Home Lain-lain Artikel


Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan suatu media adalah sebagai berikut (Sadiman, 2002:82) :
  1. Memilih media harus berdasarkan tujuan instruksional yang ingin dicapai
  2. Memilih media harus sesuai karakteristik siswa atau sasaran
  3. Memilih media harus disesuaikan dengan jenis rangsangan belajar yang diinginkan (audio, visual, gerak, dll)
  4. Memilih media harus disesuaikan dengan keadaan latar atau lingkungan
  5. Memilih media harus memahami kondisi setempat, dan luasnya jangkauan yang ingin dilayani.
]]>

0 comment
0 FacebookTwitterWhatsappTelegramEmail

Ciri-ciri manajemen berbasis sekolah

by geografi

Menurut Mulyasa, pada manajemen berbasis sekolah, sekolah di tuntut secara mandiri dalam menggali,mengalokasikan, menentukan prioritas, mengendalikan dan mempertanggungjawabkan pemberdayaan sumber baik kepada masyarakat maupun pemerintah.

Supriono dan Ahmad, mengemukakan bahwa ada beberapa ciri-ciri manajemen berbasis sekolah antara lain:
  1. Adanya upaya peningkatan peran serta BP3 dan masyarakat untuk mendukung kinerja sekolah.
  2. Program sekolah disusun dan di laksanakan dengan mengutamakan kepentingan proses belajar mengajar.
  3. Menerapkan prinsip efektifitas dan efisiensi dalam penggunaan sumber daya sekolah (anggaran, personel, fasilitas).
  4. Mampu mengambil keputusan yang sesuai dengan kebutuhan, kemampuan dan kondisi lingkungan sekolah walau berbeda dari pola umum atau kebiasaan.
  5. Menjamin terpeliharanya sekolah yang bertanggung jawab kepada masyarakat, selain pada pemerintah atau yayasan.
  6. Meningkatkan profesionalisme personal sekolah.
  7. Meningkatkan kemandirian sekolah di segala bidang.
  8. Adanya keterlibatan semua unsur terkait dalam perencanaan program sekolah, pelaksanaan sampai dengan evaluasi (kepala sekolah, guru, BP3, tokoh masyarakat dan lain-lain.
  9. Adanya keterbukaan dalam pengelolaan pendidikan sekolah, baik menyangkut program,anggaran,ketenagaan dan prestasi.
  10. Pertanggungjawaban sekolah di lakukan baik terhadap pemerintah yayasan maupun masyarakat.
]]>

0 comment
0 FacebookTwitterWhatsappTelegramEmail

Perbedaan Antara MENGAJAR dengan MENDIDIK

by geografi

Berbicara tentang pengertian “MENGAJAR” kalau dilihat esesinya dalam proses belajar “MENGAJAR”, sudah menyangkut kegiatan “MENDIDIK”, dalam artian untuk mengantarkan anak kepada tingkat kedewasaanya, baik secara fisik maupun mental. Tetapi dalam uraian berikut ini mencoba membedakan, dengan suatu maksud memberikan suatu penanaman terhadap kenyataan yang kini sedang berkembang. Kenyataan yang dimaksud adalah keadaan proses dan hasil pengajaran di sekolah-sekolah. Sehingga pembedaan ini tidak bersifat esensial dan konseptual. Oleh karena itu maka kata “MENGAJAR” dan “MENDIDIK” akan ditempatkan di antara tanda petik (“……….”)

