitung dengan berat feces dikalikan dengan energi bruto yang terkandung didalamnya. FE bersumber dari energi dalam bahan pakan yang tidak tercerna (FiE) dan energi campuran bahan metabolik tubuh (FmE).

  • TDE (True Digested Energy)

TDE dihitung dari IE dikurangi dengan energi, kehilangan panas fermentasi dan gas pencernaan.

  • GE (Gaseous Energy)

GE berasal dari gas yang dihasilkan oleh fermentasi pakan. Gas yang utama adalah gas metan. Gas-gas lainnya adalah hidrogen, karbon monoksida, aseton, etana, dan hidrogen sulfida.

  • UE (Urine Energy)

UE merupakan energi bruto dari urin. Sumber EU adalah nutrisi yang tidak digunakan dan produk metabolisme.

  • ME (Metabolisme Energy)

ME merupakan gross energi pakan yang dikonsumsi dikurangi dengan gross energi pada feces, urine dan gas hasil metabolisme.

  • Net Energy (NE)

NE merupakan enegi metabolisme dikurangi energi yang hilang sebagai tambahan panas atau panas yang timbul dalam tubuh oleh reaksi biokimia dalam saluran pencernaan atau dalam sel. Di daerah dingin panas tersebut dimanfaatkan untuk menjaga temperatur tubuh tetapi di daerah panas akan dibuang melalui konveksi ke udara sekeliling ternak.

NE bisa terdiri dari energi yang digunakan untuk menjaga (maintain) tubuh atau kebutuhan hidup pokok dan produksi sehingga tidak ada NE absolut pada bahan pakan. NE bisa merupakan energi yang diperlukan untuk menjaga tubuh (NEm) dan energi untuk produksi (NEp).

  • TDN (Total Digestible Nutrient)

Sistem ini berdasarkan analisis proximat yang memberi nilai DE pada lemak dapat dicerna dan protein dapat dicerna. Sistem TDN merupakan bentuk pengukuran kompromi antara DE dan ME. (0,45 kg TDN setara dengan 2.000 kkal DE atau 1,600 kkal ME.

Menurut NRC (National Researh Council) nilai TDN hampir semua merupakan hasil konversi dari ME, dengan persamaan: 1 kg TDN = 3.615 Kkal ME = 4.400 Kkal DE. Skema Energi tertera pada Gambar 28.

3. Nutrisi Pakan

Zat makanan (nutrisi) merupakan substansi yang diperoleh dari bahan pakan yang dapat digunakan ternak bila tersedia dalam bentuk yang telah siap digunakan oleh sel, organ dan jaringan. Zat makan tersebut dapat di klasifikasikan menjadi 6 kelompok yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air.

Masing-masing kelompok diuraikan sebagai berikut:

3.1. Karbohidrat

Karbohidrat merupakan sumber energi yang utama bagi ruminansia. Sumber karbohidrat berasal dari hijauan pakan ternak dan konsentrat yang di susun dari biji-bijian dan limbah pertanian. Biji-bijian semacam jagung, sorgum, gandum dan barley merupakan bahan pakan sumber karbohidrat. Di Indonesia juga terdapat sumber karbohidrat seperti gaplek, onggok, dedak dll.

Karbohidrat dapat di klasifikasikan menjadi 5 jenis yaitu monosakarida, disakarida, trisakarida, poliskarida dan mixed polisakarida. Unit dasar karbohidrat adalah gula sederhana, yaitu heksosa karena setiap molekul mengandung enam atom karbon. Sedikit heksosa bebas dapat di temukan pada tanaman. Hexosa terdiri dari glukosa, fruktosa, galaktosa dan manosa.

Sebagian besar karbohidrat adalah bentuk disakarida, yang merupakan kombinasi dua gula heksosa atau polisakarida- polimer beberapa molekul heksosa. Disakarida yang paling penting dijumpai di alam adalah sukrosa maltosa, laktosa dan selobiosa. Lakstosa adalah gula yang dijumpai pada air susu, sedang sukrosa terdapat pada sebagian besar tanaman.

prinsip pemberian pakan ternak

Polisakarida seperti pati, selulosa, merupakan komponen penting dalam ransum ternak ruminansia. Selulosa merupakan persenyawaan organik dengan hemiselulosa dan lignin yang banyak terdapat di alam. Hampir 50% bahan organik pada tanaman terdiri dari selulosa.

Pada ternak unggas tidak bisa mencerna selulosa karena tidak memiliki enzim selulase, pada ternak ruminansia enzim selulase di produksi oleh mikroba di dalam rumen sehingga mampu mencerna selulosa. Pencernaan karbohidrat akan menghasilkan Volatil Fatty Acyd (asam lemak terbang) yang disingkat dengan VFA.

VFA terdiri dari sebagian besar asam asetat, propionat dan butirat dan sebagian kecil asam format, isobutirat, valerat, isovalerat dan kaproat. Percernaan karbohidrat menghasilkan limbah berupa gas methan yang di keluarkan ternak melalui proses sendawa.

VFA sebagian besar diserap dalam dinding rumen dan sebagian kecil lolos yang kemudian diserap pada usus halus. Senyawa VFA yang masuk sirkulasi darah akan mengalami proses katabolisme yang menghasilkan energi dan biosintesis membentuk jaringan tubuh dan lemak susu.

3.2. Protein dan Asam Amino

Protein adalah persenyawaan organic komplek yang mengandung unsur karbon, hydrogen, oksigen, nitrogen, forfor, dan sulfur. Protein tersusun oleh lebih dari 20 persenyawaan organik yang disebut asam amino. Satu molekul protein tersusun atas ikatan panjang beberapa asam amino yang disebut ikatan peptida. Oleh karena suatu protein rata-rata mengandung

16% nitrogen maka kandungan protein dari bahan pakan atau karkas dapat diduga dengan mengalikan kandungan nitrogen dengan 6,2, dan akan menghasilkan kandungan protein kasar.

Kebutuhan protein sebenarnya lebih di tekankan pada kebutuhan asam amino yang terdapat dalam pakan. Terdapat 20 asam amino dalam protein dan semuanya penting bagi ternak. Asam amino terdiri dari Arginine, Cystine, Histidine, Isoleucine, Leucine, Methionine, Lysine, Phenilalanin Threonine, Tryptophan, Tyrosine, Valine, Cystein, Alanine, Asam Aspastat, Asam Glutamat, Glysine, Hydroxyl Proline, Proline, dan Serine.

Keberadaan mikroba di dalam rumen, mengakibatkan metabolisme protein pada ruminansia berbeda dengan monogastrik dan unggas. Mikroba mempunyai kemampuan mensintesa semua asam amino termasuk asam- asam amino yang di butuhkan oleh induk semang. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas protein tidak menjadi unsur mutlak dalam ransum ruminansia.

Penggunaan protein pakan yang dicerna oleh ruminansia adalah Protein pakan didegradasi menjadi peptida oleh protease di dalam rumen. Peptida dikatabolisasi menjadi asam amino bebas lalu menjadi amonia, asam lemak dan CO2.

Amonia hasil perombakan asam amino adalah sumber nutrien bagi bakteri. Bakteri ini akan menggunakan amonia bersama dengan karbohidrat mudah larut (FVA) untuk membentuk asam amino yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi kebutuhan proteinnya sendiri. Sebanyak 50-80% N mikroba berasal dari amonia rumen, sedangkan 30% protein berasal dari sumber selain amonia seperti peptida dan asam-asam amino.

Pemberian urea sebagai suplai Non Protein Nitrogen (NPN) bertujuan untuk menyediakan N bagi perkembangan mikro organisme rumen. Untuk memacu pertumbuhan mikro organisme memerlukan N dan tetes tebu sebagai sumber energi.

