8 Kesepakatan Millenium Development Goals (MDGs)

Seperti yang diketahui pertemuan para pemimpin dunia pada September 2000 telah menghasilkan kesepakatan Millenium Development Goals (MDGs). Pada pertemuan tersebut delapan goal disepakati untuk menjadi agenda bersama Negara-negara di dunia.

Kesepakatan Millenium Development Goals

Delapan agenda itu sendiri mencakup isu-isu yang sangat kompleks mulai dari kemiskinan, pendidikan, kesetaraan gender, hingga HIV?AIDS. Isu-isu dalam MDGs ini menunjukkan bahwa persoalan-persoalan mutakhir yang berkembang merupakan dampak baik secara langsung maupun tidak dari proyek modernitas yang sudah sekian lama berjalan-setidaknya sejak revolusi industri.

Modernitas memiliki dua mantra, efisiensi dan produktivitas. Implikasinya hanya yang efisien dan pdroduktif yang layak diperhitungkan. Sementara tidak hanya modernitas pada awal pertumbuhanya belum memiliki system yang baik untuk menumbuhkan efisiensi dan produktivitas, ia mau tidak mau meminta tumbal : mereka yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan yang sangat cepat.

Implikasinya, kelompok yang tidak dapat menyesuaikan pun luput dari bidikan system distribusi social, dan seiring dengan dari nafsu efisiensi dan produksi modern yang tidak terbendung, buah ini semua adalah sangat kentara : kemiskinan. Hal yang sama juga berlaku bagi ketidakadilan gender (gender based injustice), karena secara tradisional fisik perempuan dianggap tidak seefisien laki-laki.

Hasrat produksi yang menjadi pikiran modernitas rupa-rupanya juga dibarengi oleh mengendurnya nila-nilai tradisional. Pengekangan kepuasan seperti berlaku dalam system tradisional. Pengekangan kepuasan seperti berlaku dalam system tradisional dianggap sebagai ketidakadilan dihadapan kemampuan produksi missal modern.

Kesepakatan Millenium Development Goals

Akibatnya kepuasan berubah dari sesuatu yang harus diperjuangkan, menjadi sesuatu yang instan, tak perlu memerlukan nilai dan prosedur. HIV/AIDS adalah puncak dari pragmatism modernitas. Hasrat efisiensi produksi yang menjadi pikiran moderintas disokong oleh satu keyakinan besar yakni keunggulan (rasio) manusia atas alam.

Baca Juga :   Tantangan Geografi Ke Depan

Sejarah mencatat, revolusi industry merupakan titik balik dari sistem keyakinan yang berkembang pada masa sebelumnya, yang menempatkan manusia dan dalam dalam sebuah tata relasi yang harmonis. Ini diperparah dengan ditemukanya teknologi baru di bidang militer, misal bubuk mesiu, meriam dan lain sebagainya, perangkat-perangkat kolonialisme paling mengerikan selain infiltrasi nilai.

Penyingkapan-penyingkapan rahasia alam melalui kerja rasio manusia berhasil menunjukkan secara hampir sempurna keunggulan manusia atas alam sekitar. Meskipun kecenderungan ini, seperti direkam dan bahkan dijustifikasi kitab suci, merupakan sifat bawaan manusia, tetapi revolusi industry memberikan jalan yang sangat lapang bagi proyek dominasi manusia atas alam.

Sejak itulah, kiranya pikiran bahwa manusia memiliki kedaulatan penuh untuk mengekploitasi alam diterima dan dikampanyekan. Dominasi spesies manusia atas alam kian menjadi-jadi, seiring dengan penemuan-penemuan di bidang teknologi yang menungkinkan eksploitasi yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Produk-produk teknologi diciptakan untuk membantu kerja-kerja teknis manusia menghadapi hambatan-hambatan yang disediakan alam.

Sementara di sisi lain sejumlah nilai yang memuja kesejajaran manusai dan alam secara sistematis dihapus dari ingatan, untuk memudahkan rasio melanggengkan dominasinya. Sekolah dan institusi pendidikan lainnya adalah tempat yang paling efektif untuk membungkam nilai-nilai lama untk kemudian menggantinya dengan nilai-nilai baru yang bercirikan superioritas manusia, dominasi rasio, dan eksploitasi alam.

Seluruh scenario diatas telah berlangsung sekian lama dan akibatnya baru disadari dalam beberapa decade terakhir saja, bahkan dukungan atas kesadaran tersbut pun terbalah. Kasus lembah amazon dan hutan hujan tropis di negeri-negeri kita. Negeri-negeri yang oleh United Nations Development Programme dikelompokkan ke dalam developing countries, yakni negeri-negeri yang tengah membangun, terlanjur terjebak pada keyakinan bahwa kemajuan adalah setali tiga uang dengan eksploitasi.

