Home Geografi Lithosfer

Sanggup kita simpulkan bahwa inti Teori Tektonik Lempeng yaitu bahwa bumi kita yang padat ini sebenamya sanggup terdiri atas sekitar selusin lempengan-lempengan tipis dan kaku. Lempengan inilah yang membungkus planet kita menyerupai cangkang telur rebus yang pecah-pecah. Lempengan yang disebut litosfer ini berada pada lapisan astenosfer yang selalu bergerak. Lempeng-lempeng tersebut nantinya  juga akan mengalami sebuah perusakan serta pembangunan kembali melalui gerakan mendorong, serta sanggup menggilas, menunjam, juga saling menjauh yang berlangsung secara terus menerus.

Kecepatan gerak litosfer ini berkisar antara 1-10 cm pertahun. Lempeng litosfer tersebut sanggup dikelompokkan menjadi lempengan benua dan lempengan dasar samudra.  Bagaimana selanjutnya akhir dan dampak dari gerakan-gerakan lempeng-lempeng litosfer tersebut? Sekurang-kurangnya, karakteristik gerakan lempeng litosfer tersebut sanggup kita bedakan menjadi tiga bab sebagai berikut.
  • Gerakan lempeng litosfer yang sating bertabrakan (convergent)  
Jika dua buah lempeng litosfer (lempeng benua dan lempeng samudra) saling bertabrakan, maka lempengan samudra yang mempunyai berat jenis lebih besar akan menunjam ke dasar lempengan benua. Pada bidang batas pertemuan atau tabrakannya akan ditemui jalur palung bahari (oceanic trench) atau proses pelipatan dan sesar (fold and fault process). Di wilayah ini umumnya banyak’’ditemui tanda-tanda vulkanisme serta merupakan wilayah rawan gempa. Misalnya, pertemuan antara lempeng Amerika Selatan dengan lempeng Nazka.
  • Gerakan lempeng litosfer yang saling menjauh (divergent)
Jika dua buah lempeng litosfer (dasar samudra dengan dasar samudra) saling menjauh atau merekah, maka akan keluar magma yang kemudian akan membeku dan membentuk kerak bumi (litosfer) yang baru. Wilayah perekahan (zona divergensi) ini ditandai dengan adanya punggung tengah samudra (mid oceanic ridge) dan lava basalt bantal (pilloiu laua). Misalnya, perekahan lempeng samudra yang terdapat di tengah Samudra Atlantik.
⇑Rekahan lempeng samudra di tengah Samudra Atlantik menghasilkan punggung tengah Atlantik.
  • Gerakan lempeng litosfer yang saling bergesekan
Jika dua buah lempeng litosfer tersebut nantinya akan saling bergesekan secara mendatar, maka pada bidang yang juga pada batasnya akan ditemui patahan atau sesar mendatar (transform fault). Misalnya, sesar San Andreas yang memanjang arah barat bahari – tenggara di wilayah utara mulai dari Semenanjung Kaliforhia, Amerika Serikat.
Berdasarkan pemaparan diatas disimpulkan bahwa wilayah-wilayah yang beradi di batas lempeng merupakan wilayah yang mempunyai banyak gunung api dan kawasan rawan gempa.Perhatikan peta persebaran wilayah gempa dan jalur gunung berapi di dunia! Pada peta terlihat bahwa sebaran titik gempa dan jalur gunung api berada pada pertemuan batas-batas lempeng bumi.
]]>

0 comment
0 FacebookTwitterWhatsappTelegramEmail
Bentuk Karakteristik Pada Perlapisan Bumi

Bentuk Karakteristik Pada Perlapisan Bumi

by geografi

Berdasarkan penelitian yang dilakukan andal geofisika, terutama dengan metode seismik, bab dalam bumi sanggup diketahui. Secara umum, menurut kecepatan perambatan gelombang primer (P) dan gelombang sekunder (S), bumi dibagi atas beberapa lapis, yaitu kerak, mantel, dan inti.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan andal geofisika Bentuk Karakteristik Pada Perlapisan Bumi
Susunan interior bumi
 
1. Kerak bumi  
 
Kerak bumi merupakan bab terluar dari bumi. Ketebalan lapisan ini bervariasi mulai dari 8 km (kerak samudera) sampai 40 km (kerak benua). Kerak bumi merupakan selubung tipis yang menyelimuti bumi dan berbentuk lempeng-lempeng kaku yang selalu bergerak. Lapisan kerak bumi ibarat kulit telur yang retak-retak.  Komposisi penyusun kerak bumi berbeda antara daerah yang satu dengan daerah lainnya. Hampir 95% kerak bumi tersusun atas batuan beku atau batuan metamorf yang berasal dari batuan beku. Kerak benua umumnya tersusun atas batuan granit yang mempunyai kepadatan rendah. Adapun kerak samudra umumnya tersusun atas batuan basalt yang mempunyai kepadatan tinggi. Lapisan Paling atas kerak bumi umumnya ditutupi oleh sedimen tipis dan batuan sedimen.  Secara umum, kepadatan batuan penyusun kerak bumi kurang dari kepadatan batuan penyusun lapisan bumi yang lebih dalam. Karena itulah kerak bumi sanggup ‘mengapung’ di atas mantel.    
 
