Prinsip Good Management Practices (GMP)

Good Management Practice (GMP) adalah prosedur untuk membuat suatu produk yang baik, aman dan tidak merusak lingkungan. Menurut organisasi pangan dunia yang dikenal dengan Food Agriculture Organization (FAO) GMP diadaptasi menjadi praktek pengelolaan pertanian yang baik. Hal ini bertujuan untuk menjaga kelestarian lingkungan, sosial dan hasil produk pangan – non pangan yang aman dan berkualitas baik.

Prinsip Good Management Practices

Tujuan GMP adalah:

  • Menjamin produk yang aman dan bermutu baik
  • Meningkatkan penggunaan sumberdaya alam, kesehatan tenaga kerja dan kondisi kerja
  • Menciptakan peluang pasar baru bagi petani dan exportir dari negara berkembang
  • Menangkap keuntungan pasar dengan memodufikasi mata rantai suplai

Pada bidang peternakan terdapat 5 komponen yang mempengaruhi GMP yaitu: kesehatan ternak, kesehatan pemerahan, pakan dan air minum, kesejahteraan ternak dan lingkungan. Masing-masing komponen dijelaskan sbb:

1. Kesehatan ternak

Kesehatan ternak sangat penting agar ternak dapat berproduksi dengan optimal dan produk yang dihasilkan berkualitas baik. Pada kesehatan ternak terdapat 4 hal yang disarankan untuk menuju GMP, masing-masing dijelaskan sebagai berikut: Mencegah penyakit masuk ke farm, Memiliki program pengelolaan kesehatan yang efektif, Menggunakan obat- obatan sesuai dengan saran dokter hewan atau sesuai aturan yang tertera pada label kemasan obat, dan Melatih orang yang sesuai.

1.1. Mencegah Penyakit Masuk Ke Farm (Usaha Ternak)

  • Membeli Ternak yang Sehat untuk Dipelihara dan Mengontrol Kesehatan Sapi Setelah Masuk Kandang. Sebelum masuk ke usaha ternak kita, sapi harus diperiksa kesehatannya terutama untuk sapi yang didatangkan dari daerah yang terjangkit penyakit. Bila dimungkinkan kita bisa mencari surat keterangan sehat dari dinas peternakan.
  • Menjamin Agar Alat Angkut yang Membawa Sapi ke Usaha Ternak Kita Tidak Membawa Bibit Penyakit. Hal ini bisa dilakukan dengan dapat menyebarkan penyakit menghindari alat angkut ke sapi. Pastikan kita orang dan kendaraan yang memasuki farm. Batasi pengunjung dan kendaraan sesedikit mungkin. Perlakukan pengunjung untuk meminimalkan penyakit, misalnya jaga kebersihan kendaraan dari kotoran sapi. Pengunjung di persilahkan menggunakan pakaian dan sepatu pelindung dan catat semua pengunjung, karena pengunjung dan hewan liar dapat menyebarkan penyakit.
  • Memiliki Program untuk Mengendalikan Binatang Pengganggu . Binatang pengganggu antara lain tikus, burung dan serangga yang habis dipakai membawa ternak mati atau ternak sakit. Bisa juga diakukan dengan menyemprot dengan bahan desinfektan semua kendaraan yang masuk farm kita.
  • Memiliki Pembatas Keamanan / Pagar. Pagar membatasi ternak, hewan liar memasuki farm kita. Ternak dari luar farm dan hewan liar berpotensi membawa bibit penyakit jika memasuki farm kita.
  • Membatasi Orang dan Hewan Liar Memasuki Farm. Orang dan kendaraan yang mengunjungi beberapa farm dapat menyebarkan bibit penyakit ke ternak. Jika diperlukan semprot terhadap mempunyai program pengendalian binatang tersebut. Hal yang perlu dijaga antara lain tempat pemerahan, tempat penyimpanan pakan, kandang dll.
  • Gunakan Peralatan yang Bersih. Peralatan yang digunakan pada budidaya sapi harus dijaga kebersihan. Untuk alat yang disewa dari luar harus dipastikan bahwa peralatan tersebut bersih dan bebas penyakit. Perlakukan dengan hati-hati peralatan yang dipinjam dari luar.