Produk degradasi yang terbentuk dalam rumen, terutama amonia, di gunakan oleh mikroba bersama-sumber energi untuk mensintesis protein dan bahan-bahan sel mikroba seperti bahan sel yang mengandung N dan asam nukleat.

Bagian amonia bebas akan diserap masuk ke pembuluh darah ternak dan di transformasikan menjadi urea di dalam liver. Sebagian besar urea tidak dapat digunakan oleh ternak dan diekresikan ke dalam urin.

Sel-sel mikroba (bakteri dan protozoa) mengandung protein sebagai komponen utama, bersama protein pakan melalui omasum dan abomasum dan usus halus. Sel-sel pakan yang dicerna mengandung protein 70-80%, 30-40% adalah protein kurang larut. Protein hijauan di cerna dalam rumen sebesar 30-80%. Jumlah ini tergantung kepada waktu tinggal di dalam rumen dan tingkat pemberian makan.

Pencernaan dan penyerapan mikroba dan protein pakan terjadi di usus halus ternak (ruminan dan monogastrik) oleh protease. Asam amino esensial bagi semua jenis ternak. Komposisi asam-asam amino yang mencapai usus akan sangat tergantung kepada jenis protein, kuantitas dan kualitas sumber protein pensuplai. Ternak ruminansia tergantung pada protein mikroba dan protein pakan yang lolos dari pencernaan dalam rumen untuk mensuplai asam amino esensial. Fungsi protein antara lain untuk membentuk jaringan, cairan tubuh, ensim, produksi, cadangan energi, dll.

  • Membangun dan Membentuk Jaringan Tubuh

Protein berfungi membentuk dan membangunan jaringan tubuh, misalnya daging, pembentukan dan perkembangan organ-organ tubuh dan pertumbuhan bulu. Kebutuhan terhadap protein untuk ternak yang lebih muda lebih tinggi dari pada untuk ternak yang lebih tua. Ini disebabkan anak ternak yang sedang tumbuh memiliki banyak bagian yang sedang tumbuh, bagian- bagian tersebut memerlukan protein.

  • Pembentukan cairan tubuh dan sistem enzim. Cairan tubuh dan enzim merupakan faktor terpenting bagi kehidupan ternak. Untuk pembentukan kedua faktor tersebut memerlukan protein.
  • Produksi daging, susu dan bulu membutuhkan protein
  • Cadangan energi, protein juga berguna untuk cadangan energi. Walaupun prosesnya tidak efisien, dalam keadaan tidak ada
  • energi protein tubuh akan
  • diubah menjadi energi. Ini sebagai tanda betapa pentingnya energi, energi digunakan untuk segala efektifitas tubuh.
Baca Juga :   Cara Menentukan Umur Ternak

3.3. Lemak

Lemak murni merupakan ester glycerol yang memiliki asam lemak rantai panjang dan merupakan persenyawaan karbon, hydrogen dan oksigen. Persenyawaan oksigennya lebih rendah dibanding karbohidrat sehingga energi lebih tinggi (2,25 kali lipat) dari karbohidrat dan protein. Perbedaan lemak dan minyak pada bentuknya, pada suhu normal lemak berbentuk padat sedang minyak berbentuk cair.

Molekul lemak terdiri dari glycerol dan kombinasi dengan 3 asam lemak. Asam lemak terdiri dari caprilat, caprat, laurat, miristat, palmitat, palmitoleat, stearat, oleat, linoleat, linolenat, arachidonat, gadoleat, behenat, eurat, lignocerat. Komposisi kandungan lemak beberapa bahan seperti tertera pada Tabel 7. Sumber minyak yang baik adalah minyak sawit, dan minyak kelapa.

Pada ternak ruminansia lemak di dapat dari hijauan makanan ternak (3% kandungan lemak). Akan tetapi karena konsumsi hijauan cukup banyak maka konsumsi absolut lemak relatif banyak pula. Bentuk lipida dalam daun adalah galaktoserida dan digalakto glicerida. Pemberian pakan konsentrat pada ternak ruminansia juga akan memberikan suplai lemak. Lemak pada konsentrat kebanyakan dalam bentuk trigliserida

prinsip pemberian pakan ternak

Asam lemak dibedakan menjadi asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh. Asam lemak jenuh hanya memiliki ikatan tunggal di antara atom-atom karbon penyusunnya, sementara asam lemak tak jenuh memiliki paling sedikit satu ikatan ganda di antara atom-atom karbon penyusunnya.

Pakan hijauan dan biji-bijian umumnya berbentuk lemak tidak jenuh. Pada rumen terjadi proses hidrolisa ikatan ester dan biohidogenasi asam lemak jenuh. Hidrolisis lemak trigliserida, phospholipin dan glycolipid oleh lipase asal mikroba akan membebaskan asam-asam lemak bebas, sehingga galaktosa (gula) dan gliserol akan difermentasi menghasilkan VFA (asam lemak bebas). Asam lemak tak jenuh (linoleat dan linolenat) akan dipisahkan dari kombinasi ester melalui proses biohidrogenasi oleh bakteria menghasilkan asam stearat.

Mikroba rumen juga mampu mensintesis beberapa asam lemak rantai panjang dari propionat dan asam lemak rantai cabang dari kerangka karbon asam-asam amino valin, leusin dan isoleusin. Asam-asam lemak tersebut akan di inkorporasikan ke dalam lemak susu dan lemak tubuh ruminansia.

Asam lemak yang dihasilkan dalam rumen akan memasuki jujenum (usus halus). Sumber asam lemak adalah dari bahan pakan dan bakteri rumen. Bentuk asam lemak adalan asam lemak bebas. Penyerapan asam lemak bebas akan terjadi pada jujenum.

Ketengikan bahan pakan (rancidity) terjadi karena asam lemak pada suhu ruang dirombak akibat hidrolisis atau oksidasi menjadi hidrokarbon, alkanal, atau keton, serta sedikit epoksi dan alkohol (alkanol). Bau yang kurang sedap muncul akibat campuran dari berbagai produk ini. Penambahan lemak pada konsentrat mempunyai nilai posistif dan negatif.

3.3.1. Nilai Positif Menurunkan Konsumsi Pakan

Kadar energi dalam lemak tinggi, dengan penambahan sedikit pada ransum akan meningkatkan energi sangat jelas. Energi ransum yang tinggi akan menurunkan tingkat konsumsi pakan. Dari hasil percobaan pada sapi pedaging dengan pemberian konsentrat 50%, kadar lemak 5%, akan menurunkan konsumsi sebesar 2% pertambahan bobot badan meningkat 28%.

  • Mengurangi Sifat Berdebu

Penambahan lemak dapat mengikat partikel debu. Lemak/minyak dapat mengurangi sifat berdebu dari ransum. Pengaruhnya akan menurunkan kehilangan pakan ke udara dan meningkatkan kesenangan pekerja dalam menangani ransum ternak.

  • Sumber Asam Lemak Esensial

Ternak tidak dapat mensitesakan asam linoleat (asam lemak esensial) sehingga harus disediakan melalui ransumnya. Untuk pertumbuhan berat badan yang tinggi diperlukan ransum dengan energi tinggi, penambahan lemak akan membantu meningkatkan kandungan energi dalam pakan. Untuk pertumbuhan sedang dan normal tidak diperlukan lemak tambahan, karena energi cukup dari konsentrat biasa dan hijauan pakan ternak.

  • Meningkatkan Palatabilas

Penambahan lemak akan meningkatkan daya cerna ransum, sehingga konsumsi ransum meningkat. Jika ternak mampu konsumsi ransum tersebut maka pertumbuhannya juga akan membaik.

