Penyebab Besarnya Defisit Neraca Pembayaran

Berbagai permasalahan ekonomi yang dihadapi oleh negara kita sangat terkait dengan permasalahan defisit neraca pembayaran Ada beberapa hal yang menjadi penyebab besarnya defisit neraca pembayaran.
1. Meningkatnya konsumsi barang dan jasa untuk investasi Pesatnya investasi di Indonesia, terlebih setelah ada keputusan yang memperbolehkan Investasi Asing Langsung (Foreign Direct Investment/ FDI), menyebabkan banyaknya pembangunan pabrik-pabrik yang membutuhkan barang dan jasa untuk investasi (misalnya mesin-mesin, tenaga ahli). Karena barang-barang tersebut tidak dapat diperoleh dari dalam negeri atau investor ingin menggunakan barang-barang dan jasa yang telah dikenalnya di negara asal, ia akan mengimpor barang dan jasa tersebut, yang tentu saja akan menyebabkan bertambahnya pengeluaran untuk impor. Membesarnya defisit transaksi berjalan tidak perlu dikhawatiran karena pada masa mendatang defisit transaksi berjalan akan berkurang, oleh karena investasi berorientasi ekspor akan mendatangkan devisa bagi negara.
2. Meningkatnya konsumsi barang dan jasa konsumen. Barang-barang konsumen adalah barang dan jasa yang langsung dipakai untuk dikonsumsi, misalnya makanan atau jasa dokter. Barang dan jasa ini tidak dapat digunakan untuk menghasilkan barang atau jasa lainnya. Untuk itu, perlu diadakan pembatasan-pembatasan atas impor barang atau jasa tersebut baik oleh pihak pemerintah ataupun konsumen sendiri
a. Pemerintah dapat melakukan pembebanan pajak yang tinggi untuk barang-barang (yang telah dapat diproduksi di dalam negeri) yang masuk ke Indonesia. Untuk ini, pemerintah perlu mengawasi mutu dan kuantitas dari barang-barang produksi dalam negeri, agar jangan sampai barang tersebut mutunya jauh di bawah barang buatan luar negeri. Akan tetapi, dengan harga yang jauh lebih tinggi dan kuantitas yang terbatas. Bila hal tersebut di atas belum dapat dilaksanakan maka akan sulit untuk mengendalikan perilaku konsumen agar dapat meredam defisit transaksi berjalan.
b. Konsumen harus dapat menahan diri dengan menunda atau tidak membeli barang dan jasa yang tidak benar-benar dibutuhkan.
Selain itu, konsumen harus dapat mencintai produk dalam negeri sehingga dapat mengurangi impor serta mampu mengurangi jumlah pengangguran.
Untuk menutup defisit transaksi berjalan, pemerintah dapat melakukan hal-hal berikut ini.
1. Pinjaman dalam negeri, yaitu dengan pemerintah mengeluarkan obligasi dan menjualnya di pasar uang dalam negeri. Jika masyarakat (termasuk bank-bank) membeli obligasi tersebut, pemerintah memperoleh dana yang semula ada di tangan masyarakat. Biasanya bank sentral yang bertindak sebagai agen pemerintah. Cara open market operations ini hanya dapat dilakukan di negara-negara yang telah memiliki pasar surat berharga (bursa efek dan saham) yang sudah maju. Jika pemerintah meminjam dari masyarakat melalui pasar uang, akan mengakibatkan naiknya suku bunga keseimbangan di pasar uang. Kenaikan suku bunga mungkin akan mengurangi pengeluaran investasi swasta.
2. Pinjaman luar negeri, dengan menjual obligasi pemerintah di pasar luar negeri. Dalam hal ini pemerintah menerima dana (dalam bentuk mata uang asing atau devisa) dan pembeli di luar negeri menerima surat tanda berutang (obligasi) pemerintah (beserta janji waktu pembayaran kembali dan besarnya bunga yang dibayarkan). Cara ini lebih cocok digunakan apabila pemerintah membutuhkan dana dalam bentuk devisa. Dengan menggunakan cara ini sama artinya dengan membayar satu utang dengan membuka satu utang lain (gali lubang tutup lubang) sehingga secara keseluruhan efeknya hanya memperpanjang periode pembayaran utang. Cara ini cukup riskan karena bila tidak berhati-hati akan menggerogoti hasil ekspor, yaitu dengan adanya keharusan untuk membayar cicilan pokok pinjaman ditambah bunganya. Selain itu, bila tidak dapat terbayar, utang akan semakin menumpuk dan suatu saat akan mengakibatkan kebangkrutan negara, seperti yang dialami oleh Meksiko. Negara ini menanggung banyak utang jangka pendek yang telah jatuh tempo, namun tidak dapat dilunasi sehingga mengacaukan perekonomiannya.
3. Pinjaman ke bank sentral, dalam hal ini bank sentral hanya dapat memberikan kredit dengan menciptakan uang inti (reserve money) atau mencetak uang kartal baru. Jika ini dilakukan, efek penurunan investasi swasta dapat dihindari sehingga metode ini lebih bersifat ekspansioner daripada pembiayaan melalui peminjaman dari masyarakat. Namun, pembiayaan defisit dengan cara ini akan menimbulkan akibat yang buruk jika perekonomian tidak dapat menaikkan produksi total untuk mendukung ekspansi atau meskipun perekonomian belum mencapai tingkat kesempatan kerja penuh.
Pembiayaan dengan cara ini sebaiknya dihindari karena akan dapat merusak perekonomian. Dengan meningkatnya jumlah uang beredar, pengeluaran akan bertambah sehingga akan mendorong kenaikan harga-harga yang pada akhirnya akan menimbulkan inflasi.
4. Penggunaan cadangan devisa, dengan cara pemerintah mengeluarkan cadangan devisanya, yang diperoleh dari pembayaran ekspor yang masih tertunda ataupun dari pembayaran ekspor terdahulu.