Pemanfaatan Sumber Daya Alam Berdasarkan Prinsip Eko-Efisiensi

Eko-efisiensadalah manajemen bisnis yang memadukan efisiensi ekonomi dan efisiensi lingkungan (Otto Soemarwoto, 1998). Dengan demikian, prinsip eko-efisiensi adalah bila kita memanfaatkan sumber daya alam untuk mendapat keuntungan sekaligus menguntungkan lingkungan.

Pemanfaatan sumber daya alam juga dapat mengakibatkan terjadinya pencemaran. Akan tetapi, diusahakan agar pencemaran dapat dikurangi sekecil-kecilnya. Penyebab pencemaran adalah limbah. Limbah adalah materi yang terbuang dan tidak habis dalam proses produksi sehingga merupakan buangan yang kotor. Untuk mengurangi limbah maka harus dapat ditingkatkan efisiensi proses produksi. Bahan baku berkurang sehingga biaya produksi pun berkurang. Hal ini memungkinkan keuntungan meningkat dan dampak negatif terhadap lingkungan juga menurun. Oleh karena itu, efisiensi produksi mengakibatkan:
  1. meningkatkan keuntungan dalam usaha;
  2. menurunkan dampak negatif terhadap lingkungan.
Untuk mengurangi jumlah limbah yang banyak agar proses produksi lebih bersih digunakanlah teknologi eko-efisiensi. Teknologi eko-efisiensi adalah teknologi yang diterapkan dalam industri. Teknologi ini menguntungkan industri dan tidak merugikan lingkungan, misalnya penerapan pengendalian hama terpadu dalam pertanian. Pengendalian hama terpadu dengan penggunaan pestisida (racun hama) dipadukan dengan cara lain, yaitu:
  1. pengembangan varietas unggul yang tahan terhadap hama;
  2. cara bertanam bergiliran;
  3. waktu bertanam dilaksanakan serempak. Hal tersebut bertujuan agar tanaman tidak akan habis dimakan oleh hama pemangsa tanaman.
Keuntungan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), antara lain:
  1. menurunkan penggunaan pestisida sebesar 60%;
  2. menurunkan biaya produksi 50% sehingga hasil pertanian naik dan keuntungan petani bertambah;
  3. berkurangnya pencemaran oleh pestisida.
Eko-efsiensi ini harus dimulai sejak dini, yaitu:
  1. pengelolaan rumah tangga yang baik, misalnya pencatatan bahan kebutuhan sehingga tidak ada bahan yang menjadi kadaluwarsa;
  2. penjagaan dan pembuatan gudang yang baik, jangan sampai atapnya bocor maupun kebanjiran oleh air hujan sehingga bahan-bahan yang disimpan di dalam gudang tidak akan rusak;
  3. mencegah terjadinya kebocoran pipa air yang akan merugikan negara maupun masyarakat;
  4. mencegah kebocoran aliran listrik yang merugikan negara maupun masyarakat;
  5. mencegah kebocoran pipa minyak sehingga minyak tidak akan tercecer karena dapat mengakibatkan pencemaran limbah.
Semua hal di atas dapat terlaksana, bila manusia cermat dan berdisiplin dalam kehidupannya. Industri dapat menerapkan eko-efisiensi dengan memodifikasi proses dan peralatannya, meskipun biayanya lebih tinggi. Sebaiknya, eko-efisiensi dimulai pada tahap perencanaan, meskipun harga beli pabrik yang lebih mahal daripada pabrik tua yang mencemarkan lingkungan. Prinsip eko-efisiensi menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan yang baik akan menguntungkan masyarakat maupun usahawan. Pada teknologi eko-efisiensi diperlukan juga biaya untuk pembangunan instalasi pengolah limbah dan pengoperasiannya. Namun, kapasitas instalasi itu lebih kecil dan biaya pengoperasiannya juga lebih rendah karena jumlah limbah yang terbentuk lebih sedikit.
Di dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air Pasal 1, Ayat 5, dinyatakan sebagai berikut: “Beban pencemaran dinyatakan dalam satuan, jumlah parameter pencemaran, biasanya sebagai satuan berat, atau untuk aliran air, atau limbah dinyatakan dalam satuan jumlah parameter pencemaran persatuan waktu. Beban pencemaran dapat ditentukan dengan mengukur kadar parameter pencemaran dan volume atau debit aliran air atau limbah yang bersangkutan”.
Nilai beban pencemaran tersebut dihitung dengan perkalian antara kadar dan volume atau debit aliran setelah satuan volumenya disesuaikan.
Contoh perhitungan:
Dari pengukuran didapat konsentrasi padatan tersuspensi adalah 1 mg/ liter dan debit aliran limbah sebesar 10 meter3/menit. Debit aliran limbah setelah penyesuaian satuan volume adalah 10 x 1.000 liter/menit (karena
1 m3 = 1.000 liter).
Maka beban pencemaran padatan tersuspensi dari limbah tersebut adalah:
= 10 x 1.000 (liter/menit) x 1 (mg/liter)
= 10.000 mg/menit.
Daya tampung beban pencemaran ditentukan dengan teknik dan metoda tertentu berdasarkan data kondisi kualitas dan kuantitas air serta baku mutu air pada suatu sumber air tertentu. Daya tampung beban pencemaran dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam perizinan pembuangan limbah cair ke sumber air yang bersangkutan. Jika beban pencemaran dari limbah- limbah yang dibuang melebihi daya tampung beban pencemaran air pada sumber air tersebut maka besar kemungkinan air tersebut akan mengalami pencemaran
sumber :
Iskandar, L. 2009. Geografi 2 : Kelas XI SMA dan MA. Jakarta. PT. Remaja Rosdakarya
]]>