Perbedaan Mengajar Geografi di SMA atau di SMK

Mengajar Di SMA Sebagaimana kita tahu, bahwa di tingkat SMA, mata pelajaran Geografi berdiri sendiri, tidak terikat dengan mata pelajaran lain seperti ketika di SMP. Sederhananya, ketika seorang Sarjana Pendidikan Geografi mengajar di SMA, maka secara langsung sudah liner. Untuk urusan sertifikasi, linearitas sangatlah berguna untuk pencarian tunjangan sertifikasi. Andaikan di sekolah induk, seorang guru geografi kekurangan jam untuk memenuhi jam minimum sebagai syarat sertifikasi, maka bisa mengambil di sekolah lain. Asalkan, di sekolah induk-nya, guru tersebut juga telah mengajar mata pelajaran yang linar. Dalam hal ini adalah mata pelajaran geografi. Untuk materi Geografi di SMA, sebenarnya hanyalah sedikit yang memaksa bermain angka. Paling hanya materi tentang Kependudukan, Peta dan Wilayah. Itupun biasanya sangatlah sedikit sekali porsinya. Materi lainnya ketika di SMA, sebagian besar adalah pemahaman akan sebuah teori tentang kebumian. Untuk Kurikulum 2013, sudah ada perubahan, ada penambahan materi lagi di kelas 10, yaitu mitigasi bencana. Jadi bisa dibayangkan seberapa padatnya materi geografi di kelas 10, dan seberapa longgarnya materi geografi di kelas 11.

Mengajar di SMK

Sebelum Kurikulum 2013 diterapkan di SMA, ada materi pelajaran berupa IPS Terpadu. Dimana seorang Sarjana Pendidikan Geografi masih bisa mengajar secara linear ketika berada di lingkungan SMK. Karena masih serumpun. Sehingga bilamana kekurangan jam mengajar untuk mengejar sertifikasi, mencari di sekolah lain masih bisa, karena di sekolah induk mengajar secara linear.

Kisah Pak M

Sepenggal cerita dari seorang rekan, sebuat saja Pak M. Beliau mengajar di sebuah SMK Administrasi Perkantoran yang telah menerapkan Kurikulum 2013. Secara otomatis Pak M tidak mendapatkan jam mengajar yang linear dengan ijazah sarjananya. Saya lupa saat itu Pak M mengajar apa di SMK tersebut, namun karena jumlah jam mengajar di sekolah induknya kurang, maka Pak M mencari jam tambahan di sekolah lain. Setelah total jam mengajarnya telah mencapai 24 jam, pengajuan sertifikasinya tetap ditolak. Dengan alasan di sekolah induknya tidak mengajar secara linear. Padahal Pak M sudah memiliki sertifikat pendidik. Tapi tetap tidak bisa dikarenakan tidak linear. Kabar terakhir yang saya dapatkan, Pak M telah mutasi ke SMA. Alhamdulillah, sertifikasinya kini sudah turun.

Kisah Pak B

Satu buah pengalaman lagi, kali ini datang dari Pak B. Seorang Sarjana Pendidikan Geografi yang mengajar di sebuah SMK Pertambangan. Kok bisa? ya bisa, karena kualifikasi yang tercantum saat pembukaan formasi CPNS adalah S1 Pendidikan Geografi, sama seperti saat Pak M mengajar. Bayangkan saja bagaimana rasanya ketika seorang sarjana yang dicetak untuk mengajar materi geologi dan geomorfologi secara tipis dalam materi Pedosfer harus mengajar di SMK Pertambangan. Dimana lulusan yang dicetak harus memiliki kualifikasi pengetahuan Geologi dan Geomorfologi untuk bisa bekerja di pertambangan dengan baik. Beruntung Pak B adalah orang yang cerdas, cepat belajar dan mudah beradaptasi. Dalam kisah Pak B, walaupun mengajar geologi dan geomorfologi yang notabene masih termasuk lingkup mata pelajaran geografi, namun tetap saja tidak linear. Tidak bisa diterima sebagai persyaratan untuk pengajuan sertifikasi. Pak B sama seperti Pak M, sudah memiliki sertifikat pendidik. Akhirnya Pak B mengikuti sebuah program yang disebut sebagai Program Keahlian Ganda untuk guru SMK. Program ini diadakan untuk menjembatani jurusan di SMK yang tidak memiliki guru dengan jurusan yang sama. Makanya sebagian besar guru di SMK dengan latar pendidikan sarjana pendidikan keusahan untuk mengajukan sertifikasi. Program Keahlian Ganda ini berupa diklat selama beberapa bulan di beberapa tempat, sesuai dengan materi yang diajarkan. Lucunya lagi, ketika Pak B selaku guru di SMK Pertambangan mengikuti Program Keahlian Ganda untuk Guru Geomatika di SMK, malah tidak ada materi Geologi atau Geomorfologi sama sekali. Setelah mengikuti Program Keahlian Ganda ini, akhirnya sertifikasi Pak B bisa dicairkan karena sudah mengajar secara linear dengan sertifikasi keahlian ganda, tentunya juga dibantu dengan sertifikat pendidik yang telah dimilikinya. Satu hal lagi yang lucu, ternyata Program Keahlian Ganda yang diikutinya tersebut sudah satu paket dengan PPG. Dengan kata lain, Pak B ikut PPG lagi, dan paling lucu lagi adalah di kampus yang sama dengan PPG pertamanya saat mendapatkan sertifikat pendidik untuk pertama kali. Bagaimana? Terlihat capek kah melihat kisah Pak M dan Pak B ketika mengajar di SMK dengan Ijazah Sarjana Pendidikan Geografi?