  • Menurunkan Produksi Gas Metan

Didalam rumen ternak ruminansia yang mengkonsunsi hijauan pakan ternak dalam jumlah besar, akan meningkat produksi gas metan. Penambahan lemak pada ransum akan menurunkan produksi gas metan dan meningkatkan efisiensi penggunaan energi.

  • Memperbaiki Rasio Asetat : Propionat

Pemberian minyak biji rami (linseed) atau linolenat akan menurunkan rasio asetat : propionate sehingga meningkatkan efisiensi penggunaan ransum. Pemberian minyak ikan menurunkan produksi propionate sedangkan penambahan lemak hewani menurunkan asetat.

3.3.2. Nilai Negatif Menurunnya Konsumsi

Penambahan lemak kedalam ransum akan meningkatkan tingkat konsumsi ransum. Pada batas tertentu penambahan energi yang terlalu banyak akan menyebabkan tingkat konsumsi menurun.

  • Menurunkan Kecernaan Serat Kasar

Pada ternak yang diberi hijauan pakan dalam jumlah tinggi maka pencernaan serat kasar yang terkandung dalam hijauan akan menurun. Sebaliknya karbohidrat yang mudah dicerna dan lemak itu sendiri akan meningkat daya cernanya. Disarankan untuk menambahkan lemak/minyak pada ternak yang pemberian konsentratnya banyak.

3.4. Mineral

Mineral merupakan bahan anorganik dalam bahan pakan atau jaringan tubuh. Fungsi mineral membantu proses metabolisme. Mineral esensial terdapat 15 macam dan sering di bagi menjadi 2 kategori berdasarkan pada jumlah yang diperlukan dalam pakan. Mineral yang diperlukan dalam jumlah banyak disebut mineral makro dan dinyatakan dalam persen dari pakan. Mineral yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit disebut mineral mikro (trace) dan dinyatakan dalam ppm (part per million) atau milligram per kilogram.

Dengan berkembangnya ilmu makanan ternak beberapa mineral diduga esensial bagi ternak, misalnya : flour (F), silikon (Si), titanium (Ti), vanadium (V), chromium (Cr), nickel (Ni), arsenic (As), bromine (Br), strontium (Sr), Cadmium (Cd) dan Tin (Sn). Masing- masing kelompok mineral dijelaskan sebagai berikut:

3.4.1. Mineral Makro

Mineral berfungsi membentuk tulang, merupakan komponen dari organ tubuh, kofaktor enzim, dan menjaga tekanan osmotic. Kelompok mineral makro terdiri dari 7 jenis yaitu: calsium (Ca), phospor (P), potasium (K), Magnesium (Mg), sulfur (S), natrium (Na) dan Chlorida (Cl).

Fungsi masing-masing mineral makro dijelaskan sebagai berikut:

  • Kalsium dan Pospor

Kalsium dan pospor diperlukan untuk pembentukan dan merawat tulang. Rasio Ca-P pada ternak ruminansia dianjurkan 1:1 sampai 1:2, rasio yang terlalu lebar misalnya 8:1 akan menurunkan produksi ternak. Komposisi kalsium dan pospor dari bagian mineral tubuh sebersar 70%. Fungsi kalsium untuk membentuk tulang, proses pembekuan darah, kontraksi otot-syaraf, keseimbangan asam-basa dan aktifitas sejumlah ensim.

Kebutuhan Ca-P pada ternak sapi dihitung berdasarkan kebutuhan untuk hidup pokok dan produksi, Untuk kebutuhan hidup pokok 1,54 gram Ca dan 2,80 gram P untuk setiap 100 kg berat badan ternak. Untuk pertumbuhan di hitung Ca sebanyak 7,1 gram dan P sebanyak 3,9 gram untuk setiap pertambahan protein 100 gram. Untuk produksi susu dioperlukan Ca sebanyak 1,23 gram dan P sebanyak 0,95 gram untuk setiap Kg produksi air susu.

Pospor berfungsi untuk pembentukan tulang, penggunaan energi, sistem ensim, kesimbangan asam basa, translokasi lemak dan struktur sel. Sumber P adalah tepung ikan, tepung kerang, tepung tulang dan kapur.

Pastura tropis rendah kandungan pospornya. Hijuan yang tua dan limbah pertanian kandungan P nya juga rendah sehingga banyak ternak sapi yang menderita defisiensi P. Gejala defisiensi pada ruminansia P antara lain :

  • Tingkat pertumbuhan menurun (berhenti)
  • Pica atau Nafsu makan yang aneh (makan apa saja yang tidak lazim kayu, tanah, tulang)
  • Tidak ada estrus (birahi),
  • Tingkat konsepsi (perkawinan) yang rendah pada ternak jantan
  • Tulang lemah, rapuh dan kelemahan pada sendi-sendi

Untuk suplemen P dapat digunakan preparat dikalsium fosfat atau natriun fosfat atau amonium polifisfat. Sumber P dalam pakan adalah bungkil- bungkilan, produk hewani (tepung tulang-daging), dan tepung ikan. Sodium (Na), potassium magnesium dan klorida (Cl) berfungsi bersama-sama dengan fosfat dan bikarbonat menjaga homeostatis proses osmosis dan pH badan. Sodium dan clorine penting untuk semua ternak. Dalam pakan ditambahkan garam untuk memaksimumkan tingkat pertumbuhan dan produksi. Jika kandungan garam tinggi maka konsumsi air juga akan meningkat.

  • Potasium (K)

Kalium (K) merupakan mineral intraseluler yang berperan dalam metabolisme karbohidrat dan protein, keseimbangan asam- basa, pengaturan tekanan osmose, dan keseimbangan air. Kekurangan mineral ini akan mengganggu aktifitas ternak dan peran mineral makro lainnya.

Pada ternak ruminansia kebanyakan K menyebabkan defisiensi Na (NaCl) demikian juga sebaliknya. Pada ternak yang banyak makan hijauan, kadar K dalam hijauan lebih tinggi dari Na. Sapi akan lebih banyak mengkonsumsi NaCl jika ransum banyak mengandung hijauan. Pakan konsentrat lebih sedikit mengandung K dari pada hijauan.

Hijauan yang berkualitas rendah kandungan K nya juga rendah. Pada pemberian konsentrat yang tinggi, misal pada proses penggemukan maka unsur K harus diperhatikan, karena K dalam konsentrat kandungannya rendah. Bahan yang banyak mengandukng K adalah tetes. Kebutuhan K pada ruminasia berkisar 0,5-0,8%.

  • Magnesium (Mg)

Magnesium merupakan bagian dari jaringan tubuh dan cairan tubuh lainnya. Bahan pakan yang mengandung Mg antara lain dedak gandum (Pollard), konsentrat nabati sumber protein (Bungkil kedelai) dll.

Pada ternak ruminansia Mg terdapat pada tulung dengan kandungan 0,5-0,7%. Dalam jaringan daging kandungannya 190 mg/kg, sedangkan pada syaraf 100 mg/kg. Fungsi Mg sebagai katalisator enzim dalam metabolisme karbohidrat dan protein, oksidasi sel dan mempengaruhi aktivitas neuromuskular. Kebutuhan Mg pada anak sapi diperkirakan sebesar 12-30 mg/kg berat badan. Untuk induk sapi bunting dibutuhkan 9 mg/kg berat badan, sedang untuk induk laktasi diperlukan sebsesar 21 gr/kg berat badan per hari. Dalam pakan ternak Mg terdapat pada hijauan pakan ternak dan konsentrat.

