5 Hipotesis Terjadinya Tata Surya Beserta Penjelasan

Hasil pantauan teleskop dari Bumi planet-planet terletak hampir pada satu bidang datar di sekeliling Matahari, melahirkan asumsi atau hipotesis atau teori yang hampir sama perihal terjadinya Tata Surya, yaitu bahwa planet-planet lahir dari matahari atau kelahiran planet dari ujud yang sama dengan matahari. Bidang datar daerah planet-planet yang hampir sebidang dengan ekuator matahari menunjukkan klarifikasi perihal massa asal planet itu telah berputar semenjak benda langit itu terbentuk.
 
Sebagian gas dari matahari yang terlepas dan terus-menerus berputar adalah proses awal terbentuknya bumi kita. Jadi, Bumi merupakan sebagian gumpalan gas yang berasal dari matahari. Walaupun terlepas dari gumpalan induk, gumpalan besar tersebut tetap berputar terus-menerus mengelilingi gumpalan induk yang lebih besar yaitu matahari. 
 
Beberapa gumpalan besar lain yang terlepas dan terpisah dari gumpalan gas matahari tetap berputar sehingga mengalami proses pendinginan dan menjadi padat. Beberapa gumpalan yang mendingin dan memadat itu kini membentuk planetplanet yang mengelilingi matahari yaitu: Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.  Planet terakhir dan terjauh ditemukan melalui rekaman teleskop ruang angkasa Spitzer yang diluncurkan 23 Agustus 2003, planet tersebut dinamai Sedna. Sebagian gumpalan tidak hanya terlepas dari planet-panet, tetapi juga bergerak berputar dan mengelilingi gumpalan induknya (planet). Bulan dan satelit adalah gumpalan yang terlepas dari planet. Walaupun ketika ini Sedna merupakan planet terjauh dari sentra Tata Surya, tidak tertutup kemungkinan akan ditemukan kembali planet yang lebih jauh dari Sedna. Hal tersebut hanya akan terjadi jikalau kemampuan teknologi dan ilmu pengetahuan perihal astronomi selalu dikembangkan keberadaannya.
 
Bumi yang terjadi dari pendinginan dan pemadatan gas terus-menerus berputar. Perputaran ini menyebabkan Bumi bertambah dingin sehingga gas di atas bumi berubah menjadi cairan dan padatan. Permukaan bumi yang terdiri atas cairan dan padatan merupakan permukaan bumi yang dapat dipakai sebagai tempat dan habitat hidup manusia, hewan, tumbuhan, dan makhluk hidup lain.  Seluruh insiden di atas memerlukan waktu yang sangat lama. Proses terjadinya Bumi sampai menjadi daerah hidup insan dan makhluk hidup lainnya telah terjadi berjuta-juta tahun lamanya.
 
Bagian inti Bumi merupakan gumpalan bahan yang paling berat massanya, sedangkan kerak Bumi didominasi oleh unsur magnesium dan silikon. Inti bumi lebih didominasi oleh unsur besi dan nikel. Untuk mengukur ketebalan lapisan-lapisan penyusun kerak bumi dipakai gelombang gempa, dan gelombang yang dipantulkan oleh suatu lapisan tertentu sangat tergantung pada kecepatan gelombang pada lapisan itu. Dengan menggunakan metode ini asumsi ketebalan lapisan-lapisan penyusun kerak bumi akan sanggup diketahui.
 
Beberapa hipotesis yang menjelaskan proses terjadinya Bumi dan Tata Surya sebagai berikut :
 
1. Hipotesis Kabut
 
Imanuel Kant (1724–1804), spesialis filsafat berkebangsaan Jerman, menjelaskan bahwa hipotesis solar nebula ini merupakan hipotesis yang paling renta dan paling populer mengenai terjadinya Tata Surya. Dijelaskannya pula bahwa matahari, Bumi, dan planet lain awalnya merupakan satu kesatuan yang berupa gumpalan kabut yang berputar perlahan-lahan, kemudian inti kabut menjadi gumpalan gas yang kemudian menjadi matahari, sedangkan belahan kabut di sekelilingnya membentuk planet-planet dan satelit-satelit.
 
