Aktivitas Pertanian YANG DAPAT MENCEMARI LAUT

Ada beberapa limbah yang biasanya di hasilkan oleh aktivitas pertanian, diantarnya adalah pengolahan tanah, pemupukan, dan pemberantasan hama. Untuk memperoleh hasila atau produksi biasanya sebelum di tanami tanah di olah terlebih dahulu seperti di cangkul atau di bajak. Praktek pengolahan tanah semacam ini biasanya menghasilkan lembah yang berupa partikel- partikel sedimen yang ketika tanah atau sawah tersebut di airi, ikut terbawa ke perairan umum. Demikian pula untuk mempercepat pertumbuhan tanaman dan mencegah serangan hama, tanaman tersebut diberi pupuk dan penyemprotan dengan pestisisda.

Baik pupuk maupun pestisida biasanya tidak semuanya terpakai, sisanya akan terbuang ke lingkungan bersama- sama dengan partikel sedimen melalui saluran – saluran irigasi mencapai sungai dan ke laut, walaupun demikian fenomena ini di pengaruhi oleh beberapa faktor yang mungkin tidak di kuasai oleh manusia, diantaranya adalah topografi,curah hujan, tutupan tanaman ( vegetation coverage ), waktu dan lokasi pemberian pupuk, serta praktik penanaman itu sendiri ( loehr,1974). Namun karena faktor- faktor tersebut khususnya topografi dan curah hujan sangat di pengaruhi oleh alam maka pembahasan di sini lebih di batasi pada sumber pencemaran itu sendiri dalam hal ini pupuk dan pestisida.
A. Pupuk
Pupuk adalah bahan kimia buatan atau alamiah, seperti pupuk kandang, manure, yang di tambahkan ke dalam tanah untuk mempercepat pertumbuhan tanaman. unsur hara seperti fosfor, nitrogen, kalium. Kalsium,magnesium dan fosfor di butuhkan untuk pertumbuhan tanaman. unsur- unsur ini merupakan unsur utama yang di ambil dari tanah, bersama- sama dengan unsur- unsur jarang seperti mangan, besi, boron, tembaga dan molibdat, kekurangan salah satu unsur tersebut mengakibatkan pertumbuhan tanaman tidak dapat maksimum. Unsur- unsur hara tersebut biasanya terdapat di dalam tanah sebagai hasil dari pelapukan batuan – batuan mineral, nitrifikasi oleh bakteri perombakan vegetasi yang telah mati.
B. Pestisida
Pestisida adalah zat kimia yang digunakan untuk melindungi tanaman dari kompetitornya, spesies tanaman lain dan serangan jamur yang bersifat parasit dan hama seperti hewan pengerat, burung, serangga, ulat dan siput telanjang. Berdasarkan peruntukannya pestisida di bedakan atas insektisida ( memberantas serangga ) herbisida ( memberantas tumbuhan pengganggu ), fungisida( memberantas jamur) dan rodentisida ( memberantas hewan pengerat).
1) Aktivitas Industri
Limbah industri adalah termasuk sumber bahan pencemaran yang ada di perairan termasuk perairan pesisir dan laut. Dalam hal ini limbah industri walaupun sudah di proses di IPAL ( instalasi pengolahan air limbah ) tetapi kualitasnya masih buruk, sehingga permasalahan lingkungan masih sering muncul di lingkungan industri, dalam beberapa kasus menujukan bahwa limbah industri sulit larut dalam air, limbah tersebut cenderung mengapung di atas permukaan air.
Berdasarkan sifat- sifat fisik- kimia air limbah tingkah lakunya di perairan penerima dan pengaruhnya terhadap organisme perairan , jenis limbah industri dapat di kelompokan menjadi lima macam yaitu : bahan – bahan organik yang terlarut, termasuk bahan yang beracun, tahan urai, dan dapat di urai secara biologis.
· Bahan – bahan anorganik termasuk unsur hara
· Bahan organik yang tidak larut
· Bahan anorganik yang tidak larut
· Dan bahan – bahan radio aktif
a) Minyak bumi
Minyak bumi ( petroleum ) merupakan campuran komponen- komponen bahan organik alami yang sangat kompleks. Ia dibentuk dari hasil perombakan – perombakan hewan dan tumbuhan setelah kurun waktu geologis yang cukup lama.