Baca Juga :   4 Manfaat Media Pembelajaran Menurut Sudhana dan Rivai

Alhasil, kita pun tak lagi bangga dengan keberadaan Amazon ataupun cadangan hutan tropis yang kita miliki, bahkan ketika oleh well-development countries, cadangan hutan negeri kita diberi label yang sangat terhormat : paru-paru dunia. Indikasi dari absensi rasa bangga dan kesadaran ini tampak jelas masih terus berlangsungnya pembalakan dan penambangan liar, perburuan liar, termasuk didalamnya praktik hidup sehari-hari yang tidak environtmentally friendly.

Kesepakatan Millenium Development Goals

Di bidang kebudayaan, tren yang terjadi juga tidak jauh berbeda: nilai-nilai local yang menempatkan kemanunggalan manusia dan alam kian tergerus oleh invasi nila-nilai asing yang sedemikan massif. Terpapar sedemikian parah oleh invasi kebudayaan asing ini, kita pun merasa asing di tanah sendiri dan tak lagi menyukainya. Konsekuensi lanjutanya, kita menanggalkannya: menanggalkan perangkat-perangkat kebudayaan sendiri, sebuah kiamat kebudayaan.

Sebagian kita mungkin berfikir bahwa hancurnya kualitas ekologis yang melanda dunia ini bagaimanapun juga adalah dampak dari watak eksploitatid bangsa-bangsa yang  kini mendiami negeri-negeri modern. Tegasnya negeri-negeri well-developed, bangsa kulit putih, barat dan amerika sebagai panglima. Seolah-olah menjadi tidak adil oleh karenanya bila pada akhirnya countries harus dibebani tanggung jawab menjaga alam mereka.

Bukankah dulu dengan cara mengeksploitas alam, bangsa-bangsa kulit putih menimbun kekayaan yang memungkinkan anak-anak mereka mendapatkan pendidikan yang baik? Lantas darimana ongkos sekolah anak-anak di bagian dunia lain, selain dari hasil membabat hutan mereka? Pikiran balas dendam semacam ini tentu dapat dipahami. Negeri-negeri developing countries, G-20, kesal dengan negeri-negeri well-developed countries macam kelompok G-8.

Pikiran balas dendam seperti ini wajar dalam konteks mempertahankan diri sendiri. Tetapi pelajaran tentang buruknya akibat balas dendam yang tersedia untuk kita sesungguhnya lebih dari cukup. Perang Afghanistan saat ini,adalah siklus panjang balas dendam yang entah kapan habisnya. Siapa atau apa yang mati dan musnah dalam perang itu? Anak-anak dan perempuan, dan warga sipil yang tidak berdosa, juga heritage kebudayaan lama.

Baca Juga :   Mengenal satuan satuan jarak dalam astronomi

Jumlah tentara atau milisi yang mati dapat dipastikan kecil, meskipun kita tidak pernah bias mengatakan “kecil” untuk hilangnya sebuah nyawa. Sejenis scenario balas dendam ini sesungguhnya diprediksikan oleh James Canton. Sebuah climate-war, yakni perang akibat perubahan iklim (climate change), diprediksikan akan terjadi. Ini tentu bukanlah scenario yang baik.

Tetapi bukan tidak mungkin hal itu terjadi mengingat untuk “sekadar” menandatangani Protokol Kyoto, sebuah bukti penebusan dosa, Negara-negara maju mencari berbagai dalih untuk menjustifikasi penolakannya. Tidak membalas dendam Negara kaya perusak lingkungan barangkali sedikit menyakitkan bagi negeri-negeri dengan hutan yang saat ini masih baik.

Tetapi balas dendam hamper dipastikan akan menambah rantai kekerasan yang tiada akan pernah berkesudahan. Kerusakan alam dan hancurnya nilai-nilai social yang terjadi pada masa sekarang ini dapat dipastikan sepenuhnya merupkan dampak dari manusa dan gagasan medernitasnya. Ini sama sekali berbeda dengan kepunahan yang terjadi pada spesies-spesies di masa lalu.

Bukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa “kematian serempak” yang terjadi pada sejumlah spesies di masa lalu adalah akibat factor alam. Bandingkan dengan msa kini, banjir taunan yang melanda beberapa kota besar di dunia, polanya sama: tata peruntukkan lahan yang dilanggar. Bayangkan bila di masa mendatang semua anak didik memiliki kesadaran dan spirit konservasi.

Dapat dipastikan generasi mendatang, anak-anak kita sekarang, akan mendapatkan lingkungan tumbuh dan berkembang yang baik pula. Mereka tumbuh menjadi generasi yang kuat. Bukankah itu ujung dari cita-cita MDGs.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here