Hal-Hal Penting dalam Penginderaan Jauh

a. Resolusi dalam Inderaja

Resolusadalah suatu istilah umum yang digunakan untuk menyajikan jumlah pixel (picture element) dan daerah di muka bumi yang diwakili oleh pixel tersebut. Ada 4 jenis resolusi, yaitu sebagai berikut.
  1. Resolusi spasial ialah ukuran objek terkecil yang dapat disajikan, dibedakan, dan dikenali pada citra. Resolusi spasial mencerminkan rincian data tentang objek yang dapat disadap dari suatu sistem penginderaan jauh.
  2. Resolusi spektral menunjukkan bahwa spektrum elektromagnetik yang digunakan di dalam suatu sistem penginderaan jauh terperinci.
  3. Resolusi radiometrik menunjukkan kepekaan sistem sensor terhadap perbedaan terkecil kekuatan sinyal.
  4. Resolusi temporal merupakan frekuensi perekaman ulang bagi daerah yang sama.
Kualitas informasi yang dapat disajikan oleh data penginderaan jauh merupakan hasil antara empat resolusi tersebut. Peningkatan salah satu resolusi diganti dengan perumusan resolusi lainnya. Contohnya, Satelit Landsat yang resolusi temporalnya tinggi, yaitu merekam daerah yang sama tiap 16 hari, resolusi spasialnya rendah, yaitu 80 m; foto udara yang mampu menyajikan gambaran objek sebesar 2 m atau lebih kecil lagi, perekaman ulangnya atau resolusi temporalnya sering sebesar 3 tahun atau lebih (Sutanto, 1986).
b. Target
Targeadalah segala sesuatu yang dapat direkam sebagai citra. Target didefinisikan sebagai sesuatu dengan sifat geometrinya (tipe, ukuran, dan sebagainya) serta sebagai penyajian dari sifat radiometrik benda.
clip_image002
c. Pengaruh Atmosfer terhadap Gelombang Elektromagnetik
Atmosfer membatasi bagian spektrum elektromagnetik yang dapat digunakan dalam penginderaan jauh. Sinar Kosmik, sinar Gamma, dan sinar X sulit menembus atmosfer. Atmosfer hanya dapat dilalui atau ditembus oleh sebagian kecil spektrum elektromagnetik.
Bagian-bagian spektrum elektromagnetik yang dapat melalui atmosfer dan mencapai permukaan bumi disebut jendela atmosfer. Tenaga elektro- magnetik dalam jendela atmosfer tidak dapat mencapai permukaan bumi secara utuh, karena sebagian mengalami hambatan oleh atmosfer. Hambatan tersebut terutama disebabkan oleh debu, uap air dan gas yang ada di atmosfer. Penghambatannya dalam bentuk serapan, pantulan, dan hamburan. Pengaruh atmosfer sifatnya selektif terhadap panjang gelombang.
d. Interaksi Energi
Sebagian tenaga elektromagnetik yang dapat mencapai permukaan bumi diserap oleh objek di permukaan bumi, sedangkan selebihnya dipantulkan hingga mencapai sensor yang dipasang pada pesawat terbang, satelit atau wahana lainnya. Tiap objek mempunyai karakteristik tersendiri di dalam menyerap dan memantulkan tenaga yang diterimanya. Karakteristik tersebut disebut karakteristik spektral.
Objek yang banyak memantulkan tenaga elektromagnetik tampak cerah pada citra, sedangkan objek yang banyak menyerap tenaga tampak gelap. Pergerakan objek pada citra berdasarkan atas tingkat kegelapannya yang disebut rona.
Ada objek yang berlainan, tetapi mempunyai karakteristik spektral sama atau serupa sehingga menyulitkan pembedaannya dan pengenalannya pada citra. Cara mengatasinya, yaitu dengan tracing (menyidik) karakteristik lain selain karakteristik spektral, misalnya bentuk, ukuran, dan pola.
e. Interpretasi Citra
1) Pengambilan Informasi dari Citra
Di dalam pengambilan informasi dari citra terdapat 5 kategori sebagai berikut.