Saran dari Senior

Saya mendapatkan beberapa saran dari Pak M dan Pak B terkait mengajar di SMA atau SMK ketika dikaitkan dengan sertifikasi. Dalam hal ini posisi Pak M dan Pak B sudah memiliki sertifikat pendidik. Ketika di SMA, begitu prajab selesai maka akan berubah statusnya dari CPNS menjadi PNS. Saat tersebut tiba, pengajuan sertifikasi bisa segera turun, karena mengajar geografi di SMA sudah pasti linear dan ditambah pula telah memiliki sertifikat pendidik. Intinya, kalau ingin cepat mendapatkan sertifikasi, mengajar di SMA merupakan pilihan yang baik, ditambah pula materi pelajaran yang sebagian besar sudah dipelajari ketika duduk di bangku kuliah. Ketika di SMK, walaupun prajab telah selesai, lalu telah berubah status dari CPNS menjadi PNS, seorang guru geografi di SMK harus mengikuti program keahlian ganda untuk bisa mengajar secara linear yang diakui oleh sistem sertifikasi. Jadi waktu tunggu untuk mendapatkan sertifikasi lebih lama daripada ketika mengajar di SMA. Belum lagi dengan materi yang bisa dikatakan lebih dekat dengan ilmu geografi, atau biasa disebut sebagai geografi murni. Sehingga pendalaman dan pemahaman materi harus lebih dalam daripada yang dipelajari di bangku kuliah. Intinya, lebih memperdalam ilmu di bangku kuliah, dan banyak mempelajari hal baru yang lebih banyak berkaitan dengan angka-angka. Dalam kisah Pak M, karena SMK Administrasi Perkantoran tidak memiliki jurusan yang berhubungan dengan geografi, satu-satunya jalan adalah dengan mengajuka mutasi ke SMA agar bisa linear, lalu baru bisa memproses pencairan sertifikasinya.

Sisi lain dari saran Senior

Namun dari sudut pandang lain yang diceritakan, ketika mengajar di SMK, pelajaran yang diajarkan ke siswa juga bisa dijual sebagai jasa. Pak B beberapa kali mendapatkan proyek diluar karena sekolahnya dengan dengan area pertambangan. namun jika di SMA, jarang sekali ada les-lesan untuk mata pelajaran Geografi, paling banyak adalah ilmu eksak dan ilmu alam. Karena dalam posisi di SMA, Geografi masuk ke dalam ilmu sosial. Untuk mencari tambahan pemasukan lain, mungkin dengan menulis buku atau membuat media pembelajaran untuk selanjutnya dijual.

Kesimpulan

Sampai di sini, sudah cukup jelaskan bagaimana kisah hidup seorang sarjana pendidikan geografi di SMA atau SMK? Saya tambahkan hal lain lagi, supaya semakin memperluas wawasan terutama menganai CPNS 2018 dengan formasi jabatan guru.

Permenpan no 36 tahun 2018

Menurut Perpempan no 36 tahun 2018, disebutkan bahwa pelamar CPNS dengan formasi jabatan guru yang telah memiliki sertifikat pendidik, TIDAK PERLU mengikuti Tes Kompetensi Bidang (TKB). TKB ini dilaksanakan setelah pelamar telah melewati passing grade dari Tes Kompetensi Dasar (TKD). Mengapa tidak perlu? karena dalam Permenpan no 36 tahun 2018 disebutkan bahwa sertifikat pendidik disetarakan dengan nilai maksimal TKB. Waaw, kartus as. Untuk penentuan kelulusan CPNS 2018 dalam formasi jabatan guru, bobot skor adalah TKD sebesar 40% dan TKB sebesar 60%. Bisa dibayangkan? bobot 60 % mendapatkan nilai maksimal karena telah memiliki sertifikat pendidik. Kita juga perlu tahu bahwa untuk mendapatkan sertifikat pendidik ini bukanlah hal yang mudah. Ada masa-masa yang berdarah-darah yang harus dilewati oleh mereka selaku pemegang sertifikat pendidik.. Bagaimanapun juga, ada tahap seleksi administrasi dan juga Tes Kompetensi Dasar yang harus bisa melewati passing grade yang semakin tahun semakin naik.

Permendikbud no 46 Tahun 2016

Pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan no 46 Tahun 2016 yang membahas mengenai Penataan Linieritas Guru Bersertifikat Pendidik. Disebutkan pula bahwa guru harus memiliki kompetensi untuk mengajar suatu bidang pelajaran. Lebih lengkapnya, silahkan unduh file pdf berikut ini Permendikbud no 46 tahun 2016

Pentutup

Jadi, setelah membaca artikel ini semoga wawasan pembaca akan kisah pengajar geografi yang di SMA dan di SMK bisa semakin luas. Jika sekiranya ada hal yang ingin ditambahkan, silahkan hubungi penulis melalui kolom kontak. Salam.]]>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here