2. Mantel  
 
Lapisan mantel merupakan lapisan tebal yang terletak di antara kerak dan inti bumi. Sekitar 80% volume bumi mempakan mantel. Para andal geologi meyakini bahwa lapisan ini terutama tersusun atas mineral besi dan magnesium silikat. Lapisan mantel sanggup dibagi lagi menjadi lapisan mantel atas yang bersifat agak cair dan lapisan mantel bawah yang bersifat padat.  Sebagaimana telah kita ketahui, mantel bumi dipengaruhi arus konveksi. Temperatur dan tekanan di dalam mantel bumi sangat tinggi sehingga batuan padat pun sanggup bergerak mengapung walaupun gerakan tersebut berlangsung sangat lambat.  
 
3. Inti  
 
Inti bumi ialah lapisan bumi terdalam dengan batuan yang paling padat dibandingkan dengan lapisan lainnya. Para andal geologi meyakini bahwa inti bumi terutama tersusun atas logam besi dan nikel. Inti bumi sanggup dibagi lagi menjadi inti luar dan inti dalam. Inti luar (kedalaman 2.891-5.150 km) bersifat cair. Adapun inti dalam di mana tekanan sangat besar, merupakan lapisan yang bersifat padat. Besarnya tekanan di lapisan ini mengakibatkan logam besi dan nikel tetap berada dalam kondisi padat sekalipun temperatur di bab ini sangat tinggi.  Perlapisan bumi juga sanggup dilakukan menurut sifat fisiknya. Berdasarkan sifat fisiknya, lapisan bumi sanggup dibedakan atas lapisan litosfer, astenosfer, dan mesosfer.
  • Lapisan litosfer  Lapisan ini berada di bab paling atas muka bumi dengan ketebalan sekitar 100 km. Batuan yang menyusun lapisan litosfer merupakan batuan yang kaku, kuat, dan dingin.
  • Lapisan astenosfer  Lapisan ini berada pada kedalaman antara 100 sampai 350 km. Di zona ini, temperatur batuan mendekati titik lelehnya, sehingga lapisan ini merupakan lapisan yang ‘lemah’, gampang terdeformasi, panas, dan bersifat plastis.
  • Lapisan mesosfer Lapisan ini berada antara lapisan bates mantel inti dan lapisan astenosfer (kedalaman sekitar 350 km di bawah permukaan bumi). Walaupun temperatur di lapisan ini sangat tinggi, batuan di dalamnya tetap bersifat padat alasannya ialah mengalami tekanan yang luar biasa besar. 
Gambar: disini
]]>

0 comment
0 FacebookTwitterWhatsappTelegramEmail
Profil, Warna, Tekstur, Dan Struktur Tanah

Profil, Warna, Tekstur, Dan Struktur Tanah

by geografi

Profil, Solum, Warna, Tekstur, dan Struktur Tanah di Indonesia – Hari ini kita akan membahas mengenai materi tersebut.
Profil dan Solum Tanah
Profil tanah ialah penampang melintang (vertikal) tanah yang terdiri atas lapisan tanah (solum) dan lapisan materi induk. Adapun solum tanah ialah pecahan dari profil tanah yang terbentuk sebagai akhir proses pembentukan tanah
Perbedaan horizon tanah disebabkan pengendapan yang berulangulang oleh genangan air atau penyucian tanah (leached) dan lantaran proses pembentukan tanah. Proses pembentukan horizon-horizon tersebut akan menghasilkan benda alam gres yang disebut tanah. Penampang vertical dari tanah menawarkan susunan horizon yang disebut profil tanah.
Horizon-horizon yang menyusun profil tanah dari atas ke bawah ialah horizon O, A, B, C, dan D atau R (bed rock). Adapun horizon yang menyusun solum tanah hanya terdiri atas horizon A dan B.
 Hari ini kita akan membahas mengenai materi tersebut Profil, Warna, Tekstur, dan Struktur Tanah
a. Horizon O
Horizon ini sanggup ditemukan pada tanah-tanah hutan yang belum terganggu. Horizon O merupakan horizon organik yang terbentuk di atas lapisan tanah mineral.
b. Horizon A
Horizon ini terdiri atas adonan materi organik dan materi mineral. Horizon A merupakan horizon yang mengalami penyucian.
c. Horizon B
Horizon B terbentuk dari adanya proses penimbunan (iluviasi) dari bahan-bahan yang tercuci dari horizon A.
d. Horizon C
Horizon C tersusun atas materi induk yang sudah mengalami sedikit pelapukan dan bersifat tidak subur.
e. Horizon D atau R
Horizon D atau R tersusun atas batuan keras yang belum terla pukan. Horizon D atau R disebut juga batuan induk atau batuan dasar.
Warna, Tekstur, dan Struktur Tanah
a. Warna Tanah
Warna tanah merupakan petunjuk untuk beberapa sifat tanah. Faktor penyebab adanya perbedaan warna permukaan tanah pada umumnya terjadi lantaran perbedaan kandungan materi organik. Semakin tinggi kandungan materi organik, berarti semakin gelap warna tanah.
Warna tanah disusun oleh tiga jenis variabel, yaitu sebagai berikut.
1) Hue, menawarkan warna spektrum yang paling lebih banyak didominasi sesuai dengan panjang gelombangnya.
2) Value, menawarkan gelap terangnya warna sesuai dengan banyaknya sinar yang dipantulkan.
3) Chroma, menawarkan kemurnian atau kekuatan dari warna spektrum.
Warna tanah sanggup ditentukan dengan membandingkan warna baku pada buku Munsell Soil Colour Chart dengan warna tanah. Warna tanah akan berbeda apabila tanah dalam keadaan basah, lembap, atau kering. Di dalam penentuan warna tanah perlu dicatat bagaimana kondisi tanah tersebut apakah dalam keadaan basah, lembap, atau kering.
b. Tekstur Tanah
Tektur tanah menawarkan bernafsu halusnya butiran tanah. Berdasarkan per ban dingan banyaknya butir-butir pasir, debu, dan liat di dalam tanah terdapat dua belas kelas tekstur tanah, yaitu sebagai berikut.
1) Pasir
2) Pasir berlempung
3) Lempung berpasir
4) Lempung
5) Lempung berdebu
6) Debu
7) Lempung liat
8) Lempung liat berpasir
9) Lempung liat berdebu
10) Liat berpasir
11) Liat berdebu
12) Liat
Dari dua belas tekstur tanah tersebut, terdapat empat kelas utama yaitu pasir, lempung, bubuk dan liat. Di lapangan, tekstur tanah secara sederhana sanggup ditentukan dengan memilin tanah dengan jari-jari tangan (kasar halusnya tanah).
c. Struktur Tanah
Struktur tanah merupakan gumpalan-gumpalan kecil dari tanah akhir melekatnya butir-butir tanah satu sama lain. Struktur tanah mempunyai bentuk yang berbeda-beda, yaitu sebagai berikut.
1) Lempeng (Platy), ditemukan di horizon A.
2) Prisma (Presmatic), ditemukan di horizon B pada kawasan iklim kering.
3) Tiang (Columnar), ditemukan di horizon B pada kawasan iklim kering.
4) Gumpal Bersudut (Angular Blocky), ditemukan pada horizon B di kawasan iklim basah.
5) Gumpal Membulat (Sub Angular Blocky), ditemukan pada horizon B di kawasan iklim basah.
6) Granuler (Granular), ditemukan pada horizon A.
7) Remah (Crumb), ditemukan pada horizon A.
Sekian materi mengenai Profil, Warna, Tekstur, dan Struktur Tanah dari , biar bermanfaat.
]]>