  • Klasifikasi, yaitu suatu proses untuk mengklasifikasi informasi berdasarkan sifat-sifat spektral, spasial, dan temporal dari citra.
  • Deteksi perubahan, berdasar atas pengambilan citra dalam waktu yang berbeda.
  • Ekstraksi dari keadaan kuantitas sifat-sifat fisik citra, yaitu ekstraksi informasi berdasar hasil pengukuran kuantitas sifat fisik citra, seperti temperatur dan elevasi dari keadaan spektral, stereo, dan sebagainya.
  • Ekstraksi dari aplikasi penerapan metode baru pada citra. Informasi didapat dengan menerapkan metode komputasi baru penentuan indeks seperti indeks vegetasi dari citra satelit.
  • Aplikasi untuk pendeteksian topik khusus. Pengkhususan topik dari hasil identifikasi unsur-unsur yang mempunyai sifat spesifik, seperti arkeologi, bencana, dan sebagainya.
2) Interpretasi Citra Secara Visual
Interprestasi citra secara visual, yaitu penafsiran secara intensif atas suatu citra yang dilaksanakan secara menyeluruh untuk mengidentifikasi, menginterpretasi, dan menyimpulkan hasil penafsiran kenampakan dari unsur-unsur pada citra tersebut. Selanjutnya, kenampakan citra dipergunakan untuk memberikan informasi guna mengenal daerah cakupan citra tersebut.
3) Proses Interpretasi Citra
Proses interpretasi citra adalah proses pengambilan informasi, baik kualitatif maupun kuantitatif dari citra. Caranya dengan memperhatikan pengetahuan maupun pengalaman untuk mengenal sifat-sifat unsur yang terkandung dengan menerapkan kunci-kunci pengenalan objek (rona atau warna, ukuran, bentuk, tekstur, bayangan, pola, dan asosiasi).
a) Rona dan warna
Ronialah tingkat kegelapan atau tingkat kecerahan objek pada citra. Rona merupakan tingkatan dari hitam ke putih atau sebaliknya. Warnadalah wujud yang tampak oleh mata dengan menggunakan spektrum sempit, lebih sempit dari spektrum tampak. Contohnya, objek tampak biru karena memantulkan saluran biru. Bila objek menyerap sinar biru, maka ia akan memantulkan warna hijau dan merah. Rona hanya menyajikan tingkat kegelapan di dalam wujud hitam putih, sedangkan warna menunjukkan tingkat kegelapan yang lebih beraneka, yaitu tingkat kegelapan di dalam warna biru, hijau, merah, kuning, jingga dan lainnya. Itulah sebabnya rona dan warna sangat penting di dalam mengenali objek.
Tiap objek tampak pertama kali pada citra berdasarkan rona atau warnanya. Setelah rona atau warna yang sama dikelompokkan dan diberi garis batas untuk memisahkan rona atau warna yang berlainan, barulah tampak bentuk, tekstur, pola, ukuran, dan bayangannya.
b) Ukuran
Ukuraadalah atribut yang berupa jarak, luas, tinggi, lereng, dan volume. Di dalam memanfaatkan ukuran sebagai unsur interpretasi citra harus selalu diingat skalanya. Contohnya:
(1) ukuran rumah mukim dicirikan lebih kecil bila dibanding dengan kantor atau industri;
(2) lapangan olahraga dicirikan bentuknya segi empat dan ukurannya adalah:
  • lapangan sepak bola 80 m x 100 m;
  • lapangan tenis 15 m x 30 m;
  • lapangan bulu tangkis 8 m x 15 m.
c) Bentuk
Bentumerupakan atribut yang jelas sehingga banyak objek yang dapat dikenali berdasarkan bentuknya saja. Contoh:
  • gedung sekolah umumnya berbentuk huruf I, L, U, atau berbentuk empat dan segi panjang;
  • tajuk pohon kelapa, palma berbentuk bintang, tajuk pohon bambu berbentuk buku-buku; tajuk pohon pinus berbentuk kerucut;
  • gunung api berbentuk kerucut.
d) Tekstur
Tekstuadalah frekuensi perubahan rona pada citra atau pengulangan rona kelompok objek yang terlalu kecil untuk dibedakan secara individual.