2. Hipotesis Planetesimal
 
Teori Planetesimal yang berarti planet kecil dalam penelitian berjudul The Origin of the Earth” atau ”Asal Mula Terjadinya Bumi” telah dikemukakan oleh Thomas C. Chamberlin, spesialis geologi berkebangsaan Amerika Serikat, pada tahun 1916.
 
Dalam teori ini dikatakan awal pembentukan planet mirip kabut pijar, karena di dalam kabut itu terdapat material padat yang berhamburan yang disebut planetesimal. Setelah itu, sebuah bintang (sama dengan matahari) berpapasan dengan matahari pada jarak yang tidak jauh sehingga terjadi pasang naik pada permukaan matahari, dan sebagian massa matahari tertarik ke arah bintang yang mendekat tersebut.
 
Ketika bintang tersebut menjauh dari matahari sebagian massa matahari jatuh dan menyatu kembali dengan matahari, tetapi sebagian yang lain berhamburan di angkasa sekitar matahari membentuk planet-planet kecil yang beredar pada orbit masing-masing.
 
3. Hipotesis Pasang Surut Gas
 
Teori ini menurut hipotesis bahwa pada awal kejadiannya sebuah bintang yang hampir sama besarnya dengan matahari bergerak bersimpangan dengan matahari, dan menjadikan pasang pada permukaan matahari. Pasang tersebut berbentuk mirip cerutu yang sangat besar. Bentuk cerutu tersebut bergerak mengelilingi matahari dan pecah menjadi sejumlah butir-butir tetesan kecil. Karena perbedaan besar kecilnya butir sehingga massa butir yang lebih besar menarik massa butir yang lebih kecil, dari proses tersebut membentuk gumpalan yang semakin besar sebesar planet-planet. Demikian seterusnya sehingga terbentuklah planet dan satelit yang ada kini ini. Teori ini lebih dikenal dengan nama Hipotesis Tidal James-Jefries yang ditemukan pada tahun 1917 oleh sarjana berkebangsaan Inggris berjulukan James Jeans dan Herald Jeffries.
 
4. Hipotesis Peledakan Bintang
 
Teori ini menjelaskan adanya sebuah bintang sebagai mitra matahari, kemudian terjadi evolusi antara matahari dan bintang tersebut. Ada bagian yang memadat dan terjebak di dalam orbit keliling matahari, sebagian lagi meledak dan bebas di ruang angkasa. Keberadaan teori ini didukung oleh banyak andal astronomi yang telah pertanda adanya bintang kembar.
 
5. Hipotesis Kuiper
 
Hipotesis ini dikemukakan oleh astronom berjulukan Gerard P. Kuiper (1905–1973). Ia menyampaikan bahwa semesta terdiri atas deretan bintangbintang, di mana dua sentra yang memadat berkembang dalam suatu awan antarbintang dari gas hidden. Pusat yang satu lebih besar daripada pusat yang lainnya dan kemudian memadat menjadi bintang tunggal yaitu matahari.
 
Kemudian kabut menyelimuti sentra yang lebih kecil yang disebabkan oleh adanya gaya tarik dari massa yang lebih besar yang menyebabkan awan yang lebih kecil menjadi awan yang lebih kecil lagi yang disebut protoplanet.
 
Jika awan memiliki ukuran yang sama akan terbentuk bintang ganda yang sering terjadi di alam semesta. Pada ketika matahari memadat, ia akan menjadi begitu panas sehingga sebagian besar energi radiasi dipancarkan. Energi yang terpancar tersebut bisa mendorong gasgas yang lebih terang, mirip hidrogen dan helium, dari awan yang menyelubungi protoplanet-protoplanet yang paling erat ke matahari.
 
Sumber :
 
Sulistyanto, Iwan Gatot. 2009. Geografi 1 : Untuk Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional
]]>