1.2. Memiliki Program Pengelolaan Kesehatan yang Efektif

  • Membuat Sistem Identifikasi Ternak. Sapi dapat diindentifikasi oleh orang yang datang untuk melakukan tugas tertentu. Identifikasi harus dibuat permanen dan unik sehingga setiap ternak dapat diidentifikasi dari lahir sampai mati. Identifikasi yang banyak digunakan adalah memasang anting telinga (ear tag), tato, freeze branding dan microchips.
  • Mengembangkan Pengelolaan Kesehatan yang berfokus pada Pencegahan. Program pencegahan meliputi semua aspek yang berkaitan dengan pengelolaan farm. Pencegahan kesehatan yang paling lazim adalah melakukan vaksinasi ternak. Obat-obatan pencegah penyakit dapat digunakan jika tidak ada strategi lain untuk mencegah penyakit, misalnya penggunaan antibiotika dengan dosis tertentu.
  • Memeriksa Kesehatan Ternak jika ada Gejala Penyakit. Amati ternak secara reguler untuk mendeteksi adanya gejala penyakit. Gunakan metode yang akurat untuk mendeteksi dan mendiagnosis penyakit. Beberapa cara dapat menggunakan termometer anus, pengamatan tingkah laku sapi, kondisi tubuh, dan pengujian susu. Jika hasil diagnosis menunjukkan penyakit harus diperlakukan dengan baik.
  • Ternak Sakit Harus ditangani dengan Baik Secepat Mungkin. Perlakukan ternak yang sakit, luka dan kondisi kesehatannya jelek setelah mendapat hasil diagnosis. Tindakan diperlukan untuk mengurangi akibat infeksi dan meminimkan sumber patogen.
  • Isolasi Ternak Sakit dan Pisahkan Produksi Susu dari Ternak Sakit atau ternak sedang Diobati. Untuk mengurangi penyebaran penyakit, isolasi ternak sakit pada tempat khusus. Gunakan prosedur yang ada untuk memisahkan susu dari ternak sakit agar tidak tercampur dengan susu dari ternak sehat.
  • Buatlah Catatan terhadap semua Perlakukan dan Ternak yang Pernah Diobati . Catatan ternak yang pernah diobati perlu dibuat agar semua orang yang berkepentingan mengetahui perlakukan apa saja yang pernah diberikan. Gunakan cara untuk menandai ternak yang sakit, misalnya menggunakan cat untuk menandai sapi yang terserang penyakit mastitis.
  • Menjaga Penyakit yang dapat Menular ke manusia (Zoonosis) . Peternak harus menjaga penyakit yang dapat menulari manusia pada level yang tidak berbahaya. Produk ternak harus dijaga agar tidak terkontaminasi penyakit, misalnya anthrax, bakteri pada susu, dll
Baca Juga :   Cara Menentukan Umur Ternak
Prinsip Good Management Practices

1.3. Gunakan Bahan Kimia dan Obat-Obatan yang diperbolehkan

Bahan kimia yang banyak digunakan seperti deterjen, desinfektan, pembunuh serangga dll. Peternak harus menjaga agar produknya (susu dan daging) tidak tercemari bahan tersebut. Obat-obatan digunakan untuk mengobati penyakit. Peternak harus menjamin dosis dan jenis obat yang sesuai, penyalahgunaan dapat menyebabkan ternak mati, penyakit resisten dan produk ternak tercemar. Bahan kimia dan obat harus disimpan dengan baik agar tidak rusak atau mencemari produk. Limbah obat, bahan kimia dan peralatan kesehatan harus dibuang pada tempat khusus agar tidak mencemari ternak dan lingkungan.

1.4. Melatih Orang yang sesuai

Memiliki prosedur tertulis untuk mendeteksi dan menangani ternak sakit dan bahan kesehatan, sehingga peternak peduli pada pengelolaan kesehatan farm. Petugas farm harus mendapat pelatihan yang cukup agar dapat melaksanakan tugasnya. Pilihlah orang yang mampu untuk mengobati ternak sakit, misalnya dokter hewan atau teknisi kesehatan hewan.

2. Kesehatan Pemerahan

Pemerahan merupakan kegiatan yang penting dalam budidaya sapi perah. Konsumen menghendaki susu yang berkualitas tinggi, sehingga pengelolaan pemerahan ditujukan untuk meminimalkan kontaminasi mikroba, bahan kimia dan kotoran lainnya. Pemerahan yang baik disamping akan menghasilkan susu yang berkualitas tinggi dan menjaga kesehatan sapi.