– Sumber pencemaran minyak
Menurut gesamps (1977) minyak masuk ke peraiaran laut melalui 4 sumber yang berbeda yaitu :
  • Kecelakaan dan tumpahan selama proses produksi, transportasi dan penggunaan
  • Melalui limbah domestik dan industri
  • Presipitasi dari atmosfer
  • Rembesan alamiah dari dasar laut
– Pengaruh minyak bumi terhadap kehidupan organisme
Tumpahan minyak ke dalam ekosistem perairan laut dapat membahayakan lingkungan hidup organisme tersebut. Namun demikian dampaknya terhadap organisme laut sulit di ketahui karena pengaruhnya lama sekali ( helcomb,1969). Menurut mitcehell et al ( 1970 ) pengaruh kontaminasi minyak terhadap organisme bervariasi dari kecil sekali (negligable ) sampai kemusnahan ( catastropic ). Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor ( straughan, 1972) yaitu:
  • Tipe atau jenis dan dosis minyak
  • Metoda pencucian minyak
  • Kondisi oceanografis
  • Kondisi meteorologis
  • Kondisi biota
  • Adanya cemaran minyak sebelumnya
  • Adanya bahan pencemaran lain
– Pengaruh tumpahan minyak terhadap ekosistem terumbu karang
Tumpahan minyak di perairan laut sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup ekosistem terumbu karang ( coral Reef ). Walaupun beberapa spesies karang dapat tahan terhadap minyak, seperti favia speciosa , ketika tumpahan minyak mentah moonie mengapung di atas spesies tersebut tidak menunjukan kerusakan karang( grant 1970).kenyataan tersebut bahwa timpahan minyak tidak merusak karang menurut johannes et al ( 1972 ) mungkin karena karangnya tidak terkena kontak langsung dengan minyak, apabila terkena mungkin kerangnya akan terpengaruh.
Pengaruh minyak terhadap spesies karang bisa bersifat lethal ( mematikan) maupun bublethal ( menghambat pertumbuhan, reproduksi dan proses reproduksi lainnya ). Loya (1975) melaporkan bahwa tumpahan minyak di gulf of eilat (red sea) mempunyai pengaruh kronis terhadap sistem reproduksi dan menghambat pertumbuhan larva karang, disamping berpengaruh terhadap karang tumpahan minyak di permukaan laut juga berpengaruh terhadap organisme – organisme lainnya.
– Pengaruh tumpahan minyak terhadap ekosistem padang lamun
Di ketahui bahwa lumun hidupnya di dasar perairan pantai, di perairan pantai yang agak dalam lumun cenderung kurang terpengaruh oleh minyak di banding dengan organisme – organisme lain, terutama di daerah intertidal. Akan tetapi pada perairan pantai yang cukup dangkal mereka akan rusak atau terpengaruh oleh minyak, lebih lanjut pengaruh minyak terhadap tumbuhan dasar ( sub marged plant ) pada umumnya mereka terpengaruh atau mati pada waktu yang cukup lama setelah terekspos oleh minyak dengan konsentrasi yang cukup tinggi ( zobell 1963 ). Mortalitas lumun paling besar terjadi apabila minyak segar mengenai lumun yang sedang tumbuh secara aktif ( 1971) ,
– Pengaruh tumpahan minyak terhadap ekosistem mangrove
Minyak dilaporkan dapat membahayakan terhadap kehidupan komunitas mangrove, baik yang berupa tumbuhan mangrove maupun hewan – hewan yang hidup di situseperti invertebrata, penyu dan ikan – ikan. Rutzler dan sterrer ( 1970) melaporkan akibat tumpahan minyak di sel sekitar 15000 barel dan minyak “ bungker C “ witweter di daerah panama 1968, benih – benih Avicennnia dan Rhizophora mati bersama – sama berbagai invertebrata, penyu , burung, alga, yang hidup di daerah interdal kawasan mangrove.