Tekstur dinyatakan dengan istilah kasar dan halus. Contohnya, hutan bertekstur kasar, sedangkan tanaman padi bertekstur halus.
e) Bayangan
Objek atau gejala yang berletak di daerah bayangan pada umumnya tidak tampak sama sekali atau kadang-kadang tampak samar-samar. Bayangan merupakan kunci pengenalan yang penting bagi beberapa objek yang justru lebih tampak dari bayangannya. Contoh:
  • cerobong, menara tinggi, lebih tampak dari bayangannya;
  • gawang sepak bola, lebih tampak dari bayangannya.
f) Pola
Pola atau susunan keruangan merupakan ciri bagi banyak objek bentukan manusia dan beberapa objek alamiah. Contoh:
  • pola aliran sungai sering menandai struktur geologi dan jenis tanah;
  • permukiman transmigrasi dicirikan dengan pola teratur, ukuran rumah dan jaraknya seragam.
g) Asosiasi
Asosiasadalah keterkaitan antara objek yang satu dengan objek lain. Contoh:
  • stasiun kereta api berasosiasi dengan jalan kereta api;
  • gedung sekolah dengan asosiasinya lapangan olahraga.
4) Jenis Data Penginderaan Jauh
Data penginderaan jauh, meliputi sebagai berikut.
a) Data digital, yaitu data dalam bentuk angka sehingga kadang-kadang disebut data numerik. Data tersebut dianalisis dengan menggunakan komputer.
b) Data analog, yaitu data dalam bentuk gambar tau foto.
Citra data digital (digital image data), yaitu citra yang terdiri dari sel-sel yang tersusun dalam grup. Sel-sel tersebut dinamai pixel yang mempunyai nilai intensitas dari bagian target dalam bentuk bilangan integer. Perubahan nilai keabuan untuk menjadi grup sel-sel dengan bilangan integer disebut sampling. Grup sel-sel inilah yang disebut digi- tal image. Untuk mendapatkan data analog menjadi integer data, disebut proses kuantiti (quantization). Integer adalah bilangan atau angka bulat.
5) Format Data
Citra satelit umumnya terdiri dari beberapa band dalam grup yang terdiri dari jumlah pixel dan line (kolom & baris). Untuk data dengan multiband ada 3 jenis format yang umum, yaitu sebagai berikut.
  • Format BSQ (Band Sequential). Masing-masing band (ban1, 2, dan 3 …n) dalam grup pixel dan line yang terpisah.
  • Format BIL (Band Interleaved by Line), yaitu band 1, band 2, band 3 dan bann disusun dalam masing-masing baris.
  • Format BIP (Band Interleaved by Pixel), yaitu beberapa band data yang disajikan dalam susunan masing-masing pixel dan band dalam susunan kolom.
6) Data Masukan
Masukan data digital citra umum- nya direkam dalam media CCT (Com- puter Compatible Tape), seperti SPOT, Landsat-TM, NOAA-HVHR, dan sebagainya. Selain itu juga direkam dalam media CD- ROM (Compact Disk-Read Only Memory). Adapun konversi data analog (berupa foto citra) discan dengan alat penyiam (scanner).
7) Inderaja Aktif
Radar (Radio Detection and Ranging) adalah suatu alat yang dapat mengirim dan menerima energi gelombang elektromagnetik (EL). Dikarenakan radar dapat mengirim energi tersebut maka disebut inderaja aktif. Radar mendeteksi objek berdasarkan jarak tempuh gelombang dan posisi objek. Karena gelombang elektromagnetik (EL) yang dipergunakan adalah gelombang panjang, maka radar dapat menembus awan (butir awan lebih pendek dari panjang gelombang radar).
sumber : Iskandar, L. 2009. Geografi 3 : Kelas XII SMA dan MA. Jakarta. PT. Remaja Rosdakarya
]]>