0 comment
0 FacebookTwitterWhatsappTelegramEmail
Hubungan Tektonik Lempeng dengan Gempa Bumi

Hubungan Tektonik Lempeng dengan Gempa Bumi

by geografi

Kerak bumi terbagi menjadi lempengan-lempengan, yang terdiri atas lempengan benua yang besar dan yang kecil. Lempengan-lempengan tersebut bergerak perlahan-lahan ke arah permukaan bumi, dan di antara lempengan-lempengan tersebut terdapat retakan-retakan besar di kerak bumi. Lempengan-lempengan tersebut ada yang bergerak saling menjauh dan ada pula yang bergerak saling mendekat dan saling bertabrakan.
Pada wilayah dengan kondisi lempengan yang saling menjauh, timbul materi lelehan dari dalam bumi melalui retakan-retakan, kemudian menjadi cuek dan membentuk batuan yang disebut basal yang terjadi jauh di bawah lautan. Timbulnya basal akan membentuk formasi pematang bawah samudra yang biasa disebut pematang tengah samudra.
Pegunungan Himalaya terbentuk oleh penunjaman akhir gesekan antara Lempengan India-Australia yang didorong ke bawah oleh Lempengan Eurasia, yang menimbulkan  busur gunung api di Indonesia, parit Sunda dan Jawa serta tanah tinggi Nugini, demikian juga Australia kepingan utara yang telah didorong ke arah bawah yang kemudian membentuk Teluk Carpentaria dan Laut Timor serta Laut Arafuru.

Gambar lempeng bumi
Busur gunung-gunung api Indonesia terbentuk lantaran ketika pinggiran lempengan India-Australia bertabrakan dengan lempengan Eurasia, lempengan tersebut longsor jauh ke dalam bumi, dan temperatur yang sangat tinggi telah melelehkan pinggiran lempengan sehingga menghasilkan magma. Magma ini kemudian muncul melalui retakan-retakan di banyak tempat pada permukaan bumi yang membentuk jajaran gunung api. Gunung-gunung api yang terbentuk dengan cara ini disebut gunung api andesit. Gunung api andesit bersifat gampang meledak dan tak terduga, dan lava yang dikeluarkan membentuk batuan andesit.
Terdapat 80 buah gunung berapi yang masih aktif dari 400 gunung berapi yang ada di Indonesia. Gunung berapi tersebut terbagi menjadi tiga barisan, yaitu:
Sumatra – Jawa – Nusa Tenggara – Laut Banda;
Halmahera dan pulau-pulau di sebelah baratnya;
Sulawesi Utara – Sangihe – Mindanao.
Berikut uraian ihwal tiga sistem pokok penyebaran pegunungan yang bertemu di Indonesia.
1. Sistem Sunda
Sistem Sunda dimulai dari Arakan Yoma di Myanmar, hingga ke Kepulauan Banda di Maluku. Panjangnya ± 7.000 km.
Sistem Sunda terdiri atas dua busur, yaitu: busur dalam yang vulkanis dan busur luar yang tidak vulkanis, yang terletak di bawah permukaan laut.

