Mengemukakan Pendapat secara Benar dan Bertanggung jawab

Bagaimana mengemukakan pendapat secara benar itu?

Tidak seperti biasanya, pagi-pagi sekali Pasukan Anti Huru Hara (PHH) sudah membentuk barikade di depan Istana Negara Jakarta. Orang-orang yang kebetulan melintas ke daerah itu bertanya-tanya ada apa gerangan. Selidik punya selidik, diperoleh kabar bahwa hari itu akan ada demonstrasi para mahasiswa kepada pemerintah. Sekitar pukul sepuluh pagi, kerumunan mahasiswa mulai tampak.

Tidak begitu lama mereka sudah membentuk barisan dan pimpinan demo mulai naik podium untuk menyampaikan orasinya. Para petugas keamanan tidak melakukan tindakan apa-apa. Mereka hanya memperhatikan para mahasiswa yang sedang berorasi itu dari jauh. Akan tetapi, ketika para mahasiswa mulai mendekati pagar luar istana, anggota PHH mulai membentuk barikade menghalangi gerak maju para demonstran.

Akibat barikade tersebut, para mahasiswa tidak berhasil mendekati pagar istana. Akhirnya para demonstran kembali mundur dan melanjutkan orasinya. Mengemukakan pendapat di muka umum itu harus dilakukan secara benar. Artinya, penyampaian pendapat di muka umum itu harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Jika memperhatikan ilustrasi di atas, PHH beranggapan bahwa para demonstran hendak menerobos hingga masuk ke halaman istana merupakan tindakan yang tidak dibenarkan. Oleh karena itu, PHH berusaha mencegahnya. Mengapa demikian? Sebab berdasarkan ketentuan perundang-undangan, demo dapat dilakukan di tempat-tempat terbuka untuk umum, kecuali tempat-tempat tertentu.

Salah satu di antaranya adalah di istana kepresidenan dengan radius seratus meter dari pagar luar sehingga pada saat para demonstran berorasi jauh di luar halaman istana, PHH membiarkannya. Akan tetapi, pada saat para demonstran mendekati halaman istana, PHH mencegahnya sebab daerah tersebut terlarang untuk kegiatan penyampaian pendapat umum.

Ketentuan selengkapnya mengenai tempat dan waktu yang dilarang untuk kegiatan penyampaian pendapat umum adalah sebagai berikut.

  • a. Istana Kepresidenan (Istana Presiden dan Wakil Presiden) dengan radius seratus meter dari pagar luar
  • b. Tempat ibadah
  • c. Instalasi militer meliputi radius lima ratus meter dari pagar luar
  • d. Rumah sakit
  • e. Pelabuhan udara atau laut
  • f. Stasiun kereta api
  • g. Terminal angkutan darat
  • h. Objek-objek vital nasional meliputi radius lima ratus meter dari pagar luar
Baca Juga :   Kasus-kasus Pelanggaran HAM di Indonesia

Penyampaian pendapat di muka umum juga tidak boleh dilakukan pada hari-hari besar nasional, yaitu sebagai berikut.

  • a. Tahun baru
  • b. Hari Raya Nyepi
  • c. Hari Raya Wafatnya Isa Almasih
  • d. Isra Miraj
  • e. Kenaikan Isa Almasih
  • f. Hari Raya Waisak
  • g. Hari Raya Idul Fitri
  • h. Hari Raya Idul Adha
  • i. Tahun Baru Islam (1 Muharam)
  • j. Maulid Nabi
  • k. Hari Natal
  • l. Peringatan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus
  • m. Tahun Baru Imlek

Bagaimana mengemukakan pendapat secara bertanggung jawab itu?

Ada seorang warga Bandung namanya Pak Sariban. Pada saat muda ia pernah bekerja pada Dinas Kebersihan. Setelah pensiun, beliau masih tetap bekerja menjaga kebersihan kota. Dengan sepedanya yang dihiasi bendera merah putih dan klakson besar berbentuk trompet, setiap hari berkeliling ke sudut-sudut kota membersihkan sampah-sampah yang berserakan.

