6 Perkembangan Bentuk Muka Bumi Beserta Penjelasan dan Gambar

Fenomena alam antara lain gempa bumi, tanah longsor, dan penurunan muka tanah menunjukkan bahwa permukaan muka bumi kita ini bersifat labil. Dinamika itu terjadi akibat adanya aktivitas tenaga endogen dan eksogen dari waktu ke waktu. Permukaan bumi sendiri mengalami perubahan bentuk karena terjadinya deformasi lapisaan batuan penyusun kulit bumi. Berikut adalah beberapa teori mengenai gerakan lapisan kulit bumi :

A. Teori Kontraksi.
Teori ini dikemukakan oleh James Dana di AS tahun 1847 dan Elie de Baumant di Eropa tahun 1852.
Mereka berpendapat bahwa kerak bumi mengalami pengerutan karena terjadinya pendinginan di bagian dalam bumi akibat konduksi panas. Pengerutan-pengerutan itu mengakibatkan bumi menjadi tidak rata. Keadaan itu dianggap sama seperti buah apel, yaitu jika bagian dalamnyaa mongering kulitnya akan mengerut.
Teori ini banyak mendapatkan kritikan. Kritikan itu antara lain menyatakan bahwa bumi tidak akn mengalami penurunan suhu yang sangat drastic sehingga mengakibatkan terbentuknya pegunungan tinggi dan lembah-lembah di permukaaan bumi. Didalam bumi juga terdapat banyak unsure radioaktif yang selalu memancarkan panasnya sehingga ada tambahaaaan panas bumi.
B. Teori Laurasia-Gondwana
Eduard Zuess dan Frank B. Taylor (1910) mengemukakan teorinya bahwa pada mulanya terdapat dua benua di kutub bumi. Benua-benua tersebut diberi nama Laurentia (Laurasia) dan Gondwana. Kedua benua itu kemudian bergerak secara perlahan ke arah ekuator sehingga terpecah-pecah membentuk benua-benua seperti sekarang.
Amerika Selatan, Afrika, dan Australia dahulu menyatu dalam Gondwanaland, sedangkan benua lainnya menyatu dalam Laurasia. Teori Laurasia-Gondwana di yakini oleh banyak ahli karena bentuk pecahan-pecahan benua tersebut apabila digabungkan dapat tersambung dengan tepat,namun penyebab pecahnya benua belum diketemukan.
C. Teori Apungan Benua (Continental Drift Theory)
Teori ini diketemukan oleh Alfred Lothar Wegener tahun 1912. Wegener mengemukakan teori tentang perkembangan bentuk permukaan bumi berhubungan dengan pergeseran benua. Menurut Wegener, di permukaan bumi pada awalnya hanya terdapat sebuah benua besar yang disebut Pangea,serta sebuah samudra bernama Phantalasa.
Benua tersebut kemudian bergeser secara perlahan kearah ekuator dan barat mencapai posisi seperti sekarang.
Teori ini diperkuat dengan adanya kesamaan garis pantai antara Amerika Selatan dan Afrika, serta kesamaan lapisan batuan dan fosil-fosil pada lapisan di kedua daerah tersebut. Gerakan tersebut menurut wegener di sebabkan oleh adanya rotasi bumi yang menghasilkan gaya sentrifugal sehingga gerakan cenderung kearah ekuator, sedangkan adanya gaya gaya tarik-menarik aantara bumi dan bulan menghasilkan gerak kearah barat. Gerakan ini seperti saat terjadinya gelombang pasang yaitu akibat revolusi bulan yang bergerak dari barat ke timur.
D. Teori Konveksi
Teori ini mengemukakan bahwa terjadi aliran konveksi ke arah vertical di dalam lapisan astenosfer yang agak kental. Aliran tersebut berpengaruh sampai ke kerak bumi yang ad a di atasnya.
Aliran konveksi yang merambat ke dalam kerak bumi menyebabkan batuan kerak bumi menjadi lunak. Gerak aliran dari dalam mengakibatkan permukaan bumi menjadi tidak rata.
Salah seorang pengikut teori konveksi adalah Harry H. Hess dari Princenton University (1962),mengemukakan pendapatnya
tentang aliran konveksi yang sampai ke permukaan bumi di punggung tengah laut. Disana lava mengalir terus dari dalam lalu tersebar kedua sisinya dan membentuk kerak bumi baru.
