Bentuk-bentuk Kerusakan Lingkungan Hidup Yang Disebabkan Oleh Proses Alam dan Kegiatan Manusia

1. Kerusakan Lingkungan hidup oleh Faktor Alam

Kerusakan lingkungan yang disebabkan faktor alam pada umumnya merupakan bencana alam seperti letusan gunung api, banjir, abrasi, angin puting beliung, gempa bumi, tsunami, dan sebagainya. Letusan gunung berapi sering terjadi di berbagai belahan bumi yang merupakan jalur gunung api, seperti di Indonesia. Peletusan gunung api ada yang lemah dan ada yang kuat. Makin kuat letusan gunung api, makin besar kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. Indonesia sebagai salah satu zona jalur gunung api dunia, sering mengalami letusan gunung api akan tetapi pada umumnya letusannya tidak begitu kuat sehingga kerusakan lingkungan yang ditimbulkannya terbatas di daerah di sekitar gunung api tersebut, seperti flora dan fauna yang tertimbun oleh arus lumpur (lahar), awan panas yang mematikan, semburan debu yang menimbulkan polusi udara, dan sebagainya. Letusan gunung api yang paling dahsyat di Indonesia yaituletusan Gunung Krakatau di Selat Sunda yang terjadi pada tahun 1883 sehingga menimbulkan kerusakan lingkungan yang besar
Pulau krakatau tenggelam di bawah permukaan laut karena batuan yang membentuk Pulau Krakatau sebagian besar terbongkar dan tercampak ke dasar laut sekitarnya. Kehidupan di pulau itu hilang sama sekali, dan dalam waktu yang lama. Dengan munculnya anak Gunung Krakatau pada tahun 1928 yang merupakan gunung api baru, tanda-tanda kehidupan mulai terlihat kembali, flora dan fauna pun mulai ada di pulau itu.
Banjir yang disebabkan oleh curah hujan yang sangat tinggi, diikuti pula dengan jerusakan hutan yang semakin luas. Banjir yang sering pula diikuti tanah longsor telah menimbulkan kerusakan terhadap lingkungan kehidupan. Banjir telah mengakibatkan daerah permukiman dan pertanian terendam sehingga banyak tanaman-tanaman mati, jalan-jalan longsor , jembatan hancur dan sebagainya.
Kerusakan lingkungan hidup di tepi pantai disebabkan oleh adanya abrasi yaitu pengikisan pantai oleh air laut yang terjadi secara alami. Pada pantai-pantai yang mengalami abrasi, daratan yang berbatasan langsung dengan laut sedikit demi sedikit terkikis sehingga daratan tersebut menghilang terendam oleh laut. Permukiman-permukiman yang berada dekat dengan garis pantai sering dihancurkan dengan abrasi, apalagi ketika terjadi dengan gelombang yang besar dan angin yang kencang. Untuk menyelamatkan pantai dari kerusakan akibat abrasi, perlu dibangun tanggul-tanggul pemecah ombak yang berfungsi sebagai penahan abrasi di tepi pantai.
Angin topan, salah satu bencana alam yang disebabkan oleh kecepatan angi yang bertiup sangat kencang. Pada daerah-daerah tertentu, angin bertiup ini seringkali diikuti angin yang berputar-putar yang disebut angin siklon. Angin siklon yang bertiup dengan kecepatan tinggi seperti angin tornado di Amerika Serikat, akan menimbulkan kerusakan lingkungan seperti tumbangnya pohon-pohonan, banyak rumah dan tanaman yang rusak, jaringan listrik yang putus, dan sebagainya.
Gempa bumi adalah kekuatan alam yang berasal dari dalam bumi, menyebabkan getaran terjadi di permukaan bumi. Gempa bumi sering terjadi dibelahan dunia, termasuk di Indonesia. Gempa bumi yang lemah tidak menimbulkan kerusakan pada lingkungan, tetapi bila gempa yang terjadi sangat kuat, akan menimbulkan kerusakan lingkungan yang besar, khususnya daerah-daerah yang dilanda gempa. Gempa yang kuat dapat menimbulkan kerusakan lingkungan seperti gedung-gedung yang hancur, tanah-tanah yang retak, jalan dan jembatan putus, dan sebagainya.
2. Kerusakan Lingkungan Hidup yang Disebabkan oleh Kegiatan Manusia
Kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan manusia jauh lebih besar dibandingkan dengan kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh proses alam. Kerusakan oleh manusia terjadi terus menerus dan makin lama makin besar kerusakan yang ditimbulkannya. Kerusakan oleh manusia terjadi dalam berbagai bentuk seperti pencemaran, pengerukan, penebangan hutan untuk berbagai keperluan, dan sebagainya.
Pencemaran dapat terjadi di air, tanah, dan udara. Pada umumnya pencemaran di air dan tanah terjadi karena pembuangan limbah-limbah industri, dan rumah tangga ke dalam perairan dan tanah, sedangkan pencemaran terhadap udara terjadi karena hasil pembakaran bahan bakar fosil yang terbuang ke udara sebagaimana yang telah di jelaskan sebelumnya.
Limbah-limbah yang dibuang dapat berupa limbah cair maupun padat, bila telah melebihi ambang batas akan menimbulkan kerusakan pada lingkungan, termasuk pengaruh buruk pada manusia. Salah satu contoh kasus pencemaran air yaitu ”Kasus Teluk Buyat” di negeri kita. Ratusan orang keracunan karena memakan hasil laut yang ditangkap dari Teluk Buyat yang telah tercemar unsur mercuri (air raksa). Mercuri tersebut berasal dari limbah-limbah industri yang bocor ke perairan Teluk Buyat sehingga kadar mercuri di daerah tersebut telah jauh diatas ambang batas. Pembuangan limbah ke dalam perairan yang berlangsung secara terus menerus akan mematikan kehidupan di dalam perairan itu sendiri, dan akhirnya akan berdampak pula terhadap kehidupan manusia.
Kasus-kasus pencemaran perairan telah sering terjadi karena pembuangan limbah industri ke dalam tanah, sungai, danau, dan laut. Kebocoran-kebocoran pada kapal-kapal tanker dan pipa-pipa minyak yang menyebabkan tumpahan minyak ke dalam perairan menyebabkan kehidupan di tempat itu tergangu, banyak ikan-ikan yang mati, tumbuh-tumbuhan yang terkena genangan minyak pun akan musnah pula . masyarakat yang mempunyai mata pencaharian menangkap ikan seperti nelayan, terimbas pula dampak negatifnya yaitu berkurangnya jumlah tangkapan ikan yang mereka peroleh.
Penebangan-penebangan hutan untuk keperluan industri, lahan pertanian, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya telah menimbulkan kerusakan lingkungan kehidupan yang luar biasa. Kerusakan lingkungan kehidupan yang terjadi menyebabkan timbulnya lahan kritis.
]]>

Baca Juga :   Pengertian Lingkungan Hidup

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here