7 Pertimbangan dan 5 Penilaian Pengembangan Mutu Pendidikan Bahasa

Di samping itu, kegiatan penilaian ini juga berfungsi pengendali mutu, pendorong dan pemberi motivasi, sebagai wujud tanggung jawab terhadap publik, seleksi dan penjurusan, dan diagnosa atas kelemahan dan keunggulan siswa, program, dan metode. Agar kebijakan yang diputuskan atau tindakan perbaikan yang diberlakukan pada siswa berdasarkan informasi yang diperoleh dari kegiatan pengendalian mutu ini tepat sasaran, maka para penyusun tes bahasa dan kegiatan penilaian atau pengendalian mutu pendidikan bahasa itu hendaknya melakukan beberapa pertimbangan. Di antara pertimbangan itu adalah,

  1. Siswa diharapkan mampu berkomunikasi, menampilkan kemahirannya, menciptakan suatu karya, dan melakukan sesuatu dengan menggunakan bahasa asing yang dipelajarinya.
  2. Selama proses penilaian, hendaknya terjadi interaksi antara guru dan siswa.
  3. Siswa mengetahui kriteria penilaian yang dibuat guru berkaitan dengan pemenuhan kinerja atau kompetensi kebahasaannya .
  4. Terdapat sejumlah model dan kesempatan yang dapat digunakan para siswa.
  5. Siswa dilibatkan dalam mengevaluasi dirinya sendiri menyangkut performansii kebahasaannya dalam rangka membantu mereka dalam menangani kegiatan pembelajarannya.
  6. Penilaian dilakukan untuk mengetahui kemajuan siswa sepanjang waktu, karena pembelajaran bahasa merupakan proses yang gradual dan memerlukan waktu yang relatif lama.
  7. Kegiatan penilaian hendaknya bersifat realistik dengan menggintegrasikan budaya ke dalam bahasa.
Di samping pertimbangan di atas, penilaian pun dilakukan secara variatif dan berjenjang. Bentuk-bentuk penilaian yang dapat dilakukan di antaranya,
  1. penilaian berbasis kelas;
  2. penilaian kemampuan dasar;
  3. ujian akhir sekolah;
  4. ujian akhir nasional; dan
  5. pemantauan mutu pendidikan.
Perlu ditekankan di sini bahwa kompetensi berbahasa merupakan kompetensi yang berjenjang dan dapat diamati dan dinilai dari performansi berbahasa siswa, dari karyanya, dari penampilannya saat berinteraksi, dan dari kemampuannya mengakses dan menggunakan informasi. Hal ini berimplikasi pada karakteristik bentuk tes yang dapat mengungkapkan kompetensi di atas. Para ahli merumuskan beberapa bentuk tes yang demikian, di antaranya portofolio, tes berdasarkan hasil karya, dan tes melalui suatu proyek yang dikerjakan oleh sekelompok siswa. Di samping itu, tentu saja direkomendasikan tes objektif dan tes uraian selama hal itu selaras dengan kompetensi siswa yang ingin diketahui.
]]>

Baca Juga :   Bila medan magnet bumi bocor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here