Gejala-gejala defisiensi Mg pada sapi sebagai berikut:

  • Sapi menegangkan leher (opistotonus) dengan mengangkat kepala setinggi tingginya.  Anak sapi sering menggerakkan telinga ke belakang dengan posisi agak kebawah dan sensitif terhadap rangsangan dari luar (suara atau fisik), terjadi tremor urat daging, konvulsi kemudian mati.
  • Gras tetany, sapi mengalami gejala seperti penyakit tetanus yaitu kejang-kejang karena aktivitas daging yang meningkat (tremor).

Cara mengatasi kekurangan Mg

  • Memupuk pastura dengan preparat Mg (Calsined magnesite), dosis pemupukan 17 kg/ha.
  • Penambahan preparat Mg pada konsentrat dengan dosis MgO2 sebanyak 5 gr/400 gram pakan per hari
  • Penambahan MgO2 pada molase blok dengan dosis 50 gr/hari untuk sapi dewasa dan 7-15 mg untuk anak sapi.
  • Penambahan preparat Mg pada air minum
  • Pemberian dosis tunggal 400 ml latrutan yang mengandung 25% Mg sulfat atau Mg laktat pada intravenus.
  • Pemberian kapsul Mg alloy sebesar 226 gram pada sapi yang menderita tetani.
  • Belerang (S)

Sulfur merupakan bagian dari protein yang terdapat pada asam amino cystine, cystein dan methionine. Disamping itu S juga terdapat pada vitamin biotin, thiamin dan polisakarida yang banyak mengandung sulfat. dan sebagian kecil dalam darah. Disamping sebagai materi pembangun S juga berfungsi pada metabolisme protein, lemak dan karbohidrat, pembentukan darah, endokrin, keseimbangan asam basa. Kebutuhan ternak ruminansia akan S belum jelas, diperkirakan 0,10-0,32%.

Pakan alami biasanya sudah mencukupi kebutuhan ternak akan sulfur. Sumber S pada pakan ternak adalah hijauan dan jagung atau silase jagung. Namun dalam kasus defisiensi S ternak menunjukan gejala klinis penurunan nafsu makan, dan pertambahan berat badan, kelemahan umum, lakrimasi, sampai dapat terjadi kematian. Sesuai dengan fungsinya maka defisiensi S menyebabkan gangguan sintesis protein mikroba, gejala kekurangan protein, penurunan kecernaan selulosa, dan penimbunan asam laktat yang terlihat dalam darah dan urin. Kadar S yang aman adalah 0,1-0,2%, tergantung jenis makanan.

  • Calsium (Ca)

Ca merupakan mineral yang paling banyak dalam tubuh. Mineral ini dibutuhkan untuk pembentukan tulang, perkembangan gigi, produksi air susu, telur, transmisi impuls syaraf, pemeliharaan eksitabilitas urat daging yang normal (bersama-sama dengan K dan Na), regulasi denyut jantung, gerakan urat daging, pembekuan darah dan mengaktifkan menstabilkan enzim (misalnya: amilase pankreas). Defisiensi Ca menyebabkan riketsia, pertumbuhan terhambat, tidak ada koordinasi otot.

  • Rickets,

Gejala rickets di jumpai pada sapi muda yaitu tulang hewan muda terganggu. Tanda- tanda klinis yang nampak adalah: tulang menjadi lemah, lembek (kurang padat), sensi- sendi membengkak, pembesaran ujung tulang, kaki kaku, tulang punggung melengkung, bungkul pada tulang rusuk. Jika rickets dibiarkan maka akan terjadi kelainan pada kaki yang melengkung hal ini disebabkan oleh tensi urat daging dan bobot badan yang di pikul oleh tulang kaki yang lemah.

  • Osteomalasia,

Kekurangan Ca pada ternak dewasa akan menyebabkan osteomalasia. Yaitu akibat demineralisasi dari tulang hewan yang sudah dewasa. Kandungan Ca (dan P) dalam tulang sifatnya dinamis, artinya pada saat produksi ternak tinggi akan mengambil Ca dari tulang. Gejala klinis antara lain kelemahan tulang dan gampang rusak kalau kena tekanan.

Baca Juga :   Domestikasi Ternak di Indonesia

Kadar Ca bahan pakan sangat bervariasi yang disebabkan oleh jenis tanaman, bagian dari tanaman dan umur tanaman. Hijuan pakan ternak yang lebih tua kadar Ca nya akan menurun. Leguminosa atau kacang-kacangan lebih banyak mengandung Ca dari pada rumput. Biji-bijian untuk konsentrat kadar Ca nya rendah. Sumber Ca adalah kalsium karbonat, batu kapur giling, tepung tulang, dikalsium forpat, kalsium sulfat, tepung ikan, tepung kerang, tepung tulang.

3.4.2. Mineral Mikro (Trace Mineral)

Trace mineral (mineral mikro) terdiri dari 8 jenis yaitu : cobalt (Co) , cooper (Cu), Iodine (I), besi (Fe), mangan (Mg), selenium (Se), cobalt (Co) dan zink (Zn). Cobalt juga diperlukan tetapi sudah terdapat pada vitamin B12. tembaga dan besi sering sudah cukup pada bahan pakan sehingga tidak perlu penambahan. Trace mineral merupakan bagian dari molekul organik. Besi merupakan bagian dari hemoglobin dan citocrom. Yodium adalah bagian dari thyroxine. Tembaga, mangan, selenium, dan zink membantu proses enzim. Khusus untu zink merupakan bagian dari struktur DNA.

Kebutuhan trace mineral dipenuhi dari bahan pakan yang di konsumsi ternak. Pada kasus khusus tanah yang ditumbuhi bahan pakan defisiensi trace mineral yang menyebabkan kandungan trace mineral dalam bahan pakan rendah.

Masing- masing mineral mikro dijelaskan sebagai berikut:

  • Mangan (Mn)

Mn diperlukan untuk aktivator enzim, dan trasfer pophat dan decarboxilase, mencegah perosis, dan pertumbuhan tulang. Sumber Mn adalah hijauan dan bahan konsentrat seperti jagung. Didalam tubuh ternak Mn dijumpai pada hati, ginjal, pankreas, dan pituatary, dan sedikit pada jantung, urat daging dan tulang. Pada ruminansia Mn berfungsi sebagai sintesa karbohidrat, mucoplyssacharide, sistem ensim, misalnya pyruvate carboxylase, arginine synthetase dll. Kebutuhan Mn pada ruminansia belum banyak diketahui tetapi kekurangan Mn menyebabkan gejala klinis bentuk tulang dan postur yang abnormal.

Kelainan bentuk tulang antara lain kaki bagian bawah, pembengkakan sendi, humerus yang relatif pendek, dan tulang yang relatif rapuh. Defisiensi Mn juga dapat menggagu proses reproduksi ternak jantan dan betina. Pada ternak jantan menyebabkan, gangguan spermatogenesis, degenerasi testis, dan epididimus, dan berkurangnya hormon kelamin yang menyebabkan sterilitas.

Pada ternak betina dapat terlihat ertrus yang tidak menentu (tidak ada), dan tidak terjadi konsepsi (pembuahan) dan kalaupun terjadi pembuahan dapat menyebabkan keguguran. Di daerah tropis yang banyak terdapat gunung berapi bisanya jarang terjadi kasus kekurangan Mn. Hal ini disebabkan Mn dalam hijauan dan pakan konsentrat sudah cukup untuk kebutuhan ternak. Sumber Mn adalah hijauan, konsentrat dan premix mineral buatan pabrik.