Gambar busur vulkanis

2. Sistem Busur Tepi Asia

Sistem Busur Tepi Asia dimulai dari Kamsyatku melalui Jepang, Filipina, Kalimantan, dan Sulawesi. Setelah hingga Filipina, Busur Tepi Asia terbagi menjadi tiga cabang, yaitu:
  • Cabang pertama dimulai dari Pulau Luzon melewati Pulau Palawan dan Kalimantan Utara.
  • Cabang kedua dimulai dari Pulau Luzon melewati Pulau Samar, Mindanau, dan Kalimantan Utara.
  • Cabang ketiga dimulai dari Pulau Samar, Mindanau, Sangihe, dan Sulawesi.

3. Sistem Sirkum Australia

Sistem Sirkum Australia dimulai dari Selandia Baru melalui Kaledonia Baru ke Irian.
Ketiga sistem pegunungan tersebut bertemu di sekitar Kepulauan Sulu dan Banggai. Indonesia juga merupakan kawasan pertemuan rangkaian Sirkum Mediterania dan rangkaian Sirkum Pasifik, dengan proses pembentukan pegunungan yang masih berlangsung hingga dikala ini. Hal inilah yang menimbulkan di Indonesia banyak terjadi gempa bumi.
Pusat gempa di dalam bumi disebut hiposentrum, sedangkan gempa di permukaan bumi di atas hiposentrum disebut episentrum. Daerah di sekitar episentrum merupakan kawasan paling besar kerusakannya. Episentrum di Indonesia kebanyakan terdapat di bawah permukaan bahari sehingga kerusakan yang terjadi di daratan tidak begitu besar, tetapi ancaman yang lebih besar disebabkan oleh terjadinya tsunami akhir episentrum di tengah laut. Gempa bumi sanggup dipetakan menurut sentra gempa dan skala gempanya, tetapi tidak sanggup diperkirakan kapan gempa bumi akan terjadi.
Berikut beberapa macam garis pada peta gempa:
Homoseista, yaitu garis yang menghubungkan tempat-tempat yang dilalui gempa pada waktu yang sama.
Isoseista, yaitu garis yang menghubungkan tempat-tempat yang dilalui oleh gempa dengan intensitas yang sama.
Pleistoseista, yaitu garis yang mengelilingi kawasan yang mengalami kerusakan terhebat akhir gempa bumi. Pleistoseista ini mengelilingi episentrum lantaran kerusakan yang terhebat di sekitar episentrum. Isoseista yang pertama juga merupakan pleistoseista.

Gempa bumi itu merambat melalui tiga macam getaran, sebagai berikut.

a. Getaran longitudinal (merapat-merenggang)
Getaran berasal dari hiposentrum dan bergerak melalui dalam bumi dengan kecepatan tinggi, yaitu 7–14 km per jam. Getaran ini terjadi paling awal dan merupakan getaran pendahuluan yang pertama sehingga disebut getaran primer (P). Getaran ini belum menimbulkan kerusakan.
b. Getaran transversal (naik turun)
Getaran transversal atau naik turun berasal dari hiposentrum dan juga bergerak melalui dalam bumi dengan kecepatan antara 4–7 km per jam. Getaran ini tiba sehabis getaran longitudinal dan merupakan getaran pendahuluan kedua sehingga disebut getaran sekunder (S). Getaran ini juga belum menimbulkan kerusakan.
c. Getaran gelombang panjang
Getaran ini berasal dari episentrum dan bergerak melalui permukaan bumi dengan kecepatan antara 3,8–3,9 km per jam. Getaran ini datangnya paling akhir, tetapi merupakan getaran pokok yang sering menimbulkan kerusakan.

Ada dua macam gempa dilihat dari intensitasnya, yaitu:

  • makroseisme, yaitu gempa yang sanggup diketahui tanpa alat lantaran intensitasnya yang besar;
  • mikroseisme, yaitu gempa yang hanya sanggup diketahui dengan meng- gunakan alat lantaran intensitasnya yang kecil sekali.

Ada tiga macam gempa menurut lantaran terjadinya, yaitu sebagai berikut.