Memang kalau dilihat dari segi asal katanya, keduanya memiliki arti yang sedikit berbeda. ““MENGAJAR”” adalah member pelajaran, semisal pelajaran matematika, member pelajaran bahasa, member pelajaran geografi, agar siswa yang diajar itu mengetahui dan paham tentang bahan yang diajarkan tadi. Sedang ““MENDIDIK” “ adalah memelihara dan member latihan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Menurut umum, memang ““MENGAJAR”” diartikan sebagai usaha guru untuk menyampaikan dan menanamkan pengetahuan kepada siswa/anak didik. Jadi ““MENGAJAR”” lebih cenderung kepada transfer of knowledge.
Kenyataan ““MENGAJAR”” yang lebih menekankan transfer of knowledge, inilah justru banyak berkembang di sekolah-sekolah. Kebanyakan guru dan juga orang tua wali sudah merasa puas kalau para anak didik mendapatkan nilai baik pada hasil ulanganya. Jadi penting dalam hal ini siswa dituntut mengetahui pengetahuan yang telah diajarkan oleh gurunya. Yang penting adalah kecerdasan otaknya, bagaimana perilaku dan sikap mental anak didik jarang mendapatkan perhatian secara serius. Cara evaluasi yang dilakukan oleh oleh guru pun juga hanya melihat bagaimana hasil pekerjaan ujian, ulangan atau tugas yang diberikannya. Ini semua mendukung suatu pengertian bahwa ““MENGAJAR”” hanya terbatas pada soal kognitif dan paling-paling ditambah keterampilan dan masih jarang yang sampai pada unsur afeksi.
Dalam hubungan ini perlu dikemukakan suatu kasus yang cukup menarik. Pada suatu hari ada seorang guru dan siswa dari suatu SMA, sama-sama naik Colt kampus. Di dalam Colt itu pun keduanya tidak pernah tegur sapa. Kemudian setelah sampai di depan gedung sekolahnya, guru itupun turun duluan dan siswanya dari belakang mengacungkan kepalan tanganya. Ilustri ini menunjukkan bahwa seorang guru tadi hanya diakui eksistensisnya sebagai guru kalau berada hanya di depan kelas saja, tetapi kalau di luar kelas sudah bukan apa-apa lagi, bahkan mungkin dianggap musuh karena guru itu dipandang sebagai guru yang kejam. Kejadian-kejadian lain banyak, misalnya para siswa mengeroyok gurunya, hanya karena nilai rapornya jelek atau akrena tidak naik kelas. Padahal semua ini hanya sekedar symbol atau tahapan tertentu, bukan tujuan.
Kasus dan kejadian seperti dicontohkan di atas, sebagai petunjuk atau akbiat dari ““MENGAJAR”” yang hanya transfer of knowledge, dan subjek belajar seolah-olah hanya membutuhkan pengetahuan saja. Padahal tujuan belajar secara esensial, disamping untuk mendapatkan pengetahuan, juga keterampilan dan untuk pembinaan sikap mental. Dengan demikian tidak cukup kalau hanya dilakukan proses pengajaran yang transfer of knowledge. Itulah maka ““MENGAJAR”” harus sekaligus ““MENDIDIK””.
““MENDIDIK”” dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk mengantarkan anak didik ke arah kedewasaan baik secara jasmani maupun rohani. Oleh karena itu ““MENDIDIK”” dikatakan sebagai upaya pembinaan pribadi, sikap mental dan akhlak anak didik. Dibandingkan dengan pengertian ““MENGAJAR””, maka pengertiak ““MENDIDIK”” lebih mendasar. ““MENDIDIK”” tidak sekedar transfer of knowledge, tetapi juga transfer of values. ““MENDIDIK”” diartikan secara utuh, baik matra kognitif, psikomotorik maupun afektif, agar tumbuh sebagai manusia yang berpribadi.
Berkait dengan soal pembentukan kepribadian anak didik, maka ““MENDIDIK”” juga harus merupakan usaha untuk memberikan motivasi kepada anak didik agar terjadi proses internalisasi nilai-nilai pada dirinya, sehingga akan lahir suatu sikap yang baik.
Sehubungan dengan uraian dan kenyataan di atas, maka ““MENGAJAR”” dalam kegiatan belajar-”MENGAJAR” harus diterjemahkan secara konseptual, disinkronisasikan dengan pengertian ““MENDIDIK””. Oleh karena itu Raka Joni, memberikan batasan “MENGAJAR” adalah menyediakan kondisi optimal yang merangsang serta mengarahkan kegiatan belajar anak didik untuk memperoleh penegtahuan, keterampilan dan nilai atau sikap yang dapat membawa perubahan tingkah laku maupun pertumbuhan sebagai pribadi.
(Sardiman, 2005:51)
Sumber : Sardiman. 2005. Interaksi dan motivasi belajar “MENGAJAR”. Jakarta. Raja Grafindo
]]>

