Home Blog

Contoh Organisasi Multilateral Regional

Organisasi Multilateral Regional adalah organisasi kerjasama ekonomi perdagangan yang anggotanya terdiri dari beberapa negara. Keanggotaan dalam organisasi in bisa karena kedekatan wilayah geografis. Contohnya adalah, Association of South East Asian Nation (ASEAN) atau Asian Free Trade Area (AFTA), Asian Pasific Economic Coorporatioan (APEC), European Free Trade Area (EFTA), North American Free Trade Area (NAFTA), European Economic Community (EEC) dan lain-lain.

Organisasi Multilateral Regional

1. Association of South East Asian Nation (ASEAN)

ASEAN didirikan pada tanggal 8 Agustus 1967 berdasarkan Bangkok Declaration atas prakarsa lima nagara, yaitu Indonesia, Filipin, Malaysia, Thailand dan Singapura. Kemudian disusul negara lain yang hendak menjadi anggota Asean adalah Brunei, Vietnam, Laos, Komboja dan Myanmar.Tujuan dibentuknya ASEAN adalah meningkatkan kerjasama ekonomi, perdagangan, dan sosial budaya, antar negara-negara Asia Tenggara.

Dalam perjalanannya dalam bidang perdagangan di negara-negara Asean kurang menggembirakan dan lambat, maka dalam KTT Asean ke IV di Singapura tanggal 27-28 Januari 1992, telah ditandatangani Skema Agreement on Common Effective Preferenctial Tariff (CEPT) yaitu merupakan skema CEPT untuk AFTA  

2. Asean Free Trade Area (AFTA)

Organisasi kerjasama ekonomi yang anggotanya terdiri dari sepuluh negara Asean, yaitu : Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Philipina, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Myanmar. Pada masa itu AFTA didirikan dengan beberapa pertimbangan sebagai berikut:

  • a Adanya perubahan eksternal, yaitu masa transisi terbentuknya tatanan dunia baru yang diwarnai dengan munculnya blok-blok perdagangan, perkembangan negara-negara komunis pasca perang dingin, dan semakin ketat persaingan pasar internasional.
  • b Perubahan internal, yaitu adanya kemajuan ekonomi negara-negara anggota selama 10 tahun terakhir (pertumbuhan ekonomi yang tinggi).
  • c Menggalang persatuan regional untuk menigkatkan posisi dan daya saing. Dalam pertemuan puncak tanggal 14-15 Desember 1995 di Bangkok, para pimpinan ASEAN menegaskan kembali komitmennya, bahwa AFTA akan dilaksanakan secara penuh selambat-lambatnya pada tahun 2003. Pada tahun 2003 seluruh negara ASEAN melakukan perdagangan bebas, arus perdagangan, uang pembayaran dan faktor penunjang lainya bebas keluar masuk dalam wilayah ASEAN, hanya dengan hambatan 0 % – 5 % dan tidak ada lagi hambatan non tarif.

Sebagai langkah awal dari pelaksanaan AFTA tersebut maka disepakati 15 produk industri yang dipercepat penurunan tarifnya menjadi 0% – 5%, yaitu semen, pupuk, pulp, tekstil, perhiasan dan permata, perabot dari kayu dan rotan, barang kulit, plastik, obat-obatan, elektronika, kimia, produk karet, minyak nabati, gelas keramik, dan katoda tembaga.

3. Asian Pasific Economic Coorporation (APEC)

APEC adalah organisasi kerjasama ekonomi regional di kawasan Asia Pasific yang anggotanya berjumlah 18 negara, yaitu :

  • a Australia
  • b. Amerika Serikat
  • c. Brunei
  • d. Malaysia
  • e. Chile
  • f. Meksiko
  • g. China
  • h. Selandia Baru
  • i. Filipina
  • j. Papua Nugini
  • k. Hongkong
  • l. Singapura
  • m. Indonesia
  • n. Taiwan
  • o. Jepang
  • p. Thailand
  • q. Kanada
  • r. Korea Selatan

Gagasan pertama terbentuknya APEC diusulkan oleh PM Australia dan PM Jepang dalam forum kerjasama ekonomi Asia Pasific di Australia tahun 1989. Semenjak gagasan perhimpunan APEC muncul, maka setiap tahun diadakan berturut-turut pertemuan konsultasi kepala negara anggota APEC. Pertemuan-pertemuan tersebut membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan liberalisasi perdagang-an dan investasi di kawasan Asia Pasific.

Pertemuan yang dilaksanakan pada bulan Oktober 2001 di Shanghai Cina dihasilkan antara lain mengenai memperluas visi APEC, agenda APEC harus lebih menekankan kerjasama antara para menteri keuangan guna memperbaiki pengaturan ekonomi. Menginstruksikan para pejabat untuk mengidentifikasikan tindakan konkrit untuk mempermudah perdagangan, Setuju untuk lebih memajukan kebijakan perdagangan guna memacu pertumbuhan ekonomi baru.

Tujuan pokok APEC adalah melakukan liberalisasi perdagangan dan investasi, serta meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam dan kualitas sumber daya manusia untuk meningkatkan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Pasifik. Untuk mencapai tujuan tersebut APEC telah menyusun agenda liberalisasi secara bertahap, yaitu : (1) tahun 2010, liberalisasi perdagangan dan investasi di antara negara industri maju di kawasan Asia Pasifik, (2) tahun 2020, liberalisasi perdagangan dan investasi di antara negara di kawasan Asia Pasifik.

Organisasi Multilateral Regional

4. European Economic Community (EEC) dan Uni Eropa (UE)

Merupakan perhimpunan yang didirikan tahun 1958 berdasarkan perjanjian Roma, Italia yang bersama dalam PBE. Negara anggota EEC terdiri dari :

  • a Belanda
  • b. Inggris
  • c. Belgia
  • d. Irlandia
  • e. Luxemburg
  • f. Denmark
  • g. Perancis
  • h. Norwegia
  • i. Jerman
  • j. Yunani
  • k. Italia
  • l. Spanyol

Tujuan EEC adalah untuk menyusun politik perdagangan bersama dan mendirikan daerah perdagangan bebas antar negara-negara Eropa barat. Di dalam EEC tersebut terdapat perlakukan diskriminatif terhadap negara luar anggota terutama di bidang produk pertanian. European Economic Community merupakan embrio atau cikal bakal dari Uni Eropa yang sekarang kita kenal.

5. North American Free Trade Area (NAFTA)

Merupakan blok perdagangan yang bersifat eksklusif di kawasan Amerika Utara (USA, Kanada, Meksiko). NAFTA akan melakukan perdagangan bebas di kawasannya pada tahun 2010. Jadi arus lalu lintas barang dagangan dan faktor penunjang yang berasal dari negara anggota bebas masuk dalam wilayah NAFTA, tanpa hambatan non tarif.
Beberapa alasan penting dibentuknya NAFTA adalah :

  • a. Adanya perubahan global baik ekonomi, perdagangan dan informasi.
  • b. Perubahan internal, yaitu kemajuan ekonomi negara-negara anggota.
  • c. Hasil kerjasama blok lainnya yang kurang menggembirakan.
  • d. Menggalang persatuan regional untuk meningkatkan posisi dan daya saing dan memperkecil defisit perdagangan negara anggota.
Legawa, I Wayan , dkk. 2008. Contextual Teaching and Learning Ilmu Pengetahuan Sosial: Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah Kelas IX Edisi 4. Jakarta. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional

Prinsip Kandang dan Peralatan

Kandang merupakan salah satu sarana yang penting didalam usaha peternakan, dengan tersedianya kandang maka dapat mempermudah peternak didalam mengelola usahanya. Penyediaan kandang yang baik dan memenuhi persyaratan teknis, kesehatan serta aspek ekonomi merupakan modal awal keberhasilan dalam berusaha.

Prinsip Kandang dan Peralatan

Apakah pembaca mengerti atau memahami apa yang dimaksud dengan kandang ternak, bentuk atau tipe kandang, persyaratan yang perlu diperhatikan dalam membangun kandang, peralatan dan perlengkapan yang diperlukan dalam kandang, cara merancang atau mendesain kandang dan lain sebagainya.

Agar kita mengerti dan memahami tentang kandang, maka mari kita kaji dan bahas bersama-sama. Yang di maksud dengan kandang adalah suatu bangunan kandang yang dibangun menurut desain dan konstruksi yang benar. Dimana semua persyaratan bangunan tersebut, memenuhi standar untuk kehidupan ternak baik itu ternak sapi maupun kerbau.

Yang tidak kalah penting dalam membangun kandang ternak adalah kandang tersebut harus sesuai dengan kondisi alam yang ada. Kandang yang dibangun sebaiknya harus sesuai dengan jenis dan karakteristik ternaknya.

Kandang dan peralatannya mempunyai dwi fungsi, yaitu selain merupakan tempat tinggal bagi ternak, juga merupakan tempat bekerja bagi petani peternak dalam melayani kebutuhan sehari-hari untuk ternak tersebut.

1. Kebutuhan Kandang

Salah satu hambatan yang paling besar dalam usaha peternakan yang berskala industri atau berskala besar adalah penyedian kandang. Dalam penyedian kandang untuk ternak akan selalu berkaitan dengan masalah tempat. Dimana kandang akan dibangun tentunya juga memerlukan areal yang lebih luas. Hal ini tidaklah mengherankan, kalau sering dijumpai lokasi atau tempat

bangunan kandang terletak jauh dari keramaian kota dan mencari areal lahan yang luas dan harganya relatif murah. Dengan harapan agar dalam usaha peternakan tersebut dapat mendatangkan keuntungan yang maksimal.

Sebelum melangkah lebih jauh, dalam menentukan kandang perlu kiranya direncanakan terlebih dahulu dengan matang jenis ternak apa yang akan diusahakan. Apakah ternak yang diusahakan adalah ternak untuk penghasil daging dan penghasil susu. Dari masing-masing ternak tersebut kebutuhan kandangnya akan berbeda-beda. Begitu pula kandang untuk ternak sapi dan kerbau, yang digemukan akan berbeda dengan kandang ternak sapi dan kerbau yang dibudidayakan.

Ternak sapi dan kerbau yang diusahakan dengan sistem budidaya (keuntungan yang diambil dari anak yang dihasilkan). Sedangkan ternak yang diusahakan dengan sistem penggemukan keuntungan yang diambil adalah pertambahan berat badannya atau pertambahan daging selama diusahakan.

Perusahaan peternakan yang bergerak dalam bidang usaha pembibitan ternak atau usaha dengan tujuan akhir untuk menghasilkan keturunan (anak), pada umumnya kebutuhan kandang yang diperlukan dalam perusahaan tersebut antara lain : kandang untuk pejantan, kandang untuk induk, kandang untuk beranak, kandang untuk anak, kandang untuk dara dan lain sebagainya.

Sedangkan kebutuhan dan ukuran kandang dari masing- masing ternak juga berbeda- beda, tergantung dari jenis dan besar kecilnya ternak. Sebagai contoh untuk ternak sapi potong lokal ukuran kandang kurang lebih : 210 x 145 cm per ekor, sapi import : 210 x 150 cm per ekor atau agar sapi lebih leluasa geraknya ukuran kandang antara 2,5 x 1,5 m, yang paling penting adalah disesuaikan dengan besar kecilnya tubuh sapi.

Kebutuhan kandang masing- masing ternak harus di rencanakan dengan cermat, berapa skala usahanya, jenis ternaknya apa, program usahanya apa (penggemukan atau budidaya), perkembangbiakan masing- masing ternak bagaimana, lama usaha berapa bulan atau berapa tahun dan target akhir yang akan dicapai seperti apa dan lain sebagainya.

Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, maka kebutuhan kandang masing-masing ternak akan dapat dihitung dan direncanakan dalam pembangunannya. Didalam pelaksanaan pembangunan kandang bisa berdasarkan prioritasnya.

2. Manfaat Kandang

Adapun manfaat kandang bagi ternak dan peternak adalah sebagai berikut :

  • Memberi rasa aman dan nyaman bagi ternak yang tinggal didalamnya, terutama untuk menghindarkan dari lingkungan yang merugikan. Contohnya ; hujan yang deras, teriknya sinar matahari, angin yang kencang, gangguan binatang buas, pencurian dan lain sebagainya.
  • Tempat untuk istirahat ternak setelah melakukan aktifitas sehari-hari dan tempat berproduksi.
  • Memberi kenyamanan bagi ternak yang berada di dalamnya dan memberikan kehangatan diwaktu malam hari.
  • Memudahkan peternak dalam melakukan kegiatan pengawasan atau pengontrolan apabila ada ternak yang sakit.
  • Dengan adanya kandang, peternak lebih efisiensi tenaga kerja.
  • Dengan adanya kandang maka kesehatan dan keberadaan peternak tetap terjamin.
  • Dengan adanya kandang maka ternak tidak akan merusak tanaman disekitar lokasi usaha.
  • Kandang merupakan tempat untuk mengumpulkan kotoran atau limbah dari sisa proses produksi, sehingga tidak berceceran dimana- mana
  • Dan lain-lain.

Prinsip Pemberian Pakan

Ternak memerlukan pakan untuk kebutuhan pokok hidup, pertumbuhan dan produksi. Kebutuhan pokok hidup meliputi menjaga temperatur tubuh, bernafas, aktifitas, fungsi metabolisme tubuh dan lain-lain. Untuk ternak yang masih muda yang dalam masa pertumbuhan, maka ternak akan memerlukan pakan lebih banyak untuk pertumbuhan badannya. Sedangkan untuk produksi tergantung dari tujuan pemeliharaan ternak, bisa berupa produksi susu, atau daging. Pada ternak yang bunting memerlukan pakan untuk pertumbuhan janin yang dikandungnya, disamping untuk kebutuhan pokok hidup induknya.

prinsip pemberian pakan ternak

1. Kebutuhan Pakan

Kebutuhan pakan bervariasi tergantung dari jenis ternak, lingkungan, kecernaan pakan, selera dll

1.1. Jenis Ternak

Permintaan fisiologis ternak untuk hidup pokok, pertumbuhan dan produksi berbeda antara ternak yang satu dengan yang lainnya. Hal ini disebabkan oleh kapasitas dari saluran pencernaan dari ternak yang bersangkutan. Faktor-faktor yang berpengaruh dari ternak meliputi, bobot badan, jenis kelamin, umur, faktor genetik dan tipe bangsa ternak :

  • ternak yang bobot badannya lebih besar akan memerlukan pakan yang lebih banyak. Hal ini dikarenakan kebutuhan nutrisi untuk kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan dan produksi makin banyak.
  • jenis kelamin
  • umur
  • faktor genetic
  • tipe bangsa ternak

1.2. Lingkungan

Faktor lingkungan berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap ternak. Faktor yang berpengaruh langsung meliputi temperatur, kelembaban dan sinar matahari.

1.2.1. Temperatur

Ternak perlu menjaga temperatur tubuh idealnya. Perbedaan temperatur tubuh ternak dan lingkungannya akan mempengaruhi kebutuhan pakan ternak tersebut. Semakin tinggi perbedaan temperatur ternak dengan lingkungannya makin banyak energi yang di perlukan untuk menjaga temperatur tubuhnya dengan demikian semakin banyak pakan yang di konsumsi ternak tersebut.

Sebaliknya temperatur lingkungan yang tinggi akan menurunkan tingkat konsumsi ternak. Ternak di daerah dingin (dataran tinggi) memerlukan pakan lebih banyak di banding

ternak daerah panas (dataran rendah). Perubahan tingkat konsumsi setiap ternak berbeda- beda. Misalnya sapi Holstein, Jersey dan Brahman akan berubah tingkat konsumsinya pada temperatur lingkungan 21,1º C, 23,9º C dan 35 º C.

1.2.2. Kelembaban

Kelembaban dapat pula mempengaruhi mekanisme pengaturan temperatur tubuh. Pengeluaran panas dengan jalan berkeringat ataupun melalui respirasi akan lebih cepat di daerah yang kering. Kelembaban ini terutama penting di perhatikan di daerah tropis. Contoh sapi Brahman akan menurun konsumsinya pada suhu 23º C dan kelembaban udara meningkat.

1.2.3. Sinar Matahari.

Tubuh ternak dapat pula memperoleh panas secara langsung dari sinar matahari. Tingkat penyerapan panas tergantung pada tipe kulit hewan bersangkutan. Warna kulit tidak gelap, licin mengkilap, akan memantulkan cahaya lebih banyak dari pada ternak dengan kulit kasar, dan gelap. Demikian pula bulu yang melekat pada kulit dapat berfungsi sebagai penahan panas.

2. Kebutuhan Nutrisi

Kebutuhan nutrisi untuk hidup dan produksi ternak ruminansia dipenuhi dengan memberikan pakan yang berupa hijauan dan konsentrat. Hijuan terdiri dari rumput dan leguminosa. Pakan konsentrat di susun dari beberapa bahan pakan semacam biji-bijian, bungkil kedelai, tepung limbah ternak, lemak dan campuran vitamin- mineral. Bahan pakan tersebut dengan bantuan mikroba didalam perut akan menghasilkan energi dan nutrisi yang penting untuk pertumbuhan, reproduksi dan kesehatan ternak.

prinsip pemberian pakan ternak

2.1. Energi

Energi bukan merupakan nutrisi, tetapi merupakan hasil dari proses oksidasi bahan pakan yang akan menghasilkan energi dan nutrisi selama proses metabolisme. Nilai energi dari bahan pakan dapat diekspresikan dengan beberapa cara. Deskripsi tersebut berhubungan dengan nilai energi, termasuk pengukuran (digestible energy, metabolisme energy dll).

2.1.1. Pengukuran Unit Energi

Unit pengukuran energi dapat menggunakan kalori, erg atau Joule. Satuan tersebut dapat dikonversi antara satu satuan dengan satuan lainnya dan semua unit satuan benar. Di Amerika menggunakan satuan Joules sedangkan di Indonesia menggunakan satuan kalori. Masing-masing unit satuan dijelaskan sebagai berikut:

  • Kalori (Cal)

Satu kalori adalah panas yang diperlukan untuk menaikkan temperatur 1 gram air dari 16,50C menjadi 17,50C. Karena panas spesifik air berubah dengan temperatur maka secara lebih akurat 1 kalori sama dengan 4,184 joules.

  • Kilo Kalori (kcal)

1 kilo kalori sama dengan 1.000 kalori dan merupakan unit yang sering digunakan pada pakan ternak.

  • Mega kalori

Satu megakalori sama dengan 1.000.000 kalori dan banyak digunakan untuk mengekspresikan kebutuhan nutrisi yang lain yang berhubungan dengan energi pakan

  • Joules

Satu joules sama dengan 107 erg (1 erg adalah jumlah energi yang diperlukan untuk mempercepat perpindahan masa 1 gram dengan kecepatan 1 cm/detik)

  • Gross Energy (GE)

GE merupakan energi yang dilepaskan sebagai panas jika suatu substansi dioksidasi menjadi karbon dioksida (CO2) dan air (H2O). Pengukuran GE menggunakan bom kalorimeter dengan tekanan oksigen 25 sampai 30 atmosphere.

2.1.2. Terminologi Energi

Beberapa singkatan telah digunakan untuk mendeskripsikan fraksi energi pada sistem ternak. Masing- masing singkatan dijelaskan sebagai berikut:

  • IE (Intake Energy)

IE merupakan energi bruto yang terkandung dalam pakan yang dikonsumsi ternak. Nilai IE sama dengan berat pakan yang dikonsumsi dikalikan dengan GE (Gross Energy).

  • DE (Digestible Energy)

DE merupakan gross energi pakan yang dikonsumsi (IE) dikurangi gross energi pada kotoran sapi (feces).

  • FE (Fecal Energy)

FE adalah energi bruto yang terkandung dalan feces. Nilai FE dihitung dengan berat feces dikalikan dengan energi bruto yang terkandung didalamnya. FE bersumber dari energi dalam bahan pakan yang tidak tercerna (FiE) dan energi campuran bahan metabolik tubuh (FmE).

  • TDE (True Digested Energy)

TDE dihitung dari IE dikurangi dengan energi, kehilangan panas fermentasi dan gas pencernaan.

  • GE (Gaseous Energy)

GE berasal dari gas yang dihasilkan oleh fermentasi pakan. Gas yang utama adalah gas metan. Gas-gas lainnya adalah hidrogen, karbon monoksida, aseton, etana, dan hidrogen sulfida.

  • UE (Urine Energy)

UE merupakan energi bruto dari urin. Sumber EU adalah nutrisi yang tidak digunakan dan produk metabolisme.

  • ME (Metabolisme Energy)

ME merupakan gross energi pakan yang dikonsumsi dikurangi dengan gross energi pada feces, urine dan gas hasil metabolisme.

  • Net Energy (NE)

NE merupakan enegi metabolisme dikurangi energi yang hilang sebagai tambahan panas atau panas yang timbul dalam tubuh oleh reaksi biokimia dalam saluran pencernaan atau dalam sel. Di daerah dingin panas tersebut dimanfaatkan untuk menjaga temperatur tubuh tetapi di daerah panas akan dibuang melalui konveksi ke udara sekeliling ternak.

NE bisa terdiri dari energi yang digunakan untuk menjaga (maintain) tubuh atau kebutuhan hidup pokok dan produksi sehingga tidak ada NE absolut pada bahan pakan. NE bisa merupakan energi yang diperlukan untuk menjaga tubuh (NEm) dan energi untuk produksi (NEp).

  • TDN (Total Digestible Nutrient)

Sistem ini berdasarkan analisis proximat yang memberi nilai DE pada lemak dapat dicerna dan protein dapat dicerna. Sistem TDN merupakan bentuk pengukuran kompromi antara DE dan ME. (0,45 kg TDN setara dengan 2.000 kkal DE atau 1,600 kkal ME.

Menurut NRC (National Researh Council) nilai TDN hampir semua merupakan hasil konversi dari ME, dengan persamaan: 1 kg TDN = 3.615 Kkal ME = 4.400 Kkal DE. Skema Energi tertera pada Gambar 28.

3. Nutrisi Pakan

Zat makanan (nutrisi) merupakan substansi yang diperoleh dari bahan pakan yang dapat digunakan ternak bila tersedia dalam bentuk yang telah siap digunakan oleh sel, organ dan jaringan. Zat makan tersebut dapat di klasifikasikan menjadi 6 kelompok yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air.

Masing-masing kelompok diuraikan sebagai berikut:

3.1. Karbohidrat

Karbohidrat merupakan sumber energi yang utama bagi ruminansia. Sumber karbohidrat berasal dari hijauan pakan ternak dan konsentrat yang di susun dari biji-bijian dan limbah pertanian. Biji-bijian semacam jagung, sorgum, gandum dan barley merupakan bahan pakan sumber karbohidrat. Di Indonesia juga terdapat sumber karbohidrat seperti gaplek, onggok, dedak dll.

Karbohidrat dapat di klasifikasikan menjadi 5 jenis yaitu monosakarida, disakarida, trisakarida, poliskarida dan mixed polisakarida. Unit dasar karbohidrat adalah gula sederhana, yaitu heksosa karena setiap molekul mengandung enam atom karbon. Sedikit heksosa bebas dapat di temukan pada tanaman. Hexosa terdiri dari glukosa, fruktosa, galaktosa dan manosa.

Sebagian besar karbohidrat adalah bentuk disakarida, yang merupakan kombinasi dua gula heksosa atau polisakarida- polimer beberapa molekul heksosa. Disakarida yang paling penting dijumpai di alam adalah sukrosa maltosa, laktosa dan selobiosa. Lakstosa adalah gula yang dijumpai pada air susu, sedang sukrosa terdapat pada sebagian besar tanaman.

prinsip pemberian pakan ternak

Polisakarida seperti pati, selulosa, merupakan komponen penting dalam ransum ternak ruminansia. Selulosa merupakan persenyawaan organik dengan hemiselulosa dan lignin yang banyak terdapat di alam. Hampir 50% bahan organik pada tanaman terdiri dari selulosa.

Pada ternak unggas tidak bisa mencerna selulosa karena tidak memiliki enzim selulase, pada ternak ruminansia enzim selulase di produksi oleh mikroba di dalam rumen sehingga mampu mencerna selulosa. Pencernaan karbohidrat akan menghasilkan Volatil Fatty Acyd (asam lemak terbang) yang disingkat dengan VFA.

VFA terdiri dari sebagian besar asam asetat, propionat dan butirat dan sebagian kecil asam format, isobutirat, valerat, isovalerat dan kaproat. Percernaan karbohidrat menghasilkan limbah berupa gas methan yang di keluarkan ternak melalui proses sendawa.