2.1. Pemerahan tidak Melukai Sapi dan Mengotori Susu

Sapi yang diperah harus memiliki identifikasi, untuk mengetahui statusnya apakah sapi laktasi, kering, sedang diobati, susunya abnormal karena penyakit, atau sedang diberi antibiotik. Jadi identifikasi diperlukan untuk menentukan langkah selanjutnya.

2.2. Persiapan Ambing sebelum Pemerahan

Bersihkan dan keringkan puting sapi yang kotor. Ambing dan puting yang basah harus dikeringkan. Harus tersedia air bersih selama kegiatan pemerahan. Periksalah ambing dan puting sebelum pemerahan, apakah ada indikasi mastitis atau penyakit lainnya.

2.3. Menggunakan Teknik Pemerahan yang Konsisten

Pemerahan harus menggunakan teknik pemerahan yang baik, kesalahan teknik dapat menyebabkan sapi terserang mastitis dan cedera atau melukai sapi. Teknik pemerahan yang benar:

  • Siapkan sapi dengan baik sebelum pemerahan
  • Untuk pemerahan dengan mesin, usahakan udara yang masuk sesedikit mungkin, pasang dan lepas cup mesin perah dengan halus
  • Untuk pemerahan dengan tangan, tangan pemerah harus bersih, dan dapat menggunakan sedikit paslin atau minyak untuk menghidari puting lecet,
  • Minimumkan pemerahan berlebihan
  • Semprotkan larutan Iodium setelah pemerahan

2.4. Pisahkan Susu dari Sapi Sakit dan Sapi yang Sedang Diobati

Sapi yang menghasilkan susu yang tidak layak dikonsumsi manusia harus dipisahkan dengan susu yang baik. Buanglah susu yang abnormal dengan cara yang benar agar tidak menulari sapi yang lain.

2.5. Pastikan Peralatan Pemerahan dipasang dan dirawat dengan Benar

Pabrik pembuat peralaran mesin perah harus merekomendasikan cara konstruksi, instalasi, kinerja dan perawatan peralatan yang digunakan untuk pemerahan. Bahan pembersih harus dipilih yang tidak mempengaruhi kualitas susu.

Baca Juga :   Identifikasi ternak Kerbau

2.6. Pastikan Tersedia cukup Air Bersih

Persediaan air bersih harus cukup untuk proses pemerahan dan pembersihan peralatan pemerahan. Jaringan suplai air harus diperiksa secara rutin, hindari kebocoran jaringan air yang dapat menyebabkan ternak kekurangan suplai air.

2.7. Tempat PemerahanHarus Bersih

Bangunan pemerahan harus memiliki saluran air (drainase) dan ventilasi yang baik untuk mengindari sapi cedera. Ukuran tempat pemerahan harus sesuai dengan ukuran sapi. Tempat pemerahan harus dijaga kebersihannya dari kotoran sapi, tanah dll. Lingkungan tempat pemerahan harus dijaga kebersihannya. Rancangan bangunan harus mudah dibersihkan, memiliki suplai air bersih, tersedia fasilitas penanganan limbah, dan cukup cahaya.

2.8. Pemerah Mengikuti Aturan Kesehatan

Pemerah harus mengenakan pakaian yang sesuai dan bersih, menjaga kebersihan tangan dan lengan selama pemerahan, jika memiliki luka harus dibalut, dan tidak menderita penyakit infeksi.

2.9. Susu yang Habis di perah Harus Ditangani dengan Baik

Segera setelah susu diperah harus didinginkan, sesuai dengan aturan yang berlaku, misal 5°C. Lingkungan penyimpanan susu harus dijaga kebersihannya. Peralatan penyimpanan susu harus bisa menjaga temperatur susu sesuai dengan yang dikehendaki. Jalan untuk mengambil susu harus dirancang untuk memudahkan kendaraan tangki pengangkut susu.