Jernelov et al ( 1976 ) mengamati tumpahan minyak di st peter, colombia/ ekuator terhadap ekosistem mangrove. Menurut mereka setelah terjadinya tumpahan minyak tersebut, banyak akar – akar dan batang – batang mangrove yang tertutup oleh minyak, kemudian beberapa tanam mangrove daunnya ikut berguguran sedangkan invertebrata yang hidup di daerah tersebut seperti tteritip, mussel, oyster, banyak yang mati dan jumlah kepiting tampak sangat berkurang.
– Pengaruh tumpahan minyak terhadap ekosistem estuaria dan kehidupan laut.
Pengaruh minyak terhadap organisme di daerah eustaria mungkin sulit untuk di ketahui dengan pasti. Hal ini mengingat banyaknya faktor – faktor lain yang juga menentukan kehidupan organisme di ekosistem eustuaria. Namun biasanya organisme yang hidup di daerah yang tercemar lebih tahan terhadap racun dibandingkan dengan dengan mereka yang hidupnya di daerah yang tidak tercemar ( mertens, 1977).
Kejadian yang paling berbahaya dari kecelakaan tumpah minyak adalah apabila munyak tersebut di halau oleh angin dan arus pasang surut ke daerah pantai, pengaruh racun dari tumpahan minyak ini yang terperangkap pada sedimen – sedimen di daerah pantai dapat bertahan bertahun- tahun. Kondisi ini dapat menghambat terjadinya rekolonisasi dari biota yang tumbuh di daerah tersebut. Ada kecenderungan tumbuhan darat ( terestrial ), terutama mangrove lebih peka terhadap racun minyak di bandingkan dengan algae karena komponen munyak dapat langsung berpenetrasi ke jaringan tubuh tumbuhan mangrove ( cowell,1978 ).
b) Logam berat
Logam berat merupakan unsur kimia yang pada akhir- akhir ini paling ramai di tuding sebagai bahan penyebab pencemaran air. Belum lama kasus pencemaran logam berat di teluk Jakarta mencuat pada tahun 2004, lalu beberapa bulan di susul daenagan kasus pencemaran merkuri, yang berasal dari pembuangan limbah tambang emas ( tailing ) PT Newmont Minahasa raya atau yang lebih di kenal dengan kasus teluk buyatsulawwesi utara.
– Sumber- sumber logam berat
secara umum pencemaran logam- logam berat di laut dapat di bagi menjadi dua yaitu, sumber- sumber yang bersifat alami dan buatan ( bryan, 1976 ). Logam berat yang masuk ke peraiaran laut secara alami berasal dari tiga sumber :
  • a. masukan dari daerah pantai ( coastal suplly ) yang berasal dari sungai- sungai dan hasil abrasi pantai oleh aktivitas gelombang.
  • b. Masukan dari laut dalam ( Deep sea supply ) yang meliputi logam- logam yang di bebaskan oleh aktivitas gunung berapi di laut yang dalam dan logam – logam yang di bebaskan dari partikel atau sedimen- sedimen melalui proses kimiawi.
  • c. Masukan dari lingkungan dekat pantai, termasuk logam yang berasal dari atmosfer sebagai partikel- partikel debu.
– Pengaruh logam berat terhadap ekosistem laut
Logam berat yang di limpahkan ke perairan baik di sungai maupun laut akan di pindahkan dari badan air melalui paling tiga tiga proses yaitu pengendapan, adsorpsi ( pengikatan ) dan absorpsi ( penyerapan ) oleh organisme- organisme parairan ( bryan, 1971; 1976).
Apabila konsentrasi logam lebih besar dari pada daya larut rendah komponen yang terbentuk antara logam dan anion yang ada di dalam air, seperti karbonat, hydroksil, atau kloryda, maka logam tersebut akan di endapkan. Kebanyakan logam- logam berat mempunyai daya larut yang tinggi dalam air ( kecuali Fe yang sangat mudah mengendap ). Tingginya daya larut inilah yang kebanyakan membahayakan kehidupan organisme perairan, namun daya larut logam berat dapat berubah menjadi lebih tinggi maupun lebih rendah., ini tergantung pada kondisi lingkungan perairan tersebut.