VFA sebagian besar diserap dalam dinding rumen dan sebagian kecil lolos yang kemudian diserap pada usus halus. Senyawa VFA yang masuk sirkulasi darah akan mengalami proses katabolisme yang menghasilkan energi dan biosintesis membentuk jaringan tubuh dan lemak susu.

3.2. Protein dan Asam Amino

Protein adalah persenyawaan organic komplek yang mengandung unsur karbon, hydrogen, oksigen, nitrogen, forfor, dan sulfur. Protein tersusun oleh lebih dari 20 persenyawaan organik yang disebut asam amino. Satu molekul protein tersusun atas ikatan panjang beberapa asam amino yang disebut ikatan peptida. Oleh karena suatu protein rata-rata mengandung

16% nitrogen maka kandungan protein dari bahan pakan atau karkas dapat diduga dengan mengalikan kandungan nitrogen dengan 6,2, dan akan menghasilkan kandungan protein kasar.

Kebutuhan protein sebenarnya lebih di tekankan pada kebutuhan asam amino yang terdapat dalam pakan. Terdapat 20 asam amino dalam protein dan semuanya penting bagi ternak. Asam amino terdiri dari Arginine, Cystine, Histidine, Isoleucine, Leucine, Methionine, Lysine, Phenilalanin Threonine, Tryptophan, Tyrosine, Valine, Cystein, Alanine, Asam Aspastat, Asam Glutamat, Glysine, Hydroxyl Proline, Proline, dan Serine.

Keberadaan mikroba di dalam rumen, mengakibatkan metabolisme protein pada ruminansia berbeda dengan monogastrik dan unggas. Mikroba mempunyai kemampuan mensintesa semua asam amino termasuk asam- asam amino yang di butuhkan oleh induk semang. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas protein tidak menjadi unsur mutlak dalam ransum ruminansia.

Penggunaan protein pakan yang dicerna oleh ruminansia adalah Protein pakan didegradasi menjadi peptida oleh protease di dalam rumen. Peptida dikatabolisasi menjadi asam amino bebas lalu menjadi amonia, asam lemak dan CO2.

Amonia hasil perombakan asam amino adalah sumber nutrien bagi bakteri. Bakteri ini akan menggunakan amonia bersama dengan karbohidrat mudah larut (FVA) untuk membentuk asam amino yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi kebutuhan proteinnya sendiri. Sebanyak 50-80% N mikroba berasal dari amonia rumen, sedangkan 30% protein berasal dari sumber selain amonia seperti peptida dan asam-asam amino.

Pemberian urea sebagai suplai Non Protein Nitrogen (NPN) bertujuan untuk menyediakan N bagi perkembangan mikro organisme rumen. Untuk memacu pertumbuhan mikro organisme memerlukan N dan tetes tebu sebagai sumber energi.

Produk degradasi yang terbentuk dalam rumen, terutama amonia, di gunakan oleh mikroba bersama-sumber energi untuk mensintesis protein dan bahan-bahan sel mikroba seperti bahan sel yang mengandung N dan asam nukleat.

Bagian amonia bebas akan diserap masuk ke pembuluh darah ternak dan di transformasikan menjadi urea di dalam liver. Sebagian besar urea tidak dapat digunakan oleh ternak dan diekresikan ke dalam urin.

Sel-sel mikroba (bakteri dan protozoa) mengandung protein sebagai komponen utama, bersama protein pakan melalui omasum dan abomasum dan usus halus. Sel-sel pakan yang dicerna mengandung protein 70-80%, 30-40% adalah protein kurang larut. Protein hijauan di cerna dalam rumen sebesar 30-80%. Jumlah ini tergantung kepada waktu tinggal di dalam rumen dan tingkat pemberian makan.

Pencernaan dan penyerapan mikroba dan protein pakan terjadi di usus halus ternak (ruminan dan monogastrik) oleh protease. Asam amino esensial bagi semua jenis ternak. Komposisi asam-asam amino yang mencapai usus akan sangat tergantung kepada jenis protein, kuantitas dan kualitas sumber protein pensuplai. Ternak ruminansia tergantung pada protein mikroba dan protein pakan yang lolos dari pencernaan dalam rumen untuk mensuplai asam amino esensial. Fungsi protein antara lain untuk membentuk jaringan, cairan tubuh, ensim, produksi, cadangan energi, dll.

  • Membangun dan Membentuk Jaringan Tubuh

Protein berfungi membentuk dan membangunan jaringan tubuh, misalnya daging, pembentukan dan perkembangan organ-organ tubuh dan pertumbuhan bulu. Kebutuhan terhadap protein untuk ternak yang lebih muda lebih tinggi dari pada untuk ternak yang lebih tua. Ini disebabkan anak ternak yang sedang tumbuh memiliki banyak bagian yang sedang tumbuh, bagian- bagian tersebut memerlukan protein.

  • Pembentukan cairan tubuh dan sistem enzim. Cairan tubuh dan enzim merupakan faktor terpenting bagi kehidupan ternak. Untuk pembentukan kedua faktor tersebut memerlukan protein.
  • Produksi daging, susu dan bulu membutuhkan protein
  • Cadangan energi, protein juga berguna untuk cadangan energi. Walaupun prosesnya tidak efisien, dalam keadaan tidak ada
  • energi protein tubuh akan
  • diubah menjadi energi. Ini sebagai tanda betapa pentingnya energi, energi digunakan untuk segala efektifitas tubuh.

3.3. Lemak

Lemak murni merupakan ester glycerol yang memiliki asam lemak rantai panjang dan merupakan persenyawaan karbon, hydrogen dan oksigen. Persenyawaan oksigennya lebih rendah dibanding karbohidrat sehingga energi lebih tinggi (2,25 kali lipat) dari karbohidrat dan protein. Perbedaan lemak dan minyak pada bentuknya, pada suhu normal lemak berbentuk padat sedang minyak berbentuk cair.

Molekul lemak terdiri dari glycerol dan kombinasi dengan 3 asam lemak. Asam lemak terdiri dari caprilat, caprat, laurat, miristat, palmitat, palmitoleat, stearat, oleat, linoleat, linolenat, arachidonat, gadoleat, behenat, eurat, lignocerat. Komposisi kandungan lemak beberapa bahan seperti tertera pada Tabel 7. Sumber minyak yang baik adalah minyak sawit, dan minyak kelapa.

Pada ternak ruminansia lemak di dapat dari hijauan makanan ternak (3% kandungan lemak). Akan tetapi karena konsumsi hijauan cukup banyak maka konsumsi absolut lemak relatif banyak pula. Bentuk lipida dalam daun adalah galaktoserida dan digalakto glicerida. Pemberian pakan konsentrat pada ternak ruminansia juga akan memberikan suplai lemak. Lemak pada konsentrat kebanyakan dalam bentuk trigliserida

prinsip pemberian pakan ternak

Asam lemak dibedakan menjadi asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh. Asam lemak jenuh hanya memiliki ikatan tunggal di antara atom-atom karbon penyusunnya, sementara asam lemak tak jenuh memiliki paling sedikit satu ikatan ganda di antara atom-atom karbon penyusunnya.

Pakan hijauan dan biji-bijian umumnya berbentuk lemak tidak jenuh. Pada rumen terjadi proses hidrolisa ikatan ester dan biohidogenasi asam lemak jenuh. Hidrolisis lemak trigliserida, phospholipin dan glycolipid oleh lipase asal mikroba akan membebaskan asam-asam lemak bebas, sehingga galaktosa (gula) dan gliserol akan difermentasi menghasilkan VFA (asam lemak bebas). Asam lemak tak jenuh (linoleat dan linolenat) akan dipisahkan dari kombinasi ester melalui proses biohidrogenasi oleh bakteria menghasilkan asam stearat.

Mikroba rumen juga mampu mensintesis beberapa asam lemak rantai panjang dari propionat dan asam lemak rantai cabang dari kerangka karbon asam-asam amino valin, leusin dan isoleusin. Asam-asam lemak tersebut akan di inkorporasikan ke dalam lemak susu dan lemak tubuh ruminansia.

Asam lemak yang dihasilkan dalam rumen akan memasuki jujenum (usus halus). Sumber asam lemak adalah dari bahan pakan dan bakteri rumen. Bentuk asam lemak adalan asam lemak bebas. Penyerapan asam lemak bebas akan terjadi pada jujenum.

Ketengikan bahan pakan (rancidity) terjadi karena asam lemak pada suhu ruang dirombak akibat hidrolisis atau oksidasi menjadi hidrokarbon, alkanal, atau keton, serta sedikit epoksi dan alkohol (alkanol). Bau yang kurang sedap muncul akibat campuran dari berbagai produk ini. Penambahan lemak pada konsentrat mempunyai nilai posistif dan negatif.

3.3.1. Nilai Positif Menurunkan Konsumsi Pakan

Kadar energi dalam lemak tinggi, dengan penambahan sedikit pada ransum akan meningkatkan energi sangat jelas. Energi ransum yang tinggi akan menurunkan tingkat konsumsi pakan. Dari hasil percobaan pada sapi pedaging dengan pemberian konsentrat 50%, kadar lemak 5%, akan menurunkan konsumsi sebesar 2% pertambahan bobot badan meningkat 28%.

  • Mengurangi Sifat Berdebu

Penambahan lemak dapat mengikat partikel debu. Lemak/minyak dapat mengurangi sifat berdebu dari ransum. Pengaruhnya akan menurunkan kehilangan pakan ke udara dan meningkatkan kesenangan pekerja dalam menangani ransum ternak.

  • Sumber Asam Lemak Esensial

Ternak tidak dapat mensitesakan asam linoleat (asam lemak esensial) sehingga harus disediakan melalui ransumnya. Untuk pertumbuhan berat badan yang tinggi diperlukan ransum dengan energi tinggi, penambahan lemak akan membantu meningkatkan kandungan energi dalam pakan. Untuk pertumbuhan sedang dan normal tidak diperlukan lemak tambahan, karena energi cukup dari konsentrat biasa dan hijauan pakan ternak.

  • Meningkatkan Palatabilas

Penambahan lemak akan meningkatkan daya cerna ransum, sehingga konsumsi ransum meningkat. Jika ternak mampu konsumsi ransum tersebut maka pertumbuhannya juga akan membaik.

  • Menurunkan Produksi Gas Metan

Didalam rumen ternak ruminansia yang mengkonsunsi hijauan pakan ternak dalam jumlah besar, akan meningkat produksi gas metan. Penambahan lemak pada ransum akan menurunkan produksi gas metan dan meningkatkan efisiensi penggunaan energi.

  • Memperbaiki Rasio Asetat : Propionat

Pemberian minyak biji rami (linseed) atau linolenat akan menurunkan rasio asetat : propionate sehingga meningkatkan efisiensi penggunaan ransum. Pemberian minyak ikan menurunkan produksi propionate sedangkan penambahan lemak hewani menurunkan asetat.

3.3.2. Nilai Negatif Menurunnya Konsumsi

Penambahan lemak kedalam ransum akan meningkatkan tingkat konsumsi ransum. Pada batas tertentu penambahan energi yang terlalu banyak akan menyebabkan tingkat konsumsi menurun.

  • Menurunkan Kecernaan Serat Kasar

Pada ternak yang diberi hijauan pakan dalam jumlah tinggi maka pencernaan serat kasar yang terkandung dalam hijauan akan menurun. Sebaliknya karbohidrat yang mudah dicerna dan lemak itu sendiri akan meningkat daya cernanya. Disarankan untuk menambahkan lemak/minyak pada ternak yang pemberian konsentratnya banyak.

3.4. Mineral

Mineral merupakan bahan anorganik dalam bahan pakan atau jaringan tubuh. Fungsi mineral membantu proses metabolisme. Mineral esensial terdapat 15 macam dan sering di bagi menjadi 2 kategori berdasarkan pada jumlah yang diperlukan dalam pakan. Mineral yang diperlukan dalam jumlah banyak disebut mineral makro dan dinyatakan dalam persen dari pakan. Mineral yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit disebut mineral mikro (trace) dan dinyatakan dalam ppm (part per million) atau milligram per kilogram.

Dengan berkembangnya ilmu makanan ternak beberapa mineral diduga esensial bagi ternak, misalnya : flour (F), silikon (Si), titanium (Ti), vanadium (V), chromium (Cr), nickel (Ni), arsenic (As), bromine (Br), strontium (Sr), Cadmium (Cd) dan Tin (Sn). Masing- masing kelompok mineral dijelaskan sebagai berikut:

3.4.1. Mineral Makro

Mineral berfungsi membentuk tulang, merupakan komponen dari organ tubuh, kofaktor enzim, dan menjaga tekanan osmotic. Kelompok mineral makro terdiri dari 7 jenis yaitu: calsium (Ca), phospor (P), potasium (K), Magnesium (Mg), sulfur (S), natrium (Na) dan Chlorida (Cl).

Fungsi masing-masing mineral makro dijelaskan sebagai berikut:

  • Kalsium dan Pospor

Kalsium dan pospor diperlukan untuk pembentukan dan merawat tulang. Rasio Ca-P pada ternak ruminansia dianjurkan 1:1 sampai 1:2, rasio yang terlalu lebar misalnya 8:1 akan menurunkan produksi ternak. Komposisi kalsium dan pospor dari bagian mineral tubuh sebersar 70%. Fungsi kalsium untuk membentuk tulang, proses pembekuan darah, kontraksi otot-syaraf, keseimbangan asam-basa dan aktifitas sejumlah ensim.

Kebutuhan Ca-P pada ternak sapi dihitung berdasarkan kebutuhan untuk hidup pokok dan produksi, Untuk kebutuhan hidup pokok 1,54 gram Ca dan 2,80 gram P untuk setiap 100 kg berat badan ternak. Untuk pertumbuhan di hitung Ca sebanyak 7,1 gram dan P sebanyak 3,9 gram untuk setiap pertambahan protein 100 gram. Untuk produksi susu dioperlukan Ca sebanyak 1,23 gram dan P sebanyak 0,95 gram untuk setiap Kg produksi air susu.

Pospor berfungsi untuk pembentukan tulang, penggunaan energi, sistem ensim, kesimbangan asam basa, translokasi lemak dan struktur sel. Sumber P adalah tepung ikan, tepung kerang, tepung tulang dan kapur.

Pastura tropis rendah kandungan pospornya. Hijuan yang tua dan limbah pertanian kandungan P nya juga rendah sehingga banyak ternak sapi yang menderita defisiensi P. Gejala defisiensi pada ruminansia P antara lain :

  • Tingkat pertumbuhan menurun (berhenti)
  • Pica atau Nafsu makan yang aneh (makan apa saja yang tidak lazim kayu, tanah, tulang)
  • Tidak ada estrus (birahi),
  • Tingkat konsepsi (perkawinan) yang rendah pada ternak jantan
  • Tulang lemah, rapuh dan kelemahan pada sendi-sendi

Untuk suplemen P dapat digunakan preparat dikalsium fosfat atau natriun fosfat atau amonium polifisfat. Sumber P dalam pakan adalah bungkil- bungkilan, produk hewani (tepung tulang-daging), dan tepung ikan. Sodium (Na), potassium magnesium dan klorida (Cl) berfungsi bersama-sama dengan fosfat dan bikarbonat menjaga homeostatis proses osmosis dan pH badan. Sodium dan clorine penting untuk semua ternak. Dalam pakan ditambahkan garam untuk memaksimumkan tingkat pertumbuhan dan produksi. Jika kandungan garam tinggi maka konsumsi air juga akan meningkat.

  • Potasium (K)

Kalium (K) merupakan mineral intraseluler yang berperan dalam metabolisme karbohidrat dan protein, keseimbangan asam- basa, pengaturan tekanan osmose, dan keseimbangan air. Kekurangan mineral ini akan mengganggu aktifitas ternak dan peran mineral makro lainnya.

Pada ternak ruminansia kebanyakan K menyebabkan defisiensi Na (NaCl) demikian juga sebaliknya. Pada ternak yang banyak makan hijauan, kadar K dalam hijauan lebih tinggi dari Na. Sapi akan lebih banyak mengkonsumsi NaCl jika ransum banyak mengandung hijauan. Pakan konsentrat lebih sedikit mengandung K dari pada hijauan.

Hijauan yang berkualitas rendah kandungan K nya juga rendah. Pada pemberian konsentrat yang tinggi, misal pada proses penggemukan maka unsur K harus diperhatikan, karena K dalam konsentrat kandungannya rendah. Bahan yang banyak mengandukng K adalah tetes. Kebutuhan K pada ruminasia berkisar 0,5-0,8%.

  • Magnesium (Mg)

Magnesium merupakan bagian dari jaringan tubuh dan cairan tubuh lainnya. Bahan pakan yang mengandung Mg antara lain dedak gandum (Pollard), konsentrat nabati sumber protein (Bungkil kedelai) dll.

Pada ternak ruminansia Mg terdapat pada tulung dengan kandungan 0,5-0,7%. Dalam jaringan daging kandungannya 190 mg/kg, sedangkan pada syaraf 100 mg/kg. Fungsi Mg sebagai katalisator enzim dalam metabolisme karbohidrat dan protein, oksidasi sel dan mempengaruhi aktivitas neuromuskular. Kebutuhan Mg pada anak sapi diperkirakan sebesar 12-30 mg/kg berat badan. Untuk induk sapi bunting dibutuhkan 9 mg/kg berat badan, sedang untuk induk laktasi diperlukan sebsesar 21 gr/kg berat badan per hari. Dalam pakan ternak Mg terdapat pada hijauan pakan ternak dan konsentrat.

Gejala-gejala defisiensi Mg pada sapi sebagai berikut:

  • Sapi menegangkan leher (opistotonus) dengan mengangkat kepala setinggi tingginya.  Anak sapi sering menggerakkan telinga ke belakang dengan posisi agak kebawah dan sensitif terhadap rangsangan dari luar (suara atau fisik), terjadi tremor urat daging, konvulsi kemudian mati.
  • Gras tetany, sapi mengalami gejala seperti penyakit tetanus yaitu kejang-kejang karena aktivitas daging yang meningkat (tremor).

Cara mengatasi kekurangan Mg

  • Memupuk pastura dengan preparat Mg (Calsined magnesite), dosis pemupukan 17 kg/ha.
  • Penambahan preparat Mg pada konsentrat dengan dosis MgO2 sebanyak 5 gr/400 gram pakan per hari
  • Penambahan MgO2 pada molase blok dengan dosis 50 gr/hari untuk sapi dewasa dan 7-15 mg untuk anak sapi.
  • Penambahan preparat Mg pada air minum
  • Pemberian dosis tunggal 400 ml latrutan yang mengandung 25% Mg sulfat atau Mg laktat pada intravenus.
  • Pemberian kapsul Mg alloy sebesar 226 gram pada sapi yang menderita tetani.
  • Belerang (S)

Sulfur merupakan bagian dari protein yang terdapat pada asam amino cystine, cystein dan methionine. Disamping itu S juga terdapat pada vitamin biotin, thiamin dan polisakarida yang banyak mengandung sulfat. dan sebagian kecil dalam darah. Disamping sebagai materi pembangun S juga berfungsi pada metabolisme protein, lemak dan karbohidrat, pembentukan darah, endokrin, keseimbangan asam basa. Kebutuhan ternak ruminansia akan S belum jelas, diperkirakan 0,10-0,32%.

Pakan alami biasanya sudah mencukupi kebutuhan ternak akan sulfur. Sumber S pada pakan ternak adalah hijauan dan jagung atau silase jagung. Namun dalam kasus defisiensi S ternak menunjukan gejala klinis penurunan nafsu makan, dan pertambahan berat badan, kelemahan umum, lakrimasi, sampai dapat terjadi kematian. Sesuai dengan fungsinya maka defisiensi S menyebabkan gangguan sintesis protein mikroba, gejala kekurangan protein, penurunan kecernaan selulosa, dan penimbunan asam laktat yang terlihat dalam darah dan urin. Kadar S yang aman adalah 0,1-0,2%, tergantung jenis makanan.

  • Calsium (Ca)

Ca merupakan mineral yang paling banyak dalam tubuh. Mineral ini dibutuhkan untuk pembentukan tulang, perkembangan gigi, produksi air susu, telur, transmisi impuls syaraf, pemeliharaan eksitabilitas urat daging yang normal (bersama-sama dengan K dan Na), regulasi denyut jantung, gerakan urat daging, pembekuan darah dan mengaktifkan menstabilkan enzim (misalnya: amilase pankreas). Defisiensi Ca menyebabkan riketsia, pertumbuhan terhambat, tidak ada koordinasi otot.

  • Rickets,

Gejala rickets di jumpai pada sapi muda yaitu tulang hewan muda terganggu. Tanda- tanda klinis yang nampak adalah: tulang menjadi lemah, lembek (kurang padat), sensi- sendi membengkak, pembesaran ujung tulang, kaki kaku, tulang punggung melengkung, bungkul pada tulang rusuk. Jika rickets dibiarkan maka akan terjadi kelainan pada kaki yang melengkung hal ini disebabkan oleh tensi urat daging dan bobot badan yang di pikul oleh tulang kaki yang lemah.

  • Osteomalasia,

Kekurangan Ca pada ternak dewasa akan menyebabkan osteomalasia. Yaitu akibat demineralisasi dari tulang hewan yang sudah dewasa. Kandungan Ca (dan P) dalam tulang sifatnya dinamis, artinya pada saat produksi ternak tinggi akan mengambil Ca dari tulang. Gejala klinis antara lain kelemahan tulang dan gampang rusak kalau kena tekanan.

Kadar Ca bahan pakan sangat bervariasi yang disebabkan oleh jenis tanaman, bagian dari tanaman dan umur tanaman. Hijuan pakan ternak yang lebih tua kadar Ca nya akan menurun. Leguminosa atau kacang-kacangan lebih banyak mengandung Ca dari pada rumput. Biji-bijian untuk konsentrat kadar Ca nya rendah. Sumber Ca adalah kalsium karbonat, batu kapur giling, tepung tulang, dikalsium forpat, kalsium sulfat, tepung ikan, tepung kerang, tepung tulang.

3.4.2. Mineral Mikro (Trace Mineral)

Trace mineral (mineral mikro) terdiri dari 8 jenis yaitu : cobalt (Co) , cooper (Cu), Iodine (I), besi (Fe), mangan (Mg), selenium (Se), cobalt (Co) dan zink (Zn). Cobalt juga diperlukan tetapi sudah terdapat pada vitamin B12. tembaga dan besi sering sudah cukup pada bahan pakan sehingga tidak perlu penambahan. Trace mineral merupakan bagian dari molekul organik. Besi merupakan bagian dari hemoglobin dan citocrom. Yodium adalah bagian dari thyroxine. Tembaga, mangan, selenium, dan zink membantu proses enzim. Khusus untu zink merupakan bagian dari struktur DNA.

Kebutuhan trace mineral dipenuhi dari bahan pakan yang di konsumsi ternak. Pada kasus khusus tanah yang ditumbuhi bahan pakan defisiensi trace mineral yang menyebabkan kandungan trace mineral dalam bahan pakan rendah.

Masing- masing mineral mikro dijelaskan sebagai berikut:

  • Mangan (Mn)

Mn diperlukan untuk aktivator enzim, dan trasfer pophat dan decarboxilase, mencegah perosis, dan pertumbuhan tulang. Sumber Mn adalah hijauan dan bahan konsentrat seperti jagung. Didalam tubuh ternak Mn dijumpai pada hati, ginjal, pankreas, dan pituatary, dan sedikit pada jantung, urat daging dan tulang. Pada ruminansia Mn berfungsi sebagai sintesa karbohidrat, mucoplyssacharide, sistem ensim, misalnya pyruvate carboxylase, arginine synthetase dll. Kebutuhan Mn pada ruminansia belum banyak diketahui tetapi kekurangan Mn menyebabkan gejala klinis bentuk tulang dan postur yang abnormal.

Kelainan bentuk tulang antara lain kaki bagian bawah, pembengkakan sendi, humerus yang relatif pendek, dan tulang yang relatif rapuh. Defisiensi Mn juga dapat menggagu proses reproduksi ternak jantan dan betina. Pada ternak jantan menyebabkan, gangguan spermatogenesis, degenerasi testis, dan epididimus, dan berkurangnya hormon kelamin yang menyebabkan sterilitas.

Pada ternak betina dapat terlihat ertrus yang tidak menentu (tidak ada), dan tidak terjadi konsepsi (pembuahan) dan kalaupun terjadi pembuahan dapat menyebabkan keguguran. Di daerah tropis yang banyak terdapat gunung berapi bisanya jarang terjadi kasus kekurangan Mn. Hal ini disebabkan Mn dalam hijauan dan pakan konsentrat sudah cukup untuk kebutuhan ternak. Sumber Mn adalah hijauan, konsentrat dan premix mineral buatan pabrik.