a. Gempa runtuhan (terban)
Gempa runtuhan terjadi lantaran turunnya atau runtuhnya tanah, dan biasa terjadi pada kawasan tambang yang berbentuk terowongan, pegunungan kapur, atau lubang. Di dalam pegunungan kapur terdapat gua-gua dan ponor-ponor (luweng) yang terjadi proses lantaran pelarutan (solusional). Jika atap gua atau lubang itu gugur, timbullah gempa runtuhan meskipun ancaman yang ditimbulkan relatif kecil dan getaran hanya terjadi di sekitar lokasi runtuhan.
b. Gempa vulkanis
Gempa vulkanis terjadi lantaran dampak yang ditimbulkan oleh meletusnya gunung api. Jika gunung api akan meletus, timbullah tekanan gas dari dalam sumbat kawahnya yang menimbulkan terjadinya getaran yang disebut gempa vulkanis. Gempa tersebut hanya terasa di sekitar kawasan gunung api yang meletus sehingga ancaman gempa ini juga relatif kecil.
Contoh gempa vulkanis yaitu gempa yang disebabkan oleh letusan Gunung Tambora. Gunung Tambora pada tahun 1815 meletus dengan dahsyat hingga menewaskan 92.000 orang. Karena kedahsyatannya tercatat dalam sejarah dunia. Kehebatan letusannya tercatat sekitar 6 juta kali kekuatan bom atom. Gunung ini mempunyai garis tengah 60 km pada ketinggian permukaan air laut. Letusan yang mahadahsyat tersebut telah membentuk kawah dengan lebar sekitar 6 km, dan kedalaman 1.110 meter, berbagi sekitar 150 km3 bubuk hingga mencapai jarak sejauh 1.300 km. Jawa Tengah dan Kalimantan dalam jarak sekitar 900 km dari tempat letusan, kejatuhan bubuk setebal 1 cm. Bongkahan letusan melayang hingga mencapai 44 km. Letusan Gunung Tambora menimbulkan gempa vulkanik yang besar.
c. Gempa tektonik
Gempa tektonik terjadi lantaran gerak ortogenetik. Daerah yang sering kali mengalami gempa ini yaitu kawasan pegunungan lipatan muda, yaitu kawasan Sirkum Mediterania dan rangkaian Sirkum Pasifik. Gempa ini sering menimbulkan perpindahan tanah, sehingga gempa ini disebut gempa dislokasi. Bahaya gempa ini relatif besar lantaran tanah sanggup terjadi pelipatan atau bergeser.
Daerah-daerah yang rawan gempa bumi disebabkan oleh kondisi labil dari suatu kawasan lantaran kawasan tersebut dilalui oleh jalur pertemuan lempeng. Daerah itu, antara lain:
Balkan, Iran, India, dan Indonesia yang merupakan Rangkaian Sirkum Mediterania;
Jepang, Filipina, Cile, dan Amerika Tengah yang merupakan Rangkaian Sirkum Pasifik.

perbandingan skala mercalli dan richter
Sumber :

Sulistyanto, Iwan Gatot. 2009. Geografi 1 : Untuk Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional
]]>

0 comment
0 FacebookTwitterWhatsappTelegramEmail
3 Macam Pertemuan Lempeng Bumi

3 Macam Pertemuan Lempeng Bumi

by geografi

Litosfer merupakan pecahan paling atas dari kerak bumi dan merupakan pecahan lapisan kerak bumi yang relatif tipis. Lapisan ini sanggup diper- umpamakan lapisan kulit ari pada manusia.
Litosfer bumi kita terbagi atas sekitar 12 lempeng. Lempeng-lempeng tersebut masing-masing memiliki gerakan pergeseran yang mendatar. Karena arah geser yang tidak sama, terdapat tiga macam kecenderungan batas pertemuan antara lempeng-lempeng itu, yaitu dua lempeng saling menjauh, dua lempeng saling bertumbukan, dan dua lempeng saling berpapasan.

a. Dua Lempeng Saling Menjauh

Menurut Teori Lempeng Tektonik, lapisan terluar bumi kita terbuat dari suatu lempeng tipis dan keras yang masing-masing saling bergerak relatif terhadap yang lain. Gerakan ini terjadi terus-menerus semenjak bumi ini tercipta hingga sekarang. Teori Lempeng Tektonik muncul semenjak tahun 1960-an, dan hingga kini teori ini telah berhasil menjelaskan banyak sekali insiden geologis, menyerupai gempa bumi, tsunami, dan meletusnya gunung berapi, juga wacana bagaimana terbentuknya gunung, benua, samudra, dan relief muka bumi.
 
Lempeng tektonik terbentuk oleh kerak benua (continental crust) ataupun kerak samudra (oceanic crust), dan lapisan batuan teratas dari mantel bumi (earth’s mantle). Kerak benua dan kerak samudra beserta lapisan teratas mantel ini dinamakan litosfer. Kepadatan material pada kerak samudra lebih tinggi dibanding kepadatan kerak benua. Demikian pula, elemen-elemen zat pada kerak samudra (mafik) lebih berat dibanding elemen-elemen pada kerak benua (felsik).
Di bawah litosfer terdapat lapisan batuan cair yang dinamakan astenosfer. Karena suhu dan tekanan di lapisan astenosfer ini sangat tinggi, batu-batuan di lapisan ini bergerak mengalir menyerupai cairan (fluid), sehingga kerak bumi terpecah menjadi beberapa lempeng.
Pada pecahan tertentu lempeng benua menunjam ke bawah lempeng benua lainnya. Karena keduanya yaitu lempeng benua, materialnya tidak terlalu padat dan tidak cukup berat untuk karam masuk ke astenosfer dan meleleh. Wilayah di pecahan yang bertubrukan mengeras dan menebal, dan membentuk gugusan pegunungan non vulkanik (mountain range).
Fenomena yang terjadi jikalau dua lempeng saling menjauh yaitu sebagai berikut :
  • pembentukan tanggul dasar samudra di sepanjang tempat perenggangan antar lempeng;
  • perenggangan lempeng akan disertai pertumbukan kedua tepi lempeng tersebut dengan lempeng di sisi luarnya;
  • terjadinya acara vulkanisme maritim dalam yang menghasilkan lava basa berstruktur bantal dan hamparan lelehan lava yang encer;
  • munculnya acara gempa di dasar maritim dan sekitarnya.
 