  • Copper (Cu)

Copper berperan dalam enzim dan ultilisasi besi dalam pigmentasi kulit dan pembentukan hemoglobin. Beberapa enzim yang membutuhkan copper antara lain ceruloplasmin, cytochrome, oxidase, lusine oksidase, tryrosinase, plastocyanin, dan baemocyanin. Penyerapan copper dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: keasaman lambung, penggunaan calsium carbonat dan ferros sulfid akan menurunkan penyerapan Copper. Copper yang tidak terserap akan dikeluarkan lagi melalui tinja (feces). Pada kenyataannya dari copper yang dikonsumsi lebih dari 90% disekresikan kembali oleh ternak. Sumber copper adalah pakan alami.

Fungsi esensial dalam tubuh antara lain:

  • Pembentukan hemoglobin, penyerapan Fe dan mobilisasi Fe dari tempat penyimpannya.
  • Membantu metabolisme tenunan pengikat
  • Kofaktor ensim memerlukan Cu utnuk aktifitas biologisnya. Enzim tersebut antara lain: cytochrome oxidase, ascorbic acid axidase dll. Dalam tubuh ternak Cu dapat ditemui pada hati, otak, jantung, urat daging, dan lemak. Pakan dengan kandungan Cu 10 ppm dianggap cukup untuk sapi pedaging. Gejala defisiensi Cu antara lain: terganggunya pigmentasi, menderita fibrosis miokardium, tulang pipih dengan tulang rawan melebar, mudah mengalami fraktur atau aoetoporosis. Hampir semua hijauan dapat mensuplai kebutuhan Cu ternak sebanyak
  • 3-4 kali yang dibutuhkan. Namun tanaman yang banyak mengandung pitat dan lignin dapat menurunkan penyerapan Cu. Preparat Cu yang dapat digunakan adalah CuCO3, CuSO4 dll.
  • Iodium (I)

Mineral iodium terdapat dalam tubuh ternak kelenjar tiroid, darah, daging dan susu. Jaringan lain yang mengandung I adalah lambung, kelenjar saliva, ovarium, kelenjar pituatary, kulit, plasenta, dan rambut. I diperlukan untuk sintesis hormon oleh kelenjar thyroid yang mengatur metabolisme energi. Hormon tiroid memegang peran dalam termoregulasi, proses metabolisme antara, reproduksi, pertumbuhan dan perkembangan, sirkulasi dan fungsi urat daging.

Penyerapan yodium pada susu kecil dan dikonsentrasikan pada kelenjar thyroid. Kebutuhan I belum jelas, diperkirakan sekitar 0,05-0,8 ppm. Defisiensi I menyebabkan kelenjar gondok membengkak, kehilangan bulu, kekurangan hormon tiroksin yang ditandai dengan kelemahan umum, basal metabolisme menurun, pertumbuhan lambat, pedet lahir mati. Pada hewan betina menyebabkan gangguan estrus sedang pada jantan menyebabkan menurunnya libido. Sumber yodium adalah pakan alami seperti tepung ikan dan hijauan makanan ternak.

  • Zinz (Zn)

Zn (seng) berperan dalam pengaktif dan komponen beberapa enzim seperti carbonic anhydrase, carboxys peptidase, alkohol dehidogenase yang berperan dalam metabolisme asam nukleat, sintesis protein dan metabolisme karbohidrat. Dalam kulit dan jaringan tubuh lainnya serta tulang juga terdapat Zn. Gejala klinis pada ruminansia adalah tidak peduli terhadap lingkungannya, pembengkakan kaki dan dermatitis pada leher, kepala dan kaki, gangguan penglihatan, banyak bersalivasi (ludah), penurunan fungsi rumen, luka sulit sembuh, dan gangguan reproduksi ternak jantan.

Sumber Zn adalah dedak padi dan dedak gandung. Namun demikian defisiensi Zn jarang terjadi karena dalam pakan ternak sudah tersedia cukup kandungan Zn. Didalam luguminosa terdapat kandungan Zn 60 ppm, biji-bijian mengandung 10-30 ppm Zn, sumber protein nabati mengandung 50-70 ppm Zn, sumber protein hewani mengandung 100 ppm. Kebutuhan Zn ternak ruminansia sulit diperkirakan namun secara umum kebutuhan tersebut 20-40 mg/kg berat kering pakan.

  • Selenium

Se berperan pada proses metabolisme yang normal dan ada kaitannya dengan vitamin E. Vitamin E dapat menggantikan kebutuhan mineral Se. Kelebihan Se akan menyebabkan keracunan ternak. Sumber pakan yang mengandung Se antara lain jagung (20 ppm), dan dedak gandum (55 ppm).

Dalam tubuh ternak berupa seleno-protein yang terdistribusi secara luas dalam tubuh. Se juga berperan dalam penyerapan lipid dalam saluran pecernaan, atau pengangkutan melalui dinding usus. Dalam tanaman Se terdapat dalam bentuk selenium amino acid bersama-sama dengan protein. Kandungan Se tanaman sangat tergantung dari kandungan Se dalam tanah. Pada tanaman selenium terdapat pada leguminosa dan rumput.

Kebutuhan Se pada sapi yang sedang tumbuh adalah 0,10 mg/kg ransum kering, untuk sapi jantan dan induk yang sedang bunting 0,05-0,10 mg/kg ransum kering. Kekurangan Se menyebabkan daging sapi berwarna putih, gangguan jantung, dan paralisis. Kelebihan Se menyebabkan keracunan dengan gejala bulu ekor rontok, hilangnya nafsu makan, kuku coplok, dan bisa mati karena kelaparan, haus dan gangguan pernafasan.

  • Molibdenum (Mo)

Mo didapati pada seluruh urat daging-tulang dan sedikit pada hati, ginjal dan bulu ternak. Fungsi dari Mo adalam komponen esensial dari beberapa enzim misalnya: xanthine oksidase, aldehyda oksidase dll. Kebutuhan Mo bagi ternak ruminansia belum diketahui secara jelas. Kekurangan Mo jarang ditemukan, tetapi kelebihan Mo justru menyebabkan defisiensi Cu dan menjadi racun yang menyebabkan diare, anoreksia, anemia, ataksia, dan kelainan bentuk tulang, depegmintasi kulit atau bulu. Sumber pakan yang mengandung Mo adalah hijauan segar, sedang pada hijauan kering kandungan Mo menurun.

  • Cobalt (Co)

Dalam tubuh ternak Co ditemukan pada hati, mata, ginjal, kelenjar adrenal, limpa dan pankreas dan sedikit pada sumsum tulang darah, susu dan empedu. Didalam rumen sapi Co digunakan mikroba untuk pembentukan B12. pada makanan ternak kandungan Co pada rumput lebih rendah dari pada leguminoisa. Kebutuhan Co pada pakan sebesar 0.1 ppm dari bahan kering pakan. Pada tanah yang berpasir kandungan Co rendah sehingga tanaman yang tumbuh di tanah tersebut juga rendah kandungan Co. Jika ternak makan tanaman yang tumbuh ditanah tersebut akan mengalami defisiensi Co.