Pada daerah yang kekurangan oksigen misalnya akibat kontaminasi bahan- bahan organik daya larut logam menjadi lebih rendah dan mudah mengendap. Demikian pula pada perairan yang banyak mengandung hidrogen sulfida ( H2S), logam berat seperti Zn, Cu, Cd, Pb,Hg, dan Ag, akan sulit terlarutdalam kondisi peraiaran yang anoxic atau cenderung diendapkan. Sebaliknya logam- logam Fe dan Mn cenderung mudah larut dala kondisi tersebut. Logam barat dalam air dapat pula di pindahkan dari badan air melalui proses absorpsi ( penyebaran ) oleh organisme air baik itu secara langsung maupun tidak langsung melalui rantai makanan organisme tersebut.
Absorpsi logam berat oleh organisme perairan secara langsung, biasanya melalui bagian – bagian tubuh tertentu seperti insang, dinding unsus ( ikan teleos melalui air yang di minum). Biasanya absorpsi secara langsung ini lebih penting ( berbahaya ) dari pada tidak langsung ( melalui rantai makanan), logam –logam ini biasanya berakumulasi dengan jaringan- jaringan tubuh organisme.
Absorpsi logam berat secara tidak langsung biasanya terjadi melalui rantai makanan, mikroorganisme dan mikroflora mempunyai kemampuan untuk mengakumulasikan logam berat ke dalam sel- sel hidup mereka ( wittmann, 1979 dan prosi 1979),. Di dalam rantai makanan mikro – mikro organisme ini akan dimakan oleh para pemangsanya ( ilan – ikan kecil ) dan ikan – ikan ini akan dimakan oleh ikan –ikan yang lebih besar atau konsumen tingkatan yang lebih tinggi ( ikan – ikan predator ) dan seterusnya, termasuk manusia yang memakan ikan. Kondisi ini memungkinkan terjadinya penumpukan logam- logam berat di dalam jaringan tubuh organisme pada setiap trophic level.
– Pengaruh logam berat terhadap organisme laut
Pengaruh logam berat terhadap organisme laut telah banyak di laporkan oleh banyak peneliti. Secara umum pengaruh logam berat atas daya racunya terhadap organisme laut, dapat di bagi menjadi dua yaitu pengaruh racun yang bersifat lethal atau mematikan dan pengaruh sublethal.
Daya racun yang bersfat memetikan (lethal) biasanya di eksperimenkan sebagai “ median lethal concentration” yaitu konsentrasi yang di butuhkan untuk membunuh 50% dari pada organisme uji dalam kurun waktu tertentu.
Organisme yang terekspose logam berat dengan konsentrasi rendah biasaanya tidak mengalami kematian, akan tetapi akan mengalami pengaruh sublethal, yaitu pengaruh yang terjadi pada organisme tanpa mengalami kematian pada organisme tersebut. Pengaruh sublethal ini dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu:
  • i. Menghambat ( mis. perkembangan dan pertumbuhan reproduksi)
  • ii. Menyebabkan terjadinya perubahan morfologi
  • iii. Merubah tingkah laku organisme
– Pengaruh logam berat terhadap kesehatan manusia
Manusia sebagai makhluk hidup pasti memerlukan beberapa logam seperti Mn, Fe,Cu dan Zn dalam jumlah yang sangat kecil, logam- logam ini merupakan mikronutrein yang esensial, akan tetapi ada beberapa logam lainnya seperti Hg, Cd, Pb, dan Ni, sangat tidak di harapkan keberadaannya di dalam tubuh makhluk hidup meskipun dalam jumlah yang sangat kecil.
Logam –logam ini bersifat sangat toksik atau beracun, logam- logam berat dapat masuk ke tubuh manusia baik melalui rantai makanan, melalui pernafasan, maupun melalui kulit, logam ini kemudian masuk ke dalam tubuh dan meracuni manusia tersebut.
]]>

Baca Juga :   Kerusakan dan Bencana Lingkungan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here