Prinsip Good Management Practices

3. Pakan Dan Air Minum Ternak

Produktivitas sapi tergantung dari kualitas pakan dan air minum yang tersedia. Hal yang perlu diperhatikan adalah pakan dan air minum kualitasnya baik, mengontrol kondisi gudang pakan dan mengontrol bahan pakan yang dibeli dari luar farm. Masing-masing dijelaskan sebagai berikut:

3.1. Menjamin Pakan dan Air Kualitasnya Baik

Pakan dan air yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan fisiologis ternak. Suplai air harus disediakan, diperiksa dan dirawat secara reguler. Gunakan peralatan yang berbeda untuk menangani bahan kimia dan bahan pakan. Bahan kimia yang digunakan pada padang rumput dan hijauan harus sesuai. Gunakan bahan kimia untuk pakan pakan sesuai dengan yang direkomendasikan.

3.2. Mengontrol Kondisi Tempat Penyimpanan Pakan

Usahakan tidak ada binatang yang masuk ke gudang pakan untuk menghindari kontaminasi pakan. Gudang harus berventilasi baik. Pakan harus dilindungi dari kontaminasi. Simpan dan tangani dengan baik bahan pestisda, biji-bijian, pakan yang diberi obat, dan pupuk. Herbisida harus dipisahkan dari bahan kimia dan pupuk. Jerami dan pakan kering harus dilindungi dari kondisi lembab. Silase dan pakan fermentasi harus disimpat dalam kondisi tertutup. Bahan pakan yang berjamur harus dibuang atau tidak diberikan ke sapi.

3.3. Bahan Baku Pakan Harus Bisa Dilacak Sumbernya

Jika kita membeli bahan pakan, pastikan penjual (supplier), memiliki program penjaminan mutu. Buatlah pembukuan (catatan) bahan pakan dan pakan yang dibeli.

4. Kesejahteraan Ternak

Peternak harus menjaga kesejahteraan ternak agar mereka dapat berproduksi dengan baik. Konsumen menghargai kesejahteraan ternak yang tinggi sebagai indikator pangan yang aman, sehat dan berkualitas baik. Terdapat lima hal yang harus diperhatikan yaitu :

  • Ternak tidak haus, lapar dan salah makan
  • Ternak harus nyaman
  • Ternak sehat, bebas nyeri dan cedera
  • Ternak harus bebas ketakutan
  • Tingkah laku ternak relatif normal

Masing-masing aspek tersebut di atas dijelaskan sebagai berikut:

4.1. Ternak tidak Haus, Lapar dan Salah Makan

Peternak harus menyediakan pakan dan air dengan jumlah yang cukup setiap hari. Pemberian berdasarkan kondisi fisiologi ternak yaitu umur, berat badan, tahap laktasi, tingkat produksi, pertumbuhan, kebuntingan, aktivitas dan iklim. Mengatur kapasitas padang rumput dan pakan tambahan untuk menjamin ketercukupan pakan hijauan dan pakan tambahan. Lindungi ternak dari pakan beracun dan bahan yang membahayakan.

4.2. Ternak Harus Nyaman

Konstruksi kandang dan tempat pemerahan harus aman, tidak membahayakan ternak dan cukup ventilasi. Hindari jalan buntu dan lantai yang licin. Alas kandang harus bersih dan ruang gerak sapi cukup. Ternak harus terlindung dari pengaruh iklim yang dapat menyebabkan kepanasan atu kedinginan.

4.3. Ternak Sehat, Bebas Nyeri dan Cedera

Ternak harus diperiksa secara reguler untuk mendeteksi adanya cedera atau sakit. Kandang dan tempat pemerahan lantainya tidak boleh licin untuk mengurangi peluang cedera sapi. Sapi yang laktasi harus diperah secara reguler. Jangan menggunakan prosedur dan proses yang menyebabkan ternak nyeri misal pada dehorning (penghilangan tanduk), kastrasi dll. Menyediakan fasilitas beranak yang nyaman, dan memeriksa secara reguler apakah sapi memerlukan bantuan pada saat melahirkan.

Baca Juga :   Kontribusi Peternakan

Prosedur pemasaran pedet harus baik, penjualan dilakukan setelah lepas sapih, dan menggunakan alat transportasi yang memadai. Jika ternak harus dibunuh difarm karena sakit parah, harus dgunakan cara yang tidak menyakitkan. Hindari cara pemerahan yang salah karena bisa menyebabkan sapi cedera.

