Batubara di Indonesia

Batubara kali pertama digunakan sebagai bahan bakar, yaitu sekitar abad ke-18 oleh bangsa Cina. Bersamaan dengan berkembangnya industri, batubara digunakan sebagai bahan bakar kereta api dan kapal laut. Pada awal revolusi industri kebutuhan batubara sangat tinggi karena sebagian besar tenaga (energi) yang digunakan berasal dari batubara.

Batubara banyak ditemukan di belahan bumi utara, sedangkan di daerah tropika dan belahan bumi selatan ketersediaannya tidak terlalu banyak. Negara penghasil batubara terbesar adalah Uni-Eropa dan Amerika Serikat.
Penambangan batubara di Indonesia kali pertama dilakukan sekitar 1849 di daerah Pengaron, Kalimantan Timur. Tahun 1892 ditemukan tambang batubara Ombilin di Sumatra Barat. Perusahan yang diberi kewenangan untuk mengusahakan kegiatan penambangan batubara adalah PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) yang berpusat di Tanjung Enim, Sumatra Selatan.
PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) saat ini melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi batubara di beberapa wilayah lain, di antaranya di Riau seluas 328.361 ha, Sumatra Barat seluas 15.498,72 ha, Sumatra Selatan seluas 43.650 ha, Kalimantan Timur seluas 18.002.794 ha, dan Kalimatan Selatan seluas 4.374.164,12 ha.
Produksi batubara Indonesia pada 1997 mencapai 54,80 juta ton. Produksi tersebut sebagian besar untuk diekspor, sedangkan sisanya difungsikan untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Negara tujuan ekspor batubara Indonesia antara lain ke Jepang (10 juta ton), Taiwan (7 juta ton), Korea Selatan, Belanda, dan Thailand.
Batubara digunakan sebagai sumber energi dalam berbagai keperluan industri. Misalnya, untuk kepentingan bahan bakar industri semen, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), pembakaran batu gamping, batu bata, dan genting.
Pemakaian batubara dalam bentuk bahan bakar padat (briket) sedang digalakkan pemerintah sebagai pengganti bahan bakar minyak. Briket dibuat dari batubara bubuk yang dipadatkan. Briket dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.
Batubara termasuk bahan bakar fosil karena terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang mengendap selama jutaan tahun yang lalu. Ada dua teori yang dapat menjelaskan tentang terbentuknya batubara di alam, yaitu sebagai berikut.
  • Teori Insitu, yaitu teori yang menyatakan bahwa sisa-sisa tumbuhan yang telah mati langsung tertutup oleh lapisan sedimen serta mengalami proses coalificatio(proses pembentukan lapisan batubara).
  • Teori Drift, yaitu teori yang menyatakan bahwa sisa-sisa tumbuhan terangkut oleh air dan terkumpul di suatu tempat, kemudian tertu- tup oleh batuan sedimen dan mengalami proses coalification.
Berdasarkan teori tersebut maka batubara berada di daerah yang tertutup sedimen sehingga dalam pengolahannya dikenal adanya tiga macam penambangan batubara, yaitu sebagai berikut.
a) Penambangan dalam atau penambangan tertutup. Dilakukan dengan cara membuat lubang baik mendatar maupun menurun menuju lapisan batubara yang akan ditambang. Misalnya, penambangan batubara di Ombilin, Sumatra Barat. Penambangan dalam dilakukan melalui dua cara, yaitu sebagai berikut.
  1. Metode room and pillar dilakukan dengan menggunakan penyangga lorong atau ruangan penambangan dengan meman- faatkan endapan batubara yang tidak diambil. Kelemahan metode ini adalah pengambilan batubara tidak dapat dilakukan secara maksimal karena sebagian batubara digunakan sebagai pilar-pilar penyangga.
  2. Metode MPOHXBMterbagi menjadi dua, yaitu penambangan maju (WBODJOH XBMM) dan penambangan mundur (SFUSFBUJOH XBMM). Penambangan maju dilakukan dengan pembuatan lubang yang bergerak maju dan berfungsi sebagai lubang utama (main HBUF) dan lubang pengiring (UBJM HBUF). Pembuatan lubang ini dilakukan bersamaan dengan pengambilan batubara dari lu- bang buka. Adapun penambangan mundur dilakukan dengan membuat panel sebagai pembatas lapisan batubara yang akan diambil.
b) Penambangan terbuka adalah penambangan yang dilakukan dengan mengupas penutup tanah yang berada di atasnya. Penambangan terbuka relatif aman, sederhana, dan mudah. Akan tetapi, penam- bangan terbuka memiliki beberapa keterbatasan, yaitu kedalaman lapisan batubara yang dapat ditambang hanya bagian permukaan (dangkal), sedangkan biaya operasional ketika membuka dan memindahkan batuan penutup kurang sebanding dengan batubara yang diperoleh. Contoh penambangan terbuka adalah penambangan batubara di Bukit Asam, Tanjung Enim (Sumatra Selatan).
c) Penambangan lapisan batubara tipis dilakukan dengan sistem tarik kabel rantai, CBDLmMMJOH, dan SPPG GBMM UPMFSBOU. Sistem tarik kabel rantai adalah cara penambangan dengan pembuatan pilar-pilar di antara dua pilar penyangga. Pilar-pilar yang dibuat tersebut kemudian dipotong dengan gesekan rantai pemotong. Sistem CBDLmMMJOH adalah cara penambangan yang dilakukan dengan teknik penggalian dan penyangga dengan alat angkut yang bergerak maju, serta meninggalkan reruntuhan lapisan atap di belakang penyangga. Adapun sistem SPPG GBMM UPMFSBOU adalah cara penambangan yang menggunakan sisipan tipis yang memungkinkan terbentuknya rongga di belakang alat pemotong secara bertahap. Penambangan lapisan batubara tipis banyak dilakukan di Korea dan negara-negara bekas Uni Soviet.
Persebaran batubara di Indonesia terdapat di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatra bagian tengah (Sumatra Barat, Riau, dan Jambi), Sumatra Selatan, Kalimantan (Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur), Jawa, Sulawesi, dan Papua.
sumber :
Hartono. 2009. Geografi 2 Jelajah Bumi dan Alam Semesta : untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas /Madrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan Sosial. Jakarta. CV. CITRA PRAYA
]]>