Penjelasan 4 Proses Sosial yang Asosiatif

Dalam kehidupan sehari-hari kalian mempunyai pengalaman pernah berhubungan dengan orang lain, apakah dengan bapak, ibu, adik, kakak, kakek, nenek, teman, dan seterusnya. Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan di rumah, kalian dibantu oleh bapak, ibu, kakak, kakek, nenek atau pembantu. Di rumah di antara anggota keluarga saling bekerjasama, hidup rukun, saling menyayangi dan mengasihi. Namun adakalanya di antara anggota keluarga terdapat perbedaan pendapat, persaingan dalam memperebutkan kasih sayang, bahkan bertengkar. Di antara anggota keluarga juga ada yang menjadi penengah untuk melerai pertengkaran tersebut.

Di sekolah kalian dengan teman-teman bekerjasama untuk menyelesaikan tugas-tugas. Kalian mungkin juga menjadi anggota klub kesebelasan di sekolahmu. Dalam pertandingan untuk mengalahkan lawan sebelas orang harus membangun kerjasama yang baik. Tanpa ada kerjasama yang baik sulit untuk mengalahkan lawan. Antar pemain dalam satu klub kesebelasan satu sama lain saling bersaing untuk menjadi pemain yang terbaik. Yang kalian alami, baik di rumah maupun sekolah, merupakan proses sosial. Dalam cerita di atas digambarkan adanya kerjasama, persaingan, pertengkaran, dan melerai pertengkaran.
Proses sosial tidak selalu menggambarkan hubungan sosial yang bersifat positif, bisa juga bersifat negatif. Dengan kata lain, proses sosial tidak hanya bersifat asosiatif, tetapi juga bisa bersifat disosiatif.
Proses sosial dikatakan asosiatif bila proses itu mengarah pada bentuk kerjasama dan menciptakan kesatuan. Proses sosial yang bersifat asosiatif jika mempunyai empat bentuk, yaitu: kerjasama (kooperasi), akomodasi, asimilasi dan amalgamasi.

A. Kerjasama (Kooperasi)

Pernahkah kalian mengerjakan tugas secara berkelompok dengan teman-temanmu? Bila pernah apa yang kalian dan teman-temanmu lakukan untuk menyelesaikan tugas itu ? Bisakah tugas itu diselesaikan secara perorangan ? Bagaimana hasilnya bila tugas itu dikerjakan secara perorangan dengan secara berkelompok ? Sudah tentu kalian akan merasakan berat bila tugas itu kalian kerjakan sendiri dan akan merasa lebih ringan bila dikerjakan secara bersama-sama. Atau tugas yang kalian kerjakan sendiri mungkin hasilnya tidak lebih baik dibandingkan dikerjakan secara bersamasama.
Masih ingat pepatah “berat sama dipikul ringan sama dijinjing.” Ungkapan tersebut menggambarkan dalam kehidupan sosial untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan, baik berat maupun ringan, akan lebih mudah bila dikerjakan secara bersama-sama.
Dengan demikian, yang dimaksudkan dengan kerjasama adalah usaha bersama antara orang perorang atau kelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama. Kerjasama dapat terjadi antara orang perorang atau antarkelompok. Kerjasama terjadi digerakkan oleh adanya tujuan bersama yang ingin dicapai. Pelaksanaan kerjasama juga dibutuhkan iklim yang menyenangkan. Kerjasama tersebut akan bertambah kuat bila ada bahaya dari luar yang mengancam.
Kerjasama dapat terjadi pada kelompok primer, seperti keluarga, dan kelompok sekunder seperti organisasi dan perusahaan. Kerjasama pada kelompok primer, seperti dalam keluarga, lebih banyak bersifat spontan, tidak ada perencanaan terlebih dahulu. Individu-individu anggota keluarga cenderung membaurkan diri dengan sesamanya di dalam kelompok, dan masing-masing berusaha menjadi bagian dari kelompoknya. Dalam kelompok primer ini orang perorang lebih senang bekerja dalam tim selaku anggota tim daripada bekerja sendiri sebagai perorangan.
Kerjasama yang terjadi pada kelompok sekunder lebih bersifat direncanakan secara rasional dan sengaja daripada bersifat spontan atau berdasarkan emosi solidaritas. Kelompok-kelompok sekunder merupakan kelompok yang bersifat terencana dan diatur, serta umumnya tidak bersifat tatap muka. Kerjasama dalam kelompok sekunder tidak hanya melibatkan anggota organisasi setempat, tetapi melibatkan juga individu-individu lain yang melintasi batas-batas daerah atau Negara. Contoh, kerjasama internasional antarnegara.
Kerjasama dapat diupayakan melalui berbagai bentuk. Di antara bentuk-bentuk kerjasama ini mungkin di antara kalian pernah melakukan. Ada empat bentuk kerjasama yang selama ini terjadi di masyarakat, yaitu:
  • Tawar-menawar (bargaining) merupakan bagian dari proses pencapaian kesepakatan untuk pertukaran barang atau jasa,
  • Kooptasi (cooptation), yaitu usaha ke arah kerjasama yang dilakukan dengan jalan menyepakati pimpinan yang akan ditunjuk untuk mengendalikan jalannya organisasi atau kelompok,
  • Koalisi (coalition), yaitu usaha dua organisasi atau lebih hendak mengejar tujuan yang sama dengan cara yang kooperatif,
  • Patungan (joint-ventura), yaitu usaha bersama untuk mengusahakan suatu kegiatan, demi keuntungan bersama yang akan dibagi nanti secara proporsional dengan cara saling mengisi kekurangan masing-masing partner.
Baca Juga :   Perbedaan dan Hubungan Perubahan Sosial dan Budaya serta Karakteristiknya