Tanggul dasar maritim terjadi jawaban proses vulkanisme yang bertumpuk sepanjang celah. Sebagai teladan yang terdapat di Lautan Atlantik, memanjang dari kutub utara hingga mendekati kutub selatan. Celah ini menimbulkan Benua Amerika bergerak saling menjauh dengan Benua Afrika dan Benua Eropa.
Gambar tabrakan antar lempeng bumi

b. Dua Lempeng Saling Bertemu

Fenomena yang terjadi jikalau dua lempeng saling bertemu yaitu sebagai beriku t:
  • lempeng dasar samudra menunjam ke bawah lempeng benua;
  • merupakan kawasan hiposentra gempa dangkal dan gempa dalam;
  • terjadinya acara vulkanisme, intrusi, dan ekstrusi;
  • terbentuk palung maritim di tempat tumbukan itu terjadi;
  • pembengkakan tepi lempeng benua yang merupakan tempat munculnya gugusan pegunungan;
  • timbunan sedimen adonan yang dalam istilah geologi disebut batuan bancuh atau melange;
  • penghancuran lempeng jawaban pergesekan lempeng.
 
Menunjamnya lempeng dasar samudra disebabkan oleh desakan lempeng benua yang lebih tebal dan keras, dan di tempat inilah terbentuk palung laut, yaitu dasar maritim yang dalam dan memanjang. Dampak dari pergerakan lempeng terhadap wilayah Indonesia, menciptakan wilayah Indonesia rawan akan gempa bumi.
Indonesia terdapat pertemuan tiga lempeng, yaitu lempeng Pasifik, lempeng Eurasia, dan lempeng Indo-Australia. Jenis batas antara kedua lempeng ini yaitu konvergen. Lempeng Indo-Australia yaitu lempeng yang menunjam ke bawah lempeng Eurasia. Selain itu, di pecahan timur, bertemu tiga lempeng tektonik sekaligus, yaitu lempeng Filipina, Pasifik, dan Indo-Australia.
Adanya pergerakan subduksi antara dua lempeng mengakibatkan terbentuknya gugusan gunung berapi dan parit samudra. Demikian pula subduksi antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia mengakibatkan terbentuknya gugusan gunung berapi yang tak lain yaitu Bukit Barisan di Pulau Sumatra dan gugusan gunung berapi di sepanjang pulau Jawa, Bali, dan Lombok, serta parit samudra yang tak lain yaitu Parit Jawa (Sunda).
Lempeng tektonik terus bergerak. Suatu ketika gerakannya mengalami ukiran atau benturan yang cukup keras. Jika ini terjadi, timbullah gempa dan tsunami, dan meningkatnya kenaikan magma ke permukaan. Jadi, tidak heran jikalau terjadi gempa yang bersumber dari dasar Samudra Hindia, yang sering kali diikuti dengan tsunami, acara gunung berapi di sepanjang Pulau Sumatra dan Jawa juga turut meningkat. Sebagai teladan yaitu Palung Jawa yang merupakan tempat pertemuan antara lempeng Benua Asia dan lempeng dasar Samudra Hindia. Begitu juga dengan palung Laut Jepang, Palung Guam, dan Palung Mindanau (Palung Mariana) Samudra Pasifik di Filipina, semuanya merupakan tempat lempeng dasar Samudra Pasifik menunjam ke bawah lempeng Benua Asia. Munculnya gugusan Pulau Sumatra, Pulau Jawa, Kepulauan Nusa Tenggara, dan Pulau Timor yaitu jawaban dari pembentukan lempeng benua. Di sepanjang pegunungan dan pulau-pulau itu bermunculan puncak gunung api, lipatan, dan retakan.
Gambar lempeng indo-australia

c. Dua Lempeng Saling Berpapasan

Fenomena yang terjadi jikalau dua lempeng saling berpapasan dan terjadi pergeseran mendatar yaitu sebagai berikut :
  1. terdapat acara vulkanisme yang lemah disertai gempa yang tidak kuat;
  2. gejala pergeseran tampak pada tanggul dasar samudra yang tidak berkesinambungan dan terputus-putus. Tanggul dasar samudra di pecahan tengah Samudra Atlantik ternyata terputus-putus sebagai jawaban dari pergeseran mendatar itu.
 
Lipatan Bumi
Lipatan pecahan lembah yang turun dinamakan sinklin dan yang puncak terangkat dinamakan antiklin. Sebuah antiklin sanggup menjadi puncak pegunungan yang berderet memanjang sesudah mengalami pengikisan, sedangkan sebuah antiklin sanggup pula menjadi lembah dan sinklin bermetamorfosis puncak pegunungan.
Bentukan patahan pada lapisan kulit bumi disebabkan oleh rapuhnya lapisan kulit bumi jawaban gerakan tenaga endogen. Tenaga endogen mengakibatkan terjadinya pergeseran pada bidang patahan. Patahan ada yang berbentuk vertikal, horizontal miring, dan block mountain. Bentuk-bentuk patahan sangat tergantung pada arah tenaga penyebabnya. Penyebab patahan sanggup berupa tarikan, artinya dua tenaga yang saling menjauh, atau mungkin juga berupa tekanan, artinya dua tenaga yang saling menekan (mendekat) untuk diretakkan.
Patahan Bumi
Di Indonesia patahan yang populer terdapat di Pulau Sumatra, yaitu patahan Semangko dan Ngarai Sianok di sepanjang Bukit Barisan. Di dunia patahan paling besar terdapat di Afrika, yaitu di Sungai Zambesi yang mengalir ke Danau Nyasa dan Danau Rudolf.
Sumber :
 
