PUSAT PERTUMBUHAN KOTA

A. PENGERTIAN PUSAT PERTUMBUHAN

1) Teori Chistaller (tempat yang sentral)
Teori ini menjelaskan bahwa tempat sentral merupakan suatu titik simpul dari bentuk hexagonal atau segienam. Bentuk ini sebenarnya merupakan hasil pengembangan dari bentuk lingkaran yang mengelilingi pusat kota.
Fungsi kota menurut Chirstaller dalam konsep Central – Place Theory adalah pusat aktivitas untuk melayani berbagai kebutuhan penduduk.
2) Teori Kutub
Teori ini menyatakan bahwa pembangunan dimanapun tidak terjadi secara serentak melainkan dapat muncul di tempat-tempat tertentu yang dipengaruhi oleh faktor dominan misalnya letak, iklim, topografi, politik dan sosial ekonomi. Dari pusat-pusat pertumbuhan itulah akan terjadi proses penyebaran pembangunan ke wilayah yang lebih luas atau dapat dikatakan bersifat sentrifugal.
B. KARAKTERISTIK PERTUMBUHAN KOTA
Klasifikasi atas dasar kenampakan fisiknya menurut Houston J.M. didasarkan pada suatu asumsi bahwa pertumbuhan suatu kota secara kronologis akan tercermin dalam perkembangan fisiknya. Klasifikasi kota atas dasar karakteristik pertumbuhan fisiknya sebagai berikut:
1) Stadium pembentukan Inti Kota (Nuclear Phase)
  • stadium ini merupakan tahap pembentukan Central Business Distric (CBD). Pada masa ini baru dirintis pembangunan gedung-gedung utama sebagai penggerak kegiatan yang ada dan yang baru mulai meningkat.
  • Pada saat ini daerah yang mula mula terbentuk banyak ditandai dengan gedung-gedung yang berumur tua., bentuk klasik serta pengelompokan fungsi kota yang termasuk penting.
  • Pada taraf ini kenampakan kota akan berbentuk bulat karena masih taraf awal pembentukan kota, amka kenampakan kota yang terbentuk hanya meliputi daerah yang sempit saja.
2) Stadium formatif (Formative Phase)
  • Perkembangan industri dan teknologi mulai meluas termasuk sektor-sektor lain seperti; transportasi dan komunikasi,pergadangan.
  • Makin majunya sektor industri, transportasi dan perdagangan
    mengakibatkan makin meluas dan kompleknya keadaan pabrik serta perumahan masyarakat kota. Biasanya daerah ini terletak disepanjang jalur transportasi dan komunikasi.
3) Stadium Modern (Modern Phase)
  • Kenampakan kota pada saat ini tidak lagi sederhana seperti kenampakan pada tahap I atau ke-2. Namun jauh lebih kompleks, bahkan mulai timbul gejala-gejala penggabungan dengan pusat-pusat kegiatan yang lain, baik itu kota satelit maupun kota-kota lain yang berdekatan.
  • Mulai saat ini usaha ident ifikasi kenampakan kotanya mengalami kesulitan terutama pada penentuan batas-batas fisik terluar dari kota yang bersangkutan.
  • Hal ini disebabkan adanya kenyataan bahwa persebaran sevice
    functionsnya telah masuk ke daerah-daerah pedesaan di sekitarnya.
  • Kota-kota besar di Indonesia mulai menunjukkan gejala- gejala tersebut. Hal ini telah disadari oleh ahli-ahli perkotaan sehingga mulai dirumuskan suatu upaya pengembangan wilayah kota yang meliputi kota-kota kecil disekitarnya. Seperti Konseo Jabotabek untuk pengembangan wilayah kota Jakarta-Bogor-Tangerang-bekasi.
image
image
image
C. KOTA (Menurut Hagett)
  1. Pola perpindahan. Perbedaan keruangan dalam beberapa kelompok masyarakat akan menyebabkan keinginan untuk berinteraksi sehingga menimbulkan pola perpindahan (pattern of movement). Dalam hal ini terjadi pola perpindahan barang, penduduk, uang, ide, dan sebagainya antara satu tempat dengan tempat lain.
  2. Karakteristik Perpindahan melalui Kanal atau Network. Pada kond isi tertentu proses pola perpindahan terlihat tanpa rintangan dan dapat bergerak ke seluruh arah tanpa melalui jalur tertentu. Tetapi pada umumnya perpindahan melalui jalur kanal atau koridor. Ini merupakan cerminan sistem transportasi, berakhir pada lokasi yang unggul sebagai pusat pengorganisasian suatu sistem.
  3. Proses Dekomposisi. Pembentukan pusat atau nodes karena timbul adanya dekomposisi dari pusat wilayah yang disebabkan oleh keunggulan dari beberapa lokasi pusat yang mempengaruhi perkembangan pusat yang satu akan unggul dari yang lain.
  4. Perjenjangan hirarki pusat-pusat. Perkembangan suatu proses dekomposisi mengarah pada terbentuknya perjenjangan hirarki pusat-pusat yang merupakan sistem organisasi dari pusat wilayah.
  5. Analisa daerah/ruang. Analisa ruang tempat pembentukan asosiasi keempat elemen yang ada di permukiman tersebut. Pada area lahan yang disita terdapat fenomena pusat permukiman dan jaring-jaring jalan yang tersusun dalam bentuk bermacam- macam tipe penggunaan dengan variasi intensitas.
  6. Difusi Keruangan. Perubahan yang terjadi tidak merata, tapi hanya pada lokasi tertentu. Lokasi disebarkan melalui sepanjang rute kanal melalui pusat tertentu dan menyebar dengan sistem perjenjangan. Proses ini disebutdifusi
]]>

Baca Juga :   Perekonomian Negara Brazil

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here