E. Teori Pergeseran Dasar Laut
Robert Diessz, seorang Ahli Geologi dasar laut Amerika Serikat mengembangkan tori konveksi yang dikemukakan oleh Hess. Penelitian topografi dasar laut yang dilakukannya menemukan bukti-bukti tentang terjadinya pergeseran dasar laut dari arah punggung dasar laut kedua sisinya. Penyelidikian umur sedimen dasar laut ,endukung teori tersebut, yaitu makin jauh dari pungggung dasar laut. Beberapa contoh punggung dasar laut adalah East Pasific Rise, Mid Atlantic Ridge, Atlantic Indian Ridge, dan Pasific Atlantic Ridge.
F. Teori Lempeng Tektonik
Teori ini dikemukakan oleh ahli geofisika Inggris, Mc Kenzie dan Robert Parker. Kedua ahli itu menyampaikan teori yang menyempurnakan teori-teori sebelumnya, seperti pergeseran benua, pergeseran dasar laut, dan teori konveksi sebagai satu kesatuan konsep yang sangat berharga dan diterima oleh para geologi. Kerak bumi dan litosfer yang mengapung di atas lapisan astenosfer dianggap satu lempeng yang saling berhubungan. Aliran konveksi yang keluar dari punggung laut menyebar kedua sisinya, sedangkan di bagian lain akan masuk kembali kelapisan dalam dan bercampur dengan materi di lapisan itu. Daerah tempat masuknya materi tersebut merupakan patahan yang di tandai dengan adanya palung laut dan pulau vulkanis.
Pada daerah transform fault itu aktivitas gempa bumi banyak terjadi akibat pergeseran kerak bumi yang berlangsung secara terus-menerus sehingga lempeng kerak bumi terpecah-pecah. Karena lempeng-lempeng itu berada di atas lapisan yang cair, panas, dan plastis maka lempeng menjadi dapat bergerak secara tidak beraturan. Didalam gerakannya kadang ada dua lempeng yang saling menjauh di sepanjang patahan, ada juga lempeng-lempeng yang saling bertabrakan sehingga menimbulkan gempa yang dasyat. Lempeng-lempeng inilah yang disebut lempeng tektonik. Pada saat ini dipermukaan bumi terdapat enam lempeng utama, yaitu :
  1. Lempeng Eurasia, wilayahnya meliputi Eropa, Asia, dan daerah pinggiran termasuk Indonesia.
  2. Lempeng Amerika, wilayahnya meliputi Amerika Utara, Amerika Selatan, dan setengah bagian barat Lautan Atlantik.
  3. Lempeng Afrika, wilayahnya meliputi Afrika, setengah bagian timur Lutan Atlantik, dan bagian barat Lautan Hindia.
  4. Lempeng Pasifik, wilayahnya meliputi seluruh lempeng di Lautan pasifik.
  5. Lempeng India-Australia,wilayahnya meliputi lempeng Lautan Hindia serta subkontinen India Australia bagian barat.
  6. Lempeng Antartika, wilayahnya meliputi kontinen Antartika dan lempeng lautan Antartika.
Pergerakan lempeng tektonik dapat menimbulkan bentukan-bentukan di permukaaan bumi yang berbeda-beda. Keragaman bentkan tersebut dipengaruhi oleh arah dan kekuatan gerak lempeng. Ada 3 kemungkinan kekuatan pergerakan 2 lempeng, yaitu sama-sama kuat sama-sama lemah dan yang satu kuat, sedangkan yang la in lemah.alam akibat aktivitas aktivitas lempeng itu sendiri.