B. Akomodasi< /h3>
Menurut kalian apa yang dimaksudkan dengan akomodasi ? Untuk menjawab pertanyaan itu tentu kalian pernah melihat perbedaan paham, pertentangan atau sengketa antara dua pihak. Misalnya, perbedaan paham atau pendapat antarpengurus OSIS di sekolah dalam mengambil keputusan. Pengurus OSIS yang berbeda pendapat akhirnya menyepakati sebuah keputusan dan keputusan ini dapat diterima oleh pihak-pihak yang berbeda pendapat.
Kesepakatan ini memungkinkan pihak-pihak yang berbeda pendapat berkerjasama, meskipun masing-masing masih berbeda pendapat. Yang kalian harus selalu ingat adalah bahwa akomodasi tidak pernah dapat menyelesaikan sengketa secara tuntas untuk selamanya. Akomodasi tidak akan menghilangkan perbedaan paham atau pendapat, namun pihak-pihak yang berbeda paham atau pendapat masih terus berinteraksi satu dengan lainnya. Dalam proses akomodasi masing-masing pihak berpegang tuguh pada pendiriannya masing-masing. Akomodasi dapat meredakan pertentangan untuk sementara.
Akomodasi sebagai upaya untuk meredakan pertentangan mempunyai beberapa bentuk, antara lain:
  • a. Pemaksaan (coercion), yaitu proses akomodasi yang berlangsung melalui proses pemaksaan sepihak dan dilakukan dengan mengancam salah satu pihak. Contoh: perbudakan.
  • b. Kompromi (compromise) yaitu proses akomodasi yang berlangsung dalam bentuk usaha pendekatan oleh kedua belah pihak dan masing-masing pihak mengurangi tuntutannya sehingga diperoleh kata sepakat mengenai titik tengah penyelesian. Misalnya, kompromi antara buruh dengan pengusaha.
  • c. Penggunaan jasa perantara (mediation), ialah suatu usaha kompromi yang tidak dilakukan sendiri secara langsung, melainkan dengan bantuan pihak ketiga, yang bersikap netral. Pihak ketiga hanya mengusahakan penyelesaian masalah secara damai. Kedudukan pihak ketiga hanyalah sebagai penasihat dan tidak mempunyai wewenang untuk memberi keputusan menyelesaikan suatu perkara.
  • d. Penggunaan jasa penengah (arbritase) yaitu suatu cara untuk mencapai kompromi apabila pihak-pihak yang bersengketa tidak sanggup mencapainya sendiri. Pertentangan diselesaikan pihak ketiga yang dipilih kedua pihak. Misalnya, dinas tenaga kerja ditunjuk untuk menyelesaikan sengketan antara buruh dengan majikan.
  • e. Peradilan (adjudication) yaitu suatu usaha penyelesaian sengketa yang dilakukan oleh pihak ketiga yang memang diberi kewenangan untuk menyelesaikan sengketa.

C. Asimilasi

Asimilasi merupakan proses peleburan kebudayaan atau kelompok-kelompok yang menjalin hubungan atau terjadi kontak. Peleburan kebudayaan atau kelompok-kelompok masyarakat melahirkan kebudayaan tunggal atau kelompok tertentu yang menjadi milik bersama. Kebudayaan atau kelompok yang dihasilkan merupakan perpaduan kebudayaan atau kelompok sebelumnya. Asimilasi mengarah pada lenyapnya perbedaan.
Perbedaan-perbedaan akan digantikan dengan kesatuan pikiran dan tindakan. Asimilasi terjadi apabila:
  • a. Ada perbedaan kebudayaan antara kelompok-kelompok manusia;
  • b. Anggota kelompok yang berbeda kebudayaan itu bergaul secara intensif dalam jangka waktu cukup lama;
  • c. Masing-masing pihak menyesuaikan kebudayaan mereka masing-masing
Ada beberapa faktor yang mempermudah terjadinya asimilasi, yaitu:
  • Sikap dan kesediaan menenggang
  • Sikap mengahargai orang asing beserta kebudayaannya
  • Kesempatan di bidang ekonomi seimbang
  • Golongan penguasa bersikap terbuka terhadap golongan minoritas
  • Kesamaan dalam berbagai unsur kebudayaan
  • Perkawinan campuran
  • Musuh bersama dari luar
Selain faktor-faktor yang mempermudah asimilasi, ada pula faktor-faktor yang menghambat asimilasi, yaitu:
  • Terisolasinya suatu kebudayaan tertentu dalam masyarakat
  • Kurangnya pengetahuan golongan tertentu mengenai kebudayaan golongan lain
  • Kelompok tertentu merasakan takut terhadap kebudayaan kelompok lain
  • Adanya perasaan superior kelompok tertentu sehingga meremehkan kelompok lain
  • Perbedaan ciri bandaniah antarkelompok
  • Adanya perasaan in-group (kelompok) yang kuat
  • Adanya sikap diskriminatif golongan yang berkuasa
  • Perbedaan kepentingan dan pertentangan-pertentangan pribadi

D. Amalgamasi

Amalgamasi adalah suatu proses yang ditandai oleh m eleburnya dua kelompok budaya menjadi satu, yang akhirnya melahirkan sesuatu yang baru. Budaya baru ini tidak menampakkan unsur-unsur dari budaya yang sebelumnya (lama). Amalgamasi jelas mampu melenyapkan pertentangan-pertentangan yang terjadi. Contoh: perkawinan campuran antar suku.
Sugiharsono, dkk. 2008. Contextual Teaching and Learning Ilmu Pengetahuan Sosial: Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah Kelas VIII Edisi 4. Jakarta. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
]]>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here