Lokasi favorit yang ia bersihkan adalah tempat-tempat umum sehabis dipergunakan kegiatan demo. Menurut pengalaman Pak Sariban, tempat-tempat umum sehabis dipergunakan kegiatan demonstrasi selalu kotor, sampahsampah berserakan.Dalam kegiatan mengemukakan pendapat di muka umum, misalnya melalui demonstrasi, di samping harus memperhatikan kebersihan lingkungan, juga harus dilakukan secara bertanggung jawab.

Perhatikanlah contoh kasus berikut ini!

Demonstrasi Rusuh

Sejak pagi hingga tengah hari para demonstran terus berorasi mengecam kebijakan pemerintah yang mencabut subsidi BBM. Mereka mulai tidak mampu mengendalikan diri. Aksi dorong-mendorong dengan petugas mulai terlihat. Sementara yang lainnya mulai mengeluarkan kata-kata kotor dan cenderung melakukan penghinaan kepada pemerintah. Para petugas pun, yang juga mengalami kelelahan, mulai melakukan pemukulan dengan pentungannya kepada para demonstran yang mencoba menerobos barikade petugas.

Mengemukakan Pendapat secara Benar dan Bertanggung jawab

Selanjutnya, aksi dorongmendorong mulai terjadi. Karena kuatnya barikade petugas, para demonstran tidak mampu menembusnya. Untuk sementara mereka mundur, sambil mulai melempari petugas dengan batu dan benda-benda keras lainnya.

Baca Juga :   Perjuangan Kemerdekaan dan Pergerakan Nasional Indonesia

Petugas membalasnya dengan tembakan gas air mata. Entah apa motivasinya, dari arah kerumunan para demonstran meluncurlah sebuah mobil VW Sapari yang dikendarai seorang demonstran yang berusaha menerobos barikade polisi. Kaget atas kejadian tersebut, para polisi yang membentuk barikade lari berhamburan menyelamatkan diri, sedangkan yang tidak sempat menghindar menjadi korban aksi brutal tersebut. Mengalami kejadian tersebut, petugas polisi menjadi berang.

Sejumlah polisi menembakkan senjata ke udara. Para demonstran mulai mundur ketakutan. Mereka membubarkan diri sambil melakukan perusakan-perusakan. Pot-pot bunga menjadi sasaran kekesalan mereka. Polisi terus mengejar. Yang tertangkap dinaikkan ke atas mobil patroli, lalu dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.

Kasus demonstrasi rusuh merupakan contoh kegiatan mengemukakan pendapat yang tidak bertanggung jawab. Mengapa tidak bertanggung jawab? Mari kita amati dengan saksama.

Pertama, dalam menyampaikan pikiran dan pendapatnya para demonstran itu dinilai melampaui batas. Mengeluarkan kata-kata kotor dan menghina pemerintah merupakan contoh perbuatan yang melampaui batas. Di negara yang amat liberal sekali pun, demonstrasi dilakukan secara sopan. Pada saat melakukan protes kepada pemerintah misalnya mengatakan, “Mr. Presiden!” Jadi, tidak menghiasinya dengan kata-kata kotor dan penghinaan. Bukankah tujuan dari kegiatan mengemukakan pendapat di muka umum itu agar pikiran dan pendapat kita dipahami dan pada akhirnya diperhatikan?

Kedua, perbuatan menerobos barikade petugas dengan mobil yang dilarikan sangat kencang merupakan bentuk demonstrasi yang kebablasan. Mengapa dikatakan kebablasan? Karena perbuatan tersebut bukan merupakan perbuatan orang beradab, hanya orang yang kurang waraslah yang tega melakukannya.

Ketiga, tindakan yang melampiaskan kekesalan pada lingkungan, seperti memecahkan pot-pot bunga yang ada di pinggir jalan, merusak kendaraan orang lain yang sedang parkir, dan melempari etalase toko merupakan bentuk pelanggaran. Dilihat dari semua aspek moral, agama, maupun hukum tindakan tersebut dikategorikan melanggar.

Baca Juga :   Lembaga Perlindungan HAM di Indonesia
Mengemukakan Pendapat secara Benar dan Bertanggung jawab

Berdasarkan uraian tersebut, perlu diperhatikan bahwa mengemukakan pendapat di muka umum harus dilakukan secara bertanggung jawab. Mengemukakan pendapat secara bertanggung jawab adalah tidak melampaui batas, tidak kebablasan, serta tidak melanggar moral, agama, ketertiban umum, dan ketentuan negara yang berlaku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here