Pada tanah yang banyak diberi kapur juga kadar Co rendah. Gejala defisiensi Co adalah nafsu makan menurun, pertumbuhan terganggu, pertambahan berat badan berkurang, diikuti nafsu makan yang semakin berkurang, cepat kurus, anemia parah, dan hewan dapat mati. Dari segi reproduksi terdapat 3 gejala klinis akibat defsiensi Co yaitu: penundaan ovulasi-estrus, estrus tidak teratur, dan gejala estrus tidak jelas. Untuk mencegah defisiensi Co dapat dilakukan upaya-upaya sebagai berikut:

  • Pemupukan pastura dengan preparat Co
  • Penyuntikan viatmin B12
  • Penambahan Co pada pakan dengan dosis 2 gram/ton pakan.
  • Mencekok sapi dengan mineral yang mengandung Co
  • Pemberian Co dalam bentuk Cobaltik Oksida dan tanah lempung
  • Fe

Dalam tubuh Fe didapati pada hati, limpa, ginjal, jantung, sumsum tulang, darah dan sel- sel lainnya. Fungsi Fe dibutuhkan pada pembentukan hemoglobin, mioglobin, enzim satilase, dan peroksidase. Fe berperan dalam tarnspor oksigen dalam sel dan respirasi sel.

Kebutuhan anak sapi berkisar 100 ppm sedangkan sapi dewasa 50 ppm dari bahan kering pakan. Kelebihan Fe akan di simpan dalam hati, limpa dan sumsum tulang. Kadar Fe yang diperlukan dalam pakan ternak sebesar 100 µg/g cukup untuk semua jenis ternak. Defisiensi Fe banyak terdapat pada anak sapi karena dalam air susu kadarnya rendah, juga bisa disebabkan oleh pendarahan yang disebabkan parasit.

Gejala klinis dari defisiensi Fe adalah anemia, (selaput lendir menjadi pucat), kadar hemoglobin menurun, tingkat kejenuhan transferin menurun, kurang memperhatikan lingkungan, nafsu makan dan pertambahan berat badan menurun, serta anthrophy pada papil-papil lidah. Pada prakteknya kebanyakan rumput mengandung Fe 100-250 ppm dan leguminosa mengandung 200-300 ppm, sehingga kasus kekurangan Fe jarang terjadi karena kandungan Fe hijauan lebih tinggi dari yang dibutuhkan ternak.

Bahan yang mengandung Fe tinggi adalah tepung daging dan ikan dengan kadar Fe 400-600 ppm, biji-bijian 30-80 ppm dan bungkil 100-400 ppm. Jika diperlukan suplemen Fe dapat menggunakan Fe sulfat, fero karbodat, feri klorida dll

  • Mineral yang Mungkin Esensial

Fluor (F) sangat baik digunakan oleh tulang dan gigi. Pada jaringan lunak F paling banyak terdapat pada ginjal. Kasus keracunan F disebabkan oleh kontaminasi makanan dan minuman. Air dengan kadar F 3-15 ppm akan berakibat racun dan pakan yang mengandung F sebesar lebih dari 2 ppm. Tanaman pada kondisi normal mengandung F sebesar 1-2 ppm.

Sapi yang mengkonsumsi pakan yang mengandung F sebesar 100 ppm akan menyebabkan keracunan akut, sedang kandungan 30 ppm dalam jangka lama akan menyebabkan flourosis kronis. Gejala keracunan adalah eksitasi, tingginya kadar F dalam darah dan urin, kaku, anorexia, salvias berlebihan, muntah, spasmus urinasi dan defekasi, lemah, depresi yang berat dan kelainan jantung. Sumber F adalah tepung tulang, tepung darah (hasil ikutan ternak), dan tepung ikan.

3.5 Vitamin

Vitamin digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu vitamin yang larut dalam lemak dan vitamin yang larut dalam air. Vitamin yang larut dalam lemak terdiri dari vitamin A,D, E dan K. Sedangkan vitamin yang larut dalam air terdiri dari tiamin, riboflavin, asam nikotenat, folasin, biotin, asam pantotenat, pyridoxine, B 12, dan koline.

Kebutuhan vitamin dinyatakan dalam milli gram per kilogram pakan, kecuali vitamin A,D dan E dinyatakan dalam Internasional Unit (IU).

Pada ternak ruminansia perhitungan kebutuhan vitamin lebih rumit karena beberapa vitamin dapat disintesa oleh mikroba di dalam rumen, misalnya B komplek. Vitamin yang larut dalam lemak tidak disintesa dalam rumen dan beberapa didegradasi oleh mikroba rumen, sehingga harus ada penentuan secara khusus tentang kebutuhan ternak ruminansia untuk dapat berproduksi yang maksimum.

3.5.1. Vitamin Yang Larut Dalam Lemak

  • Vitamin A (Retinol)

Vitamin A terlibat dalam sistem penglihatan dan pengelolaan jaringan epitel di seluruh permukaan tubuh bagian luar maupun bagian dalam serta berbagai kelenjar endokrin/gonad. Peran vitamin A juga membantu pembentukan protein.

Pakan ternak terdiri dari bahan nabati dan hewani. Pada bahan hewani terdapat vitamin A sejati, sedang pada pakan nabati terdapat provitamin A yang berawal dari caroten. Provitamin A tersebut akan diubah menjadi vitamin A oleh ternak. Untuk ternak ruminansia disaran kandungan vitamin A dalam pakan sebesar 1200 IU/Kg ransum kering untuk ternak yang sedang tumbuh, sedang untuk ternak betina laktasi dan pejantan disarankan 3900 IU per kg ransum kering.

Pada ternak ruminansia gejala defisiensi lebih banyak pada ternak muda yang cepat pertumbuhannya dibanding ternak tua. Gejala defisiensi pada sapi sebagai berikut: anoreksia diikuti dengan buta malam, diare yang parah, tidak ada koordinasi dalam bergerak, banyak airmata dan ingus, konvulsi, buta permanen, kornea mata pecah, pertumbuhan terganggu, berat badan menurun, dan bulu kulit kasar.

Kelebihan vitamin A akan menyebabkan ternak keracunan. Pada sapi keracunan pada dosis 17.000 IU per kg ransum kering. Keracunan pada ruminansia menyebabkan menurunnya aktifitas enzim pada metabolisme energi sehingga mempengaruhi proses pertumbuhan.

Sumber vitamin A adalah hijauan segar, silase, atau hay, jagung kuning, dan vitamin sintetis (asetat sintetis). Minyak hati merupakan sumber vitmin A yang terbaik tetapi jarang digunakan pada peternakan.

  • Vitamin D (Ergocalciferol)

Vitamin D memiliki banyak bentuk, tetapi yang penting bagi ternak adalah D2 (ergocalciferol) dan D3 cholecalcifero). Vitamin ini berfungsi dalam penyerapan vitamin Ca dan P dan proses kalsifikasi dalam pertumbuhan tulang. Secara umum vitamin D dibutuhkan untuk membantu pertumbuhan Dengan bantuan sinar ultra violet matahari tubuh ternak dapat mengubah provitamin D menjadi vitamin D.

Baca Juga :   Cara Pencegahan dan Pengobatan Penyakit

Prinsip ini dimanfaatkan peternak dalam membangun arah kandang yaitu agar dapat memanfaatkan sinar matahari untuk membantu proses pembentukan vitamin D. Namun dengan berkembangnya vitamin sintesis teori tersebut tidak selalu mutlak diterapkan dan ditambah penemuan bahwa lampu listrik (Neon) dapat mengganti peran sinar matahari.

Ternak sapi membutuhkan vitamin D sebanyak 275 IU per Kg berat kering pakan secara rinci untuk anak sapi sebanyak 4 IU/kg berat badan, untuk sapi yang sedang tumbuh 2,5 IU/kg berat badan, dan 10 IU /kg BB uantuk sapi bunting/laktasi.

Defisiensi vitamin D pada sapi menunjukan gejala gangguan tulang dan riketsia pada sapi muda, menurunnya Ca dan P darah dengan tanda klinis sendi- sendi membengkak dan kaku, anorexia, respirasi cepat, iritabilitas, tetany, kelemahan, konvulsi, dan pertumbuhan terhambat. Pada sapi dewasa tulang mudah fraktur (retak) bahkan patah, jika terjadi pada tulang punggung akan menyebabkan sapi lumpuh. Sumber vitamin D dalam pakan berasal dari hijauan pakan ternak dengan kandungan provitamin D sebanyak 11 IU dan premix mineral buatan pabrik.