Sulistyanto, Iwan Gatot. 2009. Geografi 1 : Untuk Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional
]]>

0 comment
0 FacebookTwitterWhatsappTelegramEmail
4 Teori Gerakan Benua Dan Proses Perkembangan Bumi

4 Teori Gerakan Benua Dan Proses Perkembangan Bumi

by geografi

Adanya desakan magma cair dari perut bumi berdasarkan para pakar geologi sanggup menjadikan terjadinya pelebaran alur-alur dasar samudra, gerakan-gerakan benua, contoh seismik dunia, dan contoh kegiatan vulkanik.
Ada enam bentang  besar lempeng benua di bumi ini, keseluruhannya bersifat keras walaupun relatif tipis jikalau dibandingkan dengan keseluruhan bola bumi. Ketebalan lempeng-lempeng benua tersebut tidak lebih dari 150 km. Lempeng-lempeng benua itu saling bergeser. Gerakan-gerakan pergeseran kerak bumi ini juga di- sebabkan oleh desakan hebat dari energi yang dikeluarkan oleh perut bumi.
Di Benua Asia terdapat tiga lempeng benua yang besar, yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng India. Dua dari tiga lempeng tersebut relatif aktif bergerak, sedangkan yang satu statis. Lempeng Pasifik dan India terus menerus bergerak, menggeser ke arah barat bahari (Pasifik) dan utara (India), sedangkan Lempeng Eurasia relatif statis dan me- rupakan lempeng terbesar dari ketiganya. Gerakan bertabrakan antarlempeng memunculkan jajaran kepulauan dan pegunungan menyerupai pegunungan di Pulau Jawa yang relatif sejajar dalam satu barisan.
Hal-hal yang perlu diketahui perihal teori tektonik lempeng ialah sebagai berikut :
  1. Kulit bumi kita padat, dingin, dan terapung di atas lapisan mantel. Kerak bumi yang membentuk dasar samudra di sebut lempeng samudra, sedang kerak bumi yang membentuk benua disebut lempeng benua. Di bawah lapisan lempeng terdapat lapisan mantel berupa massa cair pijar yang sangat panas.
  2. Pemanasan yang terus-menerus pada lapisan inti bumi mengakibatkan terjadinya arus konveksi pada lapisan mantel dan menumbuk kerak bumi yang terapung di atasnya sehingga lama-kelamaan bengkok, retak, dan menjadikan patahan. Magma akan menerobos lempeng benua di atasnya melalui celah atau retakan atau patahan, dan terbentuklah gunung api. Gejala semacam ini disebut vulkanisme.
  3. Jika tumpukan energi di kawasan penunjaman sangat besar, akan menggetarkan lempeng dan menjadikan gempa. Terjadinya insiden gesekan antar lempeng di sebut tanda-tanda tektoisme. (perhatikan peta lempeng-lempeng di bumi)
  4. Gerakan dasar batuan yang meleleh yang merupakan batuan muda akan mendesak penggalan kerak bumi atau batuan kerak bumi yang berumur tua, dan penggalan yang bau tanah inilah yang menyangga benua- benua. Terjadinya gempa disebabkan pertemuan dua ujung dari penyangga benua tanggapan acara di bawahnya. Benturan dua ujung tersebut menjadikan gempa bumi. Inilah yang terjadi di dalam bahari di lepas pantai Amerika Selatan. Satu penggalan bumi didorong masuk ke selubung untuk meleleh kembali, penggalan lainnya didorong ke atas sehingga membentuk pematang.
  5. Teori tektonik lempeng berafiliasi erat dengan fenomena persebaran gunung api di muka bumi dan lokasi serta persebaran gempa bumi.

Teori-Teori Tentang Gerakan Benua Yang Disampaikan Oleh Beberapa Ahli

a. Alfred Lothar Wegener

teori benua Alfred
Teori Apungan dan Pergeseran Benua ditemukan oleh A.L. Wegener (1880– 1930). Ia memberikan teori ini pada tahun 1912 di hadapan perhimpunan andal geologi di Frankfurt, Jerman. Kemudian teori ini dibukukan pada tahun 1915 dengan judul Die Enstehung der Kontinente und Ozeane yang berarti Asal Usul Benua dan Lautan. Walaupun pada awalnya buku tersebut menjadikan kontroversi besar di lingkungan ahli-ahli geologi, pada sekitar tahun 1960 “Teori Apungan Benua” Wegener semakin banyak mendapat pertolongan dari para andal di bidangnya.
Beberapa hal yang menjadi dasar teori A.L. Wegener ialah sebagai berikut :
  1. Garis pantai timur Benua Amerika Utara memiliki persamaan dengan garis pantai barat Eropa.
  2. Benua Afrika memiliki persamaan yang mencolok dengan Asia barat, yang menjadikan persepsi bahwa kedua garis yang sama tersebut dahulunya merupakan daratan yang berimpitan. Itu juga dikuatkan dengan persamaan formasi geologi pada penggalan pertemuan dari kedua daratan tersebut, terutama pada formasi geologi di sepanjang pantai Afrika Barat sama dengan apa yang terdapat di pantai Timur Amerika. Kondisi tersebut telah sanggup dibuktikan kebenarannya ketika ini.
  3. Benua-benua yang ada kini awalnya merupakan satu benua besar yang disebut Benua Pangea. Pecahnya Benua Pangea disebabkan oleh gerakan benua besar di selatan baik ke arah barat maupun ke utara menuju khatulistiwa. Wilayah Greenland kini ini bergerak menjauhi daratan Eropa dengan kecepatan 36 meter/tahun, demikian juga Kepulauan Madagaskar menjauhi Afrika Selatan dengan kecepatan 9 meter/tahun.