4.4. Ternak Harus Bebas Ketakutan

Peternak harus terampil mengelola ternaknya dan menerima pelatihan yang sesuai. Menjamin ternak berperilaku relatif normal, salah satunya dengan menyediakan ruang gerak yang cukup untuk betina, pejantan dan pedet. Peternak harus mampu:

  • Mengenali ternaknya sehat atau sakit
  • Memahami perubahan tingkah laku ternak
  • Paham kapan perlu tindakan pengobatan
  • Mengimplementasikan program pengelolaan kesehatan
  • Mengimplementasikan program pemberian pakan dan pengelolaan padang rumput
  • Mengenali iklim untuk mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan ternak
  • Mampu mengelola produksi ternak
  • Menangani ternak dengan baik dan dengan cara yang benar, mengantisipasi penyebab masalah dan tindakan pencegahan.

4.5. Penanganan Ternak

  • Menyiksa ternak pada kondisi apapun tidak diperbolehkan
  • Lantai kandang harus tidak licin, tangani sapi dengan hati-hati, jika sapi yang jatuh lebih dari 2% menunjukkan pengangan yang kurang baik
  • Pada saat memindahlan sapi sebaiknya dari samping bahu sapi, hindari alat bantu yang menyakitkan seperti cambuk, alat kejut listrik, batang besi dll

4.6. Pemasaran Ternak

Pada umumnya ternak dijual dalam kondisi sehat dan phisiknya bagus. Ternak yang akan dijual dikumpulkan pada kandang khusus (pen) yang dekat dengan loading ramp (tangga untuk menaikkan sapi ke truk). Pada saat menggiring dari kandang ke pen tanpa menyebabkan stress. Truk yang digunakan harus dirancang khusus untuk keselamatan peternak dan sapi. Sapi dinaikkan, dipindahkan dan diturunkan dengan hati-hati dan sabar agar tidak menimbulkan stres.

Daya angkut sapi ditentukan dengan ukuran dan berat sapi, pastikan rung dalam truk tidak terlalu padat. Jika truk tidak penuh harus diberi sekat pembatas agar sapi tenang dan truk stabil. Pintu kendaraan dan pintu gerbang loading ramp harus cukup besar untuk dilewati sapi tanpa menimbulkan luka. Tidak ada jarak antara bak truk dengan loading ramp, jika ada jarak dapat menyebabkan sapi terperosok dan sapi menderita cedera.

5. Lingkungan

Konsumen makin sadar bahwa produksi makanan harus seimbang dengan lingkungan. untuk itu peternak dalam memproduksi susu dan daging memilih cara yang mengurangi kerusakan lingkungan . Masalah utama adalah polusi dari kotoran sapi, cairan, cairan silase dll. Saran untuk GMP adalah memiliki sistem pengelolaan limbah yang baik, dan menjamin pengelolaan ternak tidak memberikan dampak terhadap lingkungan lokal. Masing-masing dijelaskan sebagai berikut:

5.1. Memiliki Sistem Pengelolaan Limbah yang Baik

Limbah peternakan harus ditampung pada tempat khusus untuk meminimumkan pencemaran. Tempat penampungan harus diperiksa apakan sudah penuh, atau ada kebocoran. Limbah lain seperti plastik harus dibuang pada tempat yang sesuai untuk mencegah polusi. Kotoran sapi dapat disemprotkan ke padang rumput.

5.2. Menjamin Pengelolaan Ternak tidak Memberikan Dampak Terhadap Lingkungan Lokal

Menjaga agar usaha peternakan tidak memberi dampak terhadap lingkungan lokal. Fasilitas penyimpanan untuk limbah oli, cairan silase, lumpur, dan bahan polutan lainnya harus diletakkan pada tempat yang aman untuk menjaga agar tidak mencemari lingkungan lokal. Hindari membuang limbah pertanian atau bahan kimia pada tempat yang dapat terkena drainase, air permukaan atau aiur tanah dapat menghanyutkan dan mencemari suplai air lokal. Gunakan bahan kimia (pupuk, obat, pestyisida dll) dengan benar untuk menghindari pencemaran lingkungan. Menjamin penampilan usaha peternakan agar bersih dan terawat untuk menciptakan kesan tempat memproduksi susu dan daging yang berkualitas baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here