  • Vitamin E (Alfa tokoferol)

Terdapat 7 vitamin E, tetapi alpha tokoferol adalah yang paling banyak penyebarannya pada bahan pakan ternak. Vitamin E berfungsi menjaga kesuburan ternak atau antisteril. Peran vitamin E sebagai zat makanan yang vital dalam metabolisme urat daging/syaraf, kontraksi urat daging, sirkulasi, respirasi, pencernaan, ekskresi, pertumbuhan, konversi kanan dan reproduksi.

Kebutuhan vitamin E pada anak sapi 15-60 IU/Kg berat kering pakan, untuk sapi yang seang tumbuh 6,8-27,3 IU/Kg ransom dan untuk sapi dewasa 13600 IU/0,45 kg ransum, dan 54.600 IU/ton ransum untuk sapi dara, laktasi dan bunting.

Sumber vitamin E adalah pakan hijuan dan biji-bijian. Hijauan segar mengandung 100-200 mg/kg vitamin E, jagung kuning 25 mg/kg, juwawut 11 mg/kg, dn gandum 2-3 mg/kg. Nampak bahwa hijuan lebih banyak mengandung vitamin E dibanding biji-bijian. Karena vitamin E tidak stabil maka disarankan menambahkan premix mineral untuk suplai vitamin E.

  • Vitamin K

Vitamin K dikenal sebagai Anti haemoragi karena dibutuhkan untuk membentuk protombin yang penting dalam proses pembekuan darah jika terjadi luka pada ternak. Fungsi lain adalah menyediakan energi untuk fungsi sel.

Pada ternak ruminansia vitamin K dapat disintesa oleh mikroba dalam rumen dan saluran pencernaan dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan. Vitamain K merupakan satu-satunya vitamin yang larut dalam lemak yang dapat disintesa oleh ternak ruminansia. Pada kasus sapi mengkonsumsi zat anti koagulan (misal dekumarol dari jamur, tanaman leguminosa/clover), yang mencegah pembentukan protrombin yang akanmenyebabkan ternak defisiensi K.

Sumber vitamin K adalah bahan dari tanaman (K1), hewani (K2) dan K3 dari vitamin sintetis. Vitamin K sintetis dikenal dengan menadion. Bahan pakan sebagai sumber alami Vit K adalah tepung ikan, bungkil kacang kedelai.

3.5.2. Vitamin Yang Larut Dalam Air

Vitamin yang larut dalam air terdiri dari B1, B2, B6, niacin, biotin, B12, asam folat dan C. masing-masing manfaat dan gejala defisiensi dijelaskan sbb:

  • Vitamin B1 (Thiamin)

Dalam tubuh ternak vitamin B1 berfungsi sebagai koensim kokarboxilase dalam bentuk thiamin phyrophospahate. Fungsinya untuk proses enzimatis dekarbosilase asam alpha keto atau dengan kata lain metabolisme asam piruvat menjadi asetat. Secara sederhana diuraikan bahwa vitamin B1 membatu metabolisme karbohidrat menjadi energi.

Kekurangan thiamin menyebabkan akumalasi asam asam piruvat dan akan menurunkan produksi asam laktat di jaringan, dan ternak menunjukan defisiensi vitamin B1. Defisiensi pada ternak ruminansia menunjukan gejala buta, urat daging tremor, gigi gemeretak, opisthotonus dan konvulsi.

Pada ruminansia sumber vitamin B1 dari pakan dan mikroba rumen. Mikroba rumen dapat mensintesis vitamin B1. Pada anak sapi dimana mikroba rumen belum berkembang maka sumber B1 dari air susu yang diminumnya. Jika air susu diganti dengan susu pengganti (milk replecement) maka disarankan menambahan vitamin B1 menurut NRC sebanyak 65 µg/kg bobot badan.

  • B2 (Riboflavin)

Vitamin B2 berfungsi membantu tranportasi hidrogen, metabolisme protein dan energi. B2 merupakan komponen flavoprotein yang berfungsi sebagai konenzim.

Pada ruminansia gejala defisiensi sebagai berikut anoreksia, lakrimasi, salivasi berlebihan, diare, sakit disudut mulut, bulu rontok, dan dapat mati. Kejadian defisiensi disebabkan kandungan dalam pakan rendah dan mikroba rumen terganggu. Sumber vitamin B2 adalah dari bahan pakan dan sintesis mikroba rumen. Disarankan untuk menambah vitmain B2 sebanyak 65 µg/kg bobot badan pada anak sapi yang diberi minum susu pengganti. Sumber B2 adalah jagung kuning dan bungkil kedelai.

  • Niacin

Niacin berberan sebagai koensim yang membantu metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Bentuk koensim adalah nicotinamide dinucleoide (NAD) dan nicotinamide dinucleoide phosphate (NADP). Sumber niacin adalah bekatul, tepung ikan, dedak padi, dedak gandum dan bungkil.

Pada ternak ruminansia niacin dapat dibentuk dari tryptopan. Reaksi ini terjadi didalam mikroba dan jaringan rumen. Sehingga niacin erat hubungannya dengan thryptophan. Jika kadar tryptopan dalam pakan rendah (0,2%) maka baru ada kebutuhan minimal niacin. Kandungan tryptopan 60 mg setara dengan 1 mg Niacin. Anak sapi yang kandungan air susunya rendah akan menderita defisiensi Niacin.

  • Pyrodoxin (B6)

Vitamin B6 berfungsi sebagai koensim yang membantu proses metabolisme protein. Sehingga perannya esensial dalam proses pertumbuhan. Sumber B6 adalah pakan berasal dari hewani, bungkil kedelai, dan biji- bijian. Dalam kondisi normal jarang terjadi defisiensi B6 kecuali jika pakan rusak atau bahan pakan dipalsukan.

  • Biotin

Biotin sebagai kelompok prostetik berperan pada beberapa enzim yang memantapkan katalis CO2 kedalam jaringan organik. Enzim yang mengandung Biotin adalah acetyl koensim A karbosilasi, propionil koensim A karboxilasi dan methyl malonyl transkarbosilasi. Pada ruminan bitoin dibutuhkan pada siklus urea, sintesis arginin, pirimidin (asam nukleat penyusun DNA), lintasan ekstra mitokondrial dan sitesa asam lemak, sehingga penting perannya dalam proses pertumbuhan.

Sumber Biotin adalah dedak, bekatul, biji-bijian. Jarang dijumpai defisiensi bitoin, namun jika kasus terjadi gejalanya adalah perosis, pertumbuhan lambat, kerdil dan dermatitis disekitar dan kaki.

  • Asam Folat

Vitamin ini memegang peranan penting salam reaksi biokimia dalam memindahkan unit C tunggal dalam berbagai reaksi. Fungsinya antara lain dalam interkonversi serin dan glysin, dalam sitesa purin, degradasi histidin atau dalam sintesa group methyl tertentu. Purin penting dalam pertumbuhan dan reproduksi semua jaringan tubuh karena purin merupakan bagian dari DNA.

Defisiensi asam folat maka pembentukan nucleo protein dalam proses pendewasaan sel- sel darah tidak terjadi dan akan menyebabkan gejala anemia yang spesifik. Oleh karena itu Folat juga dikenal dengan anti anemia. Pada ternak ruminansia kebutuhan folat dipenuhi dari pakan dan sintesis mirkoba rumen. Sumber asam folat adalah tepung ikan dan jagung.