0 comment
0 FacebookTwitterWhatsappTelegramEmail

Efektifitas Manajemen Berbasis Sekolah

by geografi

1. Strategi efektifitas manajemen berbasis sekolah

Penerapan school based management di Indonesia memerlukan tahapan-tahapan tertentu. Tahapan tersebut sangat di perlukan untuk melihat keterkaitan dengan fasilitas dan persiapan personalia pelaksanaannya. Pentahapan school based manajement ini di tentukan oleh Samani (1990:10) yang dikutip Suryarma (2003), sebagai berikut :
a) Tahapan sosialisasi, tahapanini mencakup konsep school based management dan koridor yang berlaku secara nasional serta wilayah kebebasan yang dimiliki sekolah.
b) Tahapan piloting, dalam penerapan konsep school based management secara masal terlalu riskan karena wilayah indonesia luas dan tipe sekolah bermacam, seperti tipe penuh, tipe menengah dan tipe minimal.
c) Tahapan desimiesi, pada tahap ini adalah melaksanakan desiminesi konsep school based management secara bertahap dan hati-hati, hal in di sebabkan karena karena sekolah sangat banyak, kondisi geografis dan sosial ekonomi masyarakat yang sangat beragam serta dana pendukung relaitf terbatas.
Menurut Samani dan Sufyarma, mengemukakan bahwa dalam piloting di perlukan sekolah tertentu sebagai model uji coba. Ada beberapa syarat yang di perlukan dalam piloting antara lain : (1) Aksetabilitas, konsep school based management dapat di terima oleh masyarakat khususnya kalangan pendidikan. (2) akuntabilitas, penerapan konsep school based management di sekolah dapat di pertanggungjawabkan seecara konseptual, operasional, kegiatan dan keuangan. (3) rekabilitas, model school based manajement yang telah di uji di cobakan pada terhadap piloting dapat di replikasi pada sekolah lain. (4) sustainbilitas, program school based management dapat berkemban secara terus menerus, walaupun tahap uji coba telah di hentikan.
2. Model manajemen berbasis sekolah (Australia)
Manajemen berbasis sekolah merupakan refleksi pengelolaan desentralisasi pendidikan di Australia, sesuai dengan namanya, manajemen berbasis sekolah menempatkan sekolah sebagai lembaga yang memiliki kewenangan untuk menetapkan kebijakan menyangkut visi misi dan tujuan atau sasaran sekolah yang membawa implikasi terhadap pengembangan kurikulum sekolah dan program-program operatif lainnya.manejemen berbasis sekolah dibangun dengan memperhatikan kebijakan dan bantuan dari pemerintahan negera dan partisipasi masyarakat melalui school council serta parent and community assosiasion.
3. Keterlibatan masyarakat pada efektifitas manajemen berbasis sekolah
Menurut mulyasa, hubungan sekolah dengan masyarakat bertujuan antara lain:
a. Untuk memajukan kualitas pembelajaran dan pertumbuhan anak
b. Memperoleh tujuan serta meningkatkan kualitas hidup dan penghidupan masyarakat.
c. Merangsang masyarakat untuk menjalin hubungan dengan sekolah
Tujuan hubungan orang tua dengan sekolah menurut Mulyasa,dimaksudkan agar orang tua mengetahui berbagai kegiatan peserta didik dan juga agar orang tua murid mau memberi perhatian yang besar dalam menunjang program-program sekolah.Tujuan hubungan sekolah dan orang tua peserta didik antara lain sebagai berikut:
a.saling membantu dan isi mengisi
b.Bantuan keuangan dan barang-barang
c. Untuk mencegah perbuatan-perbuatan yang kurang baik
d. Bersama-sama membuat rencana yang baik untuk sang anak
4. Sistem pendidikan nasional yang di perlukan masyarakat masa depan
Dalam koridor reformasi,otonomi pendidikan mempunyai dua arti:pertama ialah menata kembali sistem pendidikan nasional yang sentralistis menuju kepada suatu sistem yang memberikan suatu kesempatan luas kepada inisiatif masyarakat. kedua,yang dapat diamati adalah otonomi pendidikan bukan berarti melepaskan segala ikatan untuk membangun negara kesatuan Republik Indonesia otonomi pendidikan justru berarti memperkuat dasar dasar pendidikan pada tingkat Grass-root untuk membentuk suatu masyarakat Indonesia yang bersatu berdasarkan kebhinekaan masyarakat kita.
]]>