  • Copper (Cu)

Copper berperan dalam enzim dan ultilisasi besi dalam pigmentasi kulit dan pembentukan hemoglobin. Beberapa enzim yang membutuhkan copper antara lain ceruloplasmin, cytochrome, oxidase, lusine oksidase, tryrosinase, plastocyanin, dan baemocyanin. Penyerapan copper dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: keasaman lambung, penggunaan calsium carbonat dan ferros sulfid akan menurunkan penyerapan Copper. Copper yang tidak terserap akan dikeluarkan lagi melalui tinja (feces). Pada kenyataannya dari copper yang dikonsumsi lebih dari 90% disekresikan kembali oleh ternak. Sumber copper adalah pakan alami.

Fungsi esensial dalam tubuh antara lain:

  • Pembentukan hemoglobin, penyerapan Fe dan mobilisasi Fe dari tempat penyimpannya.
  • Membantu metabolisme tenunan pengikat
  • Kofaktor ensim memerlukan Cu utnuk aktifitas biologisnya. Enzim tersebut antara lain: cytochrome oxidase, ascorbic acid axidase dll. Dalam tubuh ternak Cu dapat ditemui pada hati, otak, jantung, urat daging, dan lemak. Pakan dengan kandungan Cu 10 ppm dianggap cukup untuk sapi pedaging. Gejala defisiensi Cu antara lain: terganggunya pigmentasi, menderita fibrosis miokardium, tulang pipih dengan tulang rawan melebar, mudah mengalami fraktur atau aoetoporosis. Hampir semua hijauan dapat mensuplai kebutuhan Cu ternak sebanyak
  • 3-4 kali yang dibutuhkan. Namun tanaman yang banyak mengandung pitat dan lignin dapat menurunkan penyerapan Cu. Preparat Cu yang dapat digunakan adalah CuCO3, CuSO4 dll.
  • Iodium (I)

Mineral iodium terdapat dalam tubuh ternak kelenjar tiroid, darah, daging dan susu. Jaringan lain yang mengandung I adalah lambung, kelenjar saliva, ovarium, kelenjar pituatary, kulit, plasenta, dan rambut. I diperlukan untuk sintesis hormon oleh kelenjar thyroid yang mengatur metabolisme energi. Hormon tiroid memegang peran dalam termoregulasi, proses metabolisme antara, reproduksi, pertumbuhan dan perkembangan, sirkulasi dan fungsi urat daging.

Penyerapan yodium pada susu kecil dan dikonsentrasikan pada kelenjar thyroid. Kebutuhan I belum jelas, diperkirakan sekitar 0,05-0,8 ppm. Defisiensi I menyebabkan kelenjar gondok membengkak, kehilangan bulu, kekurangan hormon tiroksin yang ditandai dengan kelemahan umum, basal metabolisme menurun, pertumbuhan lambat, pedet lahir mati. Pada hewan betina menyebabkan gangguan estrus sedang pada jantan menyebabkan menurunnya libido. Sumber yodium adalah pakan alami seperti tepung ikan dan hijauan makanan ternak.

  • Zinz (Zn)

Zn (seng) berperan dalam pengaktif dan komponen beberapa enzim seperti carbonic anhydrase, carboxys peptidase, alkohol dehidogenase yang berperan dalam metabolisme asam nukleat, sintesis protein dan metabolisme karbohidrat. Dalam kulit dan jaringan tubuh lainnya serta tulang juga terdapat Zn. Gejala klinis pada ruminansia adalah tidak peduli terhadap lingkungannya, pembengkakan kaki dan dermatitis pada leher, kepala dan kaki, gangguan penglihatan, banyak bersalivasi (ludah), penurunan fungsi rumen, luka sulit sembuh, dan gangguan reproduksi ternak jantan.

Sumber Zn adalah dedak padi dan dedak gandung. Namun demikian defisiensi Zn jarang terjadi karena dalam pakan ternak sudah tersedia cukup kandungan Zn. Didalam luguminosa terdapat kandungan Zn 60 ppm, biji-bijian mengandung 10-30 ppm Zn, sumber protein nabati mengandung 50-70 ppm Zn, sumber protein hewani mengandung 100 ppm. Kebutuhan Zn ternak ruminansia sulit diperkirakan namun secara umum kebutuhan tersebut 20-40 mg/kg berat kering pakan.

  • Selenium

Se berperan pada proses metabolisme yang normal dan ada kaitannya dengan vitamin E. Vitamin E dapat menggantikan kebutuhan mineral Se. Kelebihan Se akan menyebabkan keracunan ternak. Sumber pakan yang mengandung Se antara lain jagung (20 ppm), dan dedak gandum (55 ppm).

Dalam tubuh ternak berupa seleno-protein yang terdistribusi secara luas dalam tubuh. Se juga berperan dalam penyerapan lipid dalam saluran pecernaan, atau pengangkutan melalui dinding usus. Dalam tanaman Se terdapat dalam bentuk selenium amino acid bersama-sama dengan protein. Kandungan Se tanaman sangat tergantung dari kandungan Se dalam tanah. Pada tanaman selenium terdapat pada leguminosa dan rumput.

Kebutuhan Se pada sapi yang sedang tumbuh adalah 0,10 mg/kg ransum kering, untuk sapi jantan dan induk yang sedang bunting 0,05-0,10 mg/kg ransum kering. Kekurangan Se menyebabkan daging sapi berwarna putih, gangguan jantung, dan paralisis. Kelebihan Se menyebabkan keracunan dengan gejala bulu ekor rontok, hilangnya nafsu makan, kuku coplok, dan bisa mati karena kelaparan, haus dan gangguan pernafasan.

  • Molibdenum (Mo)

Mo didapati pada seluruh urat daging-tulang dan sedikit pada hati, ginjal dan bulu ternak. Fungsi dari Mo adalam komponen esensial dari beberapa enzim misalnya: xanthine oksidase, aldehyda oksidase dll. Kebutuhan Mo bagi ternak ruminansia belum diketahui secara jelas. Kekurangan Mo jarang ditemukan, tetapi kelebihan Mo justru menyebabkan defisiensi Cu dan menjadi racun yang menyebabkan diare, anoreksia, anemia, ataksia, dan kelainan bentuk tulang, depegmintasi kulit atau bulu. Sumber pakan yang mengandung Mo adalah hijauan segar, sedang pada hijauan kering kandungan Mo menurun.

  • Cobalt (Co)

Dalam tubuh ternak Co ditemukan pada hati, mata, ginjal, kelenjar adrenal, limpa dan pankreas dan sedikit pada sumsum tulang darah, susu dan empedu. Didalam rumen sapi Co digunakan mikroba untuk pembentukan B12. pada makanan ternak kandungan Co pada rumput lebih rendah dari pada leguminoisa. Kebutuhan Co pada pakan sebesar 0.1 ppm dari bahan kering pakan. Pada tanah yang berpasir kandungan Co rendah sehingga tanaman yang tumbuh di tanah tersebut juga rendah kandungan Co. Jika ternak makan tanaman yang tumbuh ditanah tersebut akan mengalami defisiensi Co.

Pada tanah yang banyak diberi kapur juga kadar Co rendah. Gejala defisiensi Co adalah nafsu makan menurun, pertumbuhan terganggu, pertambahan berat badan berkurang, diikuti nafsu makan yang semakin berkurang, cepat kurus, anemia parah, dan hewan dapat mati. Dari segi reproduksi terdapat 3 gejala klinis akibat defsiensi Co yaitu: penundaan ovulasi-estrus, estrus tidak teratur, dan gejala estrus tidak jelas. Untuk mencegah defisiensi Co dapat dilakukan upaya-upaya sebagai berikut:

  • Pemupukan pastura dengan preparat Co
  • Penyuntikan viatmin B12
  • Penambahan Co pada pakan dengan dosis 2 gram/ton pakan.
  • Mencekok sapi dengan mineral yang mengandung Co
  • Pemberian Co dalam bentuk Cobaltik Oksida dan tanah lempung
  • Fe

Dalam tubuh Fe didapati pada hati, limpa, ginjal, jantung, sumsum tulang, darah dan sel- sel lainnya. Fungsi Fe dibutuhkan pada pembentukan hemoglobin, mioglobin, enzim satilase, dan peroksidase. Fe berperan dalam tarnspor oksigen dalam sel dan respirasi sel.

Kebutuhan anak sapi berkisar 100 ppm sedangkan sapi dewasa 50 ppm dari bahan kering pakan. Kelebihan Fe akan di simpan dalam hati, limpa dan sumsum tulang. Kadar Fe yang diperlukan dalam pakan ternak sebesar 100 µg/g cukup untuk semua jenis ternak. Defisiensi Fe banyak terdapat pada anak sapi karena dalam air susu kadarnya rendah, juga bisa disebabkan oleh pendarahan yang disebabkan parasit.

Gejala klinis dari defisiensi Fe adalah anemia, (selaput lendir menjadi pucat), kadar hemoglobin menurun, tingkat kejenuhan transferin menurun, kurang memperhatikan lingkungan, nafsu makan dan pertambahan berat badan menurun, serta anthrophy pada papil-papil lidah. Pada prakteknya kebanyakan rumput mengandung Fe 100-250 ppm dan leguminosa mengandung 200-300 ppm, sehingga kasus kekurangan Fe jarang terjadi karena kandungan Fe hijauan lebih tinggi dari yang dibutuhkan ternak.

Bahan yang mengandung Fe tinggi adalah tepung daging dan ikan dengan kadar Fe 400-600 ppm, biji-bijian 30-80 ppm dan bungkil 100-400 ppm. Jika diperlukan suplemen Fe dapat menggunakan Fe sulfat, fero karbodat, feri klorida dll

  • Mineral yang Mungkin Esensial

Fluor (F) sangat baik digunakan oleh tulang dan gigi. Pada jaringan lunak F paling banyak terdapat pada ginjal. Kasus keracunan F disebabkan oleh kontaminasi makanan dan minuman. Air dengan kadar F 3-15 ppm akan berakibat racun dan pakan yang mengandung F sebesar lebih dari 2 ppm. Tanaman pada kondisi normal mengandung F sebesar 1-2 ppm.

Sapi yang mengkonsumsi pakan yang mengandung F sebesar 100 ppm akan menyebabkan keracunan akut, sedang kandungan 30 ppm dalam jangka lama akan menyebabkan flourosis kronis. Gejala keracunan adalah eksitasi, tingginya kadar F dalam darah dan urin, kaku, anorexia, salvias berlebihan, muntah, spasmus urinasi dan defekasi, lemah, depresi yang berat dan kelainan jantung. Sumber F adalah tepung tulang, tepung darah (hasil ikutan ternak), dan tepung ikan.

3.5 Vitamin

Vitamin digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu vitamin yang larut dalam lemak dan vitamin yang larut dalam air. Vitamin yang larut dalam lemak terdiri dari vitamin A,D, E dan K. Sedangkan vitamin yang larut dalam air terdiri dari tiamin, riboflavin, asam nikotenat, folasin, biotin, asam pantotenat, pyridoxine, B 12, dan koline.

Kebutuhan vitamin dinyatakan dalam milli gram per kilogram pakan, kecuali vitamin A,D dan E dinyatakan dalam Internasional Unit (IU).

Pada ternak ruminansia perhitungan kebutuhan vitamin lebih rumit karena beberapa vitamin dapat disintesa oleh mikroba di dalam rumen, misalnya B komplek. Vitamin yang larut dalam lemak tidak disintesa dalam rumen dan beberapa didegradasi oleh mikroba rumen, sehingga harus ada penentuan secara khusus tentang kebutuhan ternak ruminansia untuk dapat berproduksi yang maksimum.

3.5.1. Vitamin Yang Larut Dalam Lemak

  • Vitamin A (Retinol)

Vitamin A terlibat dalam sistem penglihatan dan pengelolaan jaringan epitel di seluruh permukaan tubuh bagian luar maupun bagian dalam serta berbagai kelenjar endokrin/gonad. Peran vitamin A juga membantu pembentukan protein.

Pakan ternak terdiri dari bahan nabati dan hewani. Pada bahan hewani terdapat vitamin A sejati, sedang pada pakan nabati terdapat provitamin A yang berawal dari caroten. Provitamin A tersebut akan diubah menjadi vitamin A oleh ternak. Untuk ternak ruminansia disaran kandungan vitamin A dalam pakan sebesar 1200 IU/Kg ransum kering untuk ternak yang sedang tumbuh, sedang untuk ternak betina laktasi dan pejantan disarankan 3900 IU per kg ransum kering.

Pada ternak ruminansia gejala defisiensi lebih banyak pada ternak muda yang cepat pertumbuhannya dibanding ternak tua. Gejala defisiensi pada sapi sebagai berikut: anoreksia diikuti dengan buta malam, diare yang parah, tidak ada koordinasi dalam bergerak, banyak airmata dan ingus, konvulsi, buta permanen, kornea mata pecah, pertumbuhan terganggu, berat badan menurun, dan bulu kulit kasar.

Kelebihan vitamin A akan menyebabkan ternak keracunan. Pada sapi keracunan pada dosis 17.000 IU per kg ransum kering. Keracunan pada ruminansia menyebabkan menurunnya aktifitas enzim pada metabolisme energi sehingga mempengaruhi proses pertumbuhan.

Sumber vitamin A adalah hijauan segar, silase, atau hay, jagung kuning, dan vitamin sintetis (asetat sintetis). Minyak hati merupakan sumber vitmin A yang terbaik tetapi jarang digunakan pada peternakan.

  • Vitamin D (Ergocalciferol)

Vitamin D memiliki banyak bentuk, tetapi yang penting bagi ternak adalah D2 (ergocalciferol) dan D3 cholecalcifero). Vitamin ini berfungsi dalam penyerapan vitamin Ca dan P dan proses kalsifikasi dalam pertumbuhan tulang. Secara umum vitamin D dibutuhkan untuk membantu pertumbuhan Dengan bantuan sinar ultra violet matahari tubuh ternak dapat mengubah provitamin D menjadi vitamin D.

Prinsip ini dimanfaatkan peternak dalam membangun arah kandang yaitu agar dapat memanfaatkan sinar matahari untuk membantu proses pembentukan vitamin D. Namun dengan berkembangnya vitamin sintesis teori tersebut tidak selalu mutlak diterapkan dan ditambah penemuan bahwa lampu listrik (Neon) dapat mengganti peran sinar matahari.

Ternak sapi membutuhkan vitamin D sebanyak 275 IU per Kg berat kering pakan secara rinci untuk anak sapi sebanyak 4 IU/kg berat badan, untuk sapi yang sedang tumbuh 2,5 IU/kg berat badan, dan 10 IU /kg BB uantuk sapi bunting/laktasi.

Defisiensi vitamin D pada sapi menunjukan gejala gangguan tulang dan riketsia pada sapi muda, menurunnya Ca dan P darah dengan tanda klinis sendi- sendi membengkak dan kaku, anorexia, respirasi cepat, iritabilitas, tetany, kelemahan, konvulsi, dan pertumbuhan terhambat. Pada sapi dewasa tulang mudah fraktur (retak) bahkan patah, jika terjadi pada tulang punggung akan menyebabkan sapi lumpuh. Sumber vitamin D dalam pakan berasal dari hijauan pakan ternak dengan kandungan provitamin D sebanyak 11 IU dan premix mineral buatan pabrik.

  • Vitamin E (Alfa tokoferol)

Terdapat 7 vitamin E, tetapi alpha tokoferol adalah yang paling banyak penyebarannya pada bahan pakan ternak. Vitamin E berfungsi menjaga kesuburan ternak atau antisteril. Peran vitamin E sebagai zat makanan yang vital dalam metabolisme urat daging/syaraf, kontraksi urat daging, sirkulasi, respirasi, pencernaan, ekskresi, pertumbuhan, konversi kanan dan reproduksi.

Kebutuhan vitamin E pada anak sapi 15-60 IU/Kg berat kering pakan, untuk sapi yang seang tumbuh 6,8-27,3 IU/Kg ransom dan untuk sapi dewasa 13600 IU/0,45 kg ransum, dan 54.600 IU/ton ransum untuk sapi dara, laktasi dan bunting.

Sumber vitamin E adalah pakan hijuan dan biji-bijian. Hijauan segar mengandung 100-200 mg/kg vitamin E, jagung kuning 25 mg/kg, juwawut 11 mg/kg, dn gandum 2-3 mg/kg. Nampak bahwa hijuan lebih banyak mengandung vitamin E dibanding biji-bijian. Karena vitamin E tidak stabil maka disarankan menambahkan premix mineral untuk suplai vitamin E.

  • Vitamin K

Vitamin K dikenal sebagai Anti haemoragi karena dibutuhkan untuk membentuk protombin yang penting dalam proses pembekuan darah jika terjadi luka pada ternak. Fungsi lain adalah menyediakan energi untuk fungsi sel.

Pada ternak ruminansia vitamin K dapat disintesa oleh mikroba dalam rumen dan saluran pencernaan dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan. Vitamain K merupakan satu-satunya vitamin yang larut dalam lemak yang dapat disintesa oleh ternak ruminansia. Pada kasus sapi mengkonsumsi zat anti koagulan (misal dekumarol dari jamur, tanaman leguminosa/clover), yang mencegah pembentukan protrombin yang akanmenyebabkan ternak defisiensi K.

Sumber vitamin K adalah bahan dari tanaman (K1), hewani (K2) dan K3 dari vitamin sintetis. Vitamin K sintetis dikenal dengan menadion. Bahan pakan sebagai sumber alami Vit K adalah tepung ikan, bungkil kacang kedelai.

3.5.2. Vitamin Yang Larut Dalam Air

Vitamin yang larut dalam air terdiri dari B1, B2, B6, niacin, biotin, B12, asam folat dan C. masing-masing manfaat dan gejala defisiensi dijelaskan sbb:

  • Vitamin B1 (Thiamin)

Dalam tubuh ternak vitamin B1 berfungsi sebagai koensim kokarboxilase dalam bentuk thiamin phyrophospahate. Fungsinya untuk proses enzimatis dekarbosilase asam alpha keto atau dengan kata lain metabolisme asam piruvat menjadi asetat. Secara sederhana diuraikan bahwa vitamin B1 membatu metabolisme karbohidrat menjadi energi.

Kekurangan thiamin menyebabkan akumalasi asam asam piruvat dan akan menurunkan produksi asam laktat di jaringan, dan ternak menunjukan defisiensi vitamin B1. Defisiensi pada ternak ruminansia menunjukan gejala buta, urat daging tremor, gigi gemeretak, opisthotonus dan konvulsi.

Pada ruminansia sumber vitamin B1 dari pakan dan mikroba rumen. Mikroba rumen dapat mensintesis vitamin B1. Pada anak sapi dimana mikroba rumen belum berkembang maka sumber B1 dari air susu yang diminumnya. Jika air susu diganti dengan susu pengganti (milk replecement) maka disarankan menambahan vitamin B1 menurut NRC sebanyak 65 µg/kg bobot badan.

  • B2 (Riboflavin)

Vitamin B2 berfungsi membantu tranportasi hidrogen, metabolisme protein dan energi. B2 merupakan komponen flavoprotein yang berfungsi sebagai konenzim.

Pada ruminansia gejala defisiensi sebagai berikut anoreksia, lakrimasi, salivasi berlebihan, diare, sakit disudut mulut, bulu rontok, dan dapat mati. Kejadian defisiensi disebabkan kandungan dalam pakan rendah dan mikroba rumen terganggu. Sumber vitamin B2 adalah dari bahan pakan dan sintesis mikroba rumen. Disarankan untuk menambah vitmain B2 sebanyak 65 µg/kg bobot badan pada anak sapi yang diberi minum susu pengganti. Sumber B2 adalah jagung kuning dan bungkil kedelai.

  • Niacin

Niacin berberan sebagai koensim yang membantu metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Bentuk koensim adalah nicotinamide dinucleoide (NAD) dan nicotinamide dinucleoide phosphate (NADP). Sumber niacin adalah bekatul, tepung ikan, dedak padi, dedak gandum dan bungkil.

Pada ternak ruminansia niacin dapat dibentuk dari tryptopan. Reaksi ini terjadi didalam mikroba dan jaringan rumen. Sehingga niacin erat hubungannya dengan thryptophan. Jika kadar tryptopan dalam pakan rendah (0,2%) maka baru ada kebutuhan minimal niacin. Kandungan tryptopan 60 mg setara dengan 1 mg Niacin. Anak sapi yang kandungan air susunya rendah akan menderita defisiensi Niacin.

  • Pyrodoxin (B6)

Vitamin B6 berfungsi sebagai koensim yang membantu proses metabolisme protein. Sehingga perannya esensial dalam proses pertumbuhan. Sumber B6 adalah pakan berasal dari hewani, bungkil kedelai, dan biji- bijian. Dalam kondisi normal jarang terjadi defisiensi B6 kecuali jika pakan rusak atau bahan pakan dipalsukan.

  • Biotin

Biotin sebagai kelompok prostetik berperan pada beberapa enzim yang memantapkan katalis CO2 kedalam jaringan organik. Enzim yang mengandung Biotin adalah acetyl koensim A karbosilasi, propionil koensim A karboxilasi dan methyl malonyl transkarbosilasi. Pada ruminan bitoin dibutuhkan pada siklus urea, sintesis arginin, pirimidin (asam nukleat penyusun DNA), lintasan ekstra mitokondrial dan sitesa asam lemak, sehingga penting perannya dalam proses pertumbuhan.

Sumber Biotin adalah dedak, bekatul, biji-bijian. Jarang dijumpai defisiensi bitoin, namun jika kasus terjadi gejalanya adalah perosis, pertumbuhan lambat, kerdil dan dermatitis disekitar dan kaki.

  • Asam Folat

Vitamin ini memegang peranan penting salam reaksi biokimia dalam memindahkan unit C tunggal dalam berbagai reaksi. Fungsinya antara lain dalam interkonversi serin dan glysin, dalam sitesa purin, degradasi histidin atau dalam sintesa group methyl tertentu. Purin penting dalam pertumbuhan dan reproduksi semua jaringan tubuh karena purin merupakan bagian dari DNA.

Defisiensi asam folat maka pembentukan nucleo protein dalam proses pendewasaan sel- sel darah tidak terjadi dan akan menyebabkan gejala anemia yang spesifik. Oleh karena itu Folat juga dikenal dengan anti anemia. Pada ternak ruminansia kebutuhan folat dipenuhi dari pakan dan sintesis mirkoba rumen. Sumber asam folat adalah tepung ikan dan jagung.

  • Cyanocobalalamin (B12)

Fungsi B12 adalah sebagai koenzim pada beberapa reaksi metabolik. Vitamin ini dibutuhkan untuk sintesis grup metil dari karbon tunggal sebagai prekusor, secara langsung dibutuhkan dalam metabolisme asam amino dan sintesis protein. Selain itu B12 juga berfungsi pada metabolisme propionat yang penting sebagai pembentuk glukosa.

B12 juga diperlukan oleh mikroba rumen. Defisiensi B12 pada ruminan menyebabkan terakumulasi propionat dan asetat dalam darah yang akan menyebabkan menurunnya nafsu makan 40-70%. Anak sapi perlu suplai vitamin B12 pada makanannya, sedang sapi dewasa hanya perlu suplai Co agar mikroba dalam rumen dapat mensintesis B12.

Kebutuhan anak sapi diperkirakan 0,54 mg per kg berat badan. Suplai Co pada ternak ruminansia diperlukan sebagai salah satu bahan dalam pembentukan vitamin B12. sapi dara yang diberi silase akan memproduksi vitamin B12 lebih banyak daripada ternak yang diberi hay (rumput kering).

  • Kolin (Choline)

Kolin merupakan substansi esensial dalam pembentukan dan pemeliharaan struktur sel dan metabolisme lemak dalam hati. Kolin terdiri dari komponen asetil kolin yang berperan pada mediator dalam aktivitas urat syaraf. Pembentukan asetil kolin yang penting dalam transmisi impuls syaraf membutuhkan kolin.

Pada ternak ruminansia kolin disintesa oleh mikroba rumen. Hasil suatu percobaan pada ternak sapi pedaging, dengan penambahan kolin sebanyak 500 mg per kg ransum akan meningkatkan total mikroba rumen, produksi gas dan VFA (Volatil Fatty Acid). Hasil yang diperoleh adalah kenaikan berat badat 7% dan efisiensi pakan 2,5%.