  • Cyanocobalalamin (B12)

Fungsi B12 adalah sebagai koenzim pada beberapa reaksi metabolik. Vitamin ini dibutuhkan untuk sintesis grup metil dari karbon tunggal sebagai prekusor, secara langsung dibutuhkan dalam metabolisme asam amino dan sintesis protein. Selain itu B12 juga berfungsi pada metabolisme propionat yang penting sebagai pembentuk glukosa.

B12 juga diperlukan oleh mikroba rumen. Defisiensi B12 pada ruminan menyebabkan terakumulasi propionat dan asetat dalam darah yang akan menyebabkan menurunnya nafsu makan 40-70%. Anak sapi perlu suplai vitamin B12 pada makanannya, sedang sapi dewasa hanya perlu suplai Co agar mikroba dalam rumen dapat mensintesis B12.

Kebutuhan anak sapi diperkirakan 0,54 mg per kg berat badan. Suplai Co pada ternak ruminansia diperlukan sebagai salah satu bahan dalam pembentukan vitamin B12. sapi dara yang diberi silase akan memproduksi vitamin B12 lebih banyak daripada ternak yang diberi hay (rumput kering).

  • Kolin (Choline)

Kolin merupakan substansi esensial dalam pembentukan dan pemeliharaan struktur sel dan metabolisme lemak dalam hati. Kolin terdiri dari komponen asetil kolin yang berperan pada mediator dalam aktivitas urat syaraf. Pembentukan asetil kolin yang penting dalam transmisi impuls syaraf membutuhkan kolin.

Pada ternak ruminansia kolin disintesa oleh mikroba rumen. Hasil suatu percobaan pada ternak sapi pedaging, dengan penambahan kolin sebanyak 500 mg per kg ransum akan meningkatkan total mikroba rumen, produksi gas dan VFA (Volatil Fatty Acid). Hasil yang diperoleh adalah kenaikan berat badat 7% dan efisiensi pakan 2,5%.

  • Vitamin C

Vitamin C secara kimiawi dikenal dengan L asam askorbat. Peran vitamin C adalah pada mekanisme oksidasi dan reduksi di dalam sel-sel hidup. Fungsi lain dari vitamin C adalah mengurangi tekanan pada iklim tropis. Pada ternak ruminansia vitamin C disintesa dalam rumen ternak.

Ringkasan Gejala Defisiensi Vitamin tertera pada Tabel 8.

3.6. Air

Air merupakan nutrisi yang penting bagi ternak. Kebutuhan air sangat tergantung dari temperatur lingkungan dan kelembaban relatif dan komposisi pakan ternak, tingkat pertumbuhan, dan efisiensi ginjal. Jumlah air yang dikonsumsi diperkirakan 2 kali lebih banyak dari pakan yang dikonsumsi berdasarkan berat pakan, tetapi konsumsi air pada kenyataannya sangat bervariasi. Proporsi air sebesar 2/3 bagian dari masa seekor ternak, dengan berbagai peran dalam kehidupan ternak.

3.6.1. Fungsi Air

Fungsi air terdiri dari 4 komponen yang terintegrasi dalam system pertumbuhan.

  • Komponen jaringan

Air bebas yang terikat dalam jaringan daging merupakan contoh yang baik. Perubahan keduanya (air bebas dan terikat)

prinsip pemberian pakan ternak

dapat mengubah aktivitas enzim yang selanjutnya berpengaruh pada tingkat pertumbuhan urat daging. Jumlah air yang di ikat dipengaruhi oleh fase perkembangan jaringan urat daging. Sapi yang tua kapasitas mengikat air lebih tinggi dibanding sapi yang lebih muda.

  • Media Fisik

Air berfungsi sebagai pengantar zat makanan dari saluran pencernaan kedalam jaringan tertentu untuk sintesis komponen tertentu guna pertumbuhan atau hidup pokok sel tertentu.

  • Mengatur Fungsi Osmosis Dalam Sel

Air berperan dalam memelihara keseimbangan konsumsi mineral tertentu dalam urat daging. Konsentrasi kalsium dalam urat daging penting untuk mengatur metabolisme energi dan kontraksi. Jika kadar mineral tidak seimbang akan menyebabkan kontraksi dan pertumbuhan urat daging terganggu.

  • Air sebagai Pereaksi (Reagent)

Air berberan dalam fungsi reaksi kimia untuk sintesis (pembangunan) jaringan. Contoh: reaksi hidrolisis untuk sintesa asam amino untuk pembentukan protein.

Air yang digunakan oleh ternak dapat berasal dari air minum, air yang terkandung dalam bahan pakan dan air hasil proses metabolic. Air dari bahan pakan sangat bervariasi dari 3% s.d 80% tergantung jenis bahan pakannya, dan air dari hasil oksidasi. Komponen air dalam tubuh ternak mencapai 2/3 bobot badan (55-75%).

3.6.2. Kebutuhan Air

Kebutuhan air dipengaruhi oleh kandungn bahan kering, dan komponennya, temperatur lingkungan dll. Kebutuhan Air Pada Berbagai Temperatur pada Ruminansia tertera pada Tabel 9. Faktor yang mempengaruhi konsumsi air sbb:

  • Lingkungan, Pada ruminansia, jika tempertur berubah maka konsumsi bahan kering atau energi akan menurun dan konsumsi air meningkat. Ditinjau dari segi pertumbuhan, dalam keadaan panas meningkat maka pertumbuhan akan menurun, namun sebagian penurunan dapat diganti dengan peningkatan retensi air. Faktor yang berpengaruh terhadap konsumsi adalah:
prinsip pemberian pakan ternak
  • Protein, Semakin tinggi konsumsi protein maka semakin tinggi konsumsi air. Air tersebut diperlukan untuk mengeluarkan hasil metabolisme protein lewat urin.
  • Na Cl, Semakin tinggi konsumsi NaCl maka semakin tinggi konsumsi air. Perubahan 1% salinitas tidak mempengaruhi konsumsi air minum pada domba.

3.6.3. Pengeluaran Air

Pengeluaran air pada ruminansia melalui urin, feces, penguapan via paru-paru serta permukaan tubuh dan keringat. Air yang keluar melalui urin lebih banyak dari yang diperlukan untuk membilas metabolisme. Pengeluaran melalui feces cukup tinggi karena 70-80% feces adalah air. Pengeluaran melalui penguapan terutama melalui paru-paru akan tinggi jika kelembaban rendah.

Pada suhu 27º C pengeluaran air melalui penguapan sebesar 23 ml/m2/jam sedang pada suhu 41º C penguapan 50 ml/m2/jam. Pengeluaran air melalui keringat lebih banyak (3 kali) dari pengeluaran air lewar paru-paru. Pengeluaran air melalui keringat pada suhu 41º C sebanyak 2,99- 5,06 g/m2/menit.

3.6.4. Defisiensi Air

Tubuh tidak mempunyai mekanisme untuk menyimpan air seperti halnya lemak depo dan sejenisnya. Kehilangan air akan terjadi secara terus menerus sehingga harus diimbangi dengan konsumsi air minum. Defisiensi air akan menyebabkan konsumsi pakan menurun. Pada suhu 40ºC ternak menunjukan gejala stress misalnya minum, penguapan, volume urin, dan tingkat respirasi diperbanyak. Jika tidak tersedia jumlah air minum dalam jumlah yang cukup maka bobot badan akan menurun drastis dan tanda- tanda dehidrasi. Karena banyak faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi air minum maka disarankan untuk memberi minum secara adlibitum (tidak terbatas) kepada ternak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here