Peristiwa-peristiwa di atas akan menjadikan hal-hal sebagai berikut :
  • Bentangan-bentangan samudra dan benua-benua mengapung sendiri- sendiri.
  • Karena gerakan Benua Amerika yang terus berlangsung ke arah barat, Samudra Atlantik menjadi semakin luas. Terjadinya lipatan-lipatan kulit bumi yang menghasilkan jajaran pegunungan utara-selatan di sepanjang pantai Amerika Utara Selatan.
  • Besarnya intensitas kegiatan seismik yang terjadi di sepanjang patahan San Andreas, di sekitar pantai barat Amerika Serikat.
  • Samudra Hindia semakin mendesak ke utara, sedangkan anak Benua India akan semakin menyempit dan mendekati Benua Eurasia, sehingga menjadikan Pegunungan Himalaya.

Semakin lebar celah yang terdapat di dasar alur-alur samudra merupakan salah satu bukti bahwa benua-benua tersebut selalu mengalami pergerakan dan pergeseran secara terus-menerus.

b. Rene Descartes

Menurut Rene Descartes (1596–1650), bumi ini berangsur-a ngsur mengalami penyusutan dan pengerutan lantaran pendinginan sehingga terjadilah gunung-gunung dan lembah-lembah. Teori ini lebih populer dengan sebutan teori kontraksi yang kemudian diteruskan oleh Edward Suess. Namun, teori ini tidak mendapat pertolongan para andal geologi.

c. Edward Suess

Edward Suess (1831–1914), yang meneruskan teori Wagener, menyatakan bahwa persamaan geologi yang terdapat di Amerika Selatan, India, Australia, dan Antartika lantaran pada awalnya daratan-daratan tersebut satu, yang disebut Benua Pangea, kemudian pecah menjadi dua, Benua Laurasia dan Benua Gondwana, dan berevolusi menjadi benua-benua menyerupai ketika ini. Daratan yang berupa benua-benua kini ini merupakan sisa-sisa dari penggalan daratan lain yang karam ke dasar samudra.
180 juta tahun lalu Benua Pangea terpisah menjadi dua benua. Di penggalan utara, Gondwana, mulai terpecah menjadi India dan Antartika-Australia mulai terpisah. Retakan mulai muncul antara Amerika Selatan dan Afrika. Di penggalan timur, Afrika tertutup oleh Laut Tethys.
130 juta tahun kemudian Benua Gondwana dan Laurasia mulai mengapung ke utara, tetapi Atlantik Utara dan Samudra Hindia mulai melebar. Retakan Atlantik Selatan memanjang, tegak lurusnya muncul retakan yang nantinya akan memisahkan Greenland dari Amerika Utara. India mulai bergerak ke Asia.

65 juta tahun lalu Amerika Selatan terpisah seutuhnya dari Afrika, berpindah ke utara dan barat. Madagaskar terpecah dari Afrika, tetapi belum ada tanda retakan Laut Merah akan memisahkan Afrika dari semenanjung Arab. Laut Mediterania mulai tampak. Di selatan, Australia masih bergabung dengan Antartika.

Saat ini India bergerak ke utara dan bertemu dengan Asia, menggumpalkan sedimen yang membentuk formasi pegunungan Himalaya. Amerika Selatan berputar dan bergerak ke barat bergabung dengan Amerika Utara. Australia terpisah dengan Antartika.


d. Tim Ahli Amerika

Tim peneliti yang berjumlah 17 orang andal berkebangsaan Amerika Serikat mengadakan penelitian di Kutub Selatan antara tahun 1969–1970. Mereka berhasil mengambarkan bahwa kawasan itu terletak di kawasan erat khatulistiwa pada 200 juta tahun yang lalu, dan seharusnya pada zaman tersebut di kawasan itu terdapat hewan dan tumbuh-tumbuhan. Pada tahun 1969, ditemukan fosil tulang rahang hewan amfibi air tawar purba, yang disebut labyrintodont. Binatang itu menyerupai Salamander, kepalanya gepeng dan badannya besar dan berat. Fosil menyerupai itu ditemui pula di Amerika Selatan dan Afrika, yang secara geologi struktur lapisan batuannya juga sama.
Sumber :

Sulistyanto, Iwan Gatot. 2009. Geografi 1 : Untuk Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional
]]>

0 comment
0 FacebookTwitterWhatsappTelegramEmail
Newer Posts
Older Posts