  • Vitamin C

Vitamin C secara kimiawi dikenal dengan L asam askorbat. Peran vitamin C adalah pada mekanisme oksidasi dan reduksi di dalam sel-sel hidup. Fungsi lain dari vitamin C adalah mengurangi tekanan pada iklim tropis. Pada ternak ruminansia vitamin C disintesa dalam rumen ternak.

Ringkasan Gejala Defisiensi Vitamin tertera pada Tabel 8.

3.6. Air

Air merupakan nutrisi yang penting bagi ternak. Kebutuhan air sangat tergantung dari temperatur lingkungan dan kelembaban relatif dan komposisi pakan ternak, tingkat pertumbuhan, dan efisiensi ginjal. Jumlah air yang dikonsumsi diperkirakan 2 kali lebih banyak dari pakan yang dikonsumsi berdasarkan berat pakan, tetapi konsumsi air pada kenyataannya sangat bervariasi. Proporsi air sebesar 2/3 bagian dari masa seekor ternak, dengan berbagai peran dalam kehidupan ternak.

3.6.1. Fungsi Air

Fungsi air terdiri dari 4 komponen yang terintegrasi dalam system pertumbuhan.

  • Komponen jaringan

Air bebas yang terikat dalam jaringan daging merupakan contoh yang baik. Perubahan keduanya (air bebas dan terikat)

prinsip pemberian pakan ternak

dapat mengubah aktivitas enzim yang selanjutnya berpengaruh pada tingkat pertumbuhan urat daging. Jumlah air yang di ikat dipengaruhi oleh fase perkembangan jaringan urat daging. Sapi yang tua kapasitas mengikat air lebih tinggi dibanding sapi yang lebih muda.

  • Media Fisik

Air berfungsi sebagai pengantar zat makanan dari saluran pencernaan kedalam jaringan tertentu untuk sintesis komponen tertentu guna pertumbuhan atau hidup pokok sel tertentu.

  • Mengatur Fungsi Osmosis Dalam Sel

Air berperan dalam memelihara keseimbangan konsumsi mineral tertentu dalam urat daging. Konsentrasi kalsium dalam urat daging penting untuk mengatur metabolisme energi dan kontraksi. Jika kadar mineral tidak seimbang akan menyebabkan kontraksi dan pertumbuhan urat daging terganggu.

  • Air sebagai Pereaksi (Reagent)

Air berberan dalam fungsi reaksi kimia untuk sintesis (pembangunan) jaringan. Contoh: reaksi hidrolisis untuk sintesa asam amino untuk pembentukan protein.

Air yang digunakan oleh ternak dapat berasal dari air minum, air yang terkandung dalam bahan pakan dan air hasil proses metabolic. Air dari bahan pakan sangat bervariasi dari 3% s.d 80% tergantung jenis bahan pakannya, dan air dari hasil oksidasi. Komponen air dalam tubuh ternak mencapai 2/3 bobot badan (55-75%).

3.6.2. Kebutuhan Air

Kebutuhan air dipengaruhi oleh kandungn bahan kering, dan komponennya, temperatur lingkungan dll. Kebutuhan Air Pada Berbagai Temperatur pada Ruminansia tertera pada Tabel 9. Faktor yang mempengaruhi konsumsi air sbb:

  • Lingkungan, Pada ruminansia, jika tempertur berubah maka konsumsi bahan kering atau energi akan menurun dan konsumsi air meningkat. Ditinjau dari segi pertumbuhan, dalam keadaan panas meningkat maka pertumbuhan akan menurun, namun sebagian penurunan dapat diganti dengan peningkatan retensi air. Faktor yang berpengaruh terhadap konsumsi adalah:
prinsip pemberian pakan ternak
  • Protein, Semakin tinggi konsumsi protein maka semakin tinggi konsumsi air. Air tersebut diperlukan untuk mengeluarkan hasil metabolisme protein lewat urin.
  • Na Cl, Semakin tinggi konsumsi NaCl maka semakin tinggi konsumsi air. Perubahan 1% salinitas tidak mempengaruhi konsumsi air minum pada domba.

3.6.3. Pengeluaran Air

Pengeluaran air pada ruminansia melalui urin, feces, penguapan via paru-paru serta permukaan tubuh dan keringat. Air yang keluar melalui urin lebih banyak dari yang diperlukan untuk membilas metabolisme. Pengeluaran melalui feces cukup tinggi karena 70-80% feces adalah air. Pengeluaran melalui penguapan terutama melalui paru-paru akan tinggi jika kelembaban rendah.

Pada suhu 27º C pengeluaran air melalui penguapan sebesar 23 ml/m2/jam sedang pada suhu 41º C penguapan 50 ml/m2/jam. Pengeluaran air melalui keringat lebih banyak (3 kali) dari pengeluaran air lewar paru-paru. Pengeluaran air melalui keringat pada suhu 41º C sebanyak 2,99- 5,06 g/m2/menit.

3.6.4. Defisiensi Air

Tubuh tidak mempunyai mekanisme untuk menyimpan air seperti halnya lemak depo dan sejenisnya. Kehilangan air akan terjadi secara terus menerus sehingga harus diimbangi dengan konsumsi air minum. Defisiensi air akan menyebabkan konsumsi pakan menurun. Pada suhu 40ºC ternak menunjukan gejala stress misalnya minum, penguapan, volume urin, dan tingkat respirasi diperbanyak. Jika tidak tersedia jumlah air minum dalam jumlah yang cukup maka bobot badan akan menurun drastis dan tanda- tanda dehidrasi. Karena banyak faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi air minum maka disarankan untuk memberi minum secara adlibitum (tidak terbatas) kepada ternak.

Prinsip Good Management Practices (GMP)

Good Management Practice (GMP) adalah prosedur untuk membuat suatu produk yang baik, aman dan tidak merusak lingkungan. Menurut organisasi pangan dunia yang dikenal dengan Food Agriculture Organization (FAO) GMP diadaptasi menjadi praktek pengelolaan pertanian yang baik. Hal ini bertujuan untuk menjaga kelestarian lingkungan, sosial dan hasil produk pangan – non pangan yang aman dan berkualitas baik.

Prinsip Good Management Practices

Tujuan GMP adalah:

  • Menjamin produk yang aman dan bermutu baik
  • Meningkatkan penggunaan sumberdaya alam, kesehatan tenaga kerja dan kondisi kerja
  • Menciptakan peluang pasar baru bagi petani dan exportir dari negara berkembang
  • Menangkap keuntungan pasar dengan memodufikasi mata rantai suplai

Pada bidang peternakan terdapat 5 komponen yang mempengaruhi GMP yaitu: kesehatan ternak, kesehatan pemerahan, pakan dan air minum, kesejahteraan ternak dan lingkungan. Masing-masing komponen dijelaskan sbb:

1. Kesehatan ternak

Kesehatan ternak sangat penting agar ternak dapat berproduksi dengan optimal dan produk yang dihasilkan berkualitas baik. Pada kesehatan ternak terdapat 4 hal yang disarankan untuk menuju GMP, masing-masing dijelaskan sebagai berikut: Mencegah penyakit masuk ke farm, Memiliki program pengelolaan kesehatan yang efektif, Menggunakan obat- obatan sesuai dengan saran dokter hewan atau sesuai aturan yang tertera pada label kemasan obat, dan Melatih orang yang sesuai.

1.1. Mencegah Penyakit Masuk Ke Farm (Usaha Ternak)

  • Membeli Ternak yang Sehat untuk Dipelihara dan Mengontrol Kesehatan Sapi Setelah Masuk Kandang. Sebelum masuk ke usaha ternak kita, sapi harus diperiksa kesehatannya terutama untuk sapi yang didatangkan dari daerah yang terjangkit penyakit. Bila dimungkinkan kita bisa mencari surat keterangan sehat dari dinas peternakan.
  • Menjamin Agar Alat Angkut yang Membawa Sapi ke Usaha Ternak Kita Tidak Membawa Bibit Penyakit. Hal ini bisa dilakukan dengan dapat menyebarkan penyakit menghindari alat angkut ke sapi. Pastikan kita orang dan kendaraan yang memasuki farm. Batasi pengunjung dan kendaraan sesedikit mungkin. Perlakukan pengunjung untuk meminimalkan penyakit, misalnya jaga kebersihan kendaraan dari kotoran sapi. Pengunjung di persilahkan menggunakan pakaian dan sepatu pelindung dan catat semua pengunjung, karena pengunjung dan hewan liar dapat menyebarkan penyakit.
  • Memiliki Program untuk Mengendalikan Binatang Pengganggu . Binatang pengganggu antara lain tikus, burung dan serangga yang habis dipakai membawa ternak mati atau ternak sakit. Bisa juga diakukan dengan menyemprot dengan bahan desinfektan semua kendaraan yang masuk farm kita.
  • Memiliki Pembatas Keamanan / Pagar. Pagar membatasi ternak, hewan liar memasuki farm kita. Ternak dari luar farm dan hewan liar berpotensi membawa bibit penyakit jika memasuki farm kita.
  • Membatasi Orang dan Hewan Liar Memasuki Farm. Orang dan kendaraan yang mengunjungi beberapa farm dapat menyebarkan bibit penyakit ke ternak. Jika diperlukan semprot terhadap mempunyai program pengendalian binatang tersebut. Hal yang perlu dijaga antara lain tempat pemerahan, tempat penyimpanan pakan, kandang dll.
  • Gunakan Peralatan yang Bersih. Peralatan yang digunakan pada budidaya sapi harus dijaga kebersihan. Untuk alat yang disewa dari luar harus dipastikan bahwa peralatan tersebut bersih dan bebas penyakit. Perlakukan dengan hati-hati peralatan yang dipinjam dari luar.

1.2. Memiliki Program Pengelolaan Kesehatan yang Efektif

  • Membuat Sistem Identifikasi Ternak. Sapi dapat diindentifikasi oleh orang yang datang untuk melakukan tugas tertentu. Identifikasi harus dibuat permanen dan unik sehingga setiap ternak dapat diidentifikasi dari lahir sampai mati. Identifikasi yang banyak digunakan adalah memasang anting telinga (ear tag), tato, freeze branding dan microchips.
  • Mengembangkan Pengelolaan Kesehatan yang berfokus pada Pencegahan. Program pencegahan meliputi semua aspek yang berkaitan dengan pengelolaan farm. Pencegahan kesehatan yang paling lazim adalah melakukan vaksinasi ternak. Obat-obatan pencegah penyakit dapat digunakan jika tidak ada strategi lain untuk mencegah penyakit, misalnya penggunaan antibiotika dengan dosis tertentu.
  • Memeriksa Kesehatan Ternak jika ada Gejala Penyakit. Amati ternak secara reguler untuk mendeteksi adanya gejala penyakit. Gunakan metode yang akurat untuk mendeteksi dan mendiagnosis penyakit. Beberapa cara dapat menggunakan termometer anus, pengamatan tingkah laku sapi, kondisi tubuh, dan pengujian susu. Jika hasil diagnosis menunjukkan penyakit harus diperlakukan dengan baik.
  • Ternak Sakit Harus ditangani dengan Baik Secepat Mungkin. Perlakukan ternak yang sakit, luka dan kondisi kesehatannya jelek setelah mendapat hasil diagnosis. Tindakan diperlukan untuk mengurangi akibat infeksi dan meminimkan sumber patogen.
  • Isolasi Ternak Sakit dan Pisahkan Produksi Susu dari Ternak Sakit atau ternak sedang Diobati. Untuk mengurangi penyebaran penyakit, isolasi ternak sakit pada tempat khusus. Gunakan prosedur yang ada untuk memisahkan susu dari ternak sakit agar tidak tercampur dengan susu dari ternak sehat.
  • Buatlah Catatan terhadap semua Perlakukan dan Ternak yang Pernah Diobati . Catatan ternak yang pernah diobati perlu dibuat agar semua orang yang berkepentingan mengetahui perlakukan apa saja yang pernah diberikan. Gunakan cara untuk menandai ternak yang sakit, misalnya menggunakan cat untuk menandai sapi yang terserang penyakit mastitis.
  • Menjaga Penyakit yang dapat Menular ke manusia (Zoonosis) . Peternak harus menjaga penyakit yang dapat menulari manusia pada level yang tidak berbahaya. Produk ternak harus dijaga agar tidak terkontaminasi penyakit, misalnya anthrax, bakteri pada susu, dll
Prinsip Good Management Practices

1.3. Gunakan Bahan Kimia dan Obat-Obatan yang diperbolehkan

Bahan kimia yang banyak digunakan seperti deterjen, desinfektan, pembunuh serangga dll. Peternak harus menjaga agar produknya (susu dan daging) tidak tercemari bahan tersebut. Obat-obatan digunakan untuk mengobati penyakit. Peternak harus menjamin dosis dan jenis obat yang sesuai, penyalahgunaan dapat menyebabkan ternak mati, penyakit resisten dan produk ternak tercemar. Bahan kimia dan obat harus disimpan dengan baik agar tidak rusak atau mencemari produk. Limbah obat, bahan kimia dan peralatan kesehatan harus dibuang pada tempat khusus agar tidak mencemari ternak dan lingkungan.

1.4. Melatih Orang yang sesuai

Memiliki prosedur tertulis untuk mendeteksi dan menangani ternak sakit dan bahan kesehatan, sehingga peternak peduli pada pengelolaan kesehatan farm. Petugas farm harus mendapat pelatihan yang cukup agar dapat melaksanakan tugasnya. Pilihlah orang yang mampu untuk mengobati ternak sakit, misalnya dokter hewan atau teknisi kesehatan hewan.

2. Kesehatan Pemerahan

Pemerahan merupakan kegiatan yang penting dalam budidaya sapi perah. Konsumen menghendaki susu yang berkualitas tinggi, sehingga pengelolaan pemerahan ditujukan untuk meminimalkan kontaminasi mikroba, bahan kimia dan kotoran lainnya. Pemerahan yang baik disamping akan menghasilkan susu yang berkualitas tinggi dan menjaga kesehatan sapi.

2.1. Pemerahan tidak Melukai Sapi dan Mengotori Susu

Sapi yang diperah harus memiliki identifikasi, untuk mengetahui statusnya apakah sapi laktasi, kering, sedang diobati, susunya abnormal karena penyakit, atau sedang diberi antibiotik. Jadi identifikasi diperlukan untuk menentukan langkah selanjutnya.

2.2. Persiapan Ambing sebelum Pemerahan

Bersihkan dan keringkan puting sapi yang kotor. Ambing dan puting yang basah harus dikeringkan. Harus tersedia air bersih selama kegiatan pemerahan. Periksalah ambing dan puting sebelum pemerahan, apakah ada indikasi mastitis atau penyakit lainnya.

2.3. Menggunakan Teknik Pemerahan yang Konsisten

Pemerahan harus menggunakan teknik pemerahan yang baik, kesalahan teknik dapat menyebabkan sapi terserang mastitis dan cedera atau melukai sapi. Teknik pemerahan yang benar:

  • Siapkan sapi dengan baik sebelum pemerahan
  • Untuk pemerahan dengan mesin, usahakan udara yang masuk sesedikit mungkin, pasang dan lepas cup mesin perah dengan halus
  • Untuk pemerahan dengan tangan, tangan pemerah harus bersih, dan dapat menggunakan sedikit paslin atau minyak untuk menghidari puting lecet,
  • Minimumkan pemerahan berlebihan
  • Semprotkan larutan Iodium setelah pemerahan

2.4. Pisahkan Susu dari Sapi Sakit dan Sapi yang Sedang Diobati

Sapi yang menghasilkan susu yang tidak layak dikonsumsi manusia harus dipisahkan dengan susu yang baik. Buanglah susu yang abnormal dengan cara yang benar agar tidak menulari sapi yang lain.

2.5. Pastikan Peralatan Pemerahan dipasang dan dirawat dengan Benar

Pabrik pembuat peralaran mesin perah harus merekomendasikan cara konstruksi, instalasi, kinerja dan perawatan peralatan yang digunakan untuk pemerahan. Bahan pembersih harus dipilih yang tidak mempengaruhi kualitas susu.

2.6. Pastikan Tersedia cukup Air Bersih

Persediaan air bersih harus cukup untuk proses pemerahan dan pembersihan peralatan pemerahan. Jaringan suplai air harus diperiksa secara rutin, hindari kebocoran jaringan air yang dapat menyebabkan ternak kekurangan suplai air.

2.7. Tempat PemerahanHarus Bersih

Bangunan pemerahan harus memiliki saluran air (drainase) dan ventilasi yang baik untuk mengindari sapi cedera. Ukuran tempat pemerahan harus sesuai dengan ukuran sapi. Tempat pemerahan harus dijaga kebersihannya dari kotoran sapi, tanah dll. Lingkungan tempat pemerahan harus dijaga kebersihannya. Rancangan bangunan harus mudah dibersihkan, memiliki suplai air bersih, tersedia fasilitas penanganan limbah, dan cukup cahaya.

2.8. Pemerah Mengikuti Aturan Kesehatan

Pemerah harus mengenakan pakaian yang sesuai dan bersih, menjaga kebersihan tangan dan lengan selama pemerahan, jika memiliki luka harus dibalut, dan tidak menderita penyakit infeksi.

2.9. Susu yang Habis di perah Harus Ditangani dengan Baik

Segera setelah susu diperah harus didinginkan, sesuai dengan aturan yang berlaku, misal 5°C. Lingkungan penyimpanan susu harus dijaga kebersihannya. Peralatan penyimpanan susu harus bisa menjaga temperatur susu sesuai dengan yang dikehendaki. Jalan untuk mengambil susu harus dirancang untuk memudahkan kendaraan tangki pengangkut susu.

Prinsip Good Management Practices

3. Pakan Dan Air Minum Ternak

Produktivitas sapi tergantung dari kualitas pakan dan air minum yang tersedia. Hal yang perlu diperhatikan adalah pakan dan air minum kualitasnya baik, mengontrol kondisi gudang pakan dan mengontrol bahan pakan yang dibeli dari luar farm. Masing-masing dijelaskan sebagai berikut:

3.1. Menjamin Pakan dan Air Kualitasnya Baik

Pakan dan air yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan fisiologis ternak. Suplai air harus disediakan, diperiksa dan dirawat secara reguler. Gunakan peralatan yang berbeda untuk menangani bahan kimia dan bahan pakan. Bahan kimia yang digunakan pada padang rumput dan hijauan harus sesuai. Gunakan bahan kimia untuk pakan pakan sesuai dengan yang direkomendasikan.

3.2. Mengontrol Kondisi Tempat Penyimpanan Pakan

Usahakan tidak ada binatang yang masuk ke gudang pakan untuk menghindari kontaminasi pakan. Gudang harus berventilasi baik. Pakan harus dilindungi dari kontaminasi. Simpan dan tangani dengan baik bahan pestisda, biji-bijian, pakan yang diberi obat, dan pupuk. Herbisida harus dipisahkan dari bahan kimia dan pupuk. Jerami dan pakan kering harus dilindungi dari kondisi lembab. Silase dan pakan fermentasi harus disimpat dalam kondisi tertutup. Bahan pakan yang berjamur harus dibuang atau tidak diberikan ke sapi.

3.3. Bahan Baku Pakan Harus Bisa Dilacak Sumbernya

Jika kita membeli bahan pakan, pastikan penjual (supplier), memiliki program penjaminan mutu. Buatlah pembukuan (catatan) bahan pakan dan pakan yang dibeli.

4. Kesejahteraan Ternak

Peternak harus menjaga kesejahteraan ternak agar mereka dapat berproduksi dengan baik. Konsumen menghargai kesejahteraan ternak yang tinggi sebagai indikator pangan yang aman, sehat dan berkualitas baik. Terdapat lima hal yang harus diperhatikan yaitu :

  • Ternak tidak haus, lapar dan salah makan
  • Ternak harus nyaman
  • Ternak sehat, bebas nyeri dan cedera
  • Ternak harus bebas ketakutan
  • Tingkah laku ternak relatif normal

Masing-masing aspek tersebut di atas dijelaskan sebagai berikut:

4.1. Ternak tidak Haus, Lapar dan Salah Makan

Peternak harus menyediakan pakan dan air dengan jumlah yang cukup setiap hari. Pemberian berdasarkan kondisi fisiologi ternak yaitu umur, berat badan, tahap laktasi, tingkat produksi, pertumbuhan, kebuntingan, aktivitas dan iklim. Mengatur kapasitas padang rumput dan pakan tambahan untuk menjamin ketercukupan pakan hijauan dan pakan tambahan. Lindungi ternak dari pakan beracun dan bahan yang membahayakan.

4.2. Ternak Harus Nyaman

Konstruksi kandang dan tempat pemerahan harus aman, tidak membahayakan ternak dan cukup ventilasi. Hindari jalan buntu dan lantai yang licin. Alas kandang harus bersih dan ruang gerak sapi cukup. Ternak harus terlindung dari pengaruh iklim yang dapat menyebabkan kepanasan atu kedinginan.

4.3. Ternak Sehat, Bebas Nyeri dan Cedera

Ternak harus diperiksa secara reguler untuk mendeteksi adanya cedera atau sakit. Kandang dan tempat pemerahan lantainya tidak boleh licin untuk mengurangi peluang cedera sapi. Sapi yang laktasi harus diperah secara reguler. Jangan menggunakan prosedur dan proses yang menyebabkan ternak nyeri misal pada dehorning (penghilangan tanduk), kastrasi dll. Menyediakan fasilitas beranak yang nyaman, dan memeriksa secara reguler apakah sapi memerlukan bantuan pada saat melahirkan.

Prosedur pemasaran pedet harus baik, penjualan dilakukan setelah lepas sapih, dan menggunakan alat transportasi yang memadai. Jika ternak harus dibunuh difarm karena sakit parah, harus dgunakan cara yang tidak menyakitkan. Hindari cara pemerahan yang salah karena bisa menyebabkan sapi cedera.

4.4. Ternak Harus Bebas Ketakutan

Peternak harus terampil mengelola ternaknya dan menerima pelatihan yang sesuai. Menjamin ternak berperilaku relatif normal, salah satunya dengan menyediakan ruang gerak yang cukup untuk betina, pejantan dan pedet. Peternak harus mampu:

  • Mengenali ternaknya sehat atau sakit
  • Memahami perubahan tingkah laku ternak
  • Paham kapan perlu tindakan pengobatan
  • Mengimplementasikan program pengelolaan kesehatan
  • Mengimplementasikan program pemberian pakan dan pengelolaan padang rumput
  • Mengenali iklim untuk mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan ternak
  • Mampu mengelola produksi ternak
  • Menangani ternak dengan baik dan dengan cara yang benar, mengantisipasi penyebab masalah dan tindakan pencegahan.

4.5. Penanganan Ternak

  • Menyiksa ternak pada kondisi apapun tidak diperbolehkan
  • Lantai kandang harus tidak licin, tangani sapi dengan hati-hati, jika sapi yang jatuh lebih dari 2% menunjukkan pengangan yang kurang baik
  • Pada saat memindahlan sapi sebaiknya dari samping bahu sapi, hindari alat bantu yang menyakitkan seperti cambuk, alat kejut listrik, batang besi dll

4.6. Pemasaran Ternak

Pada umumnya ternak dijual dalam kondisi sehat dan phisiknya bagus. Ternak yang akan dijual dikumpulkan pada kandang khusus (pen) yang dekat dengan loading ramp (tangga untuk menaikkan sapi ke truk). Pada saat menggiring dari kandang ke pen tanpa menyebabkan stress. Truk yang digunakan harus dirancang khusus untuk keselamatan peternak dan sapi. Sapi dinaikkan, dipindahkan dan diturunkan dengan hati-hati dan sabar agar tidak menimbulkan stres.

Daya angkut sapi ditentukan dengan ukuran dan berat sapi, pastikan rung dalam truk tidak terlalu padat. Jika truk tidak penuh harus diberi sekat pembatas agar sapi tenang dan truk stabil. Pintu kendaraan dan pintu gerbang loading ramp harus cukup besar untuk dilewati sapi tanpa menimbulkan luka. Tidak ada jarak antara bak truk dengan loading ramp, jika ada jarak dapat menyebabkan sapi terperosok dan sapi menderita cedera.