Batas lempeng-lempeng tektonik ditandai oleh adanya bentukan-bentukan ala. Batas lempeng tektonik dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu batas konvergen, divergen, dan batas sesar mendatarBerikut adalah uraiannya :
a. Batas Konvergen
Pada batas konvergen (memusat) terjadi tabrakan antar lempeng sehingga salah satu lempeng tersebut menghunjam kebawah (subduction).Oleh karena itu, batas itu disebut dengan batas subduksi. Adanya subduksi antara lain dapat menyebabkan terjadinya palung laut. Pegunungan Himalaya termasuk dalam batas konvergen karena merupakan hasil tabrakan dua lempeng tektonik yang sangat besar, yaitu lempeng India-Australia dengan lempeng Eurasia. Sekitar 40 juta tahun yang lalu Lempeng India-Australia menabrak Lempeng Eurasia.
b. Batas Divergen
Batas divergen (menyebar) terjadi karena lempeng-lempeng bergerak saling menjauh (berlawan). Pada batas ini ditandai dengan terbentuknya kerak bumi baru karena naiknya materi dari astenosfer yang biasanya membentuk punggung laut. Oleh kerena itu, zona ini disebut juga batas konstruktif.
c. Batas Sesar Mendatar
Batas sesar mendatar terjadi karena adanya pergeseran dua lempeng dengan arah yang berlawanan. Pergeseran itu tidak menimbulkan penghilangan atau permunculan kerak bumi, tetapi di sepanjang daerah itu ditandai dengan keretakan. Gerakan lempeng tektonik menyebabkan terjadinya gempa bumi dan pembentukan gunung.
Beberapa gunung berapi di Indonesia yang sangat berbahaya letusannya adalah Gunung Tambora (di pulau sumbawa) meletus tahun 1815, Gunung Krakatau meletus tahun 1883, Gunung Kelud meletus tahun 1919, Gunung Merapi meletus tahun 1930, Gunung Agung meletus tahun 1962/1963, dan gunung galunggung meletus tahun 1982. Ada 3 sistem pokok penyebaran pegunungan yang bertemu di Indonesia, yaitu Sistem Sunda, Sistem Busur Tepi Asia, dan Sirkem Sirkum Australia.
1. Sistem Sunda
Sistem ini di mulai dari Arakan Yoma di Myanmar, sampai ke kepulauan Banda di Maluku. Panjangnya kurang lebih 7000k. terdiri dari 5 busur pegunungan, yaitu :
  • a. Busur Arakan Yoma, berpusat di Shan (Myanmar)
  • b. Busur Andaman Nicobar, berpusat di Mergui.
  • c. Busur Sumatea-jawa, berpusat di Anambas.
  • d. Busur Kepulauan Nusa Tengggara, berpusat di Flores.
  • e. Busur Banda, berpusat di banda.
2. Sistem Busur Tepi Asia
Sistem ini dimulai dari Kamsyatku melalui Jepang, Filipina, Kallimantan, dan Sulawesi. Di Filipina busur bercabang tiga, yakni :
  • a. Cabang pertama : dari Pulau Luzon melalui Pulau palawan ke Kalimantan Utara.
  • b. Cabang kedua : dari Pulau Luzon melalui Pulau Samar ke Mindanau dan Kepulauan Sulu ke Kalimantan Utara.
  • c. Cabang ketiga : dari Pulau Samar ke Mindanau, Sangihe ke Sulawesi.
3. Sistem Sirkum Australia
Sistem ini dimulai dari Selendia Baru melalui Kaledonia Baru ke Irian. Bagian utara dari system pegunungan ini bercabang 2, yakni:
  • a. Dari ekor Pulau Irian melalui bagian tengah sampai ke Pegunungan Charleslois di sebelah barat.
  • b. Dari Kepulauan Bismarck melalui pegunungan tepi utara Irian sampai ke kepala burung menuju Halmahera.
Ketiga sistem pegunungan ini bertemu di sekitar Kepulauan Sulu dan Banggai.
Gempa bumi ialah getaran kulit bumi yang disebabkan oleh kekuatan-kekuatan dari dalam. Gempa ada yang memiliki kekuatan besar dan ada yang memiliki kekuatan kecil. Indonesia adalah daerah pertemuan rangkaian Mediterania dan rangkaian Sirkum Pasifik, dan proses pembentukkan pegunungan juga masih berlangsung. Itu sebabnya di Indonesia banyak terjadi gempa bumi. Pusat gempa di dalam bumi disebut hiposentrum, sedangkan pusat gempa pada permukaan bumi di atas hiposentrum disebut episentrum.
]]>

Baca Juga :   BENTANG LAHAN BERDASARKAN KETINGGIAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here