Peristiwa Gempa dan Bencana Alam Lainnya

Gempa adalah getaran yang terjadi akibat adanya pergeseran lapisan kerak bumi atau lapisan batuan di dalam bumi. Getaran yang terjadi dapat berupa getaran besar maupun getaran kecil. Getaran yang sangat berbahaya bagi kehidupan manusia, karena dapat merusak atau menghancurkan jalan, gedung dan pipa-pipa gas. Gempa yang berpusat di dasar laut akan menimbulkan gelombang yang besar di lautan dan merusak daerah pesisir pantai. Gelombang tersebut disebut Tsunami. Berdasarkan faktor penyebab terjadinya, gempa bumi dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu gempa vulkanik, gempa tektonik, dan gempa longsoran.

Gempa Vulkanik merupakan gempa yang disebabkan oleh adanya aktivitas gunung api. Aktivitas ini akan menimbulkan getaran yang dapat menghancurkan bangunan yang ada di sekitar gunung tersebut. Efek gempa akan berkurang sejalan dengan berkurangnya aktivitas gunung tersebut. Tujuh persen peristiwa gempa yang terjadi merupakan gempa vulkanik.
Gempa Tektonik terjadi akibat adanya tumbukan lempeng-lempeng Litosfer. Pada saat terjadi tumbukan, bagian litosfer yang tertahan akan mengalami pelengkungan. Bila tekanan mendatar terhadap litosfer cukup besar, maka dapat terjadi patahan. Peristiwa ini akan mengakibatkan getaran. Getaran inilah yang akan dirambatkan sampai ke permukaan bumi dan di sebut gempa tektonik. Sembilan puluh persen peristiwa gempa terjadi merupakan gempa tektonik.
Gempa Longsoran (Terban) adalah getaran yang timbul akibat longsor atau runtuhnya tanah perbukitan atau gua-gua di daerah kapur yang labil atau akibat ulah manusia baik disengaja maupun tidak. Getaran yang di timbulkan relatif kecil, sehingga tidak begitu berbahaya,. Tiga persen peristiwa gempa yang terjadi merupakan gempa longsoran.
Pusat gempa yang terletak di bawah kerak bumi disebut Hiposenter. Pusat gempa pada titik permukaan bumi yang terletak tegak lurus di atas hiposenter disebut Episenter. Berdasarkan hiposenternya, lokasi gempa dibagi menjadi tiga jenis yaitu, Gempa bumi dalam (hiposenter gempa berada lebih dari 300 km di bawah permukaan bumi), Gempa bumi menengah (hiposenter gempa berada antara 60-300 km), dan Gempa bumi dangkal (hiposenter berada kurang dari 60 km di bawah permukaan bumi). Semakin dangkal hiposenter, maka gempa semakin berbahaya. Getaran yang ditimbulkan oleh gempa, diukur menggunakan alat pencatat gempa yang disebut seismograf. Seismograf mencatat perubahan jarak yang terjadi antara seismograf yang diam dengan lapisan tanah yang bergerak. Hasil pencatatan perubahan jarak ditulis pada seismogram.
Dari data yang terekam pada seismogram, dapat ditentukan waktu terjadinya gempa dan kekuatan gempa. Derajat kesukaran yang disebabkan oleh gempa dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain kekuatan gempa, letak hiposenter, struktur tanah, dan struktur bangunan. Dengan kekuatan yang sama, gempa yang terjadi pada struktur tanah yang labil akan menyebabkan kerusakan yang lebih parah, dibandingkan gempa yang terjadi pada struktur tanah yang stabil. Kekuatan (Magnitude) gempa diklasifikasikan berdasarkan tingkat kerusakan yang ditimbulkan serta deskripsi getaran selama kejadian gempa. Skala demikian dinyatakan dalam skala Mercalli (MMI Scale = Modified Mercalli Intensity Scale). Kekuatan gempa juga dapat diklasifikasikan berdasarkan tinggi dan panjang gelombang gempa yang tercatat pada seismogram. Klasifikasi tersebut dinyatakan dalam skala Richter.
]]>

Baca Juga :   Penjelasan Batuan Sedimen dan Jenisnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here