5. Lingkungan

Konsumen makin sadar bahwa produksi makanan harus seimbang dengan lingkungan. untuk itu peternak dalam memproduksi susu dan daging memilih cara yang mengurangi kerusakan lingkungan . Masalah utama adalah polusi dari kotoran sapi, cairan, cairan silase dll. Saran untuk GMP adalah memiliki sistem pengelolaan limbah yang baik, dan menjamin pengelolaan ternak tidak memberikan dampak terhadap lingkungan lokal. Masing-masing dijelaskan sebagai berikut:

5.1. Memiliki Sistem Pengelolaan Limbah yang Baik

Limbah peternakan harus ditampung pada tempat khusus untuk meminimumkan pencemaran. Tempat penampungan harus diperiksa apakan sudah penuh, atau ada kebocoran. Limbah lain seperti plastik harus dibuang pada tempat yang sesuai untuk mencegah polusi. Kotoran sapi dapat disemprotkan ke padang rumput.

5.2. Menjamin Pengelolaan Ternak tidak Memberikan Dampak Terhadap Lingkungan Lokal

Menjaga agar usaha peternakan tidak memberi dampak terhadap lingkungan lokal. Fasilitas penyimpanan untuk limbah oli, cairan silase, lumpur, dan bahan polutan lainnya harus diletakkan pada tempat yang aman untuk menjaga agar tidak mencemari lingkungan lokal. Hindari membuang limbah pertanian atau bahan kimia pada tempat yang dapat terkena drainase, air permukaan atau aiur tanah dapat menghanyutkan dan mencemari suplai air lokal. Gunakan bahan kimia (pupuk, obat, pestyisida dll) dengan benar untuk menghindari pencemaran lingkungan. Menjamin penampilan usaha peternakan agar bersih dan terawat untuk menciptakan kesan tempat memproduksi susu dan daging yang berkualitas baik.

Unsur-unsur Hukum di Indonesia

Sekalipun sama-sama berfungsi mengatur tingkah laku manusia dalam masyarakat, hukum berbeda dibandingkan dengan norma-norma yang lainnya. Perbedaan hukum dengan norma-norma lainnya dapat dilihat dari unsur-unsurnya.

unsur Hukum di Indonesia

Unsur- unsur hukum itu adalah sebagai berikut.

a. Peraturan mengenai tingkah laku manusia dalam pergaulan masyarakat

Misalnya agar anggota masyarakat terlindungi dari tindak kejahatan, maka diberlakukanlah hukum pidana. Dalam salah satu pasal KUHP (Kitab Undang-undang Hukum Pidana) ditegaskan bahwa: “Barangsiapa menghilangkan nyawa orang lain dengan sengaja, diancam hukuman penjara….”

b. Peraturan itu diadakan oleh badan-badan resmi yang berwajib

Misalnya KUHP itu dibuat resmi oleh negara, bukan oleh lembaga swasta. Badan resmi yang berwajib membuat undang-undang adalah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Periksalah ketentuan tentang hal ini dalam UUD 1945.

c. Peraturan itu bersifat memaksa

Sifatnya yang memaksa inilah yang merupakan unsur pembeda antara hukum dengan norma-norma lainnya yang berlaku di masyarakat. Misalnya dalam Undang-undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UULLAJ) ditegaskan bahwa pengendara sepeda motor harus mengenakan helm pengaman. Jika ada seseorang yang mengendarai sepeda motor kedapatan tidak mengenakan helm pengaman, maka petugas Polisi Lalu lintas (Polantas) akan menangkapnya dan memberinya Tilang (Bukti Pelanggaran).

d. Sanksi terhadap pelanggaran peraturan tersebut adalah tegas

Jika seseorang melanggar hukum, kepada yang bersangkutan akan dikenakan sanksi. Sanksi atas pelanggaran hukum adalah tegas. Tegas maksudnya diberi penderitaan fisik berupa hukuman, misalnya hukuman mati, penjara, dan denda. Hal ini berbeda dengan sanksi yang dikenakan apabila seseorang melanggar norma lain, misalnya melanggar kebiasaan yang hanya memperoleh sanksi berupa cemoohan. Berkenaan dengan sanksi hukuman, akan diuraikan lebih rinci pada saat membahas sifat-sifat hukum.

Ciri-ciri hukum

Di samping memiliki unsur-unsur seperti telah diuraikan di atas, hukum juga memiliki ciri-ciri tertentu. Ciri-ciri hukum yang menjadi pembeda dari norma lainnya adalah sebagai berikut.

a. Adanya perintah dan larangan

Contoh-contoh perintah: (misalnya bagi para pengemudi kendaraan bermotor yang diatur dalam UULLAJ)

  • 1. Perintah untuk mengenakan helm pengaman bagi pengendara sepeda motor.
  • 2. Perintah untuk berhenti pada saat lampu lalu lintas menyala merah.
  • 3. Perintah untuk tidak mendahului dari sebelah kiri kendaraan.
  • 4. Perintah untuk tidak mendahului pada persimpangan.
  • 5. Perintah untuk tidak mendahului pada lintasan kereta api.
  • 6. Perintah untuk tidak mendahului pada tikungan.
  • 7. Perintah untuk tidak mendahului pada pusat keramaian.
  • 8. Perintah untuk tidak berhenti pada rambu larangan parkir atau stop.
  • 9. Perintah untuk tidak parkir pada persimpangan atau tikungan atau tempat-tempat yang bukan peruntukannya.
  • 10. Perintah untuk tidak membunyikan klakson (bila tidak terpaksa) pada malam hari, di sekitar tempat ibadah, sekolah, dan rumah sakit.
  • 11. Perintah untuk tidak membawa muatan berlebihan (orang maupun barang).
  • 12. Perintah untuk tidak ngebut di jalan.
  • 13. Perintah untuk tidak membawa kendaraan secara zig zag.
  • 14. Perintah untuk memberi kesempatan kepada kendaraan ambulans, kereta jenazah, pemadam kebakaran, atau konvoi.
  • 15. Perintah untuk memberikan kesempatan kepada penyeberang jalan.
  • 16. Perintah untuk memberikan prioritas kepada penyandang cacat.
unsur Hukum di Indonesia

Contoh-contoh larangan: (misalnya bagi semua orang yang diatur dalam KUHP):

  • 1. Dilarang melakukan kejahatan terhadap jiwa, misalnya pembunuhan.
  • 2. Dilarang melakukan kejahatan terhadap tubuh, misalnya penganiayaan.
  • 3. Dilarang melakukan kejahatan terhadap kemerdekaan, misalnya penculikan.
  • 4. Dilarang melakukan kejahatan terhadap kehormatan, misalnya penghinaan.
  • 5. Dilarang melakukan kejahatan terhadap milik, misalnya pencurian.

b. Perintah dan larangan itu harus ditaati setiap orang

Menaati perintah dan larangan itu pada hakikatnya untuk kepentingan diri kita sendiri. Contoh: Menaati perintah mengenakan helm pengaman pada saat mengendarai sepeda motor, pada hakikatnya untuk menjaga keselamatan diri kita sendiri. Helm pengaman akan menjaga kepala kita dari benturan keras manakala terjadi kecelakaan lalu lintas.

Demikian pula berhenti pada saat lampu lalu lintas menyala merah, pada hakikatnya demi keselamatan kita juga. Coba bayangkan jika pada saat lampu lalu lintas menyala merah, kendaraan kita tetap melaju, maka tabrakanlah yang akan terjadi. Ditaatinya perintah dan larangan oleh setiap orang itu pada gilirannya nanti akan mendatangkan kemaslahatan bagi semua orang.

Bagaimana tidak, jika setiap orang menaati hukum, maka kehidupan masyarakat akan aman, tertib, dan damai. Hidup akan harmonis, jika hukum ditaati bersama. Semua orang menjunjung hukum dan tidak seorang pun yang kebal hukum. Seperti diamanatkan dalam Pasal 27 Ayat (1) UUD 1945 bahwa “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”.

Bagaimanakah Suasana Kebatinan Konstitusi Pertama?

Konstitusi atau Undang Undang Dasar (UUD) suatu negara hanya merupakan sebagian dari hukumnya dasar negara. UUD ialah hukum dasar yang tertulis. Di samping itu terdapat hukum dasar yang tidak tertulis, yakni aturan-aturan dasar yang timbul dan terpelihara dalam praktek penyelenggaraan negara meskipun tidak tertulis.

Suasana Kebatinan Konstitusi Pertama

Hukum dasar yang tidak tertulis dinamakan konvensi. Untuk memahami UUD suatu negara tidak cukup hanya memahami pasal-pasal UUD-nya saja, akan tetapi harus memahami pateknya dan bagaimana suasana kebatinannya.

Suasana kebatinan (geistlichten hintergrund) UUD adalah latar belakang:

  • bagaimana terjadinya teks UUD tersebut,
  • bagaimana keterangan-keterangannya, dan
  • dalam suasana apa teks itu disusun.

Salah satu cara untuk memahami suasana kebatinan adalah dengan menelusuri sejarahnya. Maka dari itu untuk memahami suasana kebatinan konstitusi pertama, mari kita lihat kembali kilas balik sejarah perumusan konstitusi pertama tersebut.

Proses perumusan konstitusi pertama bersamaan dengan usaha BPUPKI dalam merumuskan dasar-dasar bagi negara Indonesia merdeka. dr. Radjiman Wedyodiningrat, ketua BPUPKI pada awal sidang mengajukan suatu masalah sebagai agenda sidang. Masalah tersebut adalah tentang suatu calon rumusan dasar negara Indonesia yang akan dibentuk.

Kemudian tampilah dalam sidang tersebut sejumlah pembicara, di antaranya sebagai berikut:

a. Mr. Muhammad Yamin (29 Mei 1945)

Tanggal 29 Mei 1945 BPUPKI mengadakan sidangnya yang pertama. Mr. Muhammad Yamin mendapat kesempatan yang pertama untuk mengemukakan pikirannya tentang dasar negara.

Pidato Mr. Muhammad Yamin berisikan lima asas dasar negara Indonesia Merdeka yang diidam-idamkan, yaitu:

  • (1) Peri Kebangsaan.
  • (2) Peri Kemanusiaan.
  • (3) Keri Ketuhanan.
  • (4) Peri Kerakyatan.
  • (5) Kesejahteraan Rakyat.

b. Prof. Dr. Mr. Soepomo

Pada tanggal 31 Mei 1945 Prof. Dr. Mr. Soepomo tampil berpidato di hadapan sidang BPUPKI. Dalam pidatonya itu beliau menyampaikan tiga teori tentang pengertian negara (staats idee) yang penting dalam mempertimbangkan dan menetapkan dasar negara.

Ketiga teori tersebut adalah:

  • (1) Teori perseorangan atau teori individualistik
  • (2) Teori golongan atau teori kelas
  • (3) Teori persatuan atau teori integralistik

Teori individualistis mengajarkan bahwa masyarakat hukum (legal society) yang disusun atas kontrak sosial antara seluruh perseorangan dalam masyarakatnya.

Teori golongan menganggap bahwa negara adalah alat dari suatu golongan (kelas)untuk menindas kelas lain.

Prof. Soepomo menolak tegas teori individualistis maupun teori kelas. Beliau menyarankan, Indonesia memilih teori integralistik, yang dinilai lebih sesuai dengan semangat kekeluargaan yang berkembang di daerah pedesaan kita.

Teori integralistik ini mengemukakan bahwa:

  • (1) Negara adalah susunan masyarakat yang integral yang erat antara semua golongan.
  • (2) Semua bagian dari seluruh anggota masyarakat merupakan persatuan masyarakat yang organis.
  • (3) Mengutamakan kepentingan masyarakat sebagai suatu kesatuan.
  • (4) Negara tidak memihak satu golongan atau kelas yang kuat, tidak pula menganggap kepentingan pribadi yang harus diutamakan, melainkan kepentingan dan keselamatan hidup bangsa seluruhnya sebagai suatu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan yang perlu diutamakan.
  • (5) Negara yang bersatu dengan rakyatnya. (6) Negara yang mengatasi seluruh golongan dalam segala bidang.

c. Ir. Soekarno (1 Juni 1945)

Pada tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno mengucapkan pidatonya di hadapan sidang BPUPKI. Dalam pidato tersebut diajukan oleh Ir. Soekarno secara lisan usulan lima asas sebagai dasar negara Indonesia yang akan dibentuk, yaitu:

  • (1) Nasionalisme atau Kebangsaan Indonesia
  • (2) Internasionalisme atau Perikemanusiaan
  • (3) Mufakat atau Demokrasi
  • (4) Kesejahteraan sosial
  • (5) Ketuhanan yang berkebudayaan

Untuk usulan tentang rumusan dasar negara tersebut beliau mengajukan usul agar dasar negara tersebut diberi nama “Pancasila”. Dikatakan oleh beliau istilah itu atas saran dari salah seorang ahli bahasa. Usul mengenai nama “Pancasila” bagai dasar negara tersebut secara bulat diterima oleh sidang.

Masing-masing konsepsi dasar negara tersebut setelah dibahas oleh sidang belum mencapai kata sepakat. Atas anjuran ketua, supaya para anggota mengajukan usulnya secara tertulis. Usul tertulis harus sudah masuk paling lambat tanggal 20 Juni 1945.

Suasana Kebatinan Konstitusi Pertama

Dibentuklah Panitia Kecil Penampung dan Pemeriksa Usul, beranggota delapan orang (Panitia Delapan), yakni:

  • (1) Ir. Soekarno (Ketua), dengan anggota-anggotanya terdiri atas:
  • (2) Mr. A.A. Maramis
  • (3) Ki Bagoes Hadikeoseomo
  • (4) K.H. Wahid Hasjim
  • (5) M. Soetardjo Kartohadikeosoemo
  • (6) Rd. Otto Iskandardinata
  • (7) Mr. Muhammad Yamin
  • (8) Drs. Mohammad Hatta

Pada tanggal 22 Juni 1945 diadakan rapat gabungan antara BPUPKI, Panitia Delapan, dan Tyuo Sangi In (Badan Penasihat Pemerintah Pusat Bala Tentara Jepang). Rapat dipimpin Ir. Soekarno di rumah kediaman beliau Jl. Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Rapat menyetujui Indonesia merdeka selekasnya.

Untuk menuntaskan hukum dasar maka dibentuklah Panitia Sembilan, yaitu:

  • (1) Ir. Soekarno (Ketua)
  • (2) Drs. Mohammad Hata (Anggota)
  • (3) Mr. A.A. Maramis (Anggota)
  • (4) K.H. Wahid Hasjim (Anggota)
  • (5) Abdoel Kahar Meozakir (Anggota)
  • (6) H. Agoes Salim (Anggota)
  • (7) Abikeosno Tjokrosoejoso (Anggota)
  • (8) Mr. Achmad Soebardjo (Anggota)
  • (9) Mr. Muhammad Yamin Anggota)

Pada tanggal 22 Juni 1945 malam Panitia Sembilan langsung mengadakan rapat di rumah kediaman Ir. Soekarno Jl. Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Rapat berlangsung alot, karena terjadi perbedaan konsepsi antara golongan nasionalis dan Islam tentang rumusan dasar negara.

Akhirnya disepakati rumusan dasar negara yang tercantum dalam Mukadimah Hukum Dasar, sebagai berikut.

Ke-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya menurut dasar Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Naskah Mukadimah yang ditandatangani oleh 9 orang anggota Panitia Sembilan itu kemudian terkenal dengan nama “Jakarta Carter” atau “Piagam Jakarta”. Mukadimah tersebut selanjutnya dibawa ke sidang BPUPKI tanggal 11 – 17 Juli 1945. Pada tanggal 14 Juli 1945 Mukadimah disepakati oleh BPUPKI. Pada tanggal 17 Juli 1945 sidang berhasil menyelesaikan rumusan hukum dasar bagi negara Indonesia merdeka.

Tanggal 18 Agustus 1945 PPKI bersidang untuk mengesahkan naskah Hukum Dasar. Namun ada informasi dari utusan Bala Tentara Jepang, bahwa sebagian daerah yang tidak beragama Islam akan memisahkan diri, kalau Mukadimah (Piagam Jakarta) disahkan sebagai Mukadimah Hukum Dasar. Ir. Soekarno menugaskan Drs. Mohammad Hatta merundingkan hal itu dengan tiga golongan agama, demi persatuan, dan sidang ditunda.

Hasilnya ialah beberapa perubahan dari Naskah Hukum Dasar, terutama Dasar Negara pada sila pertama dalam Mukadimah menjadi: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Berdasarkan uraian di atas, tampak bahwa suasana kebatinan para pendiri negara dalam merumuskan konstitusi pertama adalah keinginan luhur untuk mendirikan negara Indonesia yang merdeka. Kemerdekaan negara Indonesia itu harus dibangun di atas persatuan segenap bangsa dan seluruh tumpah darah. Setelah merdeka hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Rakyat juga akan diposisikan sebagai pihak yang berdaulat.

Negara juga didasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Suasana kebatinan tersebut tercermin dalam empat pokok pikiran Pembukaan UUD 1945, sebagai berikut.

(1) Pokok pikiran pertama: Negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dengan berdasar atas persatuan (pokok pikiran persatuan).

(2) Pokok pikiran kedua: Negara hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (pokok pikiran keadilan sosial).

(3) Pokok pikiran ketiga: Negara yang berkedaulatan rakyat, berdasarkan atas kerakyatan dan permusyawaratan/ perwakilan (pokok pikiran kedaulatan rakyat).

(4) Pokok pikiran keempat: Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa, menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab (pokok pikiran Ketuhanan).

Sifat-sifat Hukum di Indonesia

Hukum itu mengatur agar kehidupan masyarakat berjalan tertib. Agar tertib hidup bermasyarakat terpelihara, maka hukum harus ditaati. Tetapi tidak semua orang mau menaati hukum. Maka agar hukum itu ditaati, maka harus dilengkapi unsur memaksa. Dengan demikian, hukum itu mempunyai sifat mengatur dan memaksa. Ia merupakan peraturan hidup bermasyarakat yang dapat memaksa orang supaya menaatinya. Terhadap siapa saja yang tidak mau menaatinya akan dikenakan sanksi berupa hukuman.

sifat Hukum di Indonesia

Hukuman itu bermacam-macam jenisnya. Dalam Pasal 10 KUHP disebutkan mengenai jenis-jenis hukuman, sebagai berikut.

A. Hukuman Pokok

1) Hukuman mati

2) Hukuman penjara

  • a) seumur hidup
  • b) sementara (setinggi-tingginya 20 tahun dan sekurang-kurangnya satu tahun)

3) Hukuman kurungan (setinggi-tingginya satu tahun dan sekurang-kurangnya satu hari)

4) Hukuman denda (sebagai pengganti hukuman kurungan).

B. Hukuman tambahan

1) Pencabutan hak-hak tertentu

2) Perampasan (penyitaan) barang-barang tertentu

3) Pengumuman keputusan hakim

Tujuan hukum

Hidup tanpa hukum akan sangat berbahaya. Mengapa berbahaya? Mari kita ambil perumpamaan yang sederhana. Hukum itu ibarat pagar pembatas. Mengapa orang-orang berani pergi ke kebun binatang bersama anak-anak mereka menyaksikan kehidupan satwa? Karena antara para pengunjung dengan binatang-binatang itu ada pagar pembatas. Jika tidak, siapa yang akan berani berjalan-jalan di tengah-tengah binatang yang liar dan buas?

Demikianlah hukum itu ibarat pagar pembatas. Tanpa hukum orang akan seenaknya melanggar hak orang lain. Karena ada hukum, para pedagang merasa aman menggelar semua barang dagangannya secara terbuka di pasar. Karena orang-orang tidak akan berani mengambilnya tanpa membayar. Karena ada hukum, para petani bisa tidur dengan nyenyak sekalipun meninggalkan tanaman padinya yang siap panen di sawahnya. Karena orang lain tidak berani memanen padi yang bukan miliknya.

Dengan demikian, hukum itu dibuat dengan tujuan-tujuan tertentu. Setidak-tidaknya ada tiga tujuan hukum yang patut kita pahami, yaitu sebagai berikut.

a. Menjamin adanya kepastian hukum dan keadilan dalam masyarakat

Dengan adanya hukum orang akan memperoleh jaminan bahwa haknya akan terpenuhi. Misalnya seorang buruh pabrik mendapatkan hak akan upah dari majikannya. Upah tersebut dibayarkan oleh pengusaha sesuai ketentuan yang berlaku. Jika kedapatan bahwa pengusaha tidak membayar upah karyawannya sesuai aturan, maka ia dapat dituntut karena telah melakukan pelanggaran hukum.

Adanya kepastian bahwa hak seseorang terlindungi dan kewajiban seseorang dapat dilaksanakan merupakan tujuan dari hukum, yakni adanya kepastian hukum. Di samping menjamin adanya kepastian hukum, tujuan dari hukum juga menjamin terciptanya keadilan dalam masyarakat.

b. Hukum mengabdi pada tujuan negara, yakni mendatangkan kemakmuran dan kebahagiaan pada rakyat 20

Tujuan hukum yang kedua ini erat kaitannya dengan pencapaian tujuan negara, yakni menciptakan kesejahteraan rakyat. Pertanyaannya adalah bagaimana jalan pikirannya bahwa hukum bisa menciptakan kesejahteraan rakyat? Jalan pikiran yang sederhana adalah jika hukum ditaati oleh semua orang maka ketertiban masyarakat akan terwujud. Jika masyarakat tertib, kegiatan ekonomi berkembang, orang-orang akan merasa aman bekerja dan berusaha, maka masyarakat akan sejahtera.

Sebaliknya, dalam keadaan masyarakat kacau balau, tidak aman, orang akan enggan bekerja dan berusaha. Dalam keadaan tidak aman, orang khawatir akan keselamatannya. Perhatikan saja misalnya kasus yang terjadi di Aceh beberapa waktu yang lalu. Pada saat Aceh masih bergolak, situasi keamanan sangat mengkhawatirkan. Orang merasa terancam pergi bekerja ke ladang maupun ke tempat-tempat lain. Akibatnya, ekonomi lumpuh dan kesejahteraan masyarakat pun menurun.

c. Mengatur kehidupan manusia secara damai

Hukum mengatur kehidupan agar berjalan tertib dan damai. Jika kedapatan ada seseorang yang melanggar hukum, maka aparat yang berwajib tidak segan-segan akan menindaknya dengan tegas. Bagi si pelanggar hukum akan dikenakan sanksi berupa hukuman yang setimpal. Dengan cara ini orang dipaksa untuk menaati hukum agar hidup tertib dan damai. Pihak yang dapat memaksakan hukum agar ditaati adalah negara.

sifat Hukum di Indonesia

Dengan alat-alat kelengkapannya, negara dapat memaksa orang menaati hukum dengan ancaman hukuman. Alat-alat kelengkapan negara tersebut di antaranya:

1) Polisi: mengawal hukum agar ditaati warga negara; jika terjadi peristiwa pelanggaran hukum polisi melakukan penyidikan.

2) Jaksa: sebagai penuntut umum, yakni mengajukan tertuduh ke pengadilan.

3) Hakim: memutuskan perkara (vonis) di pengadilan, apakah seseorang itu bersalah atau tidak.

Pertumbuhan Bangsa dan Perkembangan Negara-negara Senusa dan Antarnusa

Leluhur bangsa kita semenjak dahulu sudah hidup dalam tata masyarakat dan bahkan tata negara yang teratur dalam bentuk negara senusa dan antarnusa. Perhatikanlah nama-nama kerajaan berikut.

  1. Kutai (sekitar tahun 400) di Kalimantan Timur di bawah pimpinan Raja Mulawarman.
  2. Tarumanagara (400-686) di Jawa Barat di bawah pimpinan Raja Purnawarman.
  3. Kalingga atau Holing (674) di Jawa Tengah di bawah pimpinan Ratu Sima.
  4. Sriwijaya (683-1275) di Sumatra Selatan di bawah pimpinan Wangsa Sailaindra.
  5. Mataram atau Medang (732-864) di Jawa Tengah di bawah pimpinan Wangsa Sanjaya.
  6. Isana di Jawa Timur di bawah pimpinan Sindok (929-947), Dharmawangsa (991-1016), dan Airlangga (1019-1042).
  7. Kediri di bawah pimpinan Sri Jayawarsa Digjaya Sastraprabu (1104), Kameswara (1115-1130), Jayabaya (1130-1160), Sarweswara (1160-1170), Aryyeswara (1170-1180).
  8. Singhasari di bawah Sri Ranggah Rajasa Amurwabhumi atau Ken Arok (1222-1268), Kartanegara (1268-1292).
  9. Pajajaran (1333-1579) di bawah pimpinan Sri Baduga Maharaja.
  10. Majapahit di bawah pimpinan Wijaya Kertarajasa Jayawardhana atau Raden Wijaya (1293-1309), Hayam Wuruk (1350-1389), dan raja terakhir Prabu Girindrawardhana (1478-1528).

Puncak kegemilangan negara antarnusa itu tercapai pada masa Keprabuan Majapahit di bawah Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada (1350-1389). Pada masa itu seluruh wilayah Nusantara, yakni Semenanjung Melayu, Andalas, Jawa-Madura, Nusatenggara, Kalimantan, Maluku dan Irian semuanya di bawah kekuasaan pemerintah pusat, di bawah panji-panji Majapahit.

Pertumbuhan Bangsa dan Perkembangan Negaranegara Senusa dan Antarnusa

Perjalanan kebesaran Majapahit, bagaikan gelombang pasang, maka ada saat surutnya. Setelah Patih Gajah Mada meninggal (1364) tidak ada penggantinya yang perkasa. Timbul Perang Paregreg (perang saudara), bandar-bandar dan kerajaan-kerajaan daerah satu persatu mulai melepaskan diri, ekonomi melemah. Maka kejayaan dan kegemilangan Majapahit itu pun pudar dan akhirnya lenyap “sirna ilang kertaning bhumi”.

Pertumbuhan Bangsa dan Perkembangan Negaranegara Senusa dan Antarnusa

Di saat Majapahit menuju keruntuhannya, masuklah pengaruh Islam ke Nusantara melalui jalan dakwah dan hubungan niaga. Maka tersiarlah ajaran Islam dan pengaruh peradaban Islam ke seluruh Nusantara. Pada pusat-pusat pengaruh Islam muncul juga bentuk-bentuk kesultanan negara senusa.

Perhatikanlah nama-nama kesultanan berikut ini!

  1. Samudera Pasai (1297) di bawah pimpinan Sultan Malikul Saleh, Sultan Muhammad atau Malikul Thahir (sampai 1326).
  2. Malaka di bawah pimpinan Parameswara atau Sultan Iskandar Syah (1396-1414), Raja Ahmad (1414-1424), Mahmud Syah (1488-1511).
  3. Aceh di bawah pimpinan Sultan Ali Mughayat Syah (1514- 1528), Sultan Iskandar Muda (1607-1636).
  4. Riau di bawah pimpinan Sultan Abduljalil Rahmat Syah (1717-1722).
  5. Demak (1500-1580) berturut-turut dipimpin Raden Patah, Pati Unus (Pangeran Sabrang Lor), Trenggono, Ratu Kalinyamat, Joko Tingkir, dan Adiwijoyo.
  6. Pajang (1550-1580) dibawah pimpinan Sultan Adiwijoyo.
  7. Mataram pada awalnya dipimpin oleh Kyahi Gede Pemanahan atau Panembahan Senopati dengan gelar Senapati Ing Alaga Sayidina Panatagama (1575-1601), selanjutnya Sultan Agung Anyokrowati (R.M. Rangsang), dan Sultan Agung Anyokrokusumo.
  8. Banten dibawah pimpinan Fatahillah (1527) dan Sultan Hasanuddin (1550-1570). • Sunda Kelapa di bawah pimpinan Pangeran Jayakarta.
  9. Makasar dibawah pimpinan raja Gowa Karaeng Matowaya atau Sultan Alaudin (1603) dan Sultan Hasanuddin (sampai tahun 1660).
  10. Ternate (1521-1590) dibawah pim-pinan Sultan Tabariji, Sultan Hairun, dan Sultan Baabullah. • Banjar (Kalimantan Selatan) dibawah pimpinan Sultan Tahmid Illah, Pangeran Hidayatullah, Pangeran Antarsari (1631).
  11. Melayu – Minangkabau dibawah pimpinan Adityawarman (1347- 1375) Raja Alam Alif (1600).
  12. Tanah Batak di bawah pimpinan Raja Sisingamangaraja I – XII (1870-1901).
  13. Gelgel (Bali) pada abad ke-16 di bawah pimpinan Dewa Agung, kemudian ditaklukkan oleh Karangasem, pindah ke Klungkung.

Setelah Majapahit sirna, maka muncullah raja-raja kecil yang masingmasing berdiri sendiri. Mereka saling bersaing menghadapi musuh bangsa asing. Maka kekuatan Nusantara tak dapat lagi diandalkan. Maka tibalah saatnya panggung sejarah dunia mementaskan drama perebutan kekuasaan tunggal (hegemony) di persada Nusantara.

Pertumbuhan Bangsa dan Perkembangan Negaranegara Senusa dan Antarnusa

Bangsa-bangsa asing yang saling berebut hegemoni itu adalah:

  1. Portugis
  2. Inggris
  3. Spanyol
  4. Prancis
  5. Belanda
  6. Jepang

Identifikasi Tingkah Laku Ternak

Seorang peternak perlu memahami bagaimana behaviour atau tingkah laku dari ternak yang akan ditanganinya. Bila memahami tingkah laku sapi, dapat diduga bagaimana sapi tersebut memberikan respon bila diberi stimulus. Sapi tidak dapat melihat, mencium bau atau mendengar lingkungannya seperti yang dilakukan manusia.

Identifikasi Tingkah Laku Ternak

Mata sapi terdapat pada kedua sisi kepalanya. Sapi melihat dan memperkirakan jarak benda disampingnya dengan satu mata (monocular vision) dan pandangan dimuka kepalanya dengan dua mata (binocular vision). merupakan rintangan yang akan memberhentikan peternak untuk bereaksi dengan tenang dan penuh perhatian.

Pengetahuan tentang tingkah laku sapi sangat mendukung dalam pendugaan ternak memberikan respon. Pendugaan reaksi sapi adalah salah satu kunci penangananan sapi.

Ternak akan memberikan respon bila diberi stimulus. Sehingga amatlah penting untuk mengetahui respon dari sapi dalam berbagai macam situasi. Stimulus yang diberikan harus dapat dikontrol sehingga tidak menciptakan respon yang tidak terkendali.

Arausal adalah kunci lain dari Sapi cukup sensitif dengan keberhasilan penangananan gerakan atau suara yang ternak sapi. Arausal dapat mengejutkan. Seekor pejantan akan sangat agresif pada saat musim kawin, demikian pula sapi yang baru melahirkan akan selalu melindungi anaknya dengan segala kekuatannya, sehingga peternak harus mengetahui apa karakteristik dari sapi.

Peternak harus tanggap atau respek pada kemampuan ternak sapi seperti kekuatan dan kecepatan dari sapi, sehingga tidak ada keragu-raguan atau rasa takut dalam melakukan penangananan ternak sapi. Keragu-raguan dan rasa takutdigambarkan sebagai tingkah aktivitas dari seekor ternak. Ini dapat diamati dari mulai tidur sampai kondisi yang paling ekstrim seperti menanduk atau menendang bahkan menyerang dengan membabi buta.

Secara umum pemahaman arausal dimaksudkan menjaga ternak setenang mungkin, sehingga mereka bergerak dengan tenang. Stimulus pada ternak dalam beberapa cara dapat meningkatkan atau menurunkan tingkat dari arausal.

Tingkah laku sosial sapi bervariasi menurut umur dan bangsa, dibandingkan dengan domba. Sapi muda tidak mengikuti induknya saat setelah dilahirkan seperti halnya domba. Sapi muda berbaring secara tenang diantara makanan pada suatu tempat dimana induknya sedang merumput.

Penjantan muda cenderung untuk bermain, tetapi hanya sampai umur tertentu, tergantung pada bangsa dan kemudian menjadi lebih agresif dan bahkan menguasai areal tertentu serta menyerang pengganggu-pengganggu di wilayahnya. Seorang peternak mungkin dapat terluka karena ulah dari perkelahian sapi ketika sapi-sapi jantan tersebut dalam keadaan yang tidak terkendali.

Untuk menghindari keadaan kacau akibat tingkah laku sapi jantan tersebut, maka harus diusahakan jalan keluar yang tepat. Sapi potong betina mungkin juga pada suatu saat seperti setelah melahirkan, akan menyerang sapi lainnya atau seorang peternak untuk melindungi anaknya.

Sapi potong dapat melukai peternak dan merusak fasilitas yang ada, sebagai akibat benturan-benturan dan kecepatan bergerak serta agresifitasnya, jangan salah menduga atau memperkirakan kecepatan, arah dan ketepatan bila seekor sapi menendang. Sapi yang berdiri biasanya menendang keluar dengan membentuk sudut 45 derajat kearah belakang. Tetapi sapi yang sedang bergerak cenderung untuk menendang kearah belakang secara lurus.

Banyak hal-hal yang berkaitan dengan sapi potong juga diterapkan pada sapi perah. Pada sapi perah banyak tingkah laku yang harus dipelajari dari pengalaman. Sapi perah sering mengalami stres, karena suatu perubahan yang rutin. Hal ini meningkatkan tingkat arausal dan dapat membuatnya sukar untuk dikendalikan serta mengakibatkan produksi sapi menurun. Sebagai contoh perubahan rutin pada pergantian pemerah, isolasi sapi perah dari kelompoknya untuk inseminasi buatan dan lain-lain.

Sapi adalah hewan sosial dan sapi sangat mudah terpisah dari kelompoknya, jika diganggu oleh sapi lainnya. Sapi-sapi yang baru melahirkan tidak selalu seagresif sapi potong betina dalam mempertahankan anaknya. Bagaimana seekor induk sapi perah dapat berubah menjadi agresif, karena teriakan atau gonggongan seekor anjing.

Pejantan sapi perah sering pula menguasai tempat tertentu dan dapat menjadi agresif, serta berbahaya bagi peternak atau sapi lainnya. Sapi perah suka menggosok- gosokkan badannya pada dinding pagar dan membuatnya menjadi tenang. Jika ingin menyentuhnya, maka usahakan agar sapi tersebut melihat terlebih dahulu. Tindakan yang mengejutkan dapat membuatnya menendang.

Keberhasilan didalam budidaya atau pemeliharan ternak sangat ditentukan oleh bagaimana manajemen pemeliharaan yang diterapkan. Apabila manajemen budidaya atau pemeliharaan yang diterapkan bagus, maka kemungkinan berhasilnya suatu usaha juga sangat besar. Manajemen pemeliharaan ternak menyangkut bebera hal, salah satunya adalah bagaimana cara/teknik menangani atau handling ternak dengan benar. Sehingga tidak menyebabkan cidera bagi ternak dan sipelakui handling. Hal ini sangat penting karena penanganan ternak ruminansia akan jauh berbeda dengan ternak unggas.

Ternak ruminansia seperti sapi, dan kerbau memiliki tenaga yang lebih besar/kuat dibandingkan dengan ternak unggas. Disamping mempunyai tenaga yang besar/kuat, ternak tersebut mempunyai tanduk untuk menyeruduk yang berbahaya bagi keselamatan orang yang akan menangani serta bisa menendang.

Cara Menentukan Umur Ternak

Penentuan umur ternak biasa dilakukan oleh peternak dengan maksud-maksud tertentu. Adapun tujuan daripada penentuan umur ternak pada umumnya adalah sebagai berikut

  • Untuk penentuan bibit yaitu apabila diinginkan memilih ternak yang setepat-tepatnya untuk tujuan bibit
  • Untuk tujuan pemeliharaan, yaitu untuk mengetahui sampai umur berapa ternak tersebut masih produktif untuk dipelihara dan apabila dipandang sudah tidak produktif maka harus berani memutuskan merubah bentuk usahanya.
  • Untuk tujuan preventif, terutama pada ternak yang tidak sehat/sakit agar dapat dengan tepat diketahui dosis pengobatannya
  • Untuk menghindari pemalsuan pada proses jual beli ternak terutama dipasaran
Cara Menentukan Umur Ternak

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menentukan atau menaksir umur ternak, beberapa diantaranya:

1. Catatan (recording)

Menentukan umur ternak dengan cara melihat catatat dilakukan dengan melihat catatan dari pemilik ternak. Biasanya catatan (recording) ternak mengenahi tanggal kawin, tanggal lahir, nama induk, tipe kelahiran, berat lahir, berat sapih, jenis penyakit yang pernah menyerang, tanggal vaksinasi dll. Metode ini adalah yang paling tepat dan akurat dibanding dengan cara-cara yang lain, namun biasanya peternak belum banyak yang melakukan rekording dalam manajemen pemeliharaannya, sehingga menemukan kesulitan untuk menentukan umur ternak

2. Wawancara

Penentuan umur dengan cara mengadakan wawancara adalah dengan menanyakan secara langsung pada pemilik ternak tersebut baik mengenahi tanggal kawin, tanggal lahir, nama induk, tipe kelahiran, berat lahir, berat sapih dll. Ketepatan dan keakuratan hasil sangat tergantung dari kejujuran dari peternak yang diwawacarai nya.

3. Habitusnya (tingkahlaku)

Kebiasaan ternak pada umumnya secara alami bahwa pada ternak yang sehat atau yang muda mempunyai temperamen yang lebih lincah dari ternak yang tidak sehat atau yang sudah tua.

4. Gelang atau Cincin pada Tanduk

Yang dimaksud dengan melihat gelang atau cincin pada tanduk adalah melihat adanya tanda-tanda cincin tanduk. Proses terjadinya cincin tanduk adalah sebagai berikut. Selama ternak tersebut bunting, dimana setiap ternak mempunyai variasi lama bunting yang berbeda-beda, dimana didalam rahim foetus untuk dapat melakukan pertumbuhan nya dibutuhkan sari-sari makanan (zat gizi) yang tidak sedikit, sehingga untuk memenuhinya maka sari-sari makanan yang seharusnya dipergunakan untuk kebutuhan pertumbuhan tanduk sementara diperhentikan.

Akibat terhentinya suplay makanan untuk pertumbuhan tanduk maka pertumbuhan tanduk akan terhenti dan ini menyebabkan terjadi bentuk cincin pada diameter tanduk. Hal ini dapat dilihat terutama pada sapi dan kerbau yang suplay makanan kurang. Penentuan umur ternak dengan melihat cincin tanduk dapat dihitung dengan menggunakan rumus: Umur ternak = x + 2. Namun cara ini mempunyai kelemahan dipasaran, karena cincin tanduk dapat dihapus dengan cara mengikir tanduk ternak.

Cara Menentukan Umur Ternak

5. Pertumbuhan Bulu

Pada umumnya bahwa ternak yang masih muda pertumbuhan bulunya kasar tidak teratur dan lebih panjang daripada yang tua yaitu pendek, teratur dan halus.

6. Pertumbuhan Gigi

Yang dimaksud untuk melihat gigi adalah meliputi :

  • Mulai timbulnya gigi
  • Pergeseran bidang asah gigi
  • Pergantian gigi
  • Tanggal/lepasnya gigi
  • Mulai terbentuknya bintang gigi

Dalam menentukan umur ternak dengan melihat pertumbuhan gigi, perlu diperhatikan bentuk gigi dari jenis ternak apakah herbivora, carnivora dan omnivora. Ada perbedaan bentuk dan kondisi gigi antara hewan herbivora, comnivora dan omnivora. Pada ternak herbivora (contoh:sapi, kerbau dll) mempunyai bentuk gigi yang lebih besar daripada gigi ternak carnivora, karena tugasnya lebih berat daripada gigi cornivoranya.

Menurut klasifikasinya gigi dapat dibedakan atas:

  • Gigi seri (dentis incesivi)
  • Gigi taring (dentis canimis)
  • Gigi geraham muka (Praemolaris) yaitu molar yang masih bisa berganti
  • Gigi geraham belakang (Molaris) yaitu molar yang tidak berganti

Dalam menentukan umur dengan melihat pertumbuhan gigi, perlu diperhatikan perbedaan antara gigi temporer dan gigi permanen. Perbedaan gigi seri temporer dengan gigi permanent adalah :

  • Bentuk gigi temporer lebih kecil daripada permanen
  • Gigi temporer dapat berganti gigi permanen tetap
  • Warna gigi temporer putih, gigi permanen kekuning- kuningan
  • Bagian mahkota relatif lebih kecil bentuknya daripada permanen.

Ada pembagian periode dalam penentuan umur, yaitu :

6.1. Periode I (bulan I)

Pertumbuhan gigi pada bulan pertama ini dapat diketahui sebagai berikut:

  • Sebagian besar sejak lahir semua Id sudah tumbuh
  • Pedet yang belum tumbuh Id 4 nya umurnya kurang dari 15 hari
  • Apabila Id semua sudah tumbuh dan letaknya tersusun rapi (bentuk yang mirip) umurnya sudah satu bulan.
  • Gigi seri dalam terasah penuh umur 10-12 bulan
  • Gigi seri tengah dalam terasah penuh umur 14 bulan

6.2. Periode bulan I- 1,5 th

Pada periode ini harus sudah memperhatikan adanya bidang asahan, dimana :

  • Gigi seri dalam (dent incesivus daciduil I) mulai terasah paling sedikit umur 45 hari.
  • Gigi seri tengah dalam (dent incesivus decidual I) mulai terasa sesudah berumur 50 hari)
  • Gigi seri tengah luar ( dent incisivus decidual III) mulai terasah sesudah umur 70 hari.
  • Gigi seri luar (dent incesivus decudual IV) sudah terasah umur 3 bulan.

6.3. Periode I,5 – 4 tahun

Pada periode ini perlu memperhatikan pergantian gigi temporer ke permanent, dan hasilnya sebagai berikut :

  • Gigi seri I berganti pada akhir tanun ke II
  • Gigi seri tengah dalam pada awal tahun ke III
  • Gigi seri tengah luar berganti pada awal tahun ke IV
  • Gigi seri luar berganti pada awal tahun ke V.

6.4. Periode 4 th ke atas/ lebih

Pada ternak yang umurnya lebih dari 4 tahun maka terlihat bentuk giginya:

  • Semua gigi seri permanen sudah tumbuh sempurna, perkiraan sapi berumur 4 tahun
  • Luas bidang asahan pada I1 bagian yang terasah setengah bagian dari luas seluruhnya, perkiraan sapi berumur 5 tahun
  • Luas bidang asahan I2 setengah bagian dari luas seluuhnya perkiraan sapi berumur 6 tahun
  • Luas bidang asahan I3 setengah bagian dari luas seluruhnya , perkiraan umur 7 tahun
  • Bentuk semua bidang asahan sudah berlekuk perkiraan umur 8-9 tahun
  • Bentuk bidang asahan bagian yang terasah merupakan segi empat, perkiraan umur 10 tahun
  • Bentuk bidang asahan membulat perkiraan umur 12-13 tahun
  • Bentuk bidang asahan lonjong terbalik (kerucut terbalik) perkiraan umur 14-15 tahun

Perjuangan Kemerdekaan dan Pergerakan Nasional Indonesia

Sejak kedatangan bangsa-bangsa asing yang pada mulanya berdagang, akan tetapi lama kelamaan bertujuan menjajah, bangsa Indonesia senantiasa berjuang untuk mengusirnya. Para leluhur kita bertekad secara kesatria melawan penjajah dengan semboyan “Daripada hidup dijajah, lebih baik mati berkalang tanah”.

Perjuangan Kemerdekaan dan Pergerakan Nasional Indonesia

Bentuk-bentuk perlawanan bangsa Indonesia itu adalah sebagai berikut.

a. Perlawanan rakyat yang dipimpin tokoh kharismatis

Pada saat armada Portugis menguasai Malaka (1511) maka bangkitlah raja-raja Malaka melawannya (Mahmud Syah dan Tun Mutahir, Hang Tuah dan lain-lain). Karena perlawanan tidak berhasil, maka terpaksa berpindah ke Johor dan Riau. Perlawanan diteruskan oleh Sultan-sultan Johor dan Raja-raja Samudera Pasai. Pada tahun 1513 Pati Unus dari Jawa menyerang Malaka. Armada Portugis berhasil diporak-porandakan. Atas kegigihan tersebut Pati Unus diberi julukan Pangeran Sabrang Lor.

Pada tahun 1521 Portugis sampai di Maluku, maka rakyat Maluku pun melawannya di bawah pimpinan Sultan Hairun dari Ternate. Karena khawatir akan kalah, Portugis menipu dengan mengajak berdamai. Dalam suatu perjamuan, Portugis berkhianat, dengan menusuk Sultan Hairun dari belakang ketika memasuki benteng Santo Polo (1570). Perjuangan dilanjutkan oleh putranya Sultan Baabullah hingga berhasil mengusir Portugis dari Maluku dan menyingkir ke Timor Timur.

Perjuangan Kemerdekaan dan Pergerakan Nasional Indonesia

Pada tahun 1596 Belanda di bawah pimpinan Cornelis de Houtman mendarat di Banten. Sejak keberadaannya di tanah air kita Belanda sudah menunjukkan gelagat tidak baik. Maka Pangeran Jayakarta dari Sunda Kelapa dan Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten melawannya dengan gagah berani. Di samping itu Sultan Agung Anyokrokusumo dari Mataram pun menyerang Belanda di Batavia selama dua kali, yakni pada tahun 1628 dan 1629. Pada penyerangan yang kedua Jan Pieterszoon Coen mati terbunuh dalam pertempuran.

Perlawanan terhadap penjajah Belanda di mana-mana dilanjutkan terus oleh para pejuang kemerdekaan bangsa kita, antara lain: Sultan Iskandar Muda dari Aceh (1605-1636), Sultan Hasanuddin dari Makasar (1824). Semasa penjajahan Inggris (18111816) ditentang antara lain oleh Sultan Sepuh dari Yogyakarta dan Paku Buwono IV dari Surakarta. Sesudah adanya Convention of London (1814) yang mengembalikan Indonesia pada Belanda, rakyat Maluku menentangnya di bawah pimpinan Thomas Matullesy. Kemudian di mana-mana timbul perlawanan terhadap penjajahan Belanda secara besar-besaran.

Di Jawa perang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro (1825-1830), di Sumatra Barat terjadi perang Padri (1821-1837) dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Rakyat Palembang berperang dengan Belanda (1844) dan disusul oleh rakyat Bangka dan Belitung (1849). Rakyat Tapanuli di bawah pimpinan Si Singamangaraja melawan Belanda (1878-1907).

Perjuangan Kemerdekaan dan Pergerakan Nasional Indonesia

Di Kalimantan rakyat mengadakan perlawanan terhadap Belanda dipimpin oleh Pangeran Hidayatullah dan Pangeran Antarsari, yakni di Banjarmasin (1852-1905). Di Aceh rakyat mengadakan perang sabil dan jihad melawan kaum penjajah Belanda yang dikenal dengan nama Perang Aceh (1875-1904) yang dipimpin oleh Teuku Umar, Teuku Daud, Panglima Polim, Teuku Tjik Di Tiro, Tjut Nya Dien, Tjut Mutiah, dan lain-lain.

Demikian pula di Bali (1896) dibawah piminan Raja Badung dan di Lombok (1894) di bawah pimpinan Putera mahkota Anak Agung Made mengadakan “puputan”, yakni pertempuran habis-habisan melawan Belanda. Perlawanan dan perjuangan rakyat yang dipimpin tokoh kharismatik itu belum berhasil mengusir kaum penjajah.

Perjuangan Kemerdekaan dan Pergerakan Nasional Indonesia

Kelemahannya adalah pada sifat dari perlawanannya itu sendiri, yakni apabila pemimpin mereka wafat perlawanan berhenti. Di samping itu karena perlawanan dilakukan sendiri-sendiri, maka mudah dipecah belah oleh musuh. Atas dasar kenyataan seperti itu, maka perlawanan harus dilakukan dengan bentuk lain.

Di bawah ini akan diuraikan bagaimana bentuk perlawanan kita pada masa pergerakan nasional.

b. Pergerakan Nasional

Pada masa pergerakan nasional perjuangan mengusir penjajah dilanjutkan dalam bentuk lain, yakni melalui organisasi modern. Bentuk perjuangan ini berbeda dengan perlawanan rakyat yang dipimpin tokoh kharismatik. Perjuangan dengan membentuk organisasi modern tidak berhenti tatkala pimpinan berganti ataupun wafat. Pimpinan bisa berganti setiap saat, akan tetapi organisasi tetap berjalan, perjuangan pun tetap menggelora.

Karena sifat perjuangan melalui organisasi modern tersebut tidak mengenal surut, maka perjuangan semakin hari kekuatannya semakin dahsyat. Untuk mengenal bagaimana bentuk perjuangan melalui organisasi modern tersebut, mari kita simak pertumbuhan pergerakan nasional kita dalam mengusir kaum penjajah pada uraian berikut.

Perjuangan Kemerdekaan dan Pergerakan Nasional Indonesia

Usaha tersebut dirintis dengan berdirinya Sarekat Dagang Islam (SDI) pada tahun 1905 di Sumatra Barat dan Surakarta yang dipelopori oleh K. H. Samanhudi. Berdirinya SDI dimaksudkan untuk menggalang persatuan dalam bidang ekonomi mengingat Belanda menjalankan diskriminasi dalam ekonomi ke dalam golongan Eropa, Timur Asing, dan Bumiputra.

Pada tanggal 20 Mei 1908 berdirilah organisasi Budi Utomo yang dipimpin oleh dr. Sutomo, sedang yang mengilhami pendiriannya adalah dr. Wahidin Sudirohusodo. Pada tahun 1912 berdirilah organisasi massa Islam Muhammadiyah dipimpin oleh K.H. Achmad Dahlan. Sementara itu SDI berubah menjadi Sarekat Islam (1911) dibawah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto dan H. Agus Salim.

Perjuangan Kemerdekaan dan Pergerakan Nasional Indonesia

Pada tahun 1913 berdirilah Indische Partij, yang selanjutnya mengubah namanya menjadi Indische Sociaal Democratische Partij (ISDP). Para pemimpinnya antara lain dr. Tjipto Mangunkusumo, R.M. Suwardi Suryaningrat (kelak berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara), dan Dr. Douwes Dekker (kelak berganti nama menjadi Dr. Danu Dirdja Setyabudhi).

Para mahasiswa Indonesia di Nederlands mendirikan Perhimpunan Indonesia (PI) pada tahun 1924 oleh antara lain Mohammad Hatta. Pada tahun 1927 berdiri Partai Nasional Indonesia (PNI) yang dipimpin oleh Ir. Soekarno. Karena tekanan-tekanan Belanda pada tahun 1931 PNI dibubarkan. Sementara itu PNI dengan singkatan Pendidikan Nasional Indonesia didirikan oleh Sutan Sjahrir dan Drs.Mohammad Hatta (1929).

Sebagai ganti PNI yang dibubarkan didirikanlah Partai Indonesia (Partindo) oleh Mr. Sartono yang dilanjutkan oleh Ir. Soekarno (1933) setelah keluar dari tahanan politik. Partai Politik (Parpol) dan Organisasi Massa (Ormas) lainnya yang menyemarakkan masa Pergerakan Nasional antara lain Persatuan Muslimin Indonesia (Permi), Pasundan, Partai Bangsa Indonesia (PBI), Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo), dan GerakanWanita Indonesia.

Perjuangan Kemerdekaan dan Pergerakan Nasional Indonesia

Pergerakan Nasional Indonesia untuk mencapai citacita kemerdekaan Indonesia itu semakin kokoh kuat dan kompak dengan adanya peleburan Orpol dan Ormas dalam Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) pada tahun 1927 dan adanya Ikrar Kebulatan Tekad Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang dikenal dengan sebutan “Sumpah Pemuda”.

Menyusul pula bergabungnya partai-partai politik dalam GAPI (Gabungan Politik Indonesia) pada tahun 1939 dengan aksi Indonesia berparlemen. Terakhir pada tahun 1941 berdirilah Majelis Rakyat Indonesia (Volksraad) yang meliputi seluruh rakyat Indonesia.

c. Saat-saat kritis perjuangan mencapai kemerdekaan

Pada tanggal 1 September 1939 Perang Dunia II meletus. Tanggal 5 Mei 1940 Nederland diserbu oleh pasukan Nazi Jerman di bawah Adolf Hitler. Tanggal 10 Mei 1940 (hanya dalam waktu 5 hari) Nederlands jatuh ke tangan Jerman. Pemerintah Belanda mengungsi ke Inggris. Untuk menarik hati bangsa Indonesia dibentuklah Komisi Perubahan Ketatanegaraan yang diketuai oleh orang Belanda yang bernama Vismman pada bulan Desember 1940. Maka Komisi ini dikenal dengan nama Komisi Vismman.

Komisi ini tidak menyinggung soal Indonesia, hanya membuat janji hampa yang diucapkan Ratu Belanda Wilhelmina, yang berbunyi: “Apabila Perang Dunia II berakhir dan kemenangan ada pada Pihak Belanda dan sekutunya, maka Hindia Belanda (Indonesia) akan diberi hak berdiri sendiri sejajar dengan Kerajaan Belanda, asalkan di dalam ikatan dengan Negeri Belanda”. Ucapan ratu Belanda tersebut (6 Desember 1941) dikenal dengan nama “December Belofte” (Janji Bulan Desember).

Perjuangan Kemerdekaan dan Pergerakan Nasional Indonesia

Sementara itu Perang Pasifik pun meletus, Jepang menyerang Tiongkok Selatan dan Indo China, sementara Hindia Belanda terancam. Agar mendapat bantuan dari Indonesia, sekali lagi Ratu Wilhelmina menjanjikan pembaharuan susunan pemerintahan dengan mendekati para pemimpin kita. Ir. Soekarno menolak. Setelah Perang Pasifik berlangsung selama tiga bulan, maka pada bulan Maret 1942 balatentara Jepang dibawah pimpinan Jenderal Immamura mendarat di pulau Jawa.

Belanda tidak melakukan perlawanan yang berarti. Akhirnya tanggal 10 Maret 1942 Gubernur Jenderal Belanda Tjarda van Starkenborg Stachouwer dan Letnan Jenderal Ter Poorten menyerah tanpa syarat kepada Jepang di Kalijati Subang, Jawa Barat. Pada mulanya kedatangan balatentara Jepang disambut hangat oleh bangsa Indonesia, karena dengan propagandanya Jepang menyatakan sebagai saudara tua.

Semboyannya yang terkenal dengan “Tiga A” (Nipon Pemimpin Asia, Cahaya Asia, Pelindung Asia). Namun kenyataannya hanya sekedar berganti lakon penjajahan baru. Rakyat lebih menderita lahir batin. Kekayaan bangsa Indonesia dirampas dan dikuras, rakyat dijadikan romusha (prajurit kerja paksa), di mana-mana kekurangan pangan, pakaian rakyat compang-camping, kebebasan rakyat juga tidak ada.

Perjuangan Kemerdekaan dan Pergerakan Nasional Indonesia

Pada mulanya balatentara Jepang berhasil di semua medan pertempuran. Namun dalam paruh kedua balatentara Jepang terus-menerus menderita kekalahan. Sebagai akibat rentetan kekalahan tersebut, maka Perdana Menteri Jepang Koiso pada tanggal 7 September 1944 atas nama Pemerintah Jepang terpaksa mengucapkan janji kemerdekaan Indonesia kelak kemudian hari, apabila akhir perang kemenangan di pihak Jepang dan sekutunya.

Janji bersyarat yang tak jelas kapan waktunya itu disambut baik oleh pemimpin kita sebagai pembuka pintu jalan menuju cita-cita kemerdekaan. Atas perintah Gatot Mangkupradja dikabulkanlah penyusunan prajurit sukarela seperti Heiho, Peta, Barisan Pelopor, dan sebagainya. Sementara itu akibat tidak tahannya menyaksikan penderitaan rakyat dan kekejaman balatentara Jepang, rakyat mengadakan perlawanan seperti yang dipimpin oleh Syodanco (perwira rendah) Supriadi di Blitar dan di Pesantren Sukamanah, Singaparna Tasikmalaya dibawah pimpinan KH. Zaenal Mustafa.

Pada tanggal 29 April 1945 berkenan dengan hari ulang tahun Tenno Heika (Kaisar Jepang) disampaikan janji kedua, yakni kemerdekaan Indonesia tanpa syarat, yang diumumkan dengan Maklumat Gunseikan (Pembesar Tertinggi Sipil dari Pemerintah Militer Jepang untuk Jawa dan Madura). Hal ini bukan karena kebaikan Jepang pada kita, tetapi akibat Jepang makin menderita kekalahan dan mulai terkepung oleh Sekutu.

Perjuangan Kemerdekaan dan Pergerakan Nasional Indonesia

Bangsa Indonesia diberi kesempatan untuk memperjuangkan kemerdekaan, bahkan dianjurkan untuk mendirikan Negara Indonesia Merdeka dihadapan situasi peperangan. Sebagai langkah lebih lanjut dari Maklumat Gunseikan tersebut dibentuklah Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau Dokuritsu Zyunbi Coosakai, dengan jumlah anggota 62 dari seluruh tanah air dan berasal dari berbagai aliran dan golongan.

BPUPKI tersebut bertugas untuk menyelidiki dan mengumpulkan bahan-bahan secara terinci mengenai kemungkinan apakah bangsa Indonesia sudah dewasa untuk merdeka mengatur rumah tangganya sendiri yang hasilnya harus dilaporkan kepada Pemerintah Jepang untuk dipertimbang-kan. Akan tetapi BPUPKI oleh para pemimpin bangsa kita dijadikan sarana perjuangan politik untuk mencapai kemerdekaan Indonesia secara legal.

Karena keadaan di Jepang sudah semakin genting, pada tanggal 7 Agustus 1945 Marsekal Terauci (Kepala Pemerintahan Sipil Balatentara Jepang di Seluruh Asia Tenggara) mengumumkan perlunya segera dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau Dokuritsu Zyunbi Iinkai. Maka dipanggillah tiga tokoh bangsa Indonesia (Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, dr. Radjiman Wedyodiningrat) datang ke Saigon.

Pada tanggal 12 Agustus 1945 ketiga pemimpin kita bertemu dengan Marsekal Terauci dan menuntut janji kemerdekaan Indonesia. Maka dibentuklah PPKI dengan dipimpin Ir. Soekarno sebagai ketua dan Drs. Muhammad Hatta sebagai wakil ketua, dengan anggota 18 orang. Tugas PPKI adalah mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Soal cepat atau lambat pelaksanaannya terserah PPKI. Waktu berjalan demikian cepat.

Perjuangan Kemerdekaan dan Pergerakan Nasional Indonesia

Akibat dijatuhkannya bom Atom oleh Sekutu di kota Hiroshima (6 Agustus 1945) dan di kota Nagasaki (8 Agustus 1945), ditambah moril Jepang juga sudah runtuh akibat sekutu Jepang di Eropa, yakni Italia dan Jerman sudah menyerah terlebih dahulu pada Sekutu, maka pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat pada Sekutu. Berita menyerahnya Jepang itu dirahasiakan kepada bangsa Indonesia.

Kedudukan tentara Jepang ibarat “Juru Kuasa Sementara” yang tetap menjaga keamanan, sambil menantikan datangnya tentara Sekutu. Akan tetapi para pemuda kita yang bekerja pada kantor berita Jepang (“Domei”), sempat mendengarkan siaran radio tentang penyerahan Jepang kepada Sekutu yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Truman dan Perdana Menteri Inggris Atlee pada tanggal 14 Agustus 1945.

Perjuangan Kemerdekaan dan Pergerakan Nasional Indonesia

Mereka menyampaikan berita penting itu kepada temanteman secara rahasia. Mereka mulai mengadakan rapat-rapat di kalangan pemuda dan mahasiswa di Jakarta untuk mengambil kesempatan baik yang kritis dan menentukan itu. Ir. Soekarno dan Drs. Muhammad Hatta yang baru kembali dari Saigon tidak mendengar berita resmi bahwa Jepang telah menyerah. Ketika para pemuda menyambut kedatangan mereka, mereka menyatakan bahwa Indonesia sebentar lagi akan merdeka.

Perjuangan Kemerdekaan dan Pergerakan Nasional Indonesia

Ketika para pemuda mendesak untuk memproklamasikan kemerdekaan saat itu juga dan merebut persenjataan Jepang, mereka tidak bersedia karena belum diterima berita resmi tentang penyerahan Jepang kepada Sekutu. Para pemuda kecewa, dan melanjutkan rapat-rapat dengan semangat yang berkobar-kobar untuk memulai revolusi. Keputusan rapat para pemuda itu adalah untuk mengambil alih kekuasaan Jepang.

Bung Karno dan Bung Hatta perlu diungsikan untuk menghindari kemungkinan yang tak diharapkan terhadap kedua pemimpin nasional tersebut. Maka Bung Karno dan Bung Hatta diungsikan ke Rengasdengklok, Karawang pada tanggal 15 Agustus 1945, pukul 04.40 dini hari. Para pemuda di Jakarta melanjutkan rapat gabungan dengan PPKI di Pejambon, Jakarta tanggal 16 Agustus 1945 pukul 10.00 pagi.

Perjuangan Kemerdekaan dan Pergerakan Nasional Indonesia

Keputusan bulat untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia dan atas usul Mr. Achmad Subardjo dan kawan-kawan agar Bung Karno dan Bung Hatta dikembalikan ke Jakarta dengan jaminan keamanan mereka. Selanjutnya Bung Karno beserta keluarga dan Bung Hatta dijemput kembali ke Jakarta dengan rombongan pemuda pada tanggal 16 Agustus 1945 dan langsung ke rumah kediaman Laksamana Muda Maeda di Jalan Nassau Boulevard (sekarang Jalan Imam Bonjol No. 1) Jakarta.

Perjuangan Kemerdekaan dan Pergerakan Nasional Indonesia

Di tempat inilah para pemimpin dan pejuang bangsa kita menyusun naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Konsep ditulis dengan tulisan tangan Bung Karno, tetapi teks yang otentik dan resmi adalah yang diketik serta ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia, pada malam itu juga pk.23.00. Keesokan harinya, pada hari Jumat bulan Ramadhan atau tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta dalam suatu upacara khidmat dibacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Bung Karno.

Dengan Proklamasi itu Indonesia merdeka dan sekali merdeka, tetap merdeka!

Cara Pencegahan dan Pengobatan Penyakit

Ternak perlu dijaga kesehatannya agar dapat berproduksi dengan baik. Prinsip mencegah penyakit lebih baik mengobati ternak sapi harus dipegang kuat oleh peternak. Kesehatan ternak harus terus dijaga. Untuk dapat menjaga kesehatan kita perlu memahami penyebab penyakit, cara pencegahan dan pengobatannya.

1. Penyebab Penyakit

Suatu penyakit dapat terjadi karena penyakit endogen, eksogen dan malnutrisi. Masing- masing dijelaskan sbb :

1.1. Faktor dari Dalam atau Disebut Inernal Origin (Endogen).

Penyakit yang disebabkan faktor dari dalam biasanya disebut penyakit intrinsik. Penyakit yang termasuk dalam kategori jenis ini misalnya gangguan metabolisme, gangguan hormonal, degenerasi alat tubuh karena usia lanjut (senilitas) dan neoplasma.

1.2. Faktor dari Luar atau Disebut External Origin (Eksogen)

Penyakit yang disebabkan oleh faktor luar ini dapat dibedakan lagi menjadi dua yaitu :

1.2.1. Penyebab Tidak Hidup

Penyakit yang disebabkan oleh agen yang tidak hidup , seperti trauma, panas, dingin, keracunan zat kimia dan defisiensi zat pakan. Penyakit yang disebabkan oleh faktor yang tidak hidup pada umumnya termasuk dalam golongan penyakit yang non infeksi.

1.2.1. Penyebab hidup

Agen hidup misalnya bakteri, virus, protozoa dan jamur/kapang. Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh agen hidup dimasukkan dalam kelompok penyakit-penyakit infeksi. Suatu penyakit, pada umumnya disebabkan oleh suatu infeksi atau gangguan lainnya akibat dari adanya aktivitas suatu mikro organisme tertentu atau dapat juga adanya gangguan akibat dari racun atau kekurangan suatu bahan tertentu.

Infeksi adalah suatu proses dimana mikroorganisme masuk kedalam tubuh dan menyebabkan gangguan dari salah satu fungsi faal alat tubuh. Suatu infeksi biasanya diikuti dengan masa inkubasi. Masa inkubasi adalah waktu sejak masuknya jasad renik ke dalam tubuh sampai timbulnya gejala penyakit. Hal-hal yang dapat menyebabkan hewan menjadi sakit diantaranya :

  • pemberian jumlah makanan yang kurang
  • makanan yang kurang bermutu (kualitas nilai gizinya rendah)
  • kandang yang kurang memenuhi syarat kesehatan
  • kebersihan kandang yang kurang terjaga

Faktor pendukung terjangkitnya penyakit dapat disebabkan karena perubahan kelembapan dan temperatur lingkungan yang semakin tinggi, perubahan musim (misalnya dari musim hujan kemusim kemarau atau sebaliknya) sehingga memberi kesempatan pada bibit penyakit untuk menyerang ternaknya. kebersihan kandang, penyakit yang diturunkan dari induknya dan kualitas ransum yang diberikan, juga termasuk pada faktor pendukung tersebut.

Pada dasarnya penyakit ternak dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu Penyakit menular dan Penyakit tidak menular

2. Penyakit Menular

Penyakit menular merupakan penyakit yang cukup berbahaya dan sangat merugikan dengan alasan bahwa penyakit ini dapat menyerang baik pada ternak lain, sekelompok ternak dan bahkan dapat menjalar ke daerah lain apabila tidak dengan segera diambil tindakan pemberantasannya.

Termasuk dalam jenis penyakit yang menular adalah penyakit- penyakit karena infeksi yaitu :

  • penyakit infeksi viral
  • penyakit infeksi bakterial
  • penyakit infeksi oleh protozoa
  • penyakit infeksi oleh parasit dalam (cacing); dan
  • penyakit infeksi oleh parasit

2.1. Penyakit Infeksi Viral

Penyakit infeksi viral adalah suatu penyakit yang disebabkan adanya suatu infeksi dari salah satu jenis virus. Penyakit asal virus sering terjadi pada peternakan yang tatalaksana nya tidak baik. Penyakit asal virus pada umumnya tidak ada obatnya, tetapi kejadiannya dapat dicegah dengan mempertinggi daya tahan ternak. Virus ini sangat kecil dan tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Penyakit infeksi viral yang sering terjadi pada ternak ruminansia diantaranya penyakit mulut dan kuku, penyakit ingusan, penyakit jembrana, infeksi bovine dan penyakit lainnya.

2.2. Penyakit Infeksi Bakterial

Penyakit infeksi bakterial adalah jenis penyakit yang disebabkan adanya infeksi dari bakteri. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini sebenarnya mudah disembuhkan dengan antibiotika dan tidak akan berlanjut tetapi kadang-kadang akibat dari terkontaminasi dengan penyakit lain atau dengan penyakit virus akan menyebabkan semakin parah. Beberapa penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang umum terjadi pada ternak ruminansia, seperti penyakit radang paha, ngorok atau SE, Salmonellosis, Tuberkulosis, Brucellosis, Antrax atau radang limpa dan lain-lain.

2.3. Penyakit Infeksi Protozoa

Penyakit yang termasuk dalam kelompok jenis infeksi protozoa adalah jenis penyakit yang disebabkan oleh infeksi dari protozoa. Penyakit asal protozoa ini dapat terjadi karena kelemahan dalam pemeliharaan. Apabila pemeliharaan dilakukan dengan baik dan benar maka sebenarnya munculnya penyakit ini dapat dicegah.

Jenis penyakit protozoa yang sering menyerang pada ternak ruminansia, diantaranya penyakit sura, piroplasmosis (babesiosis), anaplasmosis, berak darah (Coccidiosis), penyakit kelamin menular (Trichomoniasis)

2.4. Penyakit Infeksi Parasit Dalam (Cacing)

Penyakit parasit sebenarnya tidak menyebabkan kematian, baik itu oleh parasit dalam maupun parasit luar, tetapi penyakit yang disebabkan oleh parasit sangat merugikan ternak yang terserang. Penyakit ini akan menyita gizi yang diperoleh ternak tersebut dan akan menimbulkan kegelisahan.

Contoh penyakit asal parasit dalam adalah cacing. Berbagai macam cacing dan berbagai macam tempat hidupnya ada di dalam tubuh ternak ruminansia. Beberapa penyakit yang disebabkan oleh cacing yang umum terjadi pada ruminansia, seperti penyakit penyakit cacing hati, cacing gelang dan cacing lambung.

2.5. Penyakit yang Disebabkan oleh Parasit Luar (Ektoparasit)

Ektoparasit adalah binatang yang hidupnya pada bagian luar tubuh ternak, baik untuk mencari makanan atau untuk tinggal menetap. Seperti juga halnya penyakit yang disebabkan oleh parasit dalam, penyakit oleh parasit luar sebenarnya dapat dengan mudah dicegah dan seharusnya tidak perlu terjadi. Pemeliharaan yang jorok, akan mudah terserang penyakit ini. Pada umumnya cara hidup parasit luar ini akan menimbulkan kerugian pada ternak yang ditumpanginya. Kerugian yang ditimbulkan oleh ektoparasit antara lain:

  • menimbulkan anemia karena ektoparasit mengisap darah ternak
  • ektoparasit berperan sebagai vektor yang dapat menularkan penyakit hewan menular yang disebabkan oleh kuman dan parasit darah.
  • menimbulkan kegatalan, sehingga ternak menjadi tidak tenteram.
  • menimbulkan luka pada kulit dan
  • menurunkan produksi pada prestasi kerja.

Beberapa penyakit yang disebabkan oleh parasit luar yang umum terjadi pada ternak ruminansia, seperti penyakit scabies, kudis, Pediculosis dan surra.

3. Penyakit Tidak Menular

Berdasarkan penyebabnya, maka penyakit tidak menular dapat dibedakan menjadi :

  • penyakit yang tidak menular karena infeksi, sebagai contoh penyakit Foot Rot (pododermatitis necrotica), bronkhitis, pneumonia, endometritis, kalbasilosis.
  • penyakit yang tidak menular karena gangguan metabolisme, contohnya ketosis (acetonaemia), milk fever (Partuient paresis), kolik, indegesti, tetani rumput, gondok, icterus, anemia dan avitaminosis
  • penyakit tidak menular karena keracunan, contohnya keracunan HCN, ke racunan Pb (timah hitam), keracunan pestisida, batulisme dan keracunan arsen
  • penyakit tidak menular karena lain-lain, sebagai contoh displasia abomasum, prolapsus uteri dan sumbatan usus

4. Gangguan Penyakit

4.1. Gangguan Penyakit pada Sistim Pencernaan

Proses pencernaan makanan pada hewan meliputi proses pengambilan pakan, pencernaan yang berlangsung di mulut dan di lambung dan penyerapan serta pembuangan sisa-sisa yang tidak berguna lagi bagi tubuh.

Pencernaan didalam mulut dilakukan dengan jalan pengunyahan, pemberian air liur dan penelanan. Sedangkan pada ternak ruminansia, proses pencernaan makanan bersifat lebih kompleks karena hewan- hewan tersebut masih harus melakukan proses ruminansi.

Gangguan patologik pada organ pencernaan yang sering terjadi pada ternak adalah penyakit pada rongga mulut seperti gigi aus, radang mulut, difteri pada pedet, radang lidah maupun radang kelenjar ludah. Jenis gangguan pada daerah tekak dan kerongkongan sebagai contoh radang tekak, sumbatan pada tekak, kelumpuhan tekak, sumbatan kerongkongan dan kejang kerongkongan.

Gangguan pada lambung pada ternak ruminansia adalah indigesti akut, indigesti vagus, parakeratosis rumen, lambung sarat dan sumbatan pilorus dll. Gangguan pada usus adalah penyakit radang usus dan sumbatan usus. Gangguan patologik pada hati seperti ikterus, busung air, radang hati akut pada kuda dan abses hati. Demikian juga bermacam- macam penyakit kolik pada ternak kuda.

4.2. Gangguan Penyakit pada Sistem Pernafasan

Pernafasan adalah proses pertukaran zat, metabolisme dari gas zat asam atau oksigen yang diambil dari udara oleh paru- paru yang setelah mengalami proses biokimiawi di dalam jaringan tubuh dibebaskan lagi ke alam bebas dalam bentuk gas karbon dioksida.

Jenis gangguan pada sistem pernafasan seperti gangguan pada saluran pernafasan atas, sebagai contoh mimisan, radang mukosa hidung, radang hidung atrofik pada babi, radang sinus maksilaris dan frontalis dan radang kantong hawa pada ternak kuda. Gangguan pada paru-paru seperti radang paru- paru kataralkuprosa-aspirasi atau radang paru-paru bernanah. Gangguan yang terjadi pada daerah toraks sebagai contoh radang pleura dan pneumotoraks.

4.3. Gangguan Penyakit pada Sistem Urine

Penyakit sistim urinaria pada ternak belum banyak ditemukan. Penyakit yang paling banyak dijumpai adalah menyangkut tubuh secara keseluruhan, baru kemudian diikuti oleh penyakit-penyakit pencernaan, pernafasan, kelamin, muskulo- skeletal dan kulit.

Penyakit sistim urinasia, kardio vaskuler, darah, limfoid dan syaraf adalah jarang dijumpai. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor dan salah satu alasan adalah ternak dipotong dalam umur yang masih muda.

4.4. Ganguan Penyakit Pada Kelenjar Susu

Kelenjar susu atau ambing merupakan kelenjar di bawah kulit. Pada umumnya pada ternak terletak di daerah selangkangan yaitu di daerah inguinal. Pada ternak babi terletak di daerah ventral dari daerah dada dan perut.

Gangguan penyakit pada kelenjar susu diantaranya radang ambing (mastitis). Radang ambing khusus yang disebabkan oleh infeksi kuman- kuman strepto kokus, staphylococus, kuman koliform, dan seterusnya. Demikian juga dapat disebabkan oleh gangguan lain seperti adanya puting tambahan, air susu tidak turun, busung ambing, akne puting, dll.

4.5. Gangguan Penyakit pada Kulit

Kulit terdiri atas dua lapis utama yaitu epitel sebelah luar (epidermis) dan lapisan jaringan ikat di bawahnya (korium atau dermis). Dibawah kulit terdapat tedapat jaringan longgar bawah kulit yang biasa disebut jaringan sub kutis atau hipodermis.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan kulit yang mengalami kelainan patologik meliputi perubahan dalam warna kulit dan rambut, status pertumbuhan rambut, sifat-sifat fisik rambut, kualitas dan konsistensi kulit serta adanya perubahan yang berupa lesi primer, sekunder atau perubahan patologik lainnya. Gangguan-gangguan pada kulit diantaranya adalah gangguan pada epidermis dan dermis, gangguan pada sub kutis, dermatomikosis, radang kulit dan gangguan dari ektoparasit pada kulit.

Penyakit Epidermis dan Dermis :

  • pityriasis (ketombe)
  • parakeratosis
  • hiperkeratosis
  • impetigo

Gangguan Patologik Sub Kotis

  • Oedema angioneurotik
  • Urtikaria (biduren)
  • Limfangitis
  • Sela karang

Dermatomikosis

  • Kadas
  • Hifomikosis

Radang Kulit

  • dermatitis
  • luka bakar

Penyakit Ektoparasit Pada Kulit

  • Kudis.

5. Mencegah Penyakit

Seperti telah diketahui bahwa pencegahan lebih baik dari pada mengobati. Hal ini berarti bahwa peternak harus sadar betul bahwa kontrol terhadap kondisi ternak adalah suatu keharusan. Peternak harus mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi pada ternak, Karena perubahan yang terjadi merupakan indikasi terjadinya penyimpangan dari normal.

5.1. Dasar-dasar Pencegahan Cara Pemberantasan Penyakit

Tujuan akhir dari suatu usaha dibidang peternakan adalah mendapatkan keuntungan yang maksimal dari usaha tersebut. Keuntungan maksimal akan dicapai apabila semua ternaknya dalam keadaan sehat. Suatu ternak dikatakan sehat apabila dalam kondisi istirahat maka semua proses fisiologis tubuh dalam keadaan normal dan sebaliknya apabila proses fisiologisnya tidak normal berarti ternak tersebut sakit.

Ada dua faktor gangguan yang menyebabkan ternak sakit, yaitu faktor gangguan dari dalam tubuhnya sendiri dan faktor gangguan dari luar tubuhnya. Untuk dapat melindungi gangguan yang berasal dari luar tubuh, tubuh memiliki kemampuan untuk menolak penyebab gangguan tersebut. Kemampuan individu untuk menolak sebab penyakit, sangat tergantung dari

  • kehidupan pada masa embrional
  • kehidupan setalah di lahirkan atau neonatal
  • adanya zat penolak yang dibekalkan oleh induknya
  • keadaan lingkungan dimana individu tumbuh
  • tersedianya makanan secara kualitatif dan kuantitatif
  • adanya agen noksius disekitar individu yang bersangkutan
  • adanya faktor stress
  • sifat faktor bawaan yang diturunkan

Mempertahankan agar ternak yang kita pelihara sehat dan dapat menguntungkan, adalah harapan bagi peternak. Apabila ternak yang kita pelihara sakit maka harapan diatas akan sulit didapat. Ini sebabnya maka program pencegahan dan pemberantasan penyakit perlu diperhatikan terutama yang menyangkut bibit, pakan dan pengelolaannya.

5.2. Program Pencegahan Penyakit

Beberapa tindakan yang dapat dilakukan dalam usaha pencegahan dan pemberantasan penyakit menular pada ternak diantaranya:

  • mengetahui tanda-tanda atau gejala-gejala penyakit yang menular
  • mengerti tentang cara menularnya masing-masing jenis penyakit
  • mengetahui dan ikut membantu melaksanakan tindakan guna mencegah menjalarnya penyakit menular.
  • Membakar atau mengubur bangkai hewan yang mati karena penyakit menular

Disamping tindakan-tindakan di atas, masih ada beberapa kegiatan dalam rangka pencegahan penyakit ternak yang harus diperhatikan, seperti :

5.3. Pencegahan Melalui Bibit

Pencegahan penyakit melalui bibit ternak dapat dilakukan dengan pemilihan bibit yang terbebas dari penyakit menular. Langkah-langkah yang dapat dilakukan :

  • hanya membeli bibit ternak dari agen yang benar-benar dapat dipercaya kesehatannya.
  • menempatkan bibit ternak yang masih muda terpisah dari ternak yang sudah tua (besar) karena bibit ternak yang masih muda sangat peka terhadap penyakit yang ditularkan oleh ternak dewasa.

5.4. Pencegahan Melalui Makanan yang Memadai

Pencegahan penyakit juga dapat dilakukan dengan pemberian ransum atau pakan yang berkualitas tinggi dan cukup jumlahnya. Pemberian pakan yang bermutu tinggi harus diberikan sejak ternak baru lahir sampai dengan saat panen. Pemberian pakan yang baik akan mampu memberikan daya tahan tubuh yang baik pula. Apabila pakan yang diberikan kurang baik serta kurang jumlahnya maka ternak yang dipelihara akan mengalami kekurangan gizi dan ternak tidak akan tumbuh secara maksimal. Hal ini berakibat ternak tersebut tidak dapat berproduksi (secara optimal).

5.5. Pencegahan Melalui Tatalaksana Pengelolaan yang Baik

Pencegahan penyakit melalui kontrol manajemen merupakan upaya pencegahan ternak dari stress/cekaman yang dapat mengakibatkan penurunan kesehatan ternak. Beberapa pedoman yang dapat digunakan dalam program pencegahan penyakit adalah :

  • pilih bibit dengan teliti yang terjamin kesehatannya. Oleh sebab itu seorang peternak harus mengenal ciri-ciri dari ternak yang sehat.
  • usahakan membeli bibit dari peternak atau pembibit yang benar-benar memprioritaskan kualitas bibit sehingga diharapkan dapat diperoleh bibit ternak sesuai dengan keinginan kita.
  • hindarkan ternak dari stress panas, hujan deras, dingin, angin kencang dll
  • kandang tidak terisi terlalu padat, hal ini dapat menimbulkan stress dan akibatnya akan menimbulkan sifat kanibalisme, hysteria dan gangguan lainnya.
  • pakan dan air minum harus tersedia dalam jumlah cukup, sesuai dengan kebutuhan baik kuantitas maupun kualitasnya
  • sediakan tempat pakan dan air minum sesuai dengan kebutuhan.

5.6. Pencegahan Melalui Sanitasi Kandang dan Lingkungan (Bio-Security).

Sanitasi adalah tindakan menjaga kebersihan ternak dan lingkungan sekitarnya, yaitu berbagai kegiatan yang meliputi penjagaan dan pemeliharaan kebersihan kandang dan sekitarnya, peralatan dan perlengkapan kandang.

langkah-langkah pencegahan penyakit yaitu: tindakan sanitasi dan bio-security secara teratur dan berkala. Tindakan sanitasi dan bio-security mutlak dilakukan dalam pemeliharaan ternak. Dengan adanya sanitasi dan biosecurity maka bibit penyakit yang berasal dari lingkungan kandang maupun di dalam kandang dapat dimatikan. Kegiatan sanitasi kandang dan bio-security adalah

  • melakukan kegiatan pencucian dan penyemprotan kandang dan peralatannya dengan air sabun (detergen) dan antiseptik secara teratur.
  • mengubur atau membakar ternak terutama pada penyakit yang menular dan berbahaya seperti penyakit Anthrax.

Beberapa istilah yang perlu diketahui dalam bio-sekurity adalah

  • Desinfestasi

Desinfestasi adalah merupakan proses pemusnahan hama penyakit untuk membunuh parasit, terutama parasit-parsit diluar tubuh ternak (ektoparasit). Bahan kimia yang digunakan untuk desinfestasi disebut desinfestan. Bahan yang umum digunakan adalah formalin. Desinfestan disemprotkan pada kandang dan perlengkapannya setelah diencerkan dengan air. Pengenceran yang dilakukan tergantung tingkat kepekatan yang dikehendaki oleh peternak.

  • Desinfeksi

Desinfeksi adalah merupakan proses pemusnahan hama dengan membebaskan segala bentuk jasad renik dengan jalan membunuh kuman (bakterisida) dan atau menghambat pertumbuhan kuman (bakteriostatik) dengan menggunakan bahan kimia.

Bahan kimia yang digunakan disebut desinfektan, seperti kreolin, lisol dsb.

Desinfestan dan desinfektan yang baik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

• Tidak berbahaya bagi ternak maupun manusia

• Mempunyai daya bunuh yang tinggi terhadap bakteri, protozoa dan mikroba lain serta telurnya.

• Efek residunya pendek

• daya penetrasinya tinggi

• Stabil bila dilarutkan atau kontak dengan bahan organic lain

• Tidak merusak alat yang digunakan dan mudah digunakan

• Tidak mengeluarkan bau atau sedikit berbau dan tidak terserap bahan pakan

• Tidak mencemari lingkungan baik udara maupun air.

5.7. Pencegahan Penyakit melalui Vaksinasi

  • vaksin inaktif atau vaksin mati yaitu vaksin yang dibuat dengan membunuh biakan jasad renik seluruhnya atau toksinnya saja dan hasil panenan jasad renik kemudian diproses untuk dijadikan vaksin adjuvan.
  • vaksin hidup atau vaksin aktif yaitu vaksin yang dibuat tanpa membunuh. Bibit penyakit tersebut harus terdiri dari jasad renik yang tidak jahat (avirulen) atau disebut “ attanuated strain”.

Vaksinasi adalah suatu tindakan dimana hewan dengan sengaja dimasuki agen penyakit (antigen) yang telah dilemahkan dengan tujuan merangsang pembentukan daya tahan atau daya kebal terhadap penyakit tertentu, dan aman untuk tidak menimbulkan penyakit.

Tujuan vaksinasi tidak hanya mengebalkan ternak yang bersangkutan, tetapi juga mengebalkan anak-anaknya yang baru lahir secara pasif. Vaksinasi selain bertujuan untuk pencegahan, dapat juga digunakan untuk tujuan pengobatan atau terapi.

Vaksinasi akan merangsang mekanisme pertahanan tubuh untuk menghasilkan antibodi sampai suatu ketika dapat digunakan melawan serangan penyakit. Untuk kepentingan keselamatan terhadap resiko timbulnya penyakit, dapat menggunakan virus yang telah dimatikan.

Tindakan vaksinasi merupakan salah satu usaha agar hewan yang divaksinasi memiliki daya kebal sehingga terlindung dari serangan penyakit. Kebal atau imun adalah suatu keadaan dimana tubuh tahan atau kebal terhadap serangan penyakit. Ada dua macam kekebalan dilihat dari cara terbentuknya yaitu :

  • kekebalan aktif yaitu kekebalan yang diperoleh secara aktif oleh tubuh yang dihasilkan oleh pabrik antibodi akibat rangsangan vaksin dan masa kekebalan berlangsung lama sesuai dengan jenis vaksinnya. Kekebalan aktif di golongkan menjadi kekebalan buatan yang diperoleh akibat dari vaksinasi dan kekebalan aktif alamiah yang di peroleh akibat sembuh dari penyakit menular tertentu.
  • kekebalan pasif adalah suatu kekebalan yang di peroleh secara pasif dimana tubuh ternak yang disuntik tidak mem bentuk antibodi sendiri, tetapi telah terkandung dalam antisera atau anti toksin dan kolostrumnya. Kekebalan pasif di golongkan juga menjadi kekebalan pasif buatan yaitu yang diperoleh dari suntikan antisera atau anti toksin dan kekebalan pasif alamiah diperoleh dari susu kolostrum induk yang telah divaksinasi.

Kekebalan individu ternak sangat ditentukan oleh faktor- faktor :

Jenis dan Mutu Vaksin

Telah diterangkan di atas bahwa ada dua macam vaksin yaitu vaksin hidup dan vaksin mati. Vaksin hidup akan menimbulkan kekebalan yang lebih sempurna dari pada vaksin mati. Mutu suatu jenis vaksin akan dipengaruhi oleh :

  • bibit jasad renik yang dipergunakan
  • jenis media pem biakan
  • metode pengem bangbiakan
  • masa antige
  • cara inaktifikasi dan adjuvan

Penanganan Vaksin

Setiap vaksin akan mengalami proses penurunan kekuatan atau mempunyai waktu kedaluwarsa dan mempunyai persyaratan tertentu seperti :

  • vaksin virus sebaiknya disimpan dalam suhu -80 C
  • vaksin bacteri dan toksoid disimpan dalam ruangan yang sejuk (+ 150 C) atau lebih baik dalam refrigator (2-100 C), sebaiknya di lindungi terhadap pengaruh langsung sinar matahari dan sebaiknya disimpan dalam tempat yang gelap.

Keadaan Ternak

Ternak yang sakit defisiensi dan ternak yang mengidap penyakit parasit yang parah bila divaksinasi tidak akan memperoleh kekebalan yang sempurna dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Vaksinasi yang diberikan pada ternak yang sedang dalam masa inkubasi penyakit, maka bukannya kekebalan yang akan diperoleh tetapi ternak akan menjadi lebih sakit, bahkan dapat menimbulkan kematian.

Tingkat Serangan Penyakit

Tingkat serangan penyakit pada kejadian wabah penyakit sangat dipengaruhi oleh keganasan dari jasad renik penyebab penyakit dan dosis jasad renik yang masuk dalam tubuh.

Vaksin dapat diberikan dengan cara melalui air minum, makanan, melalui alat pernafasan yaitu dengan cara penyemprotan atau dengan cara diteteskan kedalam rongga hidung. Selain cara-cara di atas, vaksinasi dapat juga dilakukan dengan melalui penyuntikan baik secara intra kutan, intra sub kutan maupun intra muskuler ataupun melalui intra peritoneal (kedalam rongga perut). Cara yang harus dipilih, tergantung dari petunjuk dari pembuatan vaksin yang telah dicantumkan dalam etiket/label.

Ada beberapa kemungkinan yang akan terjadi akibat vaksinasi seperti :

  • sepsis yaitu kesalahan teknis yang bisa memungkinkan timbulnya infeksi dengan mikroba dari luar yang patogen
  • abses yaitu borok akibat dari kesalahan vaksinasi
  • udema yaitu pembengkakan lokal akibat dari pengaruh komponen vaksin
  • concurrent disease. Akan terjadi pada ternak yang sedang sakit atau jelek kondisinya.
  • Reaksi anafilaktik. Akibat sampingan dari vaksinasi bisa menyebabkan shock.

5.8. Lingkungan yang Bersih

Jika ternak akan ditempatkan pada kandang yang pernah digunakan maka perlu dilakukan:

  • pembersihan dan sterilkan kandang dan peralatan kandang serta pengistirahatkan kandang
  • pembersihan lingkungan kandang termasuk rumput liar harus dipotong, serta air yang menggenang di sekitar kandang harus dihilangkan.

5.9. Menghindarkan Stres

Stres adalah tekanan jiwa yang menimpa ternak akibat pengaruh lingkungan yang buruk. Pengaruh lingkungan itu berupa:

  • suhu udara yang tidak stabil (terlalu panas/ terlalu dingin).
  • kepadatan ternak yang terlampau tinggi.
  • kelembaban didalam kandang yang meningkat.
  • akibat bunyi-bunyian keras yang mengagetkan.
  • pindah kandang.

Hal-hal tersebut diatas dengan demikian sedapat mungkin menghindarkan stress. Stres dapat mengganggu pertumbuhan ternak karena dengan stres hidup ternak jadi tidak nyaman, nafsu makan terganggu, metabolisme makanan akan terganggu sehingga hasil akhir yang diharapkan tidak tercapai.

5.10. Isolasi Ternak

Isolasi terhadap ternak adalah suatu usaha untuk mengisolasi atau memisahkan ternak yang sedang sakit atau mengalami kelainan dari ternak yang sehat dan normal. Ternak yang sakit dipisahkan dan dikandangkan dalam suatu kandang khusus yang disebut kandang karantina.

5.11. Program Kontrol Parasit

Program kontrol parasit merupakan upaya pencegahan berjangkitnya serangan penyakit, baik parasit eksternal seperti pencegahan berkembangnya serangga dan kutu di dalam kandang dan sekitarnya maupun parasit internal yang bertujuan mencegah masuknya parasit ke dalam tubuh misalnya cacing. Secara praktis, kontrol parasit dilakukan dengan cara :

  • pembuangan kotoran secara teratur untuk mencegah berkembang biaknya larva.
  • pemberian larvicida dalam pakan untuk mencegah perkembang biakan larva dalam kotoran
  • penyemprotan kotoran dan ruangan kandang dengan pestisida dan insektisida.

6. Pengobatan Penyakit

Pengobatan berasal dari kata obat yang berarti suatu sediaan yang diberikan untuk tujuan penyembuhan serangan suatu penyakit dengan jalan membunuh jasad renik/kuman penyakit penyebab penyakit tersebut atau dengan

memperbaiki kerja alat tubuh. Obat dapat membahayakan ternak sehingga penggunaan obat harus sesuai dosis dan sesuai petunjuk. Pemberian obat dapat dilakukan denagn berbagai cara yaitu ;

6.1. Pencekokan (drenching)

Pengobatan dengan cara ini dilakukan dengan mempergunakan alat pencekok (drenching gun). Ternak yang akan diobati sebaiknya dimasukkan dalam kandang jepit supaya mudah menanganinya. Kepala agak diangkat sehingga obat akan mudah masuk ke dalam tenggorokan. Alat pencekok tertera pada gambar 28

6.2. Pil atau bolus

Ternak ditempatkan seperti pada pencekokan atau dapat dipegang. Setelah mulut (oral) dibuka, pil/bolus dimasukan ke dalam mulut (oral) bagian belakang. Mulut untuk beberapa saat tetap dipegang agar tidak membuka.

6.3. Suntikan (injeksi)

Menyuntik adalah kegiatan memasukkan obat yang berbentuk cairan (dengan tekanan) ke dalam jaringan tubuh, rongga tubuh, organ tubuh yang berongga dengan menggunakan alat suntik.

Jenis-jenis alat suntik.

Alat untuk menyuntik disebut alat suntik atau secara umum disebut

” Syringe/Spuit” adalah suatu alat yang biasanya dilengkapi dengan jarum yang berfungsi untuk memasukkan obat melalui pembuluh darah untuk diedarkan ke seluruh tubuh.

Ada beberapa jenis alat suntik, diantaranya:

Alat suntik rekord (Record syringe).

Jenis alat suntik ini merupakan alat suntik yang sederhana, yang tertera pada gambar 29. Alat suntik rekord, terdiri atas :

• Tabung suntik

– terbuat dr gelas, plastik/ nylon atau metal

– ukuran : 1,2,5,10,20,sampai 50 ml

• Penghisap dan tangkainya

– terbuat dari gelas, plastik/ nylon atau metal

• jarum suntik

Alat suntik semi otomatis

Alat suntik jenis ini bentuknya sama dengan alat suntik record tetapi dilengkapi dengan komponen untuk mengatur dosis yang terdapat pada tangkai penghisapnya. Pada tangkai penghisap terdapat skala dosis dan sekrup pengatur dosis. Setiap suntikan cukup dengan memutar sekrup pengatur dosis, maka akan diperoleh dosis tertentu. Alat suntik semi otomatis tertera pada gambar 30.

Alat suntik multi-dosis (Multidose-Syringe)

Alat suntik ini baik sekali untuk melakukan suntikan masal. Ukuran besarnya : 30,50 ml. Obat suntik yg disedot dapat untuk beberapa dosis, dilengkapi dengan alat pengatur dosis

Alat suntik otomatis (auto matic syringe)

Alat suntik ini sama dengan alat suntik multi dosis, hanya alat suntik ini dapat mengisi sendiri (self filling) obat yang akan disuntikkan. Alat suntik ini hanya tidak cocok digunakan untuk ternak-ternak besar. Alat suntik otomatis tertera pada gambar 31.

Alat suntik “ Rautmann

Alat suntik ini juga termasuk dalam alat suntik multi dosis. dosis sudah ditetapkan yakni 0,1 ml. Canullanya berukuran pendek sekali dan lubangnya bukan pada ujungnya melainkan pada bagian sisinya. Alat suntik routmann biasa digunakan untuk tuberkulinasi. Alat suntik Rautmann tertera pada gambar 32.

6.4. Metode menyuntik

Ada beberapa metode yang bisa digunakan dalam mencegah dan mengobati suatu penyakit melalui pemberian obat. Obat dapat diberikan kepada penderita dengan melalui berbagai cara seperti melalui penyuntikan, pemberiobat melalui mulut atau enternal dan pemberian obat melalui parenteral. Penggunaan metode tergantung pada cepat atau lambatnya hasil yang dikehendaki, lama kerja dalam tubuh, bentuk atau macam obat, sifat fisis atau kimiawi obat dan derajat absorbsi terhadap obat. Salah satu yang sering dipakai adalah pengobatan dengan menggunakan suatu obat tertentu dengan metode lewat alat suntik. keberhasilan menyuntik ditentukan oleh :

  • • cara penyuntikan
  • • hewan yang disuntik
  • • alat dan obat yang digunakan.

Ada beberapa macam dalam metode menyuntik yaitu :

Suntikan subcutan

Penyuntikan subcutan dilakukan untuk mendeposisikan onbat dibawah kulit. Jarum yang digunakan adalah jarum suntik ukuran kecil. Sebelum penyuntikan, lokasi tempat penyuntikan diolesi alcohol 70 % agar steril.

Suntikan intramuskular

Penyuntikan intramuskuler dilakukan dengan cara mendeposisikan obat didalam jaringan daging. Penyuntikan metode ini mempunyai tujuan agar obat lebih cepat terserap. Lokasi penyuntikan harus disterilkan dulu dengan alcohol 70 %. Setelah jarum ditusukan,

kemudian amati terlebih dahulu apakah jarum masuk ke dalam pembuluh darah atau tidak. Apabila keluar darah dari lubang jarum berarti jarum masuk pembuluh darah, maka jarum harus dipindah ke lokasi lain sampai tidak berdarah.

Suntikan intravena

Penyuntikan intravena adalah penyuntikan yang berbahaya sehingga pelaksanaannya harus hati-hati dan terus-menerus memperhatikan denyut jantungnya. Lokasi penyuntikan biasanya di vena jugularis yang terletak didaerah pangkal leher.

6.5. Pengobatan Terhadap Suatu Gangguan

Sakit adalah suatu keadan dimana tubuh, bagian tubuh atau organ tubuh mengalami gangguan fungsi. Gangguan ini bisa bersifat fisiologis ataupun mekanis. Gangguan yang bersifat mekanis misalnya terjadi karena pukulan atau perlukaan. Sedangkan gangguan yang bersifat fisiologis misalnya karena kelainan hormonal. Pengobatan terhadap gangguan- gangguan tersebut dapat dilakukan dengan tindakan untuk menghilangkan keadaan tidak normal tersebut. Ada berbagai pengobatan yang dapat dilakukan terhadap baik gangguan fisiologis maupun gangguan mekanis, beberapa diantaranya :

6.6. Pengobatan Simptomatis

Pengobatan ini merupakan pengobatan yang digunakan untuk menghilangkan gejala penyakit. Pada pengobatan ini, gejala-gejala penyakit yang ada akan hilang tetapi penyebab penyakit mungkin masih ada. Sebagai contoh pada penyakit gatal hanya gejala gatalnya yang dihilangkan, bukan penyebab gatalnya sendiri.

6.7. Pengobatan Causalis

Pengobatan cusal adalah pengobatan yang dilakukan untuk menghilangkan penyebab munculnya gejala penyakit. Pada contoh diatas penyakit gatal dianalisis terlebih dahulu penyebab gatalnya, baru diobati. Misalnya karena jamur, maka diobati dengan anti jamur.