0 comment
0 FacebookTwitterWhatsappTelegramEmail

3 Karakteristik Utama Manajemen Berbasis Sekolah

by geografi

Dengan kata lain, jika sekolah ingin sukses dalam menerapkan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah maka sejumlah karakteristik manajemen peniingkatan mutu berbasis sekolah, menurut Depdiknas, sebagai berikut yang perlu di miliki antara lain :

1. Input Pendidikan
a) Memiliki kebijakan mutu
b) sumber daya tersedia dan siap
c) Memiliki harapan prestasi yang tinggi
2. Proses
a) Efektifitas belajar mengajar tinggi
b) Kepemimpinan sekolah kuat
c) Pengelolaan yang efektif tenaga pendidikan
d) Sekolah memiiki budaya mutu
e) Sekolah memiliki teamwork yang kompak, cerdas dan dinamis
f) Sekolah memiliki kewenangan
g) Sekolah memiliki keterbukaan (transparasi) manajemen
h) Sekolah memiliki kemauan untuk berubah (psikologi dan fisik)
i) Sekolah memiliki evaluasi dan perbaikan secara berkkelanjutan
j) Sekolah responsive dan antipatif terhadap kebutuhan
k) Sekolah memiliki akuntabilitas
l) Sekolah memiliki sustainabilitas
3. Output
Output atau kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang di hasilkan oleh proses sekolah, kinerja sekolah diukur dari kualitasnya, efektifitasnya, produktifitasnya, evisiensinya, inasinya, kualitas kehidupan kerjanya dan mora kerjanya.
]]>

0 comment
0 FacebookTwitterWhatsappTelegramEmail

13 Kiat Untuk Guru Guna Menciptakan Kelas yang Efektif Menurut Marion Williams dan Robert L. Burden

by geografi

Agar pembelajaran berlangsung secara efektif, Nunan (1989) dan Richards (1994) menyarankan agar kegiatan yang dilakukan siswa di dalam kelas itu kondusif, guru hendaknya menyiapkan bahan ajar yang bermakna bagi siswa, memotivasi mereka dalam belajar, dan dapat melibatkan seluruh siswa. Dalam konteks ini, guru sebaiknya bertindak sebagai fasilitator dan model saja (Breen, 1980) atau dalam istilah Canale (1980) “sebagai pencipta suasana yang aktif”.

Secara lebih spesifik, Marion Williams dan Robert L. Burden (1997) mengemukakan beberapa kiat untuk menciptakan kelas yang efektif seperti berikut.
  1. Menciptakan suasana ruangan kelas yang nyaman dan menyenangkan
  2. Mengendalikan kelas ke arah pembelajaran
  3. Menyajikan kegiatan yang menarik dan dapat memotivasi siswa
  4. Menyediakan suasana yang membuat siswa memahami bahan yang diajarkan
  5. Menerangkan secara jelas apa yang harus dilakukan dan diraih siswa
  6. Menimbang hal-hal yang diharapkan dari siswa
  7. Membantu siswa dalam menghadapi berbagai kesulitan
  8. Mendorong siswa untuk memunculkan apa yang diharapkan dari dirinya
  9. Mengembangkan kesantunan dalam berinteraksi dengan siswa lain
  10. Mendorong siswa untuk mendementrasikan bakat dan pengetahuannya
  11. Memberikan uraian materi secara jelas
  12. Memperlihatkan antusiasme
  13. Memvariasikan kegiatan selama kegiatan pembelajaran
Demikianlah, hal terpenting yang harus dilakukan guru bahasa asing di dalam kelas dengan menerapkan model kurikulum yang berbasis pada standar kompetensi adalah bahwa kegiatan pembelajaran hendaknya berpusat pada peserta didik (learner-centered curriculum), pembelajaran terfokus pada penguasaan siswa atas sejumlah kompetensi, dan penciptaan suasana belajar yang efektif dan menyenangkan.
]]>

0 comment
0 FacebookTwitterWhatsappTelegramEmail